Tuesday, December 16, 2014

Scrapbook, Apa dan Untuk Apa?



Dari dulu, saya punya kebiasaan menulis agenda, bukan untuk merencanakan sesuatu tetapi untuk menuliskan apa yang terjadi pada hari itu, sehingga kejadian tidak terlewat begitu saja dan terlupakan.

Sewaktu SD, bentuknya hanya berupa diary warna warni. Naik ke SMP, sudah mulai buku agenda betulan. Biasanya di toko buku besar banyak yang jual planner menjelang akhir tahun. Waktu SMA, agenda harian ditambah foto (khususnya hasil photobox hehe). Apalagi waktu itu organizer lagi hits banget, dengan loose leaf warna warni dan stiker imut. Begitu kuliah dan banyak kesempatan mengikuti banyak event menarik, dosis dokumentator saya pun bertambah menjadi kolektor memorabilia yang berhubungan dengan event-event tersebut. Tujuannya adalah, membuat scrapbook!

Pertama kali saya melihat konsep scrapbook jaman SMA, ketika keluarga saya menjadi host family murid Australia yang berkunjung ke sekolah saya. Mereka diwajibkan membuat sejenis album foto yang  menceritakan tentang keluarga mereka dan siapa mereka. Bahannya hanya dari buku gambar berukuran kecil dengan hiasan ala kadarnya. Mereka juga memiliki buku sejenis, tetapi namanya journal. Kurang lebih seperti buku harian tetapi mereka menempelkan beberapa benda, mulai dari tiket kereta hingga bungkus permen! Seru ya..

Terinspirasi dari mereka, ditambah beberapa majalah remaja yang kala itu mulai sering mengadakan kompetisi menghias foto maupun memberi bonus agenda tahunan dengan kolom untuk menempel foto dengan desain colorful, jadilah saya mulai belajar mendokumentasikan karya saya dalam bentuk scrapbook. Walaupun belum jamannya ponsel berkamera, saya dan geng saya pada saat itu tidak kehabisan stok foto karena kami rutin pelesir sekaligus photo session, bermodalkan kamera otomatis dan 1 rol film isi 36. Hal yang paling bikin deg-degan, tentu saja melihat hasilnya setelah dicetak!

Akhirnya, saya sampai kepada tahap dimana dorongan untuk scrapbooking sangat-sangat tinggi. Apalagi kalau bukan karena kelahiran bayi saya :-) mulailah saya mendokumentasikan saat-saat saya hamil, termasuk mengumpulkan foto usg dan testpack, hehe..begitu juga ketika proses kelahiran (sayangnya saya tidak terpikir untuk merekam proses kelahiran, walaupun keputusan ini sekarang saya syukuri karena prosesnya teralu horror untuk direkam #pain #scream). Saya masih menyimpan gelang bayi, keterangan di box, sampai kartu-kartu ucapan selamat di kado bayi dari teman-teman.

Lantas, bagaimana hasilnya? Memorabilia yang saya kumpulkan masih tersusun manis di kotak penyimpanan, haha..tetapi at least saya sudah membuat beberapa halaman scrapbook di album foto dengan bahan yang cukup simpel. 

Sebetulnya, dokumentasi semacam ini selalu ada dari masa ke masa. Kalau jaman kita bayi dulu, orangtua kita pasti punya album foto besar-besar, bahkan kadang diletakkan di ruang tamu agar bisa dilihat orang yang datang. Kalau sekarang, aplikasi edit foto menjadi andalan para orangtua yang  mungkin tidak punya waktu banyak untuk menceritakan kisahnya dalam bentuk scrapbook, tetapi memiliki stok foto melimpah. 

Bagi mereka yang punya lebih banyak waktu dan suka menulis, biasanya mendokumentasikan cerita si kecil dalam bentuk blog, atau media sosial. Kalau ingin yang lebih riil, pakai video. Apapun caranya, yang penting tidak ada momen penting yang terlewatkan.

Sebagai seorang scrapbooker, saya merasa ada beberapa manfaat membuat scrapbook.

Pertama, mempertajam ingatan. Biasanya, proses membuat scrapbook tidak tepat saat kejadian berlangsung. Karena itu, otak kita terpaksa recalling memories and trying to remember every detail that makes our story more interesting. Detail ini akan membuat scrapbook lebih “bercerita”, yang bisa ditambahkan melalui caption atau teks. Lebih bagus lagi jika informasi tambahan tersebut unik.

Kedua, belajar menyusun cerita yang runtut layaknya menulis. Jika Mommies ingin membuat scrapbook berupa sebuah album atau buku, sebaiknya buatlah tema dan outline (garis besar cerita) terlebih dahulu agar setiap halaman scrapbook tidak hanya menarik secara visual tapi juga memiliki cerita yang utuh.

Ketiga, menghargai setiap momen, tidak ada yang tidak penting. Terlebih lagi jika kita seorang ibu, kita  jadi bisa melihat milestones yg berhasil dicapai bayi kita. Karena itulah, saya suka memotret anak saya setiap kali ia melakukan suatu hal untuk pertama kalinya, ataupun kejadian lucu dan momen penting.

Keempat, belajar kreatif. Karena membuat scrapbook itu tidak hanya sekadar gunting tempel, tetapi juga mengatur letak, warna, ukuran, termasuk juga menguji tingkat kerapian kita. Oh iya, kita juga bisa tahu style kita lho, Mommies!

Kelima, scrapbook bisa bermanfaat buat orang lain. Misalnya, kita bisa mempererat attachment dengan anak dengan cara menghias scrapbook bersama. Untuk eyangnya anak-anak, scrapbook tentu akan lebih berkesan dan dapat dinikmati daripada kumpulan foto di computer atau editan foto di layar gadget.

Bagaimana, tertarik mencoba?



Categories:

0 komentar:

Post a Comment