Friday, October 30, 2015

Hidup Tanpa Sepatu (dan Tanpa Keluh)


Sampai saat ini, saya masih percaya bahwa membaca buku itu wajib dilakukan setidaknya satu buku per bulan, kalau kita sibuk. Alasannya, saya merasa selalu mendapat hal yang baru dan mencerahkan, that it makes me reflect and contemplate of how I live my life.

Bulan ini, untuk pertama kalinya saya bisa menyelesaikan 3 buku dalam waktu kurang dari sebulan (yeayyy!). Sebenarnya tidak disengaja sih. Iseng-iseng saya meminjam buku Sepatu Dahlan di perpustakaan guru, karena sedang ingin rehat dari maraton buku parenting. Ternyata, buku ini adalah trilogi and I just couldn't stop to read it.

Sepatu Dahlan bukan buku baru karena beberapa tahun lalu saya pernah melihat acara Kick Andy mengundang Dahlan Iskan saat buku tersebut dilaunching. Tampaknya, itu pertama kalinya saya melihat mantan Dirut PLN dan Menteri BUMN itu muncul di televisi. Pembawaannya cukup informal, semacam Ganjar Pranowo dan Joko Widodo sebelum menjadi presiden. Bisa mengundang tawa lah.

Beberapa waktu berikutnya, saya cukup familiar dengan Dahlan karena ia sempat menjadi media darling dengan ciri khas sepatu kedsnya, ngojeknya, dan aksinya yang berbeda dengan pejabat kebanyakan. Yang saya tidak tahu, adalah kisah hidupnya sebelum ia sukses. 

Di buku Sepatu Dahlan, yang ditulis seperti fiksi oleh Khrisna Pabichara, saya cukup miris mengetahui bahwa masa kecil Dahlan Iskan dilalui dengan penuh kerja ekstra keras seperti merawat domba puluhan ekor dan menyabit daun tebu, penuh rasa lapar karena keluarganya miskin, penuh perjuangan karena kemanapun ia tidak beralas kaki hingga akhir masa SMPnya. Kadang, saking laparnya, ia dan adiknya melilitkan sarung di perut. Pernah juga ia mencuri tebu hanya karena orangtuanya harus berobat di luar kota sementara tidak ada sedikitpun makanan di rumah selama berhari-hari hingga adiknya menangis kelaparan. 

Membaca usahanya untuk bertahan hidup dan obsesinya memiliki sepatu membuat saya merasa tidak pantas untuk mengeluh. Wajar lah, pulang kerja suka capek, belum lagi anak yang lagi rewel sehingga saya suka uring-uringan plus ngeluh ini itu ke suami...lalu saya membaca bagaimana "kerja" bagi mereka yang hidupnya di bawah garis kemiskinan dan merasa betapa saya tidak bersyukur jika hidup yang penuh kemudahan ini masih saya keluhi.

Tidak hanya masalah kemiskinan, di buku ini saya juga melihat betapa orangtua itu benar-benar dihormati. Dahlan dan saudara-saudaranya tidak tega untuk menuntut orangtua mereka memenuhi keinginan mereka meskipun usia mereka masih anak-anak. Instead, they worked hard to help their parents fulfill the family daily needs. Memang sih, Bapak disini menjadi sosok yang tidak bisa dibantah dan Ibu adalah seseorang yang lembut dan patuh terhadap Bapak. Saya bersyukur jaman sekarang hubungan dengan orangtua lebih demokratis, walau efek sampingnya adalah anak jadi kurang hormat pada orangtua. 

Saya jadi teringat broadcast message di grup Whatsapp yang dikutip dari blog Adhitya Mulya. Inti dari pesan tersebut adalah, orangtua sekarang cenderung menghilangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak mereka padahal kesulitanlah yang membuat seseorang lebih tahan banting. No wonder, Dahlan bisa menjadi seperti sekarang ini karena ia dididik oleh masa kecil yang keras.

Sebagai pemanis, tentu saja ada kisah cinta antara Dahlan remaja dengan gadis sekolah tetangga. Jujur saja, kisah cinta keduanya yang membuat saya tidak sabar membaca Surat Dahlan, buku kedua dari trilogi ini. Overall, buku ini tidak semata menceritakan tentang obsesi Dahlan kecil untuk membeli sepatu dengan segala usahanya, tetapi membuat kita berkaca tentang seberapa keras kita telah berusaha untuk mengejar keinginan kita dan bersyukur atas apa yang telah kita miliki: keluarga, teman-teman setia, kesehatan..tidak hanya harta.




Categories:

3 comments:

  1. Saya belom pernah euy baca buku beliau. Semacam skeptis sejak beliau jadi media darling, padahal dulu paling suka tulisan beliau sewaktu masih aktif di JawaPos :D
    Saya coba baca ah nanti. Pinjem di perpus. :D
    @danirachmat

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah belum pernah baca tulisan beliau sama sekali mas, walau di buku ketiga (Senyum Dahlan) ada beberapa cuplikannya..coba deh pinjem, ga berasa baca biografi soalnya modelnya novel fiksi banget :)

      Delete
  2. Hidup tahan banting karena terpaksa. Soalnya, di zaman sekarang jarang ada orang tua yang biarin anaknya kerja keras dari kecil :)

    ReplyDelete