Saturday, May 14, 2016

It's Because AADC?2


Honestly, I’m not a cinema person. I used to, when I was a kid. I spent a weekend in a month to watch movies with my dad and my sister. When Empire 21 in Jogja was burnt and left no good cinema in the city, I stopped doing that routine. Fortunately, Ambarrukmo Plaza brought back a 21 to Jogja. At that time I was a university student and I went there quite often. The reason was quite simple: because I feel like it. If I didn’t feel like going there, I’d rather watch rented VCDs. The second reason was peer group. Few times I went to the cinema because we were 6 or more people. It added the fun, since we watched horror movies J

Now, after a long pause (4-5 years), I got the chance and mood to go to the cinema to watch...you know what, hahaha... Yup, right, AADC?2. Thank God I managed to watch it with my husband and sister because we were on a vacation in Jogja, and my mom kindly took care of my son when we were away. The “what-about-our-son” issue has always been there if I and my husband want to go to XXI. Thus, we never went there in this four-year marriage. Wait, we did! For the first time we had a night out at XXI in Jogja, watching The Dawn of The Planet of The Apes. It’s my sister’s choice, but I didn’t care since I really wanted to watch movie not on a cable TV (like we always did).

The reason was different with AADC?2. When the first AADC? was released, I was still in high school. I watched it with my highschool gank, lined up until parking area, made it to the lobby when the glass window of ticket box was broken already, and decided to quit because we couldn’t breath. Did we fail? No. We bought tickets from calo (broker?)...for three-times fold! So, you can see, this movie was so memorable. The soundtrack colored my high school days, and Dian Sastro has become my idol since the first time she was crowned as Gadis Sampul 1996.

Wow, that is more than enough reason to explain why I watched AADC?2 in the cinema. After this movie, I predict that I’ll back to my absence from the cinema, unless someone take care of my son. He’s almost three and I haven’t got the confidence to take him along. Maybe if he’s older we’ll watch children movie together, okay kid?

P.S: This post is a part of BEC English Friday Challenge.




Kecanduan Tabloid



Akhir-akhir ini saya sedikit mengalami kecanduan. Bukan, bukan kecanduan makanan manis seperti biasanya, tetapi kecanduan membeli tabloid. Tabloid wanita, tabloid gosip, atau tabloid hiburan tepatnya. Saya berusaha mengingat-ingat sejak kapan tepatnya keinginan untuk membeli tabloid ini seperti tidak bisa ditahan. Sepertinya sebulan terakhir ini saya bisa membeli sekaligus dua tabloid sekali beli. 

Awal tahun ini saya juga sudah mulai beli sih, tapi saya masih merasa rasional saat memutuskan untuk membeli. Kalau sekarang, saya seperti "nagih", haha... Asal tahu saja, di daerah tempat tinggal saya itu hanya ada satu kios koran dan satu los penjual majalah/buku bekas. Padahal daerahnya padat dan cukup luas, tapi tak sebanding dengan minat baca. Kios koran satu-satunya tadi terletak di tengah pasar yang jalannya hancur berat. Jadi kalau naik motor kesana harus rela isi perut bergoncang-goncang.

Kesediaan berkorban demi sebuah tabloid itu mungkin didorong oleh rasa lelah.. Sebulan terakhir, saya menjadi panitia inti sebuah event tahunan tempat saya mengajar. Ternyata cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Apalagi, tugas mengajar dan tetek bengeknya juga masih berlangsung. Sehingga, ketika sampai rumah saya ingin rileks, membaca yang ringan-ringan saja. Jadilah tabloid menjadi pilihan.

Meskipun ringan, saya tetap memilih isu yang diangkat oleh tabloid tersebut. Nova tetap yang paling sering saya beli, karena selain menurut saya beritanya up to date, nulisnya juga tidak asal, plus ada isu spesial yang sering mengupas tentang parenting. Saya juga sempat beli Bintang, biasanya karena berani mengangkat isu artis yang rada kontroversial walau saya tidak begitu suka ulasan tentang artis koreanya. Tabloid Nyata juga cukup infotainment, berita artisnya cukup padat.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa selera bacaan bisa berubah mengikuti fase hidup. Saat anak saya lahir hingga usianya 2,5 tahun, saya menjadi kolektor majalah Ayahbunda dan sejenisnya, sampai dibela-belain hunting majalah bekasnya karena yang edisi baru cukup mahal, hehe..

Sekarang sedang gandrung tabloid karena selain murah juga menyelesaikannya tidak menghabiskan banyak waktu. Dibaca sambil menemani anak bermain juga bisa. Sebelum event di atas menyita pikiran saya, saya bisa menghabiskan satu buku dalam seminggu, yang saya baca di sela-sela mengasuh anak sepulang kerja, atau sebelum tidur. Tetapi ketika otak sedang full, mengingat-ingat bagian terakhir yang kita baca dari buku agak sedikit berat, akhirnya malah menjadi beban, bukan hiburan.

So, for mommies out there, I suggest you to still read, whatever it is. Meskipun tabloid hiburan, saya masih merasa hal tersebut informatif lho. Beda lah dengan menonton televisi walau yang dibahas sama. Well, sebenarnya saya tidak bisa menonton televisi karena pasti akan disabotase si terrible two ini, begitu juga dengan mengakses internet lewat gadget. Kalo tabloid kan, anak saya enggak doyan, haha..