Tuesday, May 12, 2015

Mengajari Anak Bahasa Daerah, Perlukah?




Wong Jowo kok ra iso boso Jowo…” (orang Jawa kok tidak bisa  bahasa Jawa)

Begitulah komentar Eyang suami saya ketika saya pertama kali menjadi bagian dari keluarga mereka. Malu juga rasanya ditegur begitu walau sebetulnya saya bisa berbahasa Jawa tapi kurang lancar. Saya bisa memahami artinya, tetapi kalau harus bicara dengan yang lebih tua mendadak gagap..karena nervous, haha..Dalam bahasa Jawa, bicara dengan orang yang lebih tua bahasanya berbeda dengan yang seusia, dan vocab saya untuk ini sangat terbatas :p

Maklum, orang tua saya tidak membiasakan saya untuk berbahasa Jawa sejak kecil, sehingga saya pun bisa berbahasa Jawa karena mendengar bapak ibu saya berbicara satu sama lain, mendengar teman di sekolah, hingga pada usia SMA saya bisa cukup lancar berbahasa Jawa. Selain itu, generasi saya menggunakan kurikulum 1994 dimana bahasa daerah diajarkan hingga level SMP. Sekarang, tampaknya muatan lokal bahasa daerah hanya diajarkan di SD.

Sebagai orang tua, saya cukup prihatin dengan keadaan ini. Sekarang saya ingin membiasakan anak saya berbahasa Jawa jadi bingung, saya saja tidak fasih.. Belum lagi kebutuhan penguasaan bahasa Inggris sejak usia dini yang membuat saya galau, bahasa apa yang harus saya gunakan untuk berkomunikasi dengan anak saya? Para keponakan yang lahir di Jakarta atau Jawa Barat sudah tidak memiliki logat jawa sama sekali, apalagi bisa berbicara bahasa Jawa! Bahasa Inggris mereka? Sudah pasti lebih lancar.

Sewaktu saya menikah dulu, untuk menyewa jasa MC dalam bahasa Jawa tarifnya satu juta rupiah sekali datang, karena sekarang hal tersebut merupakan skill yang langka. Menjelang lamaran saya , bapak bela-belain membeli buku panduan melamar dalam bahasa Jawa halus. Ternyata beliau tidak pede walau sebenarnya bisa, haha.. Jadi, saya makin yakin bahwa penguasaan bahasa daerah itu penting sekali diajarkan sejak dini.

Saya juga masih ingin anak saya merasa bangga akan kebudayaan daerahnya, yang lebih dari sekadar memakai batik. Kalau kita termasuk orang perantauan, lantas bertemu dengan orang dari daerah asal dan bisa bercakap-cakap dalam bahasa daerah, rasanya senang bukan? Belum lagi kalau anda di luar negeri, dan bisa menjawab dengan lancar pertanyaan tentang budaya kita, bangga bukan? I want my son to feel that, too. 

Lantas, bagaimana solusinya? 

Saya tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari dengan anak saya (22mo). Entah mengapa saya dan suami belum terdorong untuk disiplin mengajarkan bahasa lain pada usia ini. Ibu saya menyarankan untuk menyelipkan kosakata sederhana seperti “dalem” (untuk menjawab panggilan), “nyuwun” (minta), atau “mboten pareng” (tidak boleh) jika saya memang ingin Aksa mengenal bahasa daerah. Saran ibu belum saya lakukan, apalagi menurut www.ibudanbalita.com kita bisa mengajarkan multi bahasa kepada anak asalkan tidak mencampur 2 bahasa dalam 1 kalimat.

Sementara itu, bahasa Inggris sama sekali belum saya ajarkan meskipun banyak teman yang sudah mulai mengajarkan kosakata bahasa Inggris pada batita mereka. Pertimbangannya, exposure bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari baik melalui gadget, televisi, buku, ataupun sekolah akan lebih banyak daripada bahasa Jawa. My child will learn it sooner or later. Sehingga, effort orangtua dalam penguasaan bahasa daerah akan lebih challenging. Selain itu, dari babycentre.co.uk saya juga tahu bahwa waktu terbaik untuk belajar bahasa lain ada tiga, yaitu 0-3 tahun, 4-7 tahun, dan 8 tahun sampai pubertas. Setelah masa puber, bahasa baru akan disimpan di area terpisah di otak yang akhirnya membuat kita harus menerjemahkan bahasa baru tersebut ke dalam bahasa asli kita terlebih dahulu. So, untuk saat ini saya tidak perlu terburu-buru tampaknya :)

Semoga saja anak saya kelak tidak bingung, karena kami berdomisili di Jawa Barat. Ketika ia sekolah kelak, muatan lokalnya adalah bahasa Sunda, haha.. Tidak apa-apa, otak anak katanya mampu menyerap informasi bagaikan spons, so just make sure we provide all they need to develop their communication skill :)




4 comments:

  1. Sama Mba, anakku jg ga bisa basa Jawa karna blm ta ajaru dan lingkungan tempat tinggal kami yang tidak mendukung.. pdhl eyangY udah cerewetin saya bwt ngajarin ai kecil basa Jawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. tantangan kita ya, Mbak Erma..kalau ntar udah berhasil ngajarin, kasitau aku ya Mbak, hehe

      Delete
  2. Kalau saya udh mulai lupa yg krama lugu mbak..malunya itu klo diajak ngomong pakde atau paklik d jawa saya pke bhs campuran krn klw boso takut salah2. Saya dr kecil smpe llus SMP d Tulungagung. SMA smpe skrg d kalsel, Tarjun. Ortu d rmh jrg pake bhs jawa. Kdg2 aja. Jd pgn beli pepak boso Jowo haha

    pgnnya klo sdh menikah n punya anak nanti jg diajarin bhs daerah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun, Pepak Basa Jawa...! Masih inget banget... Masih ada yang jual kan ya skrg? Kalo gitu sebaiknya mulailah berlatih bahasa Jawa dari sekarang mbak, ntar kalo udah punya anak biar ga bingung lagi hihi

      Delete