Thursday, January 29, 2015

#EF4: Doraemon's Doraplastic




Okay, what is that? It took some minutes for me to digest that message, displayed on my friend’s profile picture. Looks like a sushi roll, but it’s blue, so it can’t be.  

Oh wait, it is indeed a piece of sushi but it is made of plastic and rice. What a cool ad! This advertisement is part of a campaign to use plastic wisely since a lot of sea creatures eat those plastic materials. If you have read my previous post about plastic, you know how I hate to throw plastic bag because it harms the environment. I am still wanting a thing, a tool, a machine –whatever you call it- to solve this plastic ‘versus environment” problem.

Let’s daydream for a while. Think about something you can have to change plastic garbage into useful things. Ah, got it. Doraemon!  Ya, that blue robotic cute cat. He always has unique yet useful gadget inside his pocket. If I can wish for a tool from his pocket, I would say a Doraplastic.

Doraplastic stands for DOn’t thRow Away the PLASTIC. It is a kind of recycling machine but it comes in a very portable, stylish design. I imagine that it is as big as 1L Tupperware drinking bottle that you can bring inside your backpack, or put it inside your car. For kids, I will make the Doraemon version. This is the prototype:

For adult: Open the lid to put in the plastic. Press the button to start the recycling process. Release the blue layer at the bottom of the tool to put out the plastic flakes.
This is Doraplastic for kids, just exactly like Doraemon in shape, made of stainless steel.



Monday, January 26, 2015

Kebahagiaan Sederhana




Katanya, kebahagiaan itu sederhana. 

Hmmm..ada sih yang sederhana, semacam makan cokelat dan dipeluk orang yang disayangi. Ada juga yang lebih membutuhkan perjuangan seperti kebahagiaan ketika bisa menyekolahkan anak hingga kuliah atau meraih prestasi di bidang yang kita geluti.

Kemarin, saya merasakan kebahagiaan sederhana itu. At first, I just felt so happy before the day ended. I tried to remember what happened that day that made me feel so. Ternyata, inilah penyebabnya:



Thursday, January 22, 2015

Saya Kolektor Tas, Anda?




Jangan salah sangka dulu ya, tas yang saya maksud adalah tas plastik alias kantong kresek, hehe.. Tidak ada niatan untuk mengoleksinya, namun mereka terkumpul dengan sangat cepatnya di rumah saya. 

Kalau diingat-ingat, kebiasaan ini sudah saya mulai sejak jaman SMA, dimana Mama selalu melipat tas plastik tersebut menjadi bentuk segitiga. Tidak hanya itu sih, tas-tas kertas sisa shopping juga saya kumpulkan, apalagi jika desainnya menarik dan dari brand ternama. Sampai akhirnya, ketika saya lulus kuliah saya menyadari tas-tas tersebut hanya memenuhi gudang saja. Sebelum ditumbuhi jamur, maka tas kertas tersebut saya jadikan goodie bag untuk bakti sosial di panti asuhan putri. Terlihat beda pastinya :)



#EF3: "Ode" to My Laptop




Dear My Red Laptop,

Thank you so much for helping me this far..

Since I got you in my early career as a teacher, you never felt tired to be there for me. In the morning, I needed you to show some teaching materials, including when students asked me something I didn’t know. I typed “google” on your keyboard, and there was the answer. Then, I left you at the dormitory while I went to teach the preschoolers. 

Later in the afternoon, I got you again and we’re back together in the classroom for adults, where sometimes you’re connected to an LCD to show them some short movies. When the sun went down and the class finished, we took a rest for a while. If I hadn’t got teaching materials or icebreaking games, I would be busy looking at your screen, clicking here and there, until I found what I wanted. That’s not the end of the day because we still have the latest class at 9.30 PM although sometimes I put you in my room and taught without you.



Saturday, January 17, 2015

Anak Cowok Kok Kalem?

www.understood.org
Hampir setiap kali Aksa saya ajak keluar, pasti orang-orang bilang,"Kalem ya bu anaknya.." atau "anaknya anteng ya bu, enggak rewel.."
Awalnya saya biasa saja karena memang Aksa benar-benar menjadi observer ketika menemui sesuatu yang baru. Setelah 20-30 menit barulah ia "panas" dan menjadi anak yang aktif seperti ketika ia berada di dalam rumah.
Lambat laun, saya mengamati bahwa anak saya kok lebih tenang daripada anak laki-laki seusianya ya? Anak sepupu saya sama-sama berusia 1,5 tahun, dan aktifnya bukan main. Herannya, Aksa hanya mematung melihat sepupunya itu dengan takjub, alih-alih ikut heboh.



