Monday, March 9, 2015

Parkventure #3: Taman Margasatwa Ragunan





Sebagai seorang jurnalis, suami saya kerap mendapatkan undangan liputan ke luar kota, dan saya hanya bisa menikmati hasil travelling gratis suami melalui foto-fotonya. T.T  Salah satu foto-foto yang saya sukai adalah ketika ia mengunjungi Batu Secret Zoo di Batu, Malang. Ini termasuk kebun binatang baru, yang pertama dibuka pada tahun 2010, sebagai bagian dari Jatim Park 2.

Bayangan saya mengenai kebun binatang berdasarkan kenangan masa kecil saya tidaklah begitu indah. Bukan karena ada pengalaman buruk di sana, melainkan kondisinya yang kurang bersih, infrastruktur yang sudah usang, dan banyak penjual makanan dan minuman yang tidak tertata rapi. Saya juga masih ingat ada panggung dangdut dengan orang yang berjubel didepannya. Oh ya, saat itu saya mengunjungi Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta. 

Setelah melihat foto-foto Batu Secret Zoo, saya bersyukur. Alhamdulillah, sekarang kebun binatang di Indonesia sudah mengikuti jaman. Karena saya cenderung menggunakan pola pikir marketing dalam melihat objek wisata, maka “mengikuti jaman” adalah bersih, rapi, desain menarik (seperti penunjuk jalan, papan informasi, serta rancangan keseluruhan bangunan). Intinya, kalau ada wisatawan asing berkunjung, kita tidak malu. 

Batu Secret Zoo
Maka, ketika suami mengajak mampir ke Kebun Binatang Ragunan (sekarang namanya Taman Margasatwa Ragunan) setelah menghadiri resepsi pernikahan teman di Buperta Cibubur, saya berpikir Ragunan akan tidak jauh berbeda dari Gembira Loka dalam ingatan saya. Saya sendiri sudah lama tidak ke Gembira Loka. Semoga saja sekarang sudah banyak perbaikan, apalagi branding kebun binatang ini di body salah satu armada taksi cukup menarik perhatian.

Taksi dengan iklan Gembira Loka Zoo berwajah macan
Dan ternyata, Ragunan lebih bagus dari bayangan saya..! Begitu masuk lokasi, saya disuguhi pemandangan rimbunnya pohon-pohon besar dan jalan paving blok yang lebar. Saat itu hari Sabtu jam setengah empat sore, dan pengunjung tidak begitu banyak. Saya masih bisa jalan dengan leluasa dan berfoto tanpa ada figurannya, hehe..

Sempat bingung: pelikan asli atau patung ya?
Karena kami hanya ingin disana sebentar saja, maka kami pun memanfaatkan papan penunjuk jalan untuk mencapai kandang binatang yang kami inginkan dengan segera. Namun sebelumnya, kami tidak bisa tidak mampir ke kolam berisi burung pelikan dengan bangku-bangku hijau yang menghadap kolam serta cahaya matahari sore yang indaaah …. sekali. Penempatan kolam yang tidak jauh dari pintu masuk serasa menjadi mood booster untuk menjelajahi kebun binatang lebih lanjut. 

Berikutnya kami mengunjungi kandang menjangan. Saya tadinya mengira hewan tersebut adalah rusa, tetapi kok bertanduk. Apalagi di kandang berikutnya, ada binatang seperti bambi. Aaargh, saya jadi merasa bodoh sekali.. masa tidak bisa membedakan hewan yang satu dengan yang lain? Peringatan bagi orangtua manapun di luar sana: update pengetahuan kalian mengenai hal-hal mendasar mengenai lingkungan dan alam ya, jangan rajin update status aja (<-- saya banget).


Anak saya yang tadinya bengong ada binatang yang lebih besar dari badannya pun (selama ini ia hanya tahu binatang itu kucing, ayam, anjing, cicak, kecoa, dan yang ada di sekitar rumah) mendadak semangat ikut memberi makan menjangan (setelah saya cek, ternyata namanya rusa totol) dengan daun yang gugur ketika melihat pengunjung lain melakukan hal tersebut. What an experience..

Berikutnya adalah kandang gajah. Antara pagar pengaman dan gajah terdapat parit yang lumayan besar, dan ini berlaku untuk hewan-hewan buas lainnya. Aksa tidak begitu excited melihatnya, mungkin karena gajahnya diam saja. Namun begitu kami berpindah ke kandang gajah sumatera yang lokasinya lebih terang dan terbuka, ia cukup betah berlama-lama melihat gajah. Apalagi gajahnya sedang makan dengan belalainya, yang membuat saya tahu bahwa ujung belalainya bisa menjumput seperti tangan ketika mengambil rumput. Detik ini saya merasakan lagi bahwa pengetahuan saya tentang banyak hal ternyata tidaklah banyak, ketika cara gajah makan pun saya baru tahu dengan detil.




Baru beberapa kandang saja, kami sudah merasa kehabisan waktu. Saya dan suami baru menyadari bahwa Ragunan itu luas sekali. Tidak hanya areanya secara keseluruhan, namun juga lebarnya jalan serta lahan rumput atau lahan kosongnya. Di dekat pintu  masuk tadi sebenarnya ada persewaan sepeda, termasuk sepeda tandem alias dua sadel. Harganya pun tidak mahal. Seingat saya 15 ribu per jam, atau 35 ribu seharian. Cocok sekali untuk menjelajahi seluruh area kebun binatang ini. Kalau tidak bawa anak, bisa sepedaan berdua suami nih, hehe..

Akhirnya, kami pun sedikit bergegas menyambangi target-target utama kami. Sayang sekali, beberapa hewan tidak menampakkan diri di kandang, seperti orangutan, harimau, dan komodo. Yang terlihat hanya gua, kolam, dan menara. Syukurlah, kami masih sempat melihat singa, walaupun tanpa surai seperti di buku cerita. Saya takjub, ternyata mereka besar sekali..!

Kami sempat berputar-putar mencari masjid, sayang tidak ketemu. Mungkin karena kami terburu-buru jadi terlewat. Kami juga sedikit panik ketika anak minta ASI sementara tidak ada tempat yang tertutup untuk menyusui. Kebetulan bangku-bangku taman hampir semua menghadap ke jalan setapak, jadi tetap tidak beresiko untuk curi-curi menyusui. Karena itu, kami sepakat untuk mengakhiri kunjungan kami dan mencari masjid dalam perjalanan pulang.

Walaupun singkat, saya dan suami cukup puas bisa mengajak anak kami melihat binatang secara langsung meskipun tidak bertemu jerapah, macan, ataupun buaya. Next time, we will give you another visit, dear zoo. Apalagi, tiket masuknya hanya 4500 rupiah untuk orang dewasa dan 3500 untuk anak-anak. Oh ya, membuka situs resmi www.ragunanzoo.jakarta.go.id sebelum kunjungan akan sangat membantu, agar tidak ada fasilitas dan kegiatan yang terlewatkan. 



0 komentar:

Post a Comment