Wednesday, February 4, 2015

Dilema Anak Tetangga




“Aksa mau main ke rumah Tian?” tanya Mama Tian seusai kami berdua mengobrol di depan rumahnya sembari menemani anak kami latihan berjalan. Saya menolak dengan halus, dengan alasan mau lanjut jalan-jalan keliling kompleks.

Tawaran semacam ini, entah sungguh-sungguh atau hanya sekadar basa basi, sering dilontarkan tetangga-tetangga saya. Hingga kini, belum pernah saya mengiyakan tawaran mereka, haha.. Alasan saya sederhana, karena Si Mama Aksa ini dari kecil biasa main di rumah sendiri, di lingkungan tempat tinggal yang individualis (saya pernah ceritakan di sini). Jadi, untuk masuk ke “area pribadi” orang lain seperti rumah, dan orang lain masuk ke rumah kita, adalah hal yang menimbulkan rasa kurang nyaman. Tentu saja, bertamu tidak termasuk lho ya.

Beberapa kali ketika Aksa masih belum genap setahun, saya memperbolehkan beberapa anak tetangga untuk main ke rumah. Tujuan saya agar anak saya bisa bersosialisasi, tidak melulu melihat ibu dan ayahnya saja. Untuk anak usia SD sih, tidak ada masalah. Malah bisa saya ajak mengobrol. Namun, untuk anak usia 4-6 tahun ini yang membuat saya pusing karena mereka belum tahu cara bermain yang aman dengan anak seusia Aksa, sehingga saya yang sudah cukup lelah merawat satu anak harus ekstra mengawasi satu anak lagi T.T

Contohnya seperti ini. Ada seorang anak, sebut saja namanya Farel, yang sangat penyayang. Saking sayangnya sama Aksa, dia suka berinisiatif mengajak Aksa latihan berjalan dengan cara menarik tangan Aksa hingga posisinya berdiri dan berjalan maju, sementara anak saya tidak nyaman dengan cara seperti itu. Begitu juga dengan kesukaannya menggoda Aksa  dengan cara menjauhkan mainan yang ingin diraih Aksa. Duuuh..bisa sih diberi tahu, cuma kan kesannya saya jadi cerewet banget ya.

Akhirnya, rumah saya jarang dikunjungi lagi. Mungkin karena pagarnya selalu terkunci, ataupun saya tidak pernah menawari mereka untuk mampir. Meskipun demikian, hari ini ada kejadian extraordinary bagi saya, ketika ada seorang anak tetangga yang very determined to play in my house. Sudah beberapa kali dia meminta ijin, saya selalu mengelak dengan berbagai alasan. Kali ini, saya luluh juga dan membolehkannya bermain dengan Aksa di rumah.

Mulanya biasa saja, bahkan anak saya terlihat sangat senang dengan kehadirannya, hingga saya dengar suara ingus disedot. Huaaa…saya paling paranoid sama pilek dan rentetannya karena anak saya (dan saya yakin semua balita) tidak bisa tidur nyenyak kalau pilek karena hidungnya tersumbat, sampai muntah. Belum lagi, saya biasanya ikut tertular. Selama ini saya sangat-sangat ketat dalam melindungi anak saya dari anak lain yang sedang flu, tapi ketika temannya sudah saya persilakan masuk rumah begini, masa saya suruh pulang? Akhirnya saya hanya bisa memintanya untuk tidak memegang bagian wajah Aksa dulu (ia suka mencubit pipi dan mencium).

Belum sampai 15 menit, anak ini ke dapur saya lalu menghampiri saya sambil membawa sebutir jeruk. Setelah ia bertanya tentang apa yang saya lakukan (saya sedang menulis agenda), ia pun berkata, “Aku minta jeruknya ya!”. Saya pun mengiyakan walaupun agak mengelus dada karena belum pernah teman-teman Aksa langsung main ambil seperti itu, haha..

Sambil mondar-mandir kesana kemari bersama Aksa, ia makan jeruk. Karena saya pikir bisa lah Aksa ditinggal solat sebentar, toh ada teman yang lebih besar, saya pun solat. Pada rakaat ketiga, saya dengar pagar dibuka. Selesai solat di ruang tamu, saya melihat ke jendela dan oh la la..sepeda Aksa sudah di luar pagar, dengan Aksa yang tanpa alas kaki dan tentu saja, anak tetangga yang masih memakan jeruk.

