Sunday, June 26, 2016

Melongok Kandang Artistik Taman Safari

Bulan Maret lalu, saya berjanji untuk membuat cerita bagian ke-3 dari Taman Safari Trip saya dan keluarga. Ternyata baru kesampaian sekarang, mohon maaf...

Jadi, kalau melihat binatang lewat mobil dan animal show sudah saya bahas di postingan yang lalu, kini saatnya saya bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang saya suka, yaitu area kebun binatang. Jadi, kebun binatang ini membentang di sepanjang jalan. Setiap kali saya berjalan dari satu arena show ke arena lainnya, saya selalu melewati kandang berbagai jenis binatang. Berbeda dari kandang di kebun binatang pada umumnya, disini binatangnya diletakkan pada lokasi dengan desain menarik. Mari kita lihat:

Bersih, nggak seperti mau liat komodo
Keliatan kan komodonya?
Yang ini dalamnya ular
Saya cukup terpukau dengan tempat komodo ini. Dengan setting area tambang ala Wild Wild West, hewan-hewan didisplay di tempat yang artistik. Semula saya tidak tahu bahwa peti-peti kayu bertuliskan dinamit tersebut adalah kandang ular. Setelah saya melongok, olala..ternyata berbagai jenis ular sedang bergelung. Warna keseluruhan area ini match banget dengan hewan-hewan di dalamnya (ini bukan postingan OOTD kan?)


Monyet Jepang, sesuai namanya, diletakkan dalam kandang berbentuk beranda ala rumah adat Jepang. Sementara itu, Bekantan yang asal Kalimantan diletakkan di dalam rumah adat Kalimantan (lengkap dengan senjata dan perkakas khas borneo), namun dipisahkan oleh dinding kaca sehingga mereka tetap bebas bergelantungan dan kita aman melihat mereka.

Kandang Monyet Jepang
Sebagian display khas Kalimantan
Yang lumayan reachable adalah Binturong. Saya katakan demikian karena mereka seolah tidak diletakkan di dalam kandang, dan bisa saja melompat ke arah kita. Demikian halnya dengan buaya, mereka terlihat cukup santai berjemur di area berumput, sementara pengunjung melihat dari jembatan diatasnya. Sepintas terlihat bersih, mungkin karena pencahayaan yang terang ya...tidak seperti tempat reptil di kebun binatang lainnya yang biasanya temaram.

Can you find the crocs?
Jangan lompat ke saya ya!
Oya, ada pinguin juga lho! Tapi para pingu gak muncul-muncul, mungkin karena saya kesana menjelang jam 5 sore...jadi mereka sudah lelah dan istirahat. HP saya pun passs banget habis baterenya jadi tidak banyak yang bisa diabadikan.

Yang masih sejenis dengan pinguin adalah kolam lumba-lumba. Karena gagal masuk dolphin show, saya hanya bisa menikmati tempat pengunjung bisa berenang bersama lumba-lumba. Kebetulan kolam kacanya bisa dilihat langsung dari jalan. 

Berani berenang bersama mereka?
Penguins, where are you?
Tempat favorit lainnya: Meerkat!! Saya hanya pernah melihat meerkat di kartunnya Animal Planet tentang kampanye lingkungan. Ternyata aslinya imut banget....

Yang terakhir, saya suka dengan semua papan informasi di sini. Penyajiannya menarik dan mudah dicerna. Semoga kita tertarik membacanya ya....soalnya orang Indonesia itu kan...lebih suka....mmm...foto-foto, hehe...

Meerkatnya malah ketutupan
Lucu ya gambarnya? 
Singkat, padat, jelas.
Nah, kalau yang satu ini ceritanya lucu. Saat saya melintasi tempat bayi orangutan ini, saya tergoda untuk berhenti sejenak dan bercakap-cakap dengan bapak pawangnya. Saya tanya, "Umur berapa Pak?" (Orangutannya ya, bukan Bapaknya). 

Jawab sang pawang, " Satu setengah tahun". Sebagai ibu yang baru saja lulus menyapih anak, saya reflek dong bilang, "Wah, masih ASI donk!"

"Kalau ini udah selesai ASI. Bayi disini lepas ASI minumnya Bebelac. Kalau dua tahun ke atas ganti Dancow", jawab Si Bapak. Saya dalam hati tertawa, kaya manusia aja ya...!

Bayi orangutan peminum sufor
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dieksplor but we're running out of time. Paling enak ya nginep di sana (ada hotelnya lho!) jadi bisa masuk pagi-pagi dan mencoba semua wahana. Kalau saya sih, ini saja sudah puas banget, hehe...

Oh ya, saya masih ada utang jawaban pertanyaaan di postingan pertama, yaitu kenapa signboardnya tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Arab)? Ternyata ketika masuk ke dalam, saya banyak menemui turis asal Timur Tengah. Mungkin memang prosentasenya banyak kali ya, sampai bahasa ketiganya bukan Mandarin tapi Arab. Baiklah...sekian dari saya, hope you enjoy!



EF16.11: A Dream (BigFam) Holiday

Holiday.

I’m on my holiday....at home. For a working mom, resting at home really means something. Of course, I still have a dream to travel with my family for the next holiday, after we have enough budget haha...

So, when I visited BEC’s blog today and read the latest challenge, I decided to write the post immediately. I am a visual person, the five photos that BEC provides for this challenge made it easier for me to arrange my words. And....this is the pic I picked!


Yes, picnic with a bunch of people. 

This picture reminds me of my dream to have a trip with my big family. We only have a chance to get together, the complete set from uncles to grandchildren when: one of us get married or Lebaran. Fortunately, these four years my cousins (including me) got married one by one, so we had fun met up in ones’ wedding parties, with same-color kebaya, and family pictures! The stage is getting smaller to fit all of us because more of us have spouse and kids. Yeayy!

