Wednesday, December 31, 2014

Umur, Resolusi, dan Tahun Baru


www.embed.ticketwise.ca

Karena kita tidak tahu sampai kapan umur kita..

Beberapa hari sebelum tahun 2014 berlalu, saya kerap memikirkan tentang hidup: what life means, what it is for. Bukan tanpa apa-apa saya  berpikir demikian. Menjelang tahun baru, National Geographic menayangkan feature tentang 10 tahun tsunami Aceh. Melihat air laut menggulung hingga ke daratan, berikut berbagai material bangunan membuat saya bergidik. Alhamdulillah I wasn’t there.

Masih hangat ,berita tentang pencarian pesawat Air Asia yang jatuh di Laut Jawa. Alhamdulillah, selama naik pesawat, saya selalu selamat sampai tujuan. Padahal, sebagai penumpang, saya memiliki kemungkinan yang sama besar dengan para korban untuk mengalami kecelakaan, yang kata harian Kompas sebesar 1:11 juta. But God says I’m safe and alive.

Tahun 2014 juga merupakan tahun kehilangan bagi keluarga besar saya. Tiga orang anggota keluarga dengan usia beragam, diambil Yang Kuasa dengan cara yang beragam pula. Ada yang mendadak, ada yang karena kanker. Abang yang berusia 40 telah tiada, sementara kakek baru kemarin merayakan ulang tahun ke 93. That means that your age doesn’t determine how close you are to the end.

Umur kita, atau umur tempat tinggal kita, sama-sama misteriusnya. Saat membaca majalah yang membahas tentang betapa pemanasan global sudah menjadi kenyataan, dan kenaikan suhu bumi berlangsung pada kecepatan yang tidak bisa diprediksi, saya pun berpikir: saat saya tua kelak, masihkah saya memiliki air bersih untuk berwudu?

Dari semua pemikiran di atas, saya pun merumuskan resolusi 2015 saya. Semua resolusi pasti yang baik-baik kan ya.. Saya pun demikian, dengan special note bahwa the better life I meant in my resolution would bring me to the best place after life.

Kadang saking sibuknya kita, resolusi kita juga berkisar di kesibukan kita: karir, keuangan, cita-cita, keluarga. Bisa naik jabatan, menaikkan omzet, renovasi rumah, lebih banyak berolahraga dan makan sehat. Semua itu tidak salah, saya pun ingin hidup bahagia di dunia. Namun ,kita bisa meluruskan niat kita untuk apa semua itu kita lakukan.

Saya ingin hidup sehat, mengurangi makanan instan dan lebih rutin berolahraga, karena tubuh ini adalah amanah dari Yang Diatas. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana kita memperlakukan tubuh kita ini.

Saya ingin bisa berkarya lagi, entah kembali mengajar atau menjadi penulis, karena saya ingin hidup saya bermanfaat bagi lebih banyak orang.

Saya ingin bisa mencari rezeki lagi, baik dengan bekerja atau berwirausaha, karena dalam Al Quran disebutkan “…bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Alloh..”

Saya ingin lebih banyak mengaji, dalam artian membaca AlQuran dan membaca terjemahannya, lebih banyak berzikir, rutin berdoa, solat tepat waktu, melakukan solat sunah, lebih banyak bersedekah, bisa menghafalkan lebih banyak surat. Semua berpahala, dan saya ingin hal ini bisa mendinginkan hati yang kerap panas karena situasi yang kurang menyenangkan dalam hidup.

Saya juga ingin menjadi istri yang lebih baik, ibu yang lebih baik, dan anak yang lebih baik…karena mereka orang-orang terdekat yang menjadi ladang pahala bagi kita.

All in all, I want a life worth living, now or in the future.
A more balanced life, not between work and home, but between mundane life and religious one.
To feel safe having enough rewards, if someday we should leave this world.
So, don’t let happiness blinds us from things we should pursue.

Happy New Year.




Tuesday, December 23, 2014

Latihan Bermain di Playland




www.anime-arts.wikia.com
Saya tidak terlalu sering mengajak anak saya ke mal. Selain karena kami bukan a mall person, rumah kami pun cukup “minggir” dari hiruk pikuk sebuah kota. Segala kebutuhan cukup dibeli di komplek perumahan kami yang (menurut saya) segala ada.

