Friday, February 26, 2016

The Three Unacceptable Things

Have you ever thought why people did certain things that you really hate? I mean, what they did was unacceptable. To make it clear, I will list down three things that in my opinion people should not do, but I keep on witnessing that in my daily life.


Sunday, February 7, 2016

Kreatif Sampai Mati!

Salah satu efek mencoba menjadi seorang entrepreneur adalah berminatnya saya pada buku berbau entrepreneurship, motivasi, dan kreativitas. Saya tidak menyukai buku step-by-step memulai wirausaha, karena saya memang belum seratus persen memberikan hati saya pada bidang yang satu ini (dan saya cukup keras kepala untuk I’ll do it my way). So, buku-buku yang membangkitkan semangat dan memberi inspirasi lah yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati yang ditulis oleh Wahyu Aditya.


Sebelumnya saya tidak tahu siapa Mas Wahyu ini, juga tidak tahu HelloFest –festival pop culture terbesar di Indonesia yang digagasnya. Begitu melihat komentar pengantar dari orang-orang yang saya tahu pasti memang kreatif, seperti Yoris Sebastian dan Rene Suhardono, saya langsung yakin buku ini bagus. Dan memang demikian: bagus kontennya, tulisan enak dibaca dan cukup lucu, desain menarik disertai ilustrasi dan foto yang memperjelas maksud tulisan, plus quotes yang menghiasi setiap perpindahan bab.
Kalimat pertama yang saya suka dari buku ini adalah “Kreativitas tidak hanya dimiliki oleh orang yang berprofesi seniman. Kreatif adalah hak untuk semuanya, yang kaya, miskin, tua, muda, entrepreneur, akuntan, tentara, hingga pengangguran.” Sedikit tersadarkan, karena saya masih sering menganggap hal kreatif itu berkaitan dengan menarik secara visual atau ide yang mendobrak hal-hal yang sudah diterima umum.

Semakin jauh saya baca, saya makin suka cara penulis memaparkan idenya. Contohnya dalam Butir 6: Makin Lengket (ya, karena judulnya pakai kata “Sila” maka bab pun disesuaikan menjadi “Butir”). Inti dari bagian ini adalah mengajak pembaca untuk menghasilkan karya yang memorable sehingga bisa membuat orang terus menerus tertarik. Di sini, Wadit (nama panggilan penulis) mengambil contoh beberapa ciri khas Kota London dan membandingkannya dengan Jakarta. Perbandingannya bukan bagus vs jelek yaa..tapi bagus vs (bisa) bagus (juga). Misalnya, topi polisi di London yang bentuknya menarik, hingga bisa dijadikan souvenir ataupun cukup mengajak foto si polisi. Polisi kita sebenarnya bisa juga sama eye catching nya dengan yang di London, jika...topinya berbentuk Monas, misalnya, hahah... It’s really possible for tourism needs, right?


Bab lain yang membuat saya berpikir, “I totally agree!” adalah Butir 8: Informal ke Formal. Sadarkah kita bahwa kita terlalu banyak dikelilingi oleh logo atau simbol yang terlalu formal? Wadit mengambil contoh Jepang. Pelayanan publik di sana banyak menggunakan logo informal yang menyerupai tokoh komik, contohnya maskot anjing imut-imut untuk Shibuya Community Bus. Efek imutnya maskot ini adalah suasana menyenangkan ketika menggunakan transportasi publik tersebut. Sementara di Indonesia, Si Elang Bondol maskot Transjakarta terkesan angker, tidak jauh beda dengan pengalaman naik busway yang tidak begitu “fun”, khususnya saat sedang penuh dan macet. Saya tidak berani jamin sih, apabila Elang Bondol diubah menjadi unyu maka naik busway juga jadi lebih nyaman J

 
Saya juga suka Butir 17: Monoton No Way! yang mengupas betapa tidak kreatifnya pemerintah kita dengan logo HUT RI ke 60 sampai ke 67 yang sama, hanya berbeda di jumlah bendera. Sementara itu, negara tetangga kita Malaysia, berganti logo setiap tahunnya. Akhirnya, Wadit membuat logo alternatif yang ternyata diterima masyarakat dan digunakan oleh banyak pihak dalam bentuk kaos hingga spanduk institusi pemerintahan. Isn’t that cool?

Semoga saja kalian yang membaca tulisan ini paham di mana sisi menarik dari buku ini ya. At first I thought, okay let’s post about this book. Then, I felt stuck of how to describe the interesting visual part of this book. Jadi mending baca sendiri saja ya, hehe..

 

 

 


Wednesday, February 3, 2016

How Did They Know That I am Javanese?


It's been some time I don't speak Javanese since I live in Bogor. I communicate in Bahasa with my husband and son at home. Sometimes, I speak using a lot of Betawi/Jakartans expression and accent. It's quite common here because it's still the suburb of Jakarta although on the map it's West Java. Thus, I conclude that I don't have that strong Javanese accent (a.k.a medok) anymore. At least, it's lessen..

...or it's not. There were times where I bought something and I asked the seller in Bahasa, "How much is it, Bang?" and he answered "Limang ewu" which means Rp 5000 in Javanese. I usually got surprised but I kept quiet. I didn't want to ask how they knew I spoke their language (mmm..our language actually). If things like that happen, I definitely will say thank you in Javanese also. So, they felt they found their family here, far away from their hometown.

One day, I asked my husband, "Yah, why did they know I am Javanese although I felt that I said a really short sentence?"

He answered, "I think they recognized your accent."

Then, I denied that what I said to them was really accent-less.

Knowing that whatever he said would end in denial, he said in a really flat tone and expression, "Maybe your face." and he quit the room. Okay, I accept the fact that it's my face so I started to get used to it.

Last week, it happened again. I went to a fruit stall and bought a papaya. I said, " This one, Bang" while handed him a papaya to be weighed. He answered, "Njih" which means sure/yes/okay in Javanese. I got confused again for sure, but I kinda enjoy that now haha..

I still remember a lot of my friends who are not Javanese said that I was "Jawa banget" but I didn't ask which part of me that makes me "So Javanese". It's fine, and I'm quite happy they said so.

From this experience I can conclude that you might find your identity if you're out of your hometown. Do you agree?

P.S: I wrote this as a part of BEC English Friday Challenge. If you are creative enough to use "quit-quite-quiet" and "sometimes-sometime-some time" is one story, join this challenge. Good luck!