Monday, March 9, 2015

Bukan Pornografi Bagi Kita. Bagi Anak?




Suatu ketika saya membaca artikel di tabloid hiburan mengenai tips mengajarkan anak cinta membaca. Ada enam poin yang disebut, dan poin terakhir membuat saya heran: bacaan tidak mengandung unsur pornografi. Dalam hati, saya pun tertawa. Ya jelaslah, masa orang tua memberi bacaan berbau pornografi pada anak? Mungkin kalau anak usia SD ke atas, orang tua bisa saja kecolongan memberikan komik yang ternyata di dalamnya ada konten berbau pornografi, tapi anak saya kan masih balita.

Ternyata saat itu saya terlalu berpikir sempit, karena beberapa hari kemudian saya menyadari apa yang dimaksud oleh tabloid tersebut.

Saat itu saya seperti biasa menemani Aksa membaca buku di depan rak buku. Rak buku ini berada di ruang keluarga yang juga pusat kegiatan bermain dan belajar anak saya. Sejak ia mulai bisa membuka halaman buku tanpa dibantu, ia lebih sering membuka-buka buku sendiri. Sebagai catatan, rak buku ini berisi buku saya dan suami juga, termasuk majalah dan novel.

Salah satu yang sangat disukai Aksa adalah majalah, khususnya majalah ibu dan anak seperti Ayahbunda atau Mother&Baby, karena didalamnya banyak sekali gambar anak seusianya, berikut gambar anggota keluarga lain, makanan, serta mainan. Karena majalah parenting tersebut bercampur dengan majalah lain, ia pun beberapa kali membuka majalah Femina, National Geographic, ataupun Gogirl! (aduh, ketahuan deh masih baca majalah remaja).

Biasanya sih saya biarkan saja, tapi entah mengapa saat itu ia membuka halaman iklan produk fashion asing yang menampilkan pria dan wanita dalam posisi yang cukup sensual. Saya pun seperti orang yang baru sadar dari lamunan. Ini kan kontennya dewasa, kenapa saya tidak menyadarinya ya? Detik berikutnya, saya buka-buka semua majalah remaja dan dewasa yang ada di rak buku. Ternyata cukup banyak yang menurut saya sebagai orang dewasa adalah hal yang lumrah, tetapi untuk anak 1,5 tahun yang sedang dalam proses menyerap apapun yang ada di lingkungannya merupakan konten berbau pornografi. Beberapa diantaranya seperti foto wanita berpakaian minim ataupun ilustrasi artikel tentang hubungan dengan pasangan.

Akhirnya majalah-majalah tersebut saya amankan di bagian dasar tumpukan, sehingga Aksa tidak dapat mengambilnya. Saya kemudian teringat hasil observasi sebuah lembaga psikologi di SD tempat saya bekerja dulu. Mereka melakukan penelitian dan pelatihan seputar sex education kepada murid berusia 10-11 tahun. Salah satu poin yang cukup menohok adalah: anak-anak tersebut melihat “adegan dewasa” secara tidak sengaja ketika orang tua mereka menonton film di saluran tv kabel di rumah!

Di satu sisi, saya menyesali diri sendiri, kok bisa-bisanya tidak sadar akan hal tersebut. Apalagi, sebelum Aksa "puasa” menonton tv, saya suka mengajaknya menonton America’s Next Top Models yang jelas banyak sekali adegan dewasanya. Pada saat itu saya menganggap ia masih terlalu kecil untuk mengerti. Di sisi lain, saya bersyukur karena saya menyadari kesalahan saya sekarang, ketika usianya masih kecil. Semoga saja belum terlambat..

So, for you Mommies, be careful in deciding what’s okay and not okay for your kids because sometimes we forgot to put off our glasses as adults.




Categories:

0 komentar:

Post a Comment