Karena itu pula, Aksa si 1,5 y.o-to-be pun jarang mencicipi playland di mal. Pertama kali ke playland di Pejaten Village karena tinggal loncat dari kantor si ayah. Saat itu usianya baru setahun, sehingga baru mulai bisa berjalan. So, di sana ya Cuma latihan jalan and main di kolam bola saja.

Jumat lalu, kami bertiga mampir di Pejaten Village lagi dan memutuskan untuk ke playland. Saya dan suami penasaran sekali apa yang akan dilakukan Aksa dengan kemampuan motorik kasarnya yang sudah banyak berkembang. Apalagi Aksa sudah fasih memanjat teralis jendela :D

Setelah membayar Rp 50.000 untuk tiket masuk anak plus 2 kaos kaki @Rp 5000, kami pun masuk. Aksa pun langsung berbinar matanya, dan bergegas mendatangi…bola. Bola lagi, Nak? Batin saya. Bola plastik warna-warni berukuran kecil merupakan salah satu mainan Aksa di rumah walaupun sekarang pamornya sudah meredup, tergantikan balok mini. Ya sudah lah, tidak apa-apa. Wong anaknya suka kok.

Selama hampir setengah jam berikutnya, Aksa masih asyik dengan bola dan bengong. Saya tidak tahu kebiasaan bengong ini datang ketika apa, karena ia hampir selalu menunjukkan ekspresi lempeng mematung dan fokus melihat objek yang membuatnya takjub sampai memaku seperti itu. Sampai-sampai, kami berdua melempar-lempar Aksa dengan bola agar ia berhenti memperhatikan anak-anak lain bermain sampai matanya tak berkedip, haha..

Pantang menyerah, saya gendong aksa keluar kolam bola so he tried something new but he kept coming back there! Dia pantang menyerah juga rupanya ya.. Finally, he got bored dan ayahnya pun berhasil mengajak Aksa merangkak melalui sebuah terowongan, fiuhh.. Tidak bertahan lama sih, tetapi kami sangat senang ia mau mencoba beragam aktivitas di sana.

Target selanjutnya adalah memanjat. Ada sebuah perosotan model rangkaian silinder (seperti jalur x-ray untuk tas kalau kita mau masuk bandara) yang menggoda sekali (untuk saya :p). Sayangnya, bagian untuk memanjatnya terlalu besar untuk Aksa, sehingga ayahnya terpaksa harus mengangkat Aksa ke puncak dan saya pun “menyambut” Aksa di ujung perosotan. He seemed so happy dan ingin lagi dan lagi. Alhamdulillah…senang sekali rasanya. Pada beberapa kali terakhir, Aksa sudah bisa memanjat naik sendiri hanya dengan sedikit bantuan.

Ia sempat mencoba naik sepeda tanpa pedal juga, namun belum mampu menjalankannya. Saya pikir, naik sepeda jenis ini akan lebih mudah karena hanya bermodal dorongan kaki. Ternyata, saya salah. Mungkin ia belum pernah melihat sepeda jenis ini kali ya.

Namanya orangtua, pasti enggak lepas dari lihat anak orang lain dan membandingkannya dengan anak sendiri, haha… Disana, saya dan ayahnya lumayan tersadar bahwa kemampuan motorik Aksa “masih bisa ditingkatkan lagi”, karena anak-anak lain seusia Aksa rata-rata sudah mampu bermain di beragam wahana tanpa bantuan. Selama ini kami berpikir bahwa Aksa sangat aktif secara fisik, tapi ternyata arena bermainnya kurang menantang (biasanya Aksa suka bermain di area outdoor tetapi minim kontur yang beragam). Jadi, di playland ini kami banyak memperkenalkannya pada hal baru.

Setelah setengah jam berlalu dengan bola dan bengong tadi, akhirnya setengah jam berikutnya Aksa sudah cukup “panas”. Saya dan suami bergiliran menemani anak bermain, dan tersadar bahwa stamina kami masih kalah sama Aksa, hehe.. Di detik-detik terakhir sesi kami di sana, suami sudah berwajah kuyu dan bersandar di salah satu sudut sambil meluruskan kaki.

