Thursday, December 31, 2015

(Semoga) Saya (Bukan) Ibu Pemarah


Ketika saya memutuskan untuk kembali bekerja, salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah emosi yang mudah tersulut ketika saya 24 jam berada di rumah. Memang benar, ketika saya sudah memiliki kegiatan di luar rumah, saya lebih mudah menghadapi anak saya dengan sabar. Tentu saja karena saya merasa waktu saya jauh berkurang dengannya, sehingga sepulang kerja dan harus menjadi quality time bagi kami berdua.

Entah apa yang berubah dari kesadaran saya di atas, kini saya kembali mudah marah. Bentuknya berbeda dari yang dahulu. Kalau yang dulu, saya bisa “meledak” karena menahan rasa kesal lalu mendadak menangis karena menyesal. Sekarang, saya cenderung mudah mengomel. It’s not as shocking as yelling for my son, but it last longer and annoying, haha.. Ia  mungkin kebal kalau saya mengomel, jadi setiap bentuk larangan tidak diresponnya seperti dahulu. Bisa jadi karena anak saya mulai memasuki usia 2-3 tahun yang kata orang memang lagi susah-susahnya diatur, atau juga karena saya mulai merasakan workload yang banyak di sekolah. Ibadah saya jadi tidak khusyuk dan berkurang, sehingga hati juga kurang “adem”.

So, ketika momen libur sekolah datang, saya sangat senang. Berlibur berdua bersama Aksa ke kampung halaman bisa mengurangi penat saya dan otomatis amarah saya pun berkurang. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Beberapa kali saya sempat emosi hanya karena hal sederhana, seperti Aksa mengompol (ia sebenarnya sudah lulus toilet training, tetapi proses menyapih membuatnya ngompol lagi), tidak mau makan, memukul kepala saya, dan sebagainya.

Akhirnya, ibu mertua saya pun menegur saya untuk tidak memarahinya. Padahal menurut saya, yang saya lakukan hanya memberitahu anak saya dengan tegas. Hal itu ditangkap sebagai amarah oleh ibu karena mungkin nada yang saya gunakan tinggi, dan keluarga suami memang keluarga yang hampir tidak pernah marah (they tend to keep silent if they’re angry). Saya ceritakan hal itu kepada adik saya, and surprisingly she said so! Adik saya ini sekeluarga paling temperamental dan saya kira standar kemarahannya jauh lebih tinggi dari saya, tetapi ia melihat saya memang terlalu mudah marah ke Aksa. So, it’s time to evaluate.

Saat saya mulai bebenah diri untuk sebisa mungkin menahan amarah, dan merapal-rapal kalimat “he just doesn’t understand yet” anak saya mulai menunjukkan perubahan perilaku:  sedikit saja saya menunjukkan nada melarang, ia akan mulai menjerit dan memukul saya. Ia juga menolak bujukan dan ajakan orang tuanya dengan kata “enggak” namun nadanya persis seperti nada saya ketika menolaknya. Duh, hati saya langsung menangis. Saya merasa memetik buah amarah yang selama ini saya tunjukkan di depannya. Anak saya mengadopsi cara saya untuk menunjukkan emosinya.

Sedih? Pasti. Kemudian tadi pagi saya menemukan judul thread menarik di discussion forum theurbanmama.com, “Bagaimana Melatih Sabar”. Langsung saya klik dan saya baca dari page 1 yang ternyata post dari tahun 2012. Saya memang belum selesai membacanya, tetapi kurang lebih kesimpulannya adalah ujian kesabaran ini dihadapi oleh setiap mama di luar sana. Alhamdulillah saya seperti mendapat pencerahan di penghujung tahun ini. Merasa mendapat banyak teman seperjuangan dan juga mengetahui bahwa hampir semuanya merasa it’s not okay to get angry to your child easily. Semua mama pasti ingin menjadi sosok yang sabar, lembut, dan bisa dicontoh oleh anak-anaknya dan hal tersebut membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Oya, juga support dari pasangan.

Sudah pasti, bersikap bijak dalam menghadapi perilaku anak akan menjadi resolusi utama saya di tahun 2016. Tarik napas, ingat-ingat bahwa Aksa belum paham apa yang dilakukannya, hindari nada tinggi (because he won’t get our message), kalau masih emosi juga pindah ruangan untuk menenangkan diri. Good luck for me!

Sebagai kalimat penutup, saya ambil dari blog zataligouw: Mothers are Angels in Training. Setuju?





Tuesday, December 8, 2015

Antara Sea World, NatGeo Wild, dan Zebra


Punya channel TV kabel favorit? Kalau saya sih Star World (karena saya suka reality shownya) dan National Geographic (karena menurut saya edukatif dan informatif) selain channel berita lokal. Berbeda dengan anak saya, hanya ada satu pilihan yaitu Baby TV. Awalnya saya sempat sedikit “perang” dengan anak saya untuk memperpendek durasi menonton TV nya. Memang sih muatannya edukatif, tetapi pancaran sinar biru pesawat televisi –menurut artikel yang pernah saya baca- dapat merusak mata.

Namun, karena saya biasanya sibuk menyiapkan sarapan dan bekal di pagi hari, saya pun tak kuasa menolak permintaannya menonton Baby TV meskipun lama-lama dia bosan juga. Setidaknya sebulan terakhir, ketika Aksa minta Baby TV, ia hanya bertahan kurang dari sepuluh menit dan berpindah ke mainan atau buku. Saya bersyukur, hehe...soalnya kalau melihat dia “tersihir” di depan televisi, miris juga rasanya. Diajak bicara pun seolah tidak mendengar.

Karena merasa ia sudah bosan, saya pun jadi sering curi-curi menyalakan televisi dan menyetel channel favorit saya tanpa takut diinterupsi. Saat sedang memilih channel, Aksa tiba-tiba berteriak, “Ikan! Ikan!” sambil menunjuk layar televisi. Oh, ternyata NatGeo Wild sedang menayangkan program memancing ikan raksasa. Ya sudah, akhirnya saya dampingi ia menonton sambil menjelaskan apa yang dikatakan oleh sang presenter. Ia keliatan heboh berceloteh, kadang melongo, kadang tertawa, apalagi jika jeda iklan menunjukkan binatang-binatang lain yang ia tahu, seperti beruang dan harimau. Saat itu, saya berpikir, sejak kapan ia mendadak suka binatang ya? Apalagi ikan. Yang saya ingat, beberapa bulan lalu ketika ia membaca ensiklopedi Kehidupan di Dalam Air, ia selalu bilang: “Akuk!” dan beringsut mundur (Akuk = takut, red.) khususnya ketika gambarnya ikan bergigi tajam atau berwajah tidak imut. Lalu, kenapa sekarang menjadi senang ya?

Biar takut gelapnya Sea World, ternyata diam-diam ia belajar juga

Oh, saya kemudian ingat kalau awal bulan lalu kami ke Sea World. Memang sih, disana ia lebih banyak takutnya, haha.. Pertama, takut gelap. Di Sea World memang suasananya temaram dan ikan-ikannya banyak yang tidak sesuai imajinasinya (mungkin). Sedikit gondok sih waktu itu, jauh-jauh ke Ancol, tiketnya pun enggak murah, tapi Aksa bisa dikatakan 60-70% saja excitednya. Siapa yang menyangka, setelah dari Sea World lah ia menunjukkan rasa sukanya pada binatang-binatang tersebut. Buku favoritnya pun berubah menjadi ensiklopedi yang tadi ia takuti.

Akhirnya, saya pun jadi sering menonton program satwa bersama Aksa. Ternyata seru juga lho! Saya jadi tahu perilaku berbagai jenis satwa liar, termasuk fakta bahwa kucing bisa bisulan, atau rematik akut di kaki seekor kuda bisa membuat pemiliknya rela menganestesi kuda yang menemaninya selama 30 tahun tersebut. Belum lagi dari narasi yang kadang kocak karena mengambil sudut pandang hewan dengan cara bertutur manusia. Super kreatif. Andai tidak ada Aksa, mungkin seumur hidup saya tidak akan tahu menariknya kehidupan di alam liar. (peluk anak dulu)

Bersamaan dengan ketertarikannya pada hewan liar, saya pun mengeluarkan mainan miniatur hewan yang dibelikan neneknya setahun yang lalu. Saat itu, ia sama sekali tidak tertarik memainkannya (tapi saya tidak bilang ibu mertua haha). Sekarang, zebra mini dan badak bisa jadi jurus ampuh ketika ia susah diajak mandi. Saya tinggal bilang, “Aksa mau mandi sama zebra atau badak?” dan ia pun akan mengambil salah satunya. Tapi kalau pertanyaannya diganti, “Mandi sama zebra yuk!” maka ia akan menjawab, “Udah!” which means “no”. Hhhh...


Hayo, yang mana saja yang "catutan" dari kartun Disney?

Satu lagi efek dari Sea World + Ensiklopedi Ikan + NatGeo Wild adalah...ia jadi tertarik dengan buku cerita tentang hewan yang saya belikan hampir setahun lalu. Buku cerita berharga 7000 rupiah dengan ilustrasi cropping-an dari tokoh kartun film layar lebar ini sekarang menjadi favoritnya. Tapi dia bukan tipe anak yang mendengarkan cerita ibunya ya.. Ia akan fokus bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk semua hewan. Tidak apa-apa, mungkin belum masanya aja...

Setidaknya, ketertarikan Aksa yang selalu berganti dalam periode beberapa bulan membuat saya bisa menyesuaikan diri tentang what to give and what activity to choose ketika saya menemaninya. Saya juga harus bisa peka dengan kebutuhannya akan stimulus dari keluarga dan lingkungan sekitarnya so that he learns new things and never gets bored easily.

Semoga sebelum tahun baru, kami sudah bisa mengajak Aksa ke Taman Safari...biar sesuai dengan tema belajarnya bulan ini J













Friday, November 20, 2015

EF#32: Crochet A Plastic-bag Yarn, Why Not?


I am currently doing my old hobby: crocheting. I use the term menyongket in Bahasa Indonesia since some friends say crocheting as menyulam. I learned to crochet when I was 11 or 12. Back then, my mom taught me how to do that, and I sold to my schoolmates what she made: cute hairpins, bags, mukena pouches, and pencilcases. So, now when I start to crochet again, it was like a nostalgic activity and thank God I still remember the steps.

The question is, why am I doing this again? Well, in school where I work, we have a session called craft day where my workmates share her knowledge in making crafts from recycled or used material. Last month, she taught us how to decorate used bottles, jars, and wooden cutting board using decoupage technique. This month, the material that we decided to “makeover” is plastic bag.

I am really excited about this because I am a plastic bag collector. I wrote about this here. It irritates me when I see people throw away plastic bag like they don’t know that it needs hundred years to degrade. So I decided to keep every clean plastic bag I got and use it again. This “makeover” initiated by my friend will definitely make my “collections” more useful.




How to change plastic bag into yarn? We only need to cut the plastic using scissors into 1 cm wide rope-like shape. If we fold the medium size plastic bag vertically into four, then cut it into 1 cm wide, we’ll have 20-25 parts. To make it crochetable, don’t forget to open the cut parts (its shape is circular) and cut the circle. Voila! We have a plastic yarn now! Attach all yarn into on e long yarn using double tape or simply tie them.

For me, it is unique enough. Crocheting using plastic yarn is challenging since it can break easily if we are not careful. Choosing the right plastic is also an issue since the plastic bag should be thin enough. Mine are not done yet. I just want to make a simple square “cloth” because I haven’t learned more difficult techniques. This activity makes me relaxed for a while, haha...maybe it has the same effect with coloring? You tell me if you try it already ;p


Or, if you have other fun activities that is fun enough to share, join BEC’s English Friday Challenge this week. Happy weekend! 


Friday, October 30, 2015

Hidup Tanpa Sepatu (dan Tanpa Keluh)


Sampai saat ini, saya masih percaya bahwa membaca buku itu wajib dilakukan setidaknya satu buku per bulan, kalau kita sibuk. Alasannya, saya merasa selalu mendapat hal yang baru dan mencerahkan, that it makes me reflect and contemplate of how I live my life.


Wednesday, October 14, 2015

EF #29: The One Who Never Complains


Ibu, that’s how I usually call her, is my mother-in-law. I chose to write about her because she is the one who has taught me how to be a strong woman.


Sunday, October 4, 2015

EF #28: Songs That Make Me..


Honestly, I never try to understand the lyrics everytime I listen to a song. I decide to listen to a song based on the melody. If it satisfy my ears, I’ll listen and sing along. So, when I read the EF challenge this week, I was confused. I had limited time to write before weekdays start. After thinking for two days...I still don’t know what to write, hahah..


Saturday, September 19, 2015

EF #27: Read and Read and Read


If I can mention all good habits I’ve got from my parents, I will say reading is my favorite one. Is it a hobby or a habit? For me, it’s both. I like reading, I do it often, then it becomes a habit.


Monday, September 7, 2015

How Our Kids Eat


Saya sedikit tergelitik dengan cerita seorang nenek dari murid saya. Murid saya ini, sebut saja Kemal, badannya cukup besar. Saya tidak menganggapnya gemuk karena ia juga tinggi dan larinya sangat gesit. Hari-hari pertama di sekolah ia dibawakan sekotak susu UHT ukuran kecil. Minggu berikutnya, sang nenek minta izin membawakan Kemal susu formula di dalam dot karena sebelum sekolah ia minum susu pada jam yang sama. Saya pun ijinkan dengan pertimbangan agar anak tidak kaget beradaptasi dengan rutinitas baru.



Sunday, August 30, 2015

Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 2)

Read the first part here

Tadinya saya mau pilih sandaran, tapi harga lumayan, sekitar 400ribuan tanpa ongkir. Belum lagi saya jadi tidak bisa membonceng suami karena sandaran harus dipasang memakai sekrup. So, coret. Motor saya bukan matic, jadi kursi lipat juga saya coret dari list.



Saturday, August 29, 2015

Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 1)


Sebelum memutuskan untuk kembali bekerja, saya berpikir tentang siapa yang akan mengasuh anak saya. Ketika akhirnya saya menemukan daycare yang sesuai kriteria, saya harus berpikir lagi tentang bagaimana saya harus mengantar jemput anak saya. Alhamdulillah ada kendaraan pribadi sehingga kami tidak perlu naik kendaraan umum. Mertua sudah mewanti-wanti kalau bisa anak saya jangan "kena angin" dulu sampai minimal usia 3 tahun. Selain karena ayah ibunya sempat bermasalah di bagian paru-paru waktut kecil, ibu mertua juga sempat merasakan betapa buruknya kualitas jalan di daerah kami. Naik mobil saja tidak nyaman, apalagi naik motor, balita pula.

Saya dan suami sempat bingung karena mobil dipakai suami ke kantor, sementara tidak ada stasiun KRL yang dekat dengan tempat tinggal kami (jika saya naik mobil dan suami naik motor lanjut KRL). Akhirnya kami memutuskan untuk 50:50. Suami mengantar anak naik mobil sementara saya menjemputnya sepulang kerja naik motor. Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana saya bisa membonceng anak saya dengan aman? Usianya saat itu 22 bulan, beratnya hampir 11kg. Jelas, gendongan bayi yang biasa saya pakai sudah lama masuk kardus.

Jadilah saya hunting gendongan lagi yang bisa menopangnya dengan baik kala saya mengendarai motor. Secara tidak sengaja saya melihat seorang ibu yg membonceng anaknya yang kurang lebih seusia Aksa. Saya tanya ke ibu tersebut dimana ia membeli gendongan yang ia pakai, dan ia pun menyebutkan tokonya. Saya pun belain beli, alhamdulillah cukup, walau tali untuk badan saya terlalu pendek. Saat mencobanya, ternyata talinya tidak kencang karena bahannya hanya kain biasa.

Akhirnya saya dobel ikatan pinggang dengan jarik. Bismillah, saya coba naik motor dengan Aksa di belakang saya. Baru dua tikungan, tetangga saya sudah memperingatkan, "Bu, anaknya miring tuh!" Langsung saya balik arah, kembali pulang. Ternyata tidak berhasil. Tapi saya tidak menyerah. Saya balik posisi gendongan (tadinya saya "berinovasi" bagian pantat saya taruh punggung karena bantalannya bisa menopang kepala). Tetap saya ikat dobel dengan jarik. Suami mengikuti dengan mobil di belakang saya. Rutenya? Langsung ke daycare, kurang lebih 25 menit.

Hasilnya sangat tidak menggembirakan. Beberapa kali saya harus berhenti untuk membenahi posisi anak saya, mengencangkan ikatan, serta tatapan "aneh" dari pengendara lain yang seolah berkata, "Ibu ini gimana sih, anaknya hampir jatuh"

Akhirnya saya browsing tentang boncengan motor plus tanya teman-teman yang pernah memboncengkan balitanya. Hasilnya, saya menemukan beberapa alternatif: menggunakan sabuk bonceng, memasang sandaran di motor bagian belakang, dan memasang kursi lipat di bagian depan untuk motor matic.

Mana yang saya pilih?