Thursday, January 15, 2015

#EF2: My Wildest Dream




Living in a new neighborhood without any help from parents or family members who were always there, was a bit challenging for me and my husband after we moved to Bogor. Although my husband’s uncle lives near our house, I still feel uneasy to ask too much help. At first we tried to fix broken things ourselves, and then we started to know some people who we can ask for help. Soon I realized that there are too much people who help us running our daily life. Unfortunately, we take it for granted most of the time since money is involved.

I will take Yu Sri, the veggie seller I always come to everyday, as an example. In the morning, she sells vegetables, meat, fish and other cooking ingredients on a porch of a shop. Around 10 a.m, she loads those stuffs to a cart and walks around this very big housing complex, pushing the cart by herself. I don’t know how much she makes, but I’m sure that’s not much. She can only take Rp 500 – Rp 1000 margin per item, I guess. Tired? I think you can answer.



My New Thing in New Year: BEC



www.laurenhuston.com
Last week, when I was blogwalking to Kacamatamia, I got the info about BEC a.k.a Blog English Club. It is a newly-formed online community for bloggers who want to improve their English. English Friday is the first activity of BEC that I knew, where the members are challenged to write a blogpost in English about a topic. Later, I also found out that BEC also has  Whatsapp groups, one for chitchatting and one for learning English.

For me, who thinks that my English ability is somewhat decreasing, joining this group must be an advantage. Without too much thinking, I sent email to one of the admins, Mas Dani. The next day I got a reply, and the day after I officially became a member in BEC’s WA group.

The first day was amazing, because everyone was so excited in speaking English. When I left my cell for 1 hour, it had around 50 unread messages. Crazy! The next day, we had the learning session guided by some mentors and the session was more than amazing. Why? It was because the mentors share the lessons in easy-to-understand English. I got some new knowledge also that made me write it down on a post it, haha.. 

Since I missed the first English Friday, I will write directly to the second one. I still hope I have the time to write the first challenge, though. Wish me luck :)
  



Sunday, January 11, 2015

The Other Side of Breastfeeding

www.myrtlebeachbirthservices.com
 “Memangnya menyusui itu enak banget ya sampai-sampai kamu ketiduran terus?”, tanya suami saya suatu hari. Ah, masa sih? Saya tidak merasa demikian, walau terkadang ketika membuka mata ternyata saya ikutan tidur, haha..

Untuk saat ini, saya memang merasa menyusui itu nikmat sekali. Berbeda dengan dulu. Saat anak saya masih bayi, menyusui itu melelahkan. Saya baru bisa menemukan posisi menyusui yang pas setelah Aksa berusia 6 bulan lho! Sebelumnya  adalah masa-masa trial and error, dari yang sambil menggendong, berbaring miring, pakai bantal, sampai sambil duduk, tetap saja tidak ada yang pas. Saya tidak menyangka kalau menyusui itu butuh belajar sekian lama, setara 3 SKS kali ya :p

Apa dong bedanya dengan menyusui sekarang, ketika Aksa sudah di atas setahun? Menurut saya, menyusui pada masa ini lebih emosional, dalam arti kontak dengan anak menjadi lebih intens. Anak sudah bisa memberi reaksi, seperti menyentuh dan memeluk. Pertama kali Aksa memeluk pinggang saya ketika menyusu, saya girang bukan main. Saya merasa menjadi orang yang paling disayang dan diinginkan oleh anak saya, hehe..

Ukuran badannya pun sudah lebih pas untuk dipeluk, ataupun untuk menyusu sambil duduk di pangkuan kita. Bahkan, gaya menyusunya pun berbeda-beda. Terkadang Aksa berbaring di samping saya sambil mengangkat-angkat sebelah kakinya, atau menyusu sambil berbaring tengkurap di atas saya, bahkan terkadang merosot dari pangkuan saya hingga ia pun berada dalam posisi berdiri. Aneh juga ya..

Saya sih enjoy-enjoy saja melihatnya demikian karena saya menjadi terhibur. Hitung-hitung sambil menyelami karakter anak saya. Terkadang, saat menyusui pun bisa menjadi play time buat kami berdua. Misalnya, dengan menggelitik, menyentuh bagian tertentu dari wajah, atau bahkan berguling ke kanan dan kiri yang akhirnya bisa membuat kami terkikik (karena posisi Aksa masih menyusu). Atau sebaliknya, menyusui adalah me-time Aksa ketika ia hanya KKS alias kenyot-kenyot santai, tanpa benar-benar meminum ASI. Belakangan saya tahu, namanya adalah isapan non-nutritif atau isapan yang hanya untuk kesenangan, bukan untuk minum.

