Monday, March 2, 2015

Ini Olahragaku, Apa Olahragamu?



Pernahkah kita berpikir bahwa “olahraga ini aku banget” sementara olahraga lain bukan? Sebaiknya jangan buru-buru menyimpulkan ya.

Dulu saya merupakan fans berat aerobik dan tae bo. Menurut saya, kedua olahraga tersebut cepat membuat kita berkeringat, dan gerakannya bersemangat apalagi kalau musiknya enak. Baru olahraga setengah jam saja sudah merasa satu jam, hehe.. Pada saat itu saya sempat mencoba yoga bermodalkan video dari youtube karena menurut majalah yang saya baca, banyak yang jatuh cinta dengan olahraga ini. Apa yang terjadi, baru sepuluh menit saya sudah tidak sabar. Menurut saya, gerakannya lamaaa..dan keringatnya mana? Haha..

Pernah juga saya mencoba senam taichi lewat video kompilasi senam milik ayah saya. Sama hasilnya seperti yoga, saya bosan dan langsung saya skip ke bagian aerobik walaupun gerakannya jadul dengan kostum ala Catatan Si Boy dan lagu tahun 80an. Buat saya, ini yang beneran olahraga.

So, saat saya masih  bekerja hingga sebelum hamil, saya masih suka olahraga yang menggunakan musik upbeat dan sesuai dengan karakter saya yang tidak bisa diam.

Mendadak semua berubah setelah saya melahirkan. Jelas dong, saya tidak bisa langsung olahraga yang jedung-jedung lagi. Sambil menunggu tubuh saya fit kembali sepeti semula, saya pun mencoba taichi. Ternyata, saya malah menikmati..! 

Gerakannya memang pelan sekali, tetapi kalau kita benar-benar serius melakukannya, keringat akan bercucuran di sana sini seperti saat aerobik. Selain itu, senam ini mengingatkan saya akan gerakan tari jawa yang pelan namun banyak posisi setengah duduk yang membuat otot paha kita seperti terbakar.

Meskipun saya menyukai olahraga baru ini, saya tetap cinta dengan tae bo dan aerobik. Saya pilih jenis yang ringan-ringan saja karena frekuensi yang cuma seminggu sekali rentan membuat badan pegal-pegal kalau terlalu keras berolahraga.

Ketika anak saya berusia setahun, secara tidak sengaja saya berkenalan dengan yoga melalui LiTV, salah satu channel di layanan televisi berbayar, yang setiap pagi meneyangkan 1-3 jenis olahraga yang bisa kita ikuti. Cukup mengherankan, karena saya juga mendadak merasa sangat nyaman melakukan olahraga yoga. Saya tidak merasa bosan seperti dulu, dan cukup tertantang menaklukkan setiap gerakannya yang sukses membuat otot saya tertarik to the max dan oleng-oleng karena gagal menahan keseimbangan.

Mmm..sebenarnya saya tahu sih kenapa setelah punya anak (kecil) saya mendadak menyukai olahraga yang ritmenya lambat. Itu karena olahraga tersebut mampu meredakan rasa stress saya akan rutinitas ibu baru. Apalagi, saya fulltime di rumah yang kadang suka sulit mengatur emosi kalau si kecil sedang aktif-aktifnya. Dengan yoga, saya merasa bisa mengatur napas, merasa saaangat rileks.

Saat sedang rajin-rajinnya beryoga, anak saya mulai berubah ritme tidurnya (pertambahan usia bayi berbanding terbalik dengan durasi tidurnya). Ini kadang membuat saya tidak tenang karena jadwal olahraga bertabrakan dengan jam bangun anak, sehingga ketika saya yoga ia tiba-tiba menaiki punggung saya atau malah minta ASI (T.T).  Sementara ketika anak sudah tidur siang, perut saya sudah penuh oleh makanan.
Akhirnya saya hanya bisa mengingat sebuah artikel di majalah, yang mengatakan bahwa salah tips ibu baru agar tidak stress adalah tidak terlalu perfeksionis atas kegiatan yang dijalani setiap hari. Because if we don’, we’ll be disturbed of how many things we fail to do.

Akhirnya, sekarang saya mulai berkurang frekuensi yoga ataupun olahraga lainnya. Namun, ada satu hal yang menjadi pengobat rasa bersalah karena tidak bergerak, yaitu berjalan pagi ke pasar dan berjalan sore sambil mendorong sepeda Aksa. Semoga saja totalnya sampai 10.000 langkah per hari ya, agar tidak osteoporosis (kok seperti iklan susu kalsium?).

Semoga para mama semua juga masih sempat olahraga ya, walaupun itu menggendong si kecil atau bermain bola dengan anak :)



Categories:

0 komentar:

Post a Comment