Tuesday, December 23, 2014

Latihan Bermain di Playland




www.anime-arts.wikia.com
Saya tidak terlalu sering mengajak anak saya ke mal. Selain karena kami bukan a mall person, rumah kami pun cukup “minggir” dari hiruk pikuk sebuah kota. Segala kebutuhan cukup dibeli di komplek perumahan kami yang (menurut saya) segala ada.

Karena itu pula, Aksa si 1,5 y.o-to-be pun jarang mencicipi playland di mal. Pertama kali ke playland di Pejaten Village karena tinggal loncat dari kantor si ayah. Saat itu usianya baru setahun, sehingga baru mulai bisa berjalan. So, di sana ya Cuma latihan jalan and main di kolam bola saja.

Jumat lalu, kami bertiga mampir di Pejaten Village lagi dan memutuskan untuk ke playland. Saya dan suami penasaran sekali apa yang akan dilakukan Aksa dengan kemampuan motorik kasarnya yang sudah banyak berkembang. Apalagi Aksa sudah fasih memanjat teralis jendela :D

Setelah membayar Rp 50.000 untuk tiket masuk anak plus 2 kaos kaki @Rp 5000, kami pun masuk. Aksa pun langsung berbinar matanya, dan bergegas mendatangi…bola. Bola lagi, Nak? Batin saya. Bola plastik warna-warni berukuran kecil merupakan salah satu mainan Aksa di rumah walaupun sekarang pamornya sudah meredup, tergantikan balok mini. Ya sudah lah, tidak apa-apa. Wong anaknya suka kok.

Selama hampir setengah jam berikutnya, Aksa masih asyik dengan bola dan bengong. Saya tidak tahu kebiasaan bengong ini datang ketika apa, karena ia hampir selalu menunjukkan ekspresi lempeng mematung dan fokus melihat objek yang membuatnya takjub sampai memaku seperti itu. Sampai-sampai, kami berdua melempar-lempar Aksa dengan bola agar ia berhenti memperhatikan anak-anak lain bermain sampai matanya tak berkedip, haha..

Pantang menyerah, saya gendong aksa keluar kolam bola so he tried something new but he kept coming back there! Dia pantang menyerah juga rupanya ya.. Finally, he got bored dan ayahnya pun berhasil mengajak Aksa merangkak melalui sebuah terowongan, fiuhh.. Tidak bertahan lama sih, tetapi kami sangat senang ia mau mencoba beragam aktivitas di sana.

Target selanjutnya adalah memanjat. Ada sebuah perosotan model rangkaian silinder (seperti jalur x-ray untuk tas kalau kita mau masuk bandara) yang menggoda sekali (untuk saya :p). Sayangnya, bagian untuk memanjatnya terlalu besar untuk Aksa, sehingga ayahnya terpaksa harus mengangkat Aksa ke puncak dan saya pun “menyambut” Aksa di ujung perosotan. He seemed so happy dan ingin lagi dan lagi. Alhamdulillah…senang sekali rasanya. Pada beberapa kali terakhir, Aksa sudah bisa memanjat naik sendiri hanya dengan sedikit bantuan.

Ia sempat mencoba naik sepeda tanpa pedal juga, namun belum mampu menjalankannya. Saya pikir, naik sepeda jenis ini akan lebih mudah karena hanya bermodal dorongan kaki. Ternyata, saya salah. Mungkin ia belum pernah melihat sepeda jenis ini kali ya.

Namanya orangtua, pasti enggak lepas dari lihat anak orang lain dan membandingkannya dengan anak sendiri, haha… Disana, saya dan ayahnya lumayan tersadar bahwa kemampuan motorik Aksa “masih bisa ditingkatkan lagi”, karena anak-anak lain seusia Aksa rata-rata sudah mampu bermain di beragam wahana tanpa bantuan. Selama ini kami berpikir bahwa Aksa sangat aktif secara fisik, tapi ternyata arena bermainnya kurang menantang (biasanya Aksa suka bermain di area outdoor tetapi minim kontur yang beragam). Jadi, di playland ini kami banyak memperkenalkannya pada hal baru.

Setelah setengah jam berlalu dengan bola dan bengong tadi, akhirnya setengah jam berikutnya Aksa sudah cukup “panas”. Saya dan suami bergiliran menemani anak bermain, dan tersadar bahwa stamina kami masih kalah sama Aksa, hehe.. Di detik-detik terakhir sesi kami di sana, suami sudah berwajah kuyu dan bersandar di salah satu sudut sambil meluruskan kaki.

Akhirnya, play time is over. Dari satu jam di playland tersebut, Aksa jadi tahu beberapa hal baru seperti:
1.       Cara menaiki rocking horse. Tadinya ia hanya diam saja dan saya yang menggoyang kuda-kudaan plastik ini. Akhirnya, ia bisa menggoyangnya sendiri dengan bertumpu pada kakinya.
2.       Cara memanjat sesuatu yang berbentuk lereng, dengan pijakan berjarak lebar.
3.       Merangkak melalui tunnel atau terowongan.

Ia pun masih harus belajar untuk:
1.       Menaiki sepeda (dengan atau tanpa pedal)
2.       Mengerti bahwa punching bag akan kembali ke arah semula (karena ia mendorong punching bag dan wajahnya pun terhantam oleh peralatan tinju tersebut)
3.       Mendarat dari perosotan dengan kedua kaki (karena ia mendarat dengan pantat)

Jadi terpikir untuk membuat arena tantangan di rumah, ada ide Mommies?


Categories:

2 comments: