Monday, September 7, 2015

How Our Kids Eat


Saya sedikit tergelitik dengan cerita seorang nenek dari murid saya. Murid saya ini, sebut saja Kemal, badannya cukup besar. Saya tidak menganggapnya gemuk karena ia juga tinggi dan larinya sangat gesit. Hari-hari pertama di sekolah ia dibawakan sekotak susu UHT ukuran kecil. Minggu berikutnya, sang nenek minta izin membawakan Kemal susu formula di dalam dot karena sebelum sekolah ia minum susu pada jam yang sama. Saya pun ijinkan dengan pertimbangan agar anak tidak kaget beradaptasi dengan rutinitas baru.


Sayang, frekuensi ngedot di kelas ini menjadi dua kali, belum termasuk susu UHT dan bekal "berat" seperti french fries+nugget atau nasi goreng+chicken wings. Sambil menemani cucunya ngedot, sang nenek bercerita pada saya. Dulu, Kemal badannya kurus saat tidak dalam pengasuhannya. Karena itu, saat nenek diminta anaknya untuk mengasuh Kemal, ia pun berusaha "menyehatkan" sang cucu. Caranya? Ini yang membuat saya miris. Beliau mencekoki Kemal dengan jamu. Jamu ini tidak hanya terbuat dari tanaman herba tapi juga tempe busuk. Saya tidak sampai hati mendengarnya. Katanya jamu ini akan mengeluarkan kotoran-kotoran dalam tubuh setelah dikonsumsi. Mungkin juga untuk meningkatkan nafsu makan anak (setahu saya).

Saya sendiri tidak pro dengan cekok mencekok. Ada masanya anak saya susah makan dan membuat saya emosi. Namun saat itu saya membaca artikel tentang self-regulation dimana anak akan belajar tentang lapar kenyang jika kita tidak memaksanya makan. Saya juga tidak mau anak menjadi trauma jika pengalaman pertamanya tentang makan tidak menyenangkan.

Yang terjadi dengan Kemal malah sebaliknya. Setelah masa-masa pencekokan itu, neneknya selalu memberinya makanan agar ia tidak kurus seperti saat dirawat besan beliau. "Bangun tidur, Kemal selalu saya beri makan Bu, kan lapar tuh biasanya anak," ungkap sang nenek. Intinya, she never let him starve.

Saya mengerti maksud baik nenek, tapi saya juga menguatirkan kesehatan Kemal. Dengan konsumsi susu yang tinggi ditambah ukuran badan yang lebih besar dari anak seusianya, saya takut ia mengalami kegemukan atau penyakit serius saat dewasa nanti karena pola makan yang salah.

Saat nenek muda dulu mungkin mempunyai anak yg gemuk adalah kebanggan because it's a proof that he/she is well-raised. Namun, makanan di tahun 70an dan sekarang sangat berbeda. Sekarang terlalu banyak "racun" dalam makanan yang diklaim low fat or sugar free sekalipun.
Alhamdulillah saat ini Kemal sudah berani ditinggal, sehingga botol susu sudah tidak dibawa ke kelas. Susu UHT dibawakan sesekali saja. Saya dan partner mengajar memotivasinya untuk minum air putih saja ketika haus (kebetulan ia sangat aktif) dan makan bekal jika lapar. At least we do something although it's only in 2 hours meeting a day.

Cerita di atas saya jadikan pelajaran pribadi juga, bahwa kita sebagai orangtua lah yang membentuk pola makan anak kita, termasuk menentukan what's yummy and what's yucky for them. Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita kelak :)




Categories:

1 comment:

  1. Jadi penasaran bukenip guru di mana :P
    But I'm happy to read this, that some teachers do really care about their students, including about their diet and health (maap... masih terpengaruh EF dan BEC :P). Saya malah penasaran dg org tuanya instead of neneknya sebetulnya... :D *kepo

    ReplyDelete