Friday, January 22, 2016

My Word for 2016: RETURN


I never thought that finding a word for this EF challenge would take more than a week! Sunday I got the word, then Wednesday I found more suitable word for 2016, and the end of the week I changed again, ahh..maybe my word for this year should be DECIDE :D


Saturday, January 16, 2016

Ada Mini Zoo di Katoomba!

Sebagai warga Jakarta coret, saya gemar mencari tempat weekend yang hijau, seperti taman dan destinasi wisata ramah anak. Tiga tahun tinggal di Kabupaten Bogor, saya baru sadar ada green park yang worth visit, hanya 5 menit dari rumah. Duh, kemana aja ya saya?

Sebetulnya sudah lama saya mendengar tentang Katoomba, tetapi hanya sebagai kolam renang saja. Plang-nya cukup besar di tepi jalan, tetapi karena lokasinya masuk ke gang kecil saya jadi underestimate. Sempat lihat juga foto DP tetangga saat berenang di sana, dan saya makin mantap tidak tertarik kesana, haha..


One day, arisan RT diadakan disana, sekaligus penutupan arisan periode ini. Pas suami juga sedang libur, saya ajak anak dan suami untuk berenang. Maksudnya, saya arisan sementara anak dan suami berenang (curang ya). Sampai di sana, ternyata tempatnya bagus. Dari depan memang terlihat sempit, gerbangnya pun biasa saja, hanya ada pos satpam yang ternyata merupakan loket pembelian karcis.

Playground yang bersih (termasuk bersih dari orang, haha)
Ketika memasuki area Katoomba, ternyata tempatnya asri, banyak taman dan mainan untuk anak seperti ayunan dan perosotan. Kolam renang menempati area sebelah kanan, sementara taman dan gazebo di sebelah kiri. Karena arisan belum dimulai, kami bertiga pun jalan berkeliling. Aksa senang sekali. Selain bisa main perosotan, ia juga bisa melihat patung berbagai hewan berukuran besar. Di ujung belakang Katoomba, ada restoran yang berada di atas sebuah kolam, begitu juga di tepi kolam renang. Tempat ini ternyata juga menyasar aktivitas meeting dan pesta. Untuk arisan, kami menyewa sebuah gazebo dengan harga Rp 350.000 tapi saya tidak tanya fasilitas apa yang diperoleh cuz it sounds too pricey for me.

When it seems like that’s the end of the path, I heard my neighbor said his son was looking at the animals. Okay, saya pikir tidak ada salahnya melihat beberapa hewan, Aksa pasti suka. Kami pun berbelok ke kiri dan mulai menemui beberapa ayam dan burung di kandang. Eh, tapi kok ada monyet juga ya? Wah, seperti kebun binatang nih. Saya pun mengikuti jalan setapak dan menemui lebih banyak hewan di sana. Ada berbagai burung seperti bangau, lalu luwak, termasuk kuda (tapi saya lupa melongok kandang kuda, cuma sempat melihat dari jauh saja). Yang saya sadari belakanga, ternyata Katoomba juga merupakan Mini Zoo. Pantas saja.

Aksa takut monyet
Burungnya bagus-bagus motifnya
Harus digendong biar keliatan
Untuk ukuran tiga hektar, mini zoo-nya cukup bagus dan bersih, harga tiket masuknya pun terjangkau, Rp 25.000 rupiah. Bagi saya , kebersihan cukup mempengaruhi penilaian. Kebetulan, saya datang jam 9 pagi di hari Sabtu sehingga kondisi belum begitu ramai. Kalau saya bandingkan dengan foto kolam renang yang ada di website, foto yang di website seperti cendol, haha..

Setelah semua kandang binatang dikunjungi, Aksa dan ayahnya pun berenang. Jika tidak membawa ban, di sana disediakan kok. Kalau lapar, banyak booth di tepi kolam renang dengan makanan yang harganya terjangkau. Beberapa anak tetangga malah main pasir dengan cetakan seperti di pantai, karena di playgroundnya ada juga area pasir yang cukup bersih. Yang tidak bersih hanya satu, kata suami saya, yaitu kamar mandi di kolam renang. Saya tidak sempat melihat sih, karena Aksa saya mandikan di shower luar. Selesai berenang, kita juga bisa menyewa ATV yang berada di bagian ujung Katoomba.

Aksa betah melihat angsa di kolam ini
Sebagai tambahan hasil browsing di Google, ternyata Katoomba juga memiliki pemancingan, ruang menyusui, musholla, dan loker. Bagi warga Bogor dan sekitar Cibubur, mungkin green park ini bisa dijadikan alternatif. Sebaiknya berkunjung di pagi hari ketika masih sepi atau (jika sedang tidak bekerja) hindari weekend.


 
Gambar ini saya ambil dari google karena saya malah tidak memotret kolam renangnya :/




Sunday, January 3, 2016

Akhirnya Bisnis Juga


Dulu sekali, adik saya sempat menyarankan untuk membuka toko online. Ia mengajukan ide ini karena melihat saya sempat bosan di rumah (dan tidak punya penghasilan, hehe). Saya merasa membuka usaha is not my thing. Bukannya saya tidak mau mencoba, karena saat kuliah saya pernah mencoba menitipkan makanan ringan di kantin dan warung sekadar untuk tahu bagaimana rasanya. Waktu SD pun beberapa kali saya menjual gambar-gambar Sailormoon yang sudah saya warnai dan laminating. Dari semua pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa saya tidak bakat berdagang. Selain malas merayu orang untuk membeli barang kita, saya tidak enak menagih utang kalau ada yang belum lunas. Jadi dengan alasan “bukan passion saya”, saya pun tidak membuka bisnis apapun.

Kemudian, lebaran dua tahun lalu sahabat saya masa kuliah menawarkan buku dagangannya ke saya. Sebagai pecinta buku, saya jadi lapar mata. Soalnya, buku yang dia jual buku second untuk anak dan terbitan asing. So, harganya ramah di kantong lah. Dia pun menawarkan saya untuk menjualkan bukunya meskipun kami berbeda kota. Saya pikir, kenapa tidak. Soalnya saya tidak harus merayu orang (haha) untuk membeli, hanya modal mengganti foto DP di Blackberry saja. Tapi sebenarnya, alasan yang lebih kuat adalah karena saya suka buku anak.

Ternyata beberapa teman tertarik dan membelinya lewat saya. Untungnya hanya beberapa ribu saja per buku, tetapi entah mengapa saya merasa sangat senang. Akhirnya saya jadi keterusan menjualkan buku teman saya itu. Kadang, saya mencoba untuk mencari used books sendiri dan saya jual lagi walaupun kondisinya tidak sebagus stok dari teman saya. Tidak apa, saya tetap merasakan semangatnya.

Tidak terasa, saya sudah menjalani usaha ini hampir dua tahun. Bahkan, saya minta ijin teman saya tersebut untuk membeli buku sendiri untuk dijual juga. Saya takut tidak etis untuk menjadi pesaingnya sementara karena ialah saya bisa tercebur ke bisnis ini, tapi alhamdulillah ia tidak keberatan. Toh stok saya tidak selalu ada seperti miliknya.

Saya masih tidak percaya saya konsisten menjalaninya, padahal sejak awal saya yakin saya bukan tipe pengusaha. Setelah saya pikir-pikir, ternyata jawabannya adalah passion. Saya sangat mencintai buku, dan buku anak ini masih memenuhi mimpi saya untuk kelak membuat perpustakaan dan rumah baca. Jadi, kalau ada buku yang tidak laku, saya jadikan koleksi pribadi sehingga dalam bisnis ini saya tidak pernah rugi, insya Alloh. Di sisi lain, saya termasuk pecinta reused and recycled things. Apapun yang ramah lingkungan, saya support. Termasuk buku bekas ini.

Saat saya membaca satu per satu buku yang akan saya jual, saya masih takjub mengapa pengarang buku anak di sana (English speaking countries) bisa membuat buku yang sederhana, kata-kata yang mudah dicerna, mengena, dan sesuai usia. Tentu saja saya bersyukur bahwa dunia penerbitan buku anak di Indonesia sekarang sudah jauh lebih bagus dan menarik dibanding dulu. Namun, konten buku anak masih banyak yang kurang pas untuk usia yang menjadi pasar buku tersebut.  

Kembali ke bisnis ini, saya merasa bahwa menjalankan sebuah bisnis itu banyak pelajarannya. Saya jadi dituntut untuk bisa mencari tahu secara aktif (tidak ada atasan atau rekan kerja yang memberi tahu), menentukan harga, negosiasi harga, membuat kesepakatan dengan orang lain, serta membuat kita berpikir kreatif untuk bisa berbeda dengan kompetitor agar orang tertarik.

Jadi, kalau ada yang bilang bisnis itu mudah, iya hal tersebut memang mudah. Tetapi jika ingin serius menekuni bisnis dan menjalankannya sebagai sumber utama penghasilan, kita harus level up our effort. Jauh lebih susah menjadi entrepreneur daripada menjadi pegawai karena we do all on our own. Karena itu saya masih betah menjadi karyawan dan menjalankan bisnis sebagai sampingan, haha.. Enggak apa-apa lah, hitung-hitung sambil belajar dan saya enjoy menjalaninya.

Saya rasa, semakin banyak teman-teman yang saya kenal mencoba dunia usaha, meskipun sifatnya hanya reseller alias menjualkan barang orang lain, meskipun sifatnya on-off alias jualan kalau sempat saja. Bagi saya, hal tersebut telah menunjukkan bahwa berjualan bukan lagi hal yang dipandang sebelah mata seperti dulu. Generasi orang tua saya bisa jadi malu kalau disuruh berjualan, tetapi generasi di bawah saya malu kalau tidak berjualan, iya enggak? Terlepas dari itu merupakan tren atau memang keinginan yang bersangkutan, mencoba menjalankan sebuah usaha itu lebih banyak sisi positifnya so it’s worth to try. Siapa tahu yang awalnya coba-coba bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan J





Friday, January 1, 2016

Rimba Baca: A Must Visit Place for Kids

Perpustakaan yang satu ini sudah lama sekali menjadi target weekend saya, tapi entah  mengapa kok tidak pernah kesampaian pergi ke sana. Tiap kali ada event yang muncul di Instagram Rimba Baca, selalu jadwalnya tidak pernah cocok dengan jadwal saya atau suami.