Tunggu cerita selanjutnya!


Friday, August 7, 2015

EF #26: Me, The Dentist, and The Broken Molar


It took me some time to decide which experience to write. Mostly, my dentist-experience went well. Then, I thought that I needed to share the worst experience since it’s important to know before your dentist do something to your tooth.

In 2010, one of my molar teeth was broken. I ate rice and unfortunately a small rock was strong enough to crack my tooth. After asking my cousin which dentist I should go to, I went to a dentist who was my cousin’s friend. The dentist checked my tooth and said that it should be removed since the crack was big enough and couldn’t be filled. I agreed and he explained the procedure. I signed the informed consent. He told me that another dentist would do the procedure since it was a surgery and he didn’t have the right to do that.

So, I went there again the next day. This doctor, let’s call him dr.P, was as young as the first dentist. He started to inject anaesthetic to my gum, pulled out my teeth, and it failed. My tooth stood still. Then, he used a bigger tool and it was some kind of pliers. I still remember that it was so big until my mouth’s corner got blister. It took him a while until he got...the crown only! Okay, so if you don’t understand, the crown is the part of a tooth that we can see. Under the crown lies the root. He left the root in my gum.


I wasn’t panic because I thought everything was fine until the next TWO HOURS I sat there with my mouth open and got more than one injections. In the end of the session he said that he failed and I should have and X-ray and go back again the next day.

My gum was stitched with black thread (believe me you don’t wanna see that) and I cried on my way home because it was extremely painful after the anaesthetic’s gone. I tried to be strong, got an X-ray, and went back there again.

He looked my X-ray result carefully and said he found out why the crown was separated. Every tooth has two roots and this molar’s roots were bent like they were holding hands. So it’s kinda locked to the bone or something. Okay, I hope everything’s fine. Then, the surgery took another TWO HOURS. Can you believe it? It wasn’t successful!!!

The dentist said that I better go to dental hospital at Gadjah Mada University because there might be more help because there were more dentists. I couldn’t think of anything unless saying yes. Don’t ask me how it felt.

The next day I went to work with a swollen face. My face wasn’t symmetrical and one of my student’s mother asked what happened. I told her the story. Her husband was a dentist and guess what, she told me that what I experienced was a malpractice. Every doctor who is still studying to be a specialist should be supervised by his “lecturer”. In my case, dr.P did the surgery himself.

Coincidentally, the first dentist called me and said his apology and told me that I didn’t need to pay (it should be Rp 400.000). He still referred me to the dental hospital. When I went home my mother was surprised seeing what happened to me and said, “One of our relatives is a senior dentist. Go meet her.”

Alhamdulillah, my mom’s cousin is a specialist in Oral Surgery (Spesialis Bedah Mulut). She pulled out my roots only in 30 minutes without any pliers or tools that were more appropriate for wood and wall. She asked me who made me like this. When I answered “dr.P” she seemed to know who he was. It cost me Rp 800.000 because she gave me discount, plus it was a public hospital.

Lessons learned: got an X-ray before you pull out your tooth.

This is a part of BEC's English Friday Challenge. 
I mean the post, not the surgery.




Sunday, July 26, 2015

Ramadhan Tanpa Amarah


Ramadhan kemarin, saya benar-benar merasakan perjuangan untuk beribadah. Hingga H-7, saya harus puas bisa tarawih sekali saja di masjid, sisanya di rumah. Tidak jauh berbeda dengan mengaji, saya tidak rutin melakukannya tiap hari. Jadi, sekalinya ada tenaga tersisa, saya rapel sekalian beberapa halaman. Yang paling “instan” sekalipun, yaitu mendengarkan tausyiah di televisi, hampir tidak pernah. Semua alasannya sama: karena anak.


Saturday, June 27, 2015

EF #23: Mudik Preparation


The day of going back to my hometown a.k.a mudik is approaching. My husband said this morning that he couldn’t wait to meet his parents. Don’t worry Yah, time flies, even in Ramadhan + holiday like now. It’s almost a week fasting! So fast, uh?


Friday, June 26, 2015

EF #24: Eggplant Stir Fry Recipe

The difference between this ramadhan and the last is I don’t cook that much. My son takes most of my time and I just don’t have that much time to cook. So, I was a bit confused what to write in this challenge since the menu during the regular month and ramadhan is the same. There’s only one thing my husband asks that he didn’t ask on regular days: hot tea. I can’t write this tea recipe, right?


Monday, June 22, 2015

EF #21: EcoHoliday Under 100K at Kuntum Farm Field

Nowadays, back to the village is becoming a trend. What i meant with “village” is a place where we can experience a life like in a village: planting, feeding farm animals, or even ploughing..! These kinds of activities were easily found in our grandparents daily life (maybe). As our country gets more modern, more people move to the city and those activities in the nature lose their charm.


Wednesday, June 17, 2015

Tidur Nyenyak, Tanpa Nyamuk

Ada satu hal yang saya sukai dari musim hujan, yaitu udara dingin saat tidur malam. Maklum, kamar saya tidak ada AC-nya. Selain kamar menjadi “seperti ber-AC”, nyamuk juga enggak mampir ke kamar. Kebetulan, kamar tempat saya, suami, dan anak saya tidur jendelanya tidak bisa tertutup sempurna. Sepertinya masalah kualitas kayu dan pemuaian, sehingga ada celah yang sebetulnya kecil namun cukup untuk nyamuk menyelinap masuk. Bisa ditebak, kalau musim hujan berlalu, saya pun menjadi mosquito hunter.

Masalahnya sekarang, musim hujan dan kemarau itu tidak jelas kapan mulainya. Sampai hari ini, di tempat tinggal saya masih saja hujan setidaknya sekali dalam seminggu. Sisanya, hawa panas. Kalau musim tidak jelas seperti ini, malam hari bisa diduga hawanya gerah luar biasa. Kalau pintu kamar saya buka, nyamuk masuk. Kalau saya tutup, nyamuk masih masuk juga..! Memang sih, tidak sebanyak kalau pintu dibuka, tetapi sudah saya nyalakan standing fan pun, nyamuk masih berkeliaran juga.

Sempat pusing, itu jelas. Kalau kita orang dewasa, biasanya gigitan nyamuk bisa membuat terbangun. Kita tepuk, nyamuk mati. Eh, tapi suami saya sih tetap saja tidur walau digigit tiga nyamuk dalam waktu bersamaan, hehe... Yang enggak tega adalah kalau Aksa yang digigit nyamuk. Mungkin karena masih anak-anak kali ya (umurnya hampir 2 tahun) jadi tidur-tidur aja walau digigit nyamuk. Begitu kerasa gatel, a.k.a setelah nyamuknya puas dan kenyang, baru deh Aksa rewel. Setahu saya, dia belum bisa refleks menggaruk, tetapi biasanya badannya bergerak kesana kemari sambil merengek dan menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Itu bisa terjadi lebih dari tiga kali semalam.

Obat nyamuk? Jelas sudah saya pakai. Pertama pakai yang spray, disemprot setengah jam sebelum kamar dipakai tidur. Kalau nyamuk lagi low season sih bisa bertahan sampai tengah malam saja. Setelah itu ya sudah hilang efeknya, apalagi jendela saya menyediakan shortcut buat para nyamuk untuk masuk. Gorden udah enggak mempan menghalangi celah jendela. Kalau lagi peak season, saya bisa hopeless, obat nyamuk spray enggak mempan. Saya bisa terbangun berkali-kali hanya untuk berburu nyamuk. Sedih plus gemes rasanya, kalau kita keluar kamar dan kembali sejam kemudian melihat nyamuk yang sudah gendut-gendut sedang enak-enak “nangkring” di dahi anak saya.

Terlihatkah dua nyamuk gendut di tepi rambut pelipis dan tangan kiri Aksa? 
Sebelum obat nyamuk semprot, saya juga pernah pakai obat nyamuk bakar. Kekurangannya memang bau asap dan tidak aman. Saya takut saja kalau anak bangun lebih dulu daripada saya dan mainan obat nyamuk. Tingkat efektifitasnya juga masih kalah sama tipe spray. Kalau yang spray, anak saya suka memaksa masuk kamar ketika aromanya belum memudar, sehingga saya kuatir zat kimia tersebut berefek tidak baik bagi pernapasannya.

Akhirnya saya coba Baygon Liquid Elektrik. Seperti anjuran di boks, saya nyalakan 30 menit sebelum jam tidur. Ketika masuk kamar, yang saya suka adalah aromanya: hanya tercium ketika kita dekat dengan alatnya. Saat di kasur, saya sudah tidak bisa menciumnya karena baunya cukup lembut. Tombol pengatur saya set di tanda “+” karena nyamuknya termasuk banyak. Alhamdulillah, sejak saya pakai tiga minggu lalu, tidak ada lagi adegan berburu nyamuk di badan anak ataupun membersihkan sprei dari noda darah nyamuk gendut. Kalaupun Aksa terbangun, hanya sebatas minta ASI dan kemudian tidur lagi. Yeayyy..!

Tidur nyenyak, tanpa nyamuk. Background: Baygon Liquid Elektrik tertancap manis :)
That’s why it took me a while to post this, soalnya saya hanya memastikan Baygon Liquid Elektrik benar-benar perlindungan anti nyamuk yang tepat untuk kamar anak. Saya rasa tiga minggu sudah cukup untuk mengetes keampuhan obat nyamuk ini, apalagi hujan dan panas datang silih berganti dalam kurun waktu tersebut. Saya tidak lagi kuatir soal bau menyengat obat nyamuk, karena selain aromanya tidak keras, Baygon Liquid Elektrik juga tanpa asap dan tanpa repot. Saya tinggal tancapkan saja, selesai. Kadang, tengah malam saya lepas dan saya nyalakan fan karena hanya ada satu colokan di kamar. Alhamdulillah (lagi), walau sudah saya lepas, tidur saya dan anak tetap tanpa nyamuk sampai pagi.

For me, it is reccommended. Harganya juga terjangkau, di bawah Rp 20.000 dan bisa dipakai hingga 45 hari. Baygon Liquid Elektrik saya malah masih tiga per empat isi, irit yah.. Sekarang, tugas membuat anak tidur nyenyak tanpa nyamuk sudah selesai. PR berikutnya adalah, membuat anak tidur nyenyak tanpa...ASI! *langsunggalau*



This post is a part of #TUMBaygonBlogCompetition


Sunday, June 14, 2015

Review: Arch Hotel Bogor by Horison


To be honest, saya belum pernah spending weekend dengan cara menginap di hotel. Pertama sih mikir, sayang duitnya hehe..dan takut kurang seru aja kalo cuma di hotel sehari semalem. Entah kenapa, bulan lalu keinginan untuk nge-hotel tiba-tiba muncul. Pikir saya, sekali-sekali lah ya.. Setelah suami menyetujui, saya pun mulai survey hotel di Kota Bogor. Selama ini kalau weekend ke Jakarta terus, padahal saya tinggal di Kabupaten Bogor.

Akhirnya, saya berkunjung ke situs pesan tiket favorit, Traveloka. Saya pun memimilih beberapa hotel yang sesuai budget. Karena bingung, saya survey terlalu lama. Saya google hotel-hotel pilihan, termasuk membandingkan harga juga dengan website sejenis, seperti Expedia, Agoda, dan Pegipegi. Ketika akhirnya saya memilih Padjajaran Suites Hotel yang dekat dengan Jungle Land, kamarnya sudah tidak available lagi. Hiks.. Ada sih di website lain, hanya saja lebih mahal jatuhnya.