Akhirnya, play time is over. Dari satu jam di playland tersebut, Aksa jadi tahu beberapa hal baru seperti:
1.       Cara menaiki rocking horse. Tadinya ia hanya diam saja dan saya yang menggoyang kuda-kudaan plastik ini. Akhirnya, ia bisa menggoyangnya sendiri dengan bertumpu pada kakinya.
2.       Cara memanjat sesuatu yang berbentuk lereng, dengan pijakan berjarak lebar.
3.       Merangkak melalui tunnel atau terowongan.

Ia pun masih harus belajar untuk:
1.       Menaiki sepeda (dengan atau tanpa pedal)
2.       Mengerti bahwa punching bag akan kembali ke arah semula (karena ia mendorong punching bag dan wajahnya pun terhantam oleh peralatan tinju tersebut)
3.       Mendarat dari perosotan dengan kedua kaki (karena ia mendarat dengan pantat)

Jadi terpikir untuk membuat arena tantangan di rumah, ada ide Mommies?


Let's Scrapbook!


Buat para Mommies yang suka membeli majalah, dan merasa majalah yang sudah habis dibaca tersebut sudah mulai memenuhi rak buku, jangan diloakin dulu ya..! Dengan modal beberapa majalah bekas dan foto, kita bisa membuat scrapbook yang menarik. Saya termasuk sering membuat scrapbook menggunakan majalah bekas, tentu saja majalah yang layoutnya colorful dengan font yang menarik, seperti majalah anak dan remaja. 



Tuesday, December 16, 2014

Scrapbook, Apa dan Untuk Apa?



Dari dulu, saya punya kebiasaan menulis agenda, bukan untuk merencanakan sesuatu tetapi untuk menuliskan apa yang terjadi pada hari itu, sehingga kejadian tidak terlewat begitu saja dan terlupakan.



Hello There, My Copycat!




It has been almost a year and a half amazing journey for me. Seeing my son grows day by day is something that I can be grateful for. Sometimes it was wonderful, full-of-laughter days, but can’t deny that most of it was challenging. Despite the difficulties and dramas I’ve gone through in raising my baby, I am so amazed by one thing: his ability to copy what he sees, especially from his parents. Here are some that I thought he didn’t notice:



Tuesday, December 9, 2014

Mainan Masa Kecil




Kalau melihat anak saya sedang bermain, saya sering berpikir: dulu saat saya seusianya, saya main apa ya? Ingatan saya tidak bisa lebih jauh dari ketika saya berumur tiga tahun. Waktu itu saya suka bermain bongkar pasang. Masih ingat? Kalau Mommies termasuk generasi yang lahir tahun 80-an, pasti tahu mainan berupa selembar kertas karton yang berisi gambar perempuan dan sejumlah pakaian yang bisa dilepas mengikuti garis putus-putus. Si perempuan ini berfungi sebagai boneka kertas yang bisa kita gonta-ganti pakaiannya.



Move On dari TV? Bisa!




Tentang bahaya menonton televisi bagi anak, saya sudah mengerti. Cukup banyak artikel yang saya baca ketika Aksa menginjak usia tiga bulan, mengingat saat itu kami mulai sering memperlihatkannya acara kartun di saluran khusus bayi tv kabel kami. Beberapa artikel mengatakan bahwa batasnya adalah tiga jam per hari. Kami pun berusaha untuk tidak melebihi durasi tersebut.



Monday, December 8, 2014

Ups, Kelepasan Marah (Lagi)!




 Dear Mommies, 

Kemarin saya merasa bersalah sekali. Entah mengapa beberapa hari terakhir kesabaran saya kok tipis ya.. Sedikit saja anak saya bertingkah di luar harapan saya, saya dengan mudahnya mengeluarkan nada tinggi.
Padahal biasanya saya masih bisa berpikir lho, walaupun setelah beberapa kali menahan diri akhirnya kelepasan juga. Mau menahan diri beberapa kali pun, tetap saja kalau kelepasan marah, bahkan sampai membentak, rasa bersalahnya itu tidak kunjung hilang.



Tuesday, December 2, 2014

Bukan (Sekadar) tentang Pak Hasim



www.dreamstime.com
Ini bukan kisah mengenai seseorang bernama Pak Hasim, mantan security kompleks saya.
Ini kisah tentang performa kerja seseorang, meskipun itu hanyalah hal yang sepele menurut orang lain.
Hari itu, saya dipertemukan dengan Pak Hasim oleh tetangga saya. Ceritanya, bau bangkai menyengat muncul dari eternit kamar rumah saya, dan someone has to climb up the ceiling to get rid of it. And it’s definitely not my husband hihihi…

Jadinya suami pun mencari bala bantuan sejak sehari sebelumnya ke tetangga sebelah yang sedang membangun rumah, jadi banyak tukang. Sayangnya, minggu tukangnya libur. So, ibu sebelah pun merekomendasikan Pak Hasim, yang dirumahkan beberapa bulan lalu oleh RT saya, untuk membantu mengambil bangkai.

Baru sore harinya ketika suami sudah berangkat kerja, Pak Hasim datang. Saya pun bergegas meminjam tangga ke tetangga depan (duh, ngeribetin tetangga mulu’ ya) dan meninggalkan Aksa yang masih makan pisang sambil mondar-mandir di dalam rumah. Karena agak lama, Pak Hasim pun keluar menyusul saya sambil menggendong Aksa dengan santainya, hehe… (plus point #1)

Detik berikutnya, saya mulai beraksi menjadi klien/mandor/asisten Pak Hasim. Dengan tangan kanan sibuk meraih Aksa yang mulai kepo pengen naik tangga, tangan kiri saya sibuk mengoper senter, lanjut memegangi tangga yang sedikit goyah, kemudian berteriak memberi arahan kemana beliau harus mencari.

Anehnya, tak ada bangkai tikus, padahal baunya masih menyengat. Akhirnya  kami pun berasumsi bahwa bangkainya telah diambil kucing. Kamper pun dilempar ke beberapa penjuru atap untuk menghilangkan bau.
Ketika hendak membereskan alat tempur, Pak Hasim melongok ke ruang cuci di belakang yang atapnya terbuka, dan berkata bahwa ada kemungkinan bangkainya di atas ruang cuci. Saya pun menawarkan (tidak menyuruh) Pak Hasim kalau-kalau beliau mau melihat ke atas, yang artinya harus mindah tangga + buka teralis atas+ manjat lagi. Alhamdulillah beliau mau J (plus point #2)

FYI, di atas ruang cuci itu ada tangki air, dan beton tempat tangki itu berada sudah ditumbuhi tanaman liar setinggi 30cm.. Tanpa saya duga, Pak Hasim mencabut tanaman-tanaman tersebut sampai bersih..! (plus point #3) Lagi-lagi, saya tidak menyuruh lho ya.. Dan, there it was!! Si bangkai tikus pun ditemukan.. Setelah di masukkan ke plastik dan TKPnya ditaburi kopi untuk menyerap bau, Pak Hasim pun meminta izin untuk membuang plastik bertikus tersebut.

Semenit, dua menit..kok lama ya? Tempat sampah saya ada di depan rumah, tidak jauh. Sekitar hampir 5 menit, beliau pun kembali. Saya tanya saja buangnya dimana. Jawabnya, “ Di deket pos satpam Bu, kalau di depan rumah bau nanti,”  

Saya pun takjub mendengarnya, karena pos satpam itu jaraknya sekitar dua perempatan ditambah satu pertigaan, yang artinya beliau harus naik motor untuk sampai kembali ke rumah dalam 5menit. Woow….itu totalitas bekerja lho menurut saya. (plus point #4)

Sampai di rumah, beliau pun mengambil sapu dan membersihkan sisa cabutan rumput yang berserakan di ruang cuci. (plus point #5) Saya pun terkagum-kagum lagi dibuatnya, karena it never happened before to all repairman fixing my house, kecuali tukang kayu karena serpihan sisa kayu berbahaya kalau tidak dibuang. Untuk sekadar perbandingan: 

1.       Pak tukang listrik langganan, selalu pakai sepatu keds masuk rumah. Mungkin karena beliau harus naik-naik ke atap jadi takut menginjak paku, mungkin? (positive thinking)
2.       Pak tukang instalasi BIG TV, meninggalkan sejumlah potongan kabel di TKP
3.       Mas-mas tukang instalasi Indovision, kardus bekas satelitnya tidak dibawa lagi, pun tidak dimasukkan di tong sampah. Hanya dibiarkan di teras rumah saya. Bonus, ada perkakas ketinggalan.
4.       Pembantu saya, kadang masih suka membuang sisa sachet deterjen dan bungkus permen anaknya ke ember cucian di belakang,  ataupun membuang kotoran menyapu langsung ke halaman.
5.       Saya juga suka main buang debu sisa menyapu begitu saja ke halaman (jujur).

Sebelum pulang pun, Pak Hasim masih mau membersihkan jejak kakinya di kamar mandi yang memang lumayan kelihatan. Saya bilang tidak usah, toh saya tinggal mengguyurnya. Tangga pun hampir digotongnya kembali ke rumah tetangga, saya larang juga karena memang yang punya rumah sedang pergi. (plus point #6).

So, ya… dari sini saya belajar bahwa kesungguhan dalam bekerja menghasilkan efek yang luar biasa. Bisa jadi Pak Hasim tidak tahu kekaguman saya atas bantuannya tadi. Dan siapa tahu, words of mouth alias gethok tular akan membukakan pintu rejekinya lebih lebar. Who knows, only from simple things.  

Mmm..apa sebaiknya judulnya saya ganti menjadi Hikmah Dibalik Bangkai Tikus ya?



Monday, November 24, 2014

Study vs Teenage Life

www.manjur.net
Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik.

Setidaknya itu yang saya simpulkan dari masa remaja saya dan suami.

Saat SD, saya termasuk anak yang berprestasi di bidang akademik. Sering juara satu di kelas. Hal ini tidak terlepas dari tangan dingin mama saya, yang membuatkan jadwal kegiatan saya sehari penuh, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sudah ranking pun masih disuruh ikut les mata pelajaran, termasuk bahasa inggris, piano, mengaji, belum termasuk ekskul di sekolah seperti menari dan paduan suara. Thank God I enjoyed my busy life, dan masih sempat bermain barbie J

Masuk SMP,  orangtua saya masih menekankan pentingnya prestasi akademik. Les bahasa Inggris dan bimbel masih menjadi menu utama, hanya saja di sekolah saya ikut ekskul paskib. Pulang pergi sekolah dan les diantar jemput, sehingga hidup saya hanya sekolah, les, pulang, belajar. Saya sudah keluar dari jajaran sepuluh besar di kelas, tetapi prestasi belajar masih bisa dianggap bagus. 

Meskipun demikian, saya merasa ada yang timpang. I don’t have good social life, alias enggak gaul, haha…

Menjelang lulus SMP, saya pun bertekad kuat untuk mengikuti sebanyak mungkin ekskul dan organisasi di SMA kelak. Pokoknya, pengen eksis!

Dan, saya membuktikan janji saya tersebut. Saya mengikuti setiap ekskul yang saya minati, gabung di OSIS, berbagai kepanitiaan, termasuk ikut macam-macam kompetisi. Rapot saya? Jarang tembus 15 besar, bahkan sempat bercokol di urutan ke 34, haha.. Tetapi saya tidak menyesal, karena sebagai remaja pada saat itu saya merasakan kebutuhan sosial saya terpenuhi.

Berbeda dengan suami saya. Ia masuk SD favorit, dengan jam belajar hingga sore hari, pengelompokan kelas unggulan dan non unggulan, ternyata membuatnya berpikir “that’s enough, I’m tired”. Akhirnya, ketika SMP ia menjadi kurang semangat belajar dan memutuskan untuk menikmati masa remajanya dengan banyak bergaul, berolahraga, dan ehm…berpacaran. Efeknya, ia merasa bersalah pada sang ayah dan bertekad: pokoknya, SMA saya mau giat belajar! Successfully, he became a study oriented highschooler :p

Dari pengalaman kami yang bertolak belakang, ada satu hal yang menjadi persamaan. Apa itu?