Saya pun panik dan menyuruh mereka kembali ke dalam sambil mengambil sepeda. Mendadak saya melihat kulit jeruk berserakan di carport, hiks… Rasanya cuma emosi, tapi tidak mungkin kan saya marah. Padahal ketika ia mengupas kulit jeruk, saya sempat mengingatkannya untuk membuangnya di tempat sampah. Akhirnya saya hanya bisa bilang, “Kok buang sembarangan, Kak? Itu tempat sampahnya, dibuang di sana ya..” Ia pun menjumput satu serpihan, sementara masih ada lima lainnya. Akhinya saya memintanya untuk pulang karena Aksa mau mandi dulu. Begitu ia pulang, saya pun menyapu kulit jeruk (termasuk lepehan jeruk yang sudah dikunyah), dan tambah miris lagi melihat semut-semut kecil sudah melingkari tetesan jeruk di teras yang habis dipel.

(tarik nafas, hembuskan…)

Saya masih belum bisa berdamai dengan situasi seperti di atas. Saya tahu, suatu hari nanti Aksa akan bertambah besar dimana bermain bersama dan saling mengunjungi rumah teman akan menjadi salah satu kegiatannya. Saya juga tahu, bisa saja anak saya berperilaku kurang baik ketika bertamu, dan saya yang harus bisa mengajarinya dari sekarang.

Kadang saya merasa egois karena masih mengutamakan kepentingan saya di atas kepentingan Aksa untuk bersosialisasi. Sebenarnya, saya sudah menggantinya dengan mengajak Aksa bermain di luar bersama tetangga, dan saya temani, sehingga ia tetap bisa bersosialisasi. Anak Si Mbak cuci gosok pun bermain dengan Aksa sembari menunggu ibunya bekerja, dan ini merupakan suatu kemajuan besar bagi saya untuk bisa menurunkan standar kerapian dan kebersihan untuk anak lain yang memiliki pola asuh berbeda.

Jadi, PR saya adalah bagaimana bisa memberitahu siapapun teman Aksa yang datang ke rumah untuk berperilaku sesuai aturan di rumah saya, tanpa takut menyinggung perasaan anak tersebut (dan orangtuanya), karena kadang saya merasa kuatir jika orangtuanya tersinggung. PR berikutnya adalah memutuskan, jika Si Kakak tadi besok siang datang lagi, apakah saya akan mengizinkannya bermain dengan Aksa di rumah atau tidak, hehe..
 

 

Categories:

4 comments:

  1. Wah. Susah juga ya mba ngurus anak. Gak kebayang sih.
    Saya sendiri pas kecil memang jarang main dengan yang lain bukan karena dilarang. Karena memang lebih suka main d rumah. Hehehe. Tapi sy merasakan kok kekurangannya mba. Pas sd sy termasuk yang gak PD an. Moga bisa menemukan cara yang baik mba. Agar Aksa tetep bisa main sama yang lain tp gak juga merugikan Aksa dan mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sama nih.. Saya juga termasuk pemalu karena kecilnya jarang interaksi ama lingkungan luar rumah. Pengennya sih anak saya jadi lebih gaul gitu, hoho.. tapi ya susah juga kalo sayanya enggak ngasih contoh..
      Aamiin, thanks a lot, i wish that too :)

      Delete
  2. Mama2 spt kita hampir sama, anak sy 3,yg bsr 5th 8bln. Tiap hari anak2 tetangga main kermh, 8anak, bhkan kdg lebih. Rmh spt penitipan ank2. Tapii kita hrs py aturan dirmh, jd tamu2 kecil ikuti peraturan kita. Misal hbs main diberesin lg, bungkus mkn dibuang ditempat sampah. Tp ketika ada anak yg 2th main kermh, kita yg dilema,pusing..haha krn seusia itu blm bs main sendiri sebenarnya, hrs ada yg mendampingi. Orgtua jaman skg, mereka jarang yg mengajak anak main didrmh sndiri,jd ank2 lbh suka main ditetangga.
    Wkt kecil dl sy lbh suka main diluar rmh, jd sy byk main diluar, bkn ketengga, tp main dipasar (rmh dpn pasar), lapangan yg byk rumput. main ketengga kl main boneka2an saja.
    Utk mba mudah2an lebih sabar dan semangat!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, ini juga anak saya udah 3,5 tahun dan butuh banget main sama temannya..tapi saya masih adaptasi dengan teman2nya yang main ke rumah dan belum bisa diminta beres2 sendiri hehe..

      Delete