Tidak ada pilihan lain, saya pun lari ke pilihan kedua, Arch Hotel. Saya tidak pesan melalui Traveloka karena sudah sold juga. Akhirnya di pegipegi.com dapat juga walaupun harga yang semula 520 menjadi 540. Tak apalah, hanya selisih sedikit. Bedanya Traveloka dan Pegipegi adalah, di Traveloka harga yang tercantum adalah harga asli, tidak ada tambahan apa-apa lagi. Sementara di Pegipegi, harga yang tercantum masih belum ditambah pajak.

Pada hari Sabtu long weekend kemarin pun kami meluncur ke Arch Hotel. Kami sempat mampir Kebun Raya Bogor sebentar, biar sejuknya hotel lebih kerasa habis panas-panasan di KRB, haha.. Sampai di sana saya sudah pesan ke suami kalau menurut review, parkirannya sempit. Memang sih..saya parkir di basement yang hanya muat kurang dari 10 mobil mungkin…saya pun parkir di tanjakan keluar basement.


Sampai di lobi, saya langsung disambut pemandangan kolam renang dari jendela kaca. Okay, that means I will not swim. Langsung agak kecewa… Saya enggak nyaman renang dengan pemandangan yang sangat terbuka, dimana semua yang di lobi bisa melihat kita. Ya sudah, yang penting anak saya bisa berenang :)

Proses di lobi tidak lama, hanya antre sebentar karena ada rombongan tamu yang komplain ke resepsionis satunya (total ada dua resepsionis). Belum jam dua, kami sudah bisa check in ke kamar di lantai enam.

Kami pesan kamar deluxe twin room, include breakfast. Sampai di kamar alhamdulillah cukup sesuai dengan harapan. Kamarnya bersih, dengan lantai parket, tidak sesempit budget hotel pada umumnya. Anak saya pun bisa bermain dengan leluasa dan saya juga enggak pusing kalau ada yang tumpah atau makanan dilepeh ke lantai, karena tinggal di lap saja.




Karena gagal mendapatkan double bed, akhirnya suami saya pun menggeser dua kasur menjadi satu, dan memindahkan meja telepon ke dekat jendela. Sampai sebelum magrib, kami tidak perlu menyalakan lampu kamar karena jendela kami menghadap ke utara dan sinar matahari lebih dari menyilaukan untuk sekadar menerangi kamar kami.

Setelah solat dan bersantai di kamar sejenak sembari menonton pertandingan badminton di TV, kami turun untuk berenang. Ternyata, di kolam yang tidak begitu besar tersebut sudah cukup ramai oleh tamu lain yang rata-rata keluarga. Walaupun satu pool, tingkat kedalaman dibagi dua, seperempatnya untuk anak dan sisanya untuk dewasa. Ada bola plastik besar dan sebuah ban berukuran dewasa yang disediakan pihak hotel, lumayanlah bagi yang tidak membawa mainan. Saya sempat meminta handuk berenang karena handuk yang disediakan di meja hotel habis. Hanya tersedia tiga atau empat meja saja, sehingga agak sedikit berebut dengan yang lain.



Selesai berenang, kami sempat kembali ke kamar, menemani anak bermain di kamar dan menonton TV. Menjelang malam, lampu kami nyalakan dan ternyata kurang terang untuk ukuran saya. Cukup temaram dibandingkan beberapa hotel yang pernah saya kunjungi. That’s fine, kami tetap dapat tidur nyenyak.

Paginya, kami sarapan pagi di restoran.. Ternyata kami yang pertama datang,haha.. Masih jam setengah tujuh kalau tidak salah. Restorannya di lantai dua dan kami memilih untuk duduk di sebelah jendela yang menghadap swimming pool. Walaupun anak saya sibuk ngelihat ke kolam dan minta berenang tetapi lebih mudah menyuapinya ketika mulai susah makan.



Alhamdulillah, menurut saya menu yang ditawarkan tergolong banyak dan rasanya enak untuk standar saya. Dengan bentuk buffet, saya bisa icip-icip banyak makanan walau yang diambil itu-itu lagi sih, hehe.. Saya pilih kentang goreng yang dibentuk bulat, sosis, dan salad sementara suami yang lidahnya Indonesia banget memilih nasi pecel (atau gudeg ya? Saya udah lupa). Bubur dan soto betawi juga ada, yang enggak ada adalah…sliced cake :p Ada mini croissant sih sebagai pengobat kekecewaan, ada egg station juga (yeayyy!). Oya, ini menu yang bikin saya kurang minum air putih: jamu beras kencur! Ga nyangka ada jamu dan rasanya membuat saya serasa di Jogja (soalnya jamu gendong di tempat tinggal saya manis banget, kebanyakan gula jawanya).


Setelah kenyang, saya “terpaksa” balik ke kamar soalnya enggak enak sama yang baru dateng dan tidak mendapat tempat duduk. Kebetulan tamunya lagi banyak kali ya, padahal otak masih craving for something sweet (tapi perut udah said stop), maklum ibu menyusui :D

Setelah sarapan, kami hanya di kamar saja. Pertimbangannya, selain enggak tau jalan di Bogor, takut nyasar dan terjebak macet. Padahal, tujuan weekend kali ini adalah beristirahat saja di hotel. So, sampai check out kami stay di kamar aja, ngobrol, nonton TV, main bareng anak, dan bobok siang.
Kesimpulannya, we really enjoyed our weekend! Buat hotel under 500k, reccommended. Jadi pengen hunting voucher hotel lagi nih, hehe..