Bisa diibaratkan, kalau kita yang bekerja mengalami work-life imbalance, maka saya dan suami ketika remaja mengalami study-life imbalance. Kami merasa terlalu banyak belajar, hingga akhirnya yang muncul adalah ketidakpuasan. Ujungnya, kami mencari aktivitas lain yang bisa membuat kami gembira. Naluriah sekali, ya. Syukurlah kegiatan tersebut bukan hal yang negatif dan masih di dalam batas kewajaran.

So, was that our parents’ mistake to send us  to the best school, a lot of courses, thus made us study a lot also?

Saya rasa tidak, karena niat semua orang tua adalah baik. They want us to succeed. Hanya saja, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini, ketika anak kita kelak mulai sekolah.
Pertama, pilihlah sekolah yang ramah anak. Kita bisa melihat dari jam belajarnya, aktivitas belajarnya , staf pengajar, hingga kegiatan ekstra yang bisa dipilih oleh siswa. Jam belajar yang terlalu panjang bisa membuat anak lelah, meskipun dari kacamata orang tua kurikulumnya bagus. Apabila memungkinkan, ajak anak memilih sekolahnya. Sekarang banyak sekolah swasta yang menawarkan trial class, sehingga anak bisa merasakan bagaimana kelak proses pembelajaran yang akan ia jalani.

Kedua, jalin komunikasi yang intens dengan anak. Pastikan dari hal tersebut kita bisa mengetahui apakah anak senang atau tidak dengan kegiatannya di sekolah, kursus, maupun pergaulannya, begitu juga dengan siapa teman-temannya dan apa saja yang sering mereka lakukan bersama. Bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak kita? Artikel “Berbicara Agar Remaja Mau Mendengar dan..” bisa menjadi inspirasi.

Ketiga, walaupun kita produk pendidikan jadul, bear in mind that smart doesn’t mean getting good exam score. Masih banyak orangtua (termasuk saya sendiri) yang kadang terjebak berpikir bahwa nilai pelajaran yang kurang bagus merupakan tanda bahwa si anak kurang cerdas, padahal kita tahu bahwa pandai bergaul merupakan kecerdasan interpersonal dan cepat mempelajari alat musik merupakan kecerdasan musikal. Dengan berpikir bahwa everybody is smart, kita tidak akan memforsir anak kita untuk mahir di satu bidang yang ia tidak suka, atau bukan keahliannya.

So, pandai secara akademis bukan segalanya, yang penting adalah tanggung jawab dengan pilihan yang telah dibuat, dan menjalaninya dengan senang. Setidaknya, dari study-life imbalance saat remaja dulu, saya jadi bisa menemukan apa yang sebenarnya saya suka, dan sejauh mana “dosis” yang tepat untuk melakukannya. Suami pun jadi bisa berempati terhadap orangtuanya yang telah susah payah menyekolahkannya, dan akhirnya “bertanggung jawab” dengan cara kembali belajar dengan benar.

Lessons learned!

see the published version on http://mommiesdaily.com/2014/12/10/rpicstudy-life-imbalance/




Si Gembrot

Judul yang menyakitkan..

Kalau kita sendiri yang dipanggil gembrot, gendut, atau variasi unyunya macam embrot, ndut, kira-kira gimana ya?



Sunday, November 23, 2014

Sehari Tanpa MSG


Percaya atau tidak, saya dulu pernah menerapkan hukuman sedekah Rp 50.000 jika saya makan mie instan. Jumlah tersebut ternyata membuat saya disiplin untuk tidak makan mie instan selama dua tahun. Kalau akhirnya harus makan karena bener-bener kepingin, saya terpaksa harus merelakan lima puluh ribu melayang, hehe..



Tuesday, November 11, 2014

Bookworm Family


www.chambanamoms.com
I'm a bookworm. Saya tidak ingat sejak kapan persisnya saya mulai sangat menyukai buku, ataupun buku-buku pertama saya ketika saya masih balita. Seingat saya, kalimat pertama yang saya baca adalah headline surat kabar, umur saya 3tahunan saat itu. Setelah itu, memori belajar di kelas 1 SD dengan buku berisi "i-ni i-bu bu-di" masih terekam kuat dalam ingatan.

Jangan bayangkan buku warna warni dengan ilustrasi artistik, ya… karena awal 90an isi perpustakaan sekolah adalah buku Balai Pustaka dan sejenisnya. Tulisannya banyaaak, gambarnya dikit, hitam putih. Mungkin itu sebabnya hanya anak kelas 6 saja yang datang ke sana, itupun untuk mengerjakan tugas. 

Tapi, saya tetap suka buku lho, karena papa saya mengajak saya dan adik ke toko buku seminggu sekali, dengan jatah beli satu buku per minggu. Buku pertama saya: komik Mari Chan Bintangnya Cinta (masih ingat?) yang membuat saya tergila-gila pada sepatu balet. Sejak saat itu, buku demi buku mulai memenuhi lemari saya. Saya sampul plastik dengan rapi, ujungnya tidak pernah saya lipat, pokoknya I treated them as kings deh… sampai-sampai adik saya pun mau pinjam tidak saya perbolehkan, takut rusak. Pelit banget ya? Walau akhirnya saya "kualat": buku2 saya berjamur karena disimpan di lemari tertutup! Hahaha..

What a life lesson. Maksud saya sebenarnya baik, ingin saudara-saudara sepupu dan keponakan saya kelak bisa mewarisi buku-buku saya ketika mereka dewasa. Sayangnya, mereka tidak menunjukkan minat yang sama. Saya yang patah hati pun, ditambah insiden "jamur", merelakan buku koleksi saya untuk disumbangkan. Pikir saya, pasti banyak anak-anak diluar sana yang lebih membutuhkan buku-buku tersebut.
Meskipun demikian, ensiklopedi tidak pernah saya sumbangkan. Selain karena orangtua saya yang berinisiatif membeli, isinya juga tidak akan usang, fisiknya awet, dan harganya lumayan :p

Kini, koleksi buku saya kembali beranak pinak, karena suami saya ternyata juga pecinta buku. Ke toko buku pun menjadi me-time kami, sejak awal menikah hingga Aksa lahir.

Saya pun tidak menyangka, ternyata Aksa lebih suka ke toko buku daripada toko mainan. Memang usianya baru setahun lebih, tetapi kalau melihat deretan buku anak langsung deh meloncat dari gendongan saya, hehe..

Akhirnya saya dan suami pun pakai "shift" kalau ke toko buku bertiga. Kalau saya ambil shift pertama, berarti suami yang menemani Aksa sekaligus mengembalikan buku ke rak (Aksa suka memindah buku dari 1 rak ke rak lain J). Begitu pula sebaliknya.

Meskipun repot, kami tetap senang membawa Aksa ke toko buku, membelikannya buku, membaca untuknya, karena saya dan suami telah benar-benar merasakan manfaat menjadi pecinta buku.
Aksa pun lebih cepat menyerap kosakata baru melalui gambar di dalam buku, termasuk menirukan adegan-adegan dalam dongeng yang disukainya.

Tentu saja saya dan suami senang melihatnya begitu lengket dengan buku, walau kami harus rela diinterupsi ketika sedang sibuk. Tidak tega menolak membacakan buku ketika Aksa dating ke dapur dengan semangat, membawa buku yang cukup besar dengan tangan mungilnya *hugs*

Ternyata memang memberi contoh adalah guru terbaik. Karena ayah ibunya suka buku, Aksa jadi suka buku juga. Pilihan buku juga harus dipertimbangkan dengan baik. Untuk usia Aksa, ia menyukai cerita yang pendek, gambar berwarna kontras dan mencolok, dan boardbooks sehingga halamannya mudah dibalik dan tidak gampang sobek.

Sejauh ini, kami belum memperkenalkannya pada gadget secara intens. Paling banter melihat foto dan video di smartphone. Semoga saja kecintaannya pada buku kelak tidak berkurang ketika ia mengenal teknologi. Yang penting, kita sebagai orangtua yang harus aktif mendampingi dan mengarahkan anak kita, agar mereka tetap dapat menyerap ilmu, apapun medianya. Setuju?