Sunday, August 30, 2015

Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 2)

Read the first part here

Tadinya saya mau pilih sandaran, tapi harga lumayan, sekitar 400ribuan tanpa ongkir. Belum lagi saya jadi tidak bisa membonceng suami karena sandaran harus dipasang memakai sekrup. So, coret. Motor saya bukan matic, jadi kursi lipat juga saya coret dari list.


Sabuk bonceng ada dua jenis yang tampaknya aman dan valid. Pilihan pertama saya lupa merknya, tapi paling banyak muncul kalau kita googling. Pelindung dadanya lebar, sempurna untuk anak. Teman saya pun merekomendasikan. Sayangnya, saya lihat foto di Google untuk anak di bawah dua tahun ukurannya terlalu besar sehingga menekan leher atau paha.

Tampak aman, sayang terlalu besar untuk anak saya
Akhirnya saya memilih pilihan terakhir, sabuk bonceng dengan ukuran dada lebih kecil. Harga 95 atau 100ribu kalau tidak salah, belum ongkir. Dua hari kemudian pesanan sampai dan tampaknya konstruksinya cukup kuat. Alhamdulillah, cukup tenang rasanya bisa menemukan sabuk bonceng.
Hari berikutnya...saatnya mencobaa..!

Sabuk bonceng seperti ini yang saya beli
Perjalanan berangkat lancar ibu ibu, namun perjalanan pulang sore hari anak saya tertidur. Masalahnya, Aksa saya bonceng di belakang untuk menghindari angin ke dada. Saat tidur, ia pun terkulai ke samping dan kepalanya tertahan strap. Strapnya hanya selebar 5cm sehingga ada potensi kepalanya lepas dari strap dan jatuh ke samping. Bahkan pernah kepala anak saya terdongak ke belakang, aduh..

Kali ini, saya tidak hanya menerima tatapan sinis tapi juga peringatan pengendara lain. Saat melewati saya, mereka bilang, "Bu, anaknya tidur!" Atau, "Itu anaknya mau jatuh Bu!"
Hiks..sedih rasanya.

Akhirnya, saya menemukan solusinya. Anak saya harus berkendara dalam keadaan kenyang alias setelah menyusu. Dijamin ia tidak tertidur lagi. Kedua, ternyata saya kurang kencang ketika memasang strap, sehingga anak saya berpotensi "lolos" dari sabuk. Ketiga, ia saya dudukkan di depan sehingga bisa melihat pemandangan dan bernyanyi bersama. Kakinya pun mulai bisa menahan tubuhnya di bodi motor. Resikonya memang di paru-paru, karena ia terpapar langsung dengan angin.

Tiga bulan ini alhamdulillah semuanya sudah stabil. Beberapa kali ia tertidur juga, dan posisinya sangat menyulitkan saya untuk memegang stang dengan benar. Karena kepalanya terkulai ke depan, helm juga lumayan berat, saya takut bagian atas pelindung dadanya menekan leher sehingga ia tercekik. Akhirnya satu tangan saya memegang helmnya, satu memegang stang, kecepatan sangat lambat, dan dua tangan kembali ke stang jika ada polisi tidur.

Sounds tricky, ya? Hahah.. Every working mom has her own story, perjuangan menyelaraskan kepentingannya dengan kebutuhan si kecil. Semoga saja post ini bisa membantu para "mama rider" dimanapun kalian berada :)


Categories:

0 komentar:

Post a Comment