Saturday, June 13, 2015

EF #22: A Failed Trip to Kebun Raya Bogor


Being a mother makes me want to visit as many parks as possible. Of course, I want my son to experience playing in the parks more than he does at malls. So, last month we went to Kebun Raya Bogor. It wasn’t a well planned one since our main destination was staying in a hotel. If we went to Bogor before check-in time, which was at 2 pm, we would definitely be trapped in a traffic jam. So, before 10 am we left for Bogor already and that means we had more than 3 hours to spend somewhere. Then, Kebun Raya Bogor was our choice.


Tuesday, June 2, 2015

Sabtu Bersama Bapak: Lessons Learned


Setiap kali selesai membaca buku bagus, pasti saya pengen review tulisannya di blog. Entah mengapa, selalu saja tidak kesampaian. Kali ini, saya paksain bikin ala-ala review (karena saya belum pernah bikin review buku) berbentuk poin-poin aja so it’s easier to remember.


Monday, June 1, 2015

If I were a BEC's admin..


..I would separate grammar sessions for beginners and advanced members. For beginners, the session is in Bahasa Indonesia. Joining a conversation in English where all members speak fluently can be intimidating for beginners. So, give a room for members to ask basic-repeated-silly questions J


Monday, May 25, 2015

EF #19: The Memorable Nanny


She was eighteen and I was nine if I am not mistaken. Our relationship began when he worked for my parents as a nanny. My parents were both working at that time, so I and my sister were taken care by Mbak Nini, that’s how I called her. Actually, there was one more nanny, Mbak Retno. This 15 year-old girl handled my sister while Mbak Nini was for me.


Sunday, May 24, 2015

Saat Guru menjadi Orang Tua Murid


Sudah dua minggu ini saya memasukkan anak saya ke sebuah daycare. Kebetulan, sebentar lagi saya kembali bekerja dan saya ingin anak saya nyaman terlebih dahulu di daycarenya sehingga ketika mulai bekerja nanti ia mudah ditinggal. Inilah kali pertama saya berganti peran menjadi orang tua (murid) setelah sekian lama menjadi guru dan berhadapan dengan orang tua murid. Apa perbedaan yang saya rasakan?



Friday, May 22, 2015

My Kidney Bean 1st Giveaway: Two Favorite Posts


Salah satu keajaiban mengikuti komunitas blog adalah...kita bisa mendapat banyak cerita dan inspirasi dari blog, termasuk berinteraksi dengan sang pemilik tulisan lewat komentar. Salah satu blog yang saya kenal melalui blogroll Indonesian Hijab Blogger adalah My Kidney Bean, a blog by Mbak Sandra. Waktu itu kalau nggak salah postnya tentang daycare. Saya langsung klik soalnya saya kebetulan lagi menimbang-nimbang keputusan saya untuk memasukkan Aksa ke daycare.


EF #20: The Marriage Effect


Ehm, relationship. This word is really meaningful for me as a girl and a woman. Being single for most of my teen life made me think that I wasn’t lucky, haha.. When finally I got a boyfriend, it wasn’t as simple as I thought. Did it affect my study life? I don’t think so. Up to that point, I concluded that having no boyfriend was more fun since friendship lasts forever. Hung out with my close friends and met new people were things I really liked to do.



Friday, May 15, 2015

Tentang Kemalingan



Saya tidak mempunyai banyak benda berharga, surat-surat penting, termasuk perhiasan yang nilainya membuat saya harus memasukkan mereka ke brankas atau safe deposit box di bank. Tepatnya, belum punya (insya Alloh someday yaa) Orang tua saya pun tidak memiliki pengamanan ekstra, dan alhamdulillah tidak pernah kecurian. Namun, ada salah seorang pakde yang memiliki kebiasaan tersebut. Usahanya melindungi barang berharga beliau bisa dikatakan lumayan lah untuk ukuran keluarga kami.


Thursday, May 14, 2015

EF #18: Why is Ours So Complicated, God?

Dear God,
It’s clear what kind of relationship we have
You love me and I love You
You are The Creator and I am the creature
I know what you’ve given me but..
I haven’t given what You asked me to



Tuesday, May 12, 2015

Mengajari Anak Bahasa Daerah, Perlukah?




Wong Jowo kok ra iso boso Jowo…” (orang Jawa kok tidak bisa  bahasa Jawa)

Begitulah komentar Eyang suami saya ketika saya pertama kali menjadi bagian dari keluarga mereka. Malu juga rasanya ditegur begitu walau sebetulnya saya bisa berbahasa Jawa tapi kurang lancar. Saya bisa memahami artinya, tetapi kalau harus bicara dengan yang lebih tua mendadak gagap..karena nervous, haha..Dalam bahasa Jawa, bicara dengan orang yang lebih tua bahasanya berbeda dengan yang seusia, dan vocab saya untuk ini sangat terbatas :p


Thursday, April 30, 2015

EF #17: An Architect or A Designer?




Do you know tedhak siten? It is a Javanese ceremony where babies celebrate their first time stepping on the ground. One part of the ceremony is when the baby is put inside a chicken cage and he should choose one thing around him. The thing he chooses represents his future, according to Javanese belief. Can you guess what I chose? A pencil.


Tuesday, April 28, 2015

My Favorite Wedding Souvenir: Financial Note

Beberapa hari lalu, di grup Whatsapp keluarga besar ayah saya ramai berbicara tentang kebiasaan menyimpan struk dan mencatat cashflow. Ternyata kami para sepupu (khususnya wanita) cukup rajin melakukan salah satunya. Saya rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran harian, baik ketika masih bekerja maupun sekarang saat menjadi ibu rumah tangga (apalagi!). Struk belanja saya buang ketika nominalnya sudah saya catat di catatan pengeluaran. Ada sih beberapa yang saya simpan, khususnya yang berupa struk transfer atau pengiriman paket.


Thursday, April 23, 2015

EF #16: Fortune Comes to Those Who Are Right



There is not much that I can remember from Indonesian tales in my childhood. I read a lot of books, including comics and encyclopedia that came from varied countries. I remember some beautifully illustrated tale books that I saw in Gramedia at that time, but it was too costly. My father bought me some Indonesian books though, but mostly the illustration was like Balai Pustaka book, haha.. For you who were born in 1990, Balai Pustaka was a publishing company owned by the government. The books for students had a lot or writing and only few pages had black and white illustration. 


Friday, April 17, 2015

EF #15: Gadgets or Real Games?




As a new parent, I like to browse parenting articles and read parenting magazines. What I can get from most parenting media is that kids now connect a lot with technology, including during their play time. The latest, I bought a book from Parenting Indonesia magazine, titled Raising The Next Genius Part 2: Membesarkan Anak Cerdas di Era Digital. The book is a complete guide for parents about the latest technology or gadget kids may access, what parents should know, how to avoid problems, and cool apps for kids.
Wheew, I read that and feel amazed of what parents now are facing: pornography, cyber bullying, and kidnapping. Whether they give gadget or no, this danger is still around. 


Wednesday, April 15, 2015

Terpukau Baby Toilet di IKEA




Jujur saja, saya paling tidak sabar untuk menulis ketika pergi ke suatu tempat dimana fasilitas untuk ibu dan anaknya sangat layak. Langsung deh saya jepret sana jepret sini dan mengumpulkan detil untuk bahan tulisan. Setelah menulis tentang nursing rooms beberapa minggu lalu, kini saya akan share pengalaman saya (sebagai ibu menyusui) berkunjung ke IKEA Alam Sutera.


Friday, April 10, 2015

Mudik dengan Batita, Naik Apa?


Kenapa saya memilih topik mudik kali ini sementara lebaran masih lama? Untuk para perantau pasti tahu jawabannya. Yak tepat, karena barusan pemesanan tiket mudik kereta api resmi dibuka. Tahun lalu saya gagal mendapat tiket mudik sesuai keinginan walaupun sudah duduk manis di depan laptop sejak jam setengah 12 malam selama 2 hari berturut-turut. Akhirnya, kami bisa mendapat tiket untuk H-1, sampai Jogja hanya sejam sebelum solat Ied.  Cara mendapat tiketnya adalah dengan cara mengikuti tips seorang teman: meminta adiknya untuk booking tiket via warnet di kota asal dengan koneksi cepat.


Wednesday, April 8, 2015

EF #14: A Memory of a Sailormoon Addict




1996.
A group of 6th graders was packed in a 3x3m2 room, laughing out loud. One of them held a comic book while ohers acted as a cat named Luna and a girl named Usagi. They were trying to bring the story in the comic into a play. Although there was no audience, these 4 girls and a boy had a lot of fun.



Nursing Rooms I Visit Frequently

Sejak menjadi ibu menyusui, saya jadi harus rajin mencari ruang menyusui ketika bepergian. Untuk mal saat ini rata-rata sudah memiliki nursing room, khususnya mal yang usianya relatif baru. Kondisinya memang beragam. Saya sempat menyusui di nursing room sebuah mal yang lokasinya persis bersebelahan dengan toilet sehingga baunya pesing, hingga ke nursing room yang cukup mewah dan luas (serasa milik pribadi, hehe).

Berikut ini adalah beberapa nursing room yang saya pernah kunjungi  dan sempat saya dokumentasikan.

1.                   Mal Ciputra Cibubur
Awalnya, nursing room di mal tiga lantai ini hanya ada di lantai 2, namun sekarang ada juga di lantai 1. Walaupun hanya ada dua nursing room di setiap lantainya, ukurannya sangat luas dengan kondisi bagus dan bersih. Mungkin karena usianya masih baru dan penggunanya tidak terlalu banyak (saya jarang mengantri menggunakannya). Di setiap kamar terdapat satu changing table, dua kursi dengan sandaran, kaca besar lengkap dengan wastafel.



2.                   Cibubur Junction
Nursing room di Cibubur Junction ukurannya seperempat dari nursing room di Mal Ciputra Cibubur. Kondisinya pun biasa saja dengan satu bangku panjang tanpa sandaran serta wastafel. Letaknya di sebelah toilet di lantai 1 kalau tidak salah, dan hanya ada satu kamar.


3.                   Pejaten Village
Saya suka dengan nursing room di sini karena walaupun hanya ada di satu lantai, biliknya banyak (sepertinya lebih dari 5) dengan ruang tamu di pintu masuknya sehingga para ayah bisa menunggu. Biliknya memang sempit tetapi sirkulasi udaranya bagus, dengan wastafel dan kaca, 1 changing table, serta 1 kursi puff. Petugas kebersihan pun selalu stand by karena ketika saya masuk kembali setelah sejam, pintu bilik sudah terbuka lagi (diganjal tong sampah di bagian dalam) dan kasur changing table dalam posisi tersandar di dinding.





4.                   Stasiun Gambir
Senang sekali rasanya ketika di tempat umum ada ruang menyusui. Di Stasiun Gambir, ruang menyusui berada di salah satu sudut di lantai dua. Ukurannya besar walaupun kondisinya pas-pasan, dengan karpet, beberapa jenis kursi (high chair, kursi kantor, kursi tunggu dari logam, kursi kafe). Buat saya, yang penting ACnya menyala, hehe.. Di stasiun lain yang kami lewati ketika sudah di dalam kereta, biasanya ada ruang menyusui walaupun terintegrasi dengan posko kesehatan. Saya pernah mencoba menyusui di Stasiun Purwokerto ketika kereta yang kami tumpangi mendadak harus diperbaiki. Ruangannya lapang, namun seperti ruang tamu dengan sofa tua serta meja kayu.




Semoga saja saya bisa lebih banyak bertualang ke nursing room tempat-tempat lain (dan menceritakannya di sini). Semoga bermanfaat!