Dari semua hal di atas, yang paling berkesan untuk saya adalah melihatnya tumbuh dari hari ke hari dalam pelukan saya! It feels sooo amazing.. Dari yang tadinya hanya seukuran lengan bawah saya, hingga sekarang hampir mencapai setengah tinggi badan saya. Rambutnya yang tadinya botak sekarang lebat, matanya yang sekarang bisa menatap saya dengan berbagai jenis pandangan, ataupun aroma wangi bayi yang telah berubah menjadi agak “asem” karena seharian berlarian :p

Tadinya saya tidak menyadari kalau ternyata rasa nikmat ketika menyusui (bahkan sampai tertidur) itu karena ada campur tangan hormon. Ketika membaca salah satu buku William Sears, yang juga pengarang The Baby Book, saya baru tahu bahwa menyusui menghasilkan hormon prolaktin yang menimbulkan rasa rileks dan nyaman. Ooh, pantas saja..selama ini kalau menyusui rasanya bahagia, apalagi kalau Aksa saya gemesin sampai “agak brutal” dan dia hanya pasrah karena sudah kalah oleh ASI, haha..

Salah seorang teman sempat mengungkapkan kegalauannya ketika saya memberi selamat atas kelulusan S2 asinya, alias lulus menyusui selama setahun. Saya bilang “masih setahun lagi”, namun ia bilang “tinggal setahun lagi”. Dan ia pun menceritakan haru birunya saat menyapih anak pertamanya. Hal ini pun membuat saya berpikir, iya ya..waktu saya tinggal enam bulan lagi, and it’s not a long time. Beberapa kali saat sedang menyusui, saya sering berujar dengan mellownya ke suami, “Ayah, nanti kalau Aksa udah 2 tahun, siapa donk yang peluk-peluk aku kaya gini?”

Suami pun hanya tersenyum dan menjawab, “Yaa..dipuas-puasin aja sekarang, nanti bikin adek lagi..”

Waduh!


Friday, January 9, 2015

Don't Stay The Same, Moms..

www.shutterstock.com
Sebagai seorang ibu yang memutuskan untuk tidak bekerja, ada kekhawatiran yang lama kelamaan muncul. Bagaimana jika suatu hari nanti skill yang saya miliki hilang seiring dengan waktu? Bagaimana jika sewaktu anak saya SMA kelak, saya tidak lagi lancar berbahasa Inggris, atau sudah malas untuk mempelajari fitur gadget yang ia miliki? Or even worse, bagaimana jika kelak saya lebih ingat siapa saja yang pernah berpacaran dengan artis A daripada mengingat jenis tenses meskipun saya dulu berkali-kali mengajarkannya di kelas?

Jangan anggap saya berlebihan ya, Mommies. Mungkin mama saya atau ibu mertua fine-fine saja untuk lupa akan suatu hal that they mastered before, tapi saya tidak. Selain belum genap dua tahun menjadi stay-at-home mom, saya masih merasa bisa melakukan sesuatu dan berkarya, dimanapun itu. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Melihat saudara yang terkena stroke dan menjadi terbatas geraknya, atau beberapa kerabat yang kehilangan suami di usia muda, sehingga para istri ini harus “turun gunung”, saya jadi berpikir lebih jauh. Tentu saja, tidak ada yang ingin hal buruk terjadi pada kita atau suami. Saya hanya merasa, it can happen to all of us.

Jadi, untuk kebaikan saya sendiri, saya memilih untuk terus “bekerja” alias menjaga otak saya agar tetap bekerja. Saya akui, di rumah seharian bisa menjadi anugerah, bisa juga musibah. Kalau kita bisa memanfaatkan waktu, itu anugerah. Namun kalau kita hanya mengalir saja, bisa jadi kita sudah menyia-nyiakan banyak kesempatan yang sebetulnya bisa kita peroleh.

Awalnya saya sempat bingung, saya mau apa ya? Saya tahu mengurus anak sudah cukup menghabiskan waktu, apalagi ketika mereka masih bayi. We hardly have time to just enjoy our meal. As they grow older, we have more time for ourselves. Pada saat itulah saya mulai mencari hal-hal yang saya bisa dan saya suka lakukan. Saya ingin kembali mengajar, rasanya belum memungkinkan. Meskipun itu hanya kursus 1-2 jam, anak saya tetap harus ada yang menjaga kan? Jadi, hal tersebut saya coret dari daftar untuk sementara.

Secara tidak sengaja, suami membaca tulisan saya dan memberi pujian. Buat saya, hal tersebut menjadi motivasi yang luar biasa, karena suami saya jarang sekali memberi komentar, apalagi pujian, haha..Saya pun jadi semangat menulis, sampai cukup percaya diri untuk submit article di mommiesdaily dan akhirnya dimuat! It’s a turning point for me, really. Saya pun jadi merasa hidup kembali dan semakin semangat menulis.