I can imagine how fun it would be if we all (my father and his 5 siblings, including their spouse, children, and grandchildren) go somewhere near but fresh (let’s say Kaliurang or Tawangmangu) to spend a night together. There are lots of new places in Jogja that are suitable for family vacation, too. 

But if I can set the bar higher, I’d like to choose Malang or Bandung, hehe... The kids will enjoy Batu Secret Zoo for sure. My parents and the pakdhe-budhe will also enjoy the family time since most of them now live separately from their married children. How wonderful to see everyone’s happy.

I hope this family-get-together will soon be realized J

Don’t forget to visit BEC’s blog, choose one pic, and write your story. It’s fun!

The Cousins.






Tuesday, June 7, 2016

Playdate at Taman Legenda TMII

Seminggu yang lalu, mendadak seorang teman SMA memasukkan saya ke dalam grup whatsapp Funtastic Legend Park. Ternyata, grup ini dibentuk untuk agenda playdate yang beberapa kali gagal terwujud. Alhamdulillah, akhir bulan lalu kami berhasil juga playdate plus reuni kecil-kecilan, walau hanya berempat (empat keluarga maksudnya..)


Lokasi? Taman Legenda TMII. Tidak sampai sejam dari rumah (apalagi berangkat di bawah jam 9 pagi). Terakhir ke TMII tahun 2005 saat masih kuliah, itu pun hanya ke anjungan-anjungan saja. Jadi, taman legenda ini termasuk baru, konsepnya seperti mini Dufan.

Karena bertepatan dengan akhir Ujian Nasional, Taman Mini lumayan penuh oleh bis rombongan murid sekolah. Saya sempat kuatir di Taman Legenda akan penuh sesak, tetapi tidak demikian. Mungkin karena harga tiketnya yang lumayan. Saya tidak membawa cash banyak, karena teman saya bilang tiket masuknya hanya 25-30 ribu saja. Ternyata, tiket tersebut belum termasuk tiket per wahana. Olala...

Daftar harga terpampang di atas loket. Sebaiknya tanya-tanya agar tidak salah pilih tiket masuk.

Jadi, ada tiket terusan Rp 150.000 untuk bisa menikmati semua wahana. Usia dewasa maupun anak dikenakan biaya yang sama. Ada juga tiket yang bisa di top up berupa gelang berwarna merah seharga Rp 50.000 yang terdiri dari Rp 25.000 tiket masuk, Rp 10.000 jaminan yang bisa di refund di akhir kunjungan, dan sisa Rp 15.000 untuk naik wahana. Harga tiap wahana bervariasi. Untuk komidi putar Rp 20.000, Taman Dino Rp 30.000, Bianglala Rp 20.000. Dengan sisa saldo di gelang hanya Rp 15.000, otomatis kita harus top up. Di dalam arena ada tiga tempat top up plus bisa cek saldo. Akhirnya saya dan teman-teman pun memilih membeli gelang dengan alasan yang paling ekonomis, plus anak-anak kami masih di bawah 6 tahun rasanya tidak mungkin menaiki semua wahana.

Satu hal yang saya tidak begitu suka dari Taman Legenda adalah, pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman dari luar. Petugas benar-benar membuka tas kita dan mengeceknya. Karena saya bukan tipe nego (haha), saya pun hanya bisa membawa sekotak roti tawar isi selai plus botol minum anak saya dengan alasan, "Anak saya tidak boleh camilan ber-MSG". Teman-teman saya masih berani membawa botol minum mereka masing-masing (ternyata boleh) apalagi yang membawa bayi dan stroller, biasanya isi tas tidak dicek. Akibatnya, saya sukses membeli 5 botol air mineral ukuran kecil yang dihargai @Rp 10.000 atau Rp 15.000/2 botol. Hiks..

Terlepas dari itu, saya menilai Taman Legenda cukup cocok untuk playdate. Saya suka lokasinya yang bersih, ukuran tidak terlalu luas sehingga anak tidak mudah lelah berjalan kesana kemari. Musholanya juga bersih. Mungkin karena masih baru jadi lumayan terawat.

Pintu masuk Taman Dino: Sayapnya bisa mengepak lho!
Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Taman Dino. Awalnya saya ragu anak saya berani masuk ke sini. Setelah dibujuk, Aksa masuk dengan ayahnya sementara saya menunggu di loket. Lima menit kemudian, Aksa setengah menangis lari kembali ke arah loket, bablas sampai gerbang Taman Dino. Waduh... Ternyata di awal wahana tersebut, ada dinosaurus yang menyemburkan air dan Aksa pun terkena sembur, haha... Dengan iming-iming Yupi dan setengah terisak, Aksa pun kembali masuk dengan ayahnya, saya ikut juga.

Taman Dino memang tidak besar tetapi cukup menarik. Suasananya mengingatkan saya akan Jurrasic Park, dengan semak-semak dan jalan setapak. Ukuran dinosaurusnya pun besar dan sebagian besar bisa bergerak dan bersuara. Saking miripnya, Aksa selalu memperlambat jalannya ketika mendekati jenis dinosaurus yang baru. Ada beberapa dinosaurus yang dilengkapi dengan lubang sehingga kita bisa masuk kedalamnya dan berfoto. Saat saya masuk masih pagi sehingga untuk berfoto tidak butuh antre yang lama, karena terkadang kita harus menunggu pengunjung lain untuk berfoto terlebih dahulu.

Lihat kan semburannya?
Looks like real
Ayo siapa mau jadi anak dino..
Saatnya mencari tulang belulang si dino...
Di akhir rute Taman Dino, ada arena pasir dengan kerangka dinosaurus dari batu sehingga anak-anak bisa berpura-pura menjadi arkeolog. Seru! Saