Thursday, December 31, 2015

(Semoga) Saya (Bukan) Ibu Pemarah


Ketika saya memutuskan untuk kembali bekerja, salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah emosi yang mudah tersulut ketika saya 24 jam berada di rumah. Memang benar, ketika saya sudah memiliki kegiatan di luar rumah, saya lebih mudah menghadapi anak saya dengan sabar. Tentu saja karena saya merasa waktu saya jauh berkurang dengannya, sehingga sepulang kerja dan harus menjadi quality time bagi kami berdua.

Entah apa yang berubah dari kesadaran saya di atas, kini saya kembali mudah marah. Bentuknya berbeda dari yang dahulu. Kalau yang dulu, saya bisa “meledak” karena menahan rasa kesal lalu mendadak menangis karena menyesal. Sekarang, saya cenderung mudah mengomel. It’s not as shocking as yelling for my son, but it last longer and annoying, haha.. Ia  mungkin kebal kalau saya mengomel, jadi setiap bentuk larangan tidak diresponnya seperti dahulu. Bisa jadi karena anak saya mulai memasuki usia 2-3 tahun yang kata orang memang lagi susah-susahnya diatur, atau juga karena saya mulai merasakan workload yang banyak di sekolah. Ibadah saya jadi tidak khusyuk dan berkurang, sehingga hati juga kurang “adem”.

So, ketika momen libur sekolah datang, saya sangat senang. Berlibur berdua bersama Aksa ke kampung halaman bisa mengurangi penat saya dan otomatis amarah saya pun berkurang. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Beberapa kali saya sempat emosi hanya karena hal sederhana, seperti Aksa mengompol (ia sebenarnya sudah lulus toilet training, tetapi proses menyapih membuatnya ngompol lagi), tidak mau makan, memukul kepala saya, dan sebagainya.

Akhirnya, ibu mertua saya pun menegur saya untuk tidak memarahinya. Padahal menurut saya, yang saya lakukan hanya memberitahu anak saya dengan tegas. Hal itu ditangkap sebagai amarah oleh ibu karena mungkin nada yang saya gunakan tinggi, dan keluarga suami memang keluarga yang hampir tidak pernah marah (they tend to keep silent if they’re angry). Saya ceritakan hal itu kepada adik saya, and surprisingly she said so! Adik saya ini sekeluarga paling temperamental dan saya kira standar kemarahannya jauh lebih tinggi dari saya, tetapi ia melihat saya memang terlalu mudah marah ke Aksa. So, it’s time to evaluate.

Saat saya mulai bebenah diri untuk sebisa mungkin menahan amarah, dan merapal-rapal kalimat “he just doesn’t understand yet” anak saya mulai menunjukkan perubahan perilaku:  sedikit saja saya menunjukkan nada melarang, ia akan mulai menjerit dan memukul saya. Ia juga menolak bujukan dan ajakan orang tuanya dengan kata “enggak” namun nadanya persis seperti nada saya ketika menolaknya. Duh, hati saya langsung menangis. Saya merasa memetik buah amarah yang selama ini saya tunjukkan di depannya. Anak saya mengadopsi cara saya untuk menunjukkan emosinya.

Sedih? Pasti. Kemudian tadi pagi saya menemukan judul thread menarik di discussion forum theurbanmama.com, “Bagaimana Melatih Sabar”. Langsung saya klik dan saya baca dari page 1 yang ternyata post dari tahun 2012. Saya memang belum selesai membacanya, tetapi kurang lebih kesimpulannya adalah ujian kesabaran ini dihadapi oleh setiap mama di luar sana. Alhamdulillah saya seperti mendapat pencerahan di penghujung tahun ini. Merasa mendapat banyak teman seperjuangan dan juga mengetahui bahwa hampir semuanya merasa it’s not okay to get angry to your child easily. Semua mama pasti ingin menjadi sosok yang sabar, lembut, dan bisa dicontoh oleh anak-anaknya dan hal tersebut membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Oya, juga support dari pasangan.

Sudah pasti, bersikap bijak dalam menghadapi perilaku anak akan menjadi resolusi utama saya di tahun 2016. Tarik napas, ingat-ingat bahwa Aksa belum paham apa yang dilakukannya, hindari nada tinggi (because he won’t get our message), kalau masih emosi juga pindah ruangan untuk menenangkan diri. Good luck for me!

Sebagai kalimat penutup, saya ambil dari blog zataligouw: Mothers are Angels in Training. Setuju?





Categories:

0 komentar:

Post a Comment