Masa-masa mellow bin galau itu pun berakhir (dan semoga tidak datang lagi). Setelah saya pikir, ternyata yang saya cari adalah eksistensi diri. Manusiawi sekali ya, haha.. Selama di rumah saja, saya merasa kehilangan sesuatu. Saya merasa punya energi, tetapi bingung mau disalurkan kemana. Akhirnya ketika saya mendapatkan pengakuan, saya merasa mampu, dan saya merasa kembali menemukan semangat untuk berkarya. Saya pun menjadi lebih happy, anak dan suami juga lebih happy karena sang ibu jadi enggak gampang ngomel, hehe..

Kalau Mommies masih merasa bingung, berikut ini ada beberapa contoh aktivitas yang mungkin bisa membuat kita menemukan our long lost passion.
1.    Coba ingat-ingat, apa yang sejak dulu suka kita lakukan dengan penuh semangat, sampai lupa waktu misalnya. Bisa juga hal-hal yang menuai pujian dari orang-orang terdekat, atau hal yang menurut orang adalah keahlian kita.
2.    Kalau sudah ketemu, kita bisa mulai melakukannya lebih sering, untuk mencari lebih jelas apa yang kita inginkan dari hal-hal tersebut. Kalau belum, dicoba saja beberapa hal yangmenarik minat kita. Seperti Fifi Alvianto, yang awalnya memiliki tujuh blog dengan tema berbeda, sampai akhirnya mengerucut jadi beberapa blog yang benar-benar menjadi minatnya, bahkan “berbuah” majalah Laiqa.
3.    Cobalah kunjungi website atau blog yang menjadi minat kita. Karena saya suka menulis, saya suka blogwalking ke blog parenting untuk membaca tulisan mereka, kadang mengklik link ke situs-situs senada, juga melihat desain blog, gaya penulisan, termasuk topik-topiknya. Kalau Mommies suka travelling misalnya, bisa melihat travel blog. Suka crafting? Banyak sekali tutorial dari website dalam dan luar negeri, ataupun youtube.
4.    Setelah “melihat dunia luar”, saya yakin Mommies jadi lebih punya banyak ide tentang apa yang ingin dilakukan. Misalnya, kalau suka memasak, maka ada beberapa resep yang ingin dicoba, lalu diunggah ke sosial media, atau didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Bisa juga memodifikasi resep dan dibuat menjadi sesuatu yang baru.
5.    Untuk menambah ilmu, ikutlah workshop, seminar, kursus singkat, atau bahkan kompetisi. Siapa tahu hobi memotret anak setiap hari ternyata tidak hanya bisa menajamkan sense of photography kita tapi juga mendapatkan hadiah J
6.    Bring it to the next level. Teman saya yang punya passion for fashion, tadinya hanya berjualan melalui bb. Lalu kemudian membuka butik kecil-kecilan, dan sekarang ikut kursus menjahit, karena ia berencana membuat label pakaian sendiri. Murtiyarini dan Rina Susanti, adalah dua dari sekian banyak mama blogger yang bisa membukukan postingan mereka ke dalam Mommylicious.
7.    Merasa tetap belum punya keberanian untuk membuat passion lebih dari sekedar pengisi waktu luang? Ikutlah komunitas yang sesuai dengan minat kita. Kalau tidak tahu, ketik saja kata kuncinya di Google. Selain menambah ilmu, juga menambah teman. Apabila ada event, kita bisa bertemu dengan anggota yang lain, bertukar pikiran sampai menjalin pertemanan.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar berminat untuk melakukan hal yang lebih dari rutinitas kita? Bisa jadi karena benar-benar tidak sempat, misalnya. It’s ok. Saran saya, tetaplah “melek” informasi, entah dari televisi, media cetak, atau media sosial. Ini penting untuk kita sebagai seorang ibu, karena seperti pendapat Dian Sastro, ibu-ibu cerdas menghasilkan anak yang cerdas.

Sekarang kita tinggal follow twitter majalah pengasuhan anak atau psikolog saja, kita sudah mendapat ilmu gratis, tanpa bayar mahal, tanpa keluar rumah. Kalau ingin memperkaya aktivitas dengan anak di rumah, saya sarankan untuk mengintip Pinterest. Banyak sekali ide untuk melakukan aktivitas harian dengan cara kreatif. Oh ya, saya juga suka membaca kalimat motivasi, entah dari grup whatssap atau display picture teman. Menurut saya, hal tersebut memberi andil yang cukup besar untuk terus menerus semangat dan berpikiran positif.

So, kita boleh stay at home, selama kemampuan enggak stay the same ya...

see the published version on http://mommiesdaily.com/2015/01/28/rmenjaga-otak-tetap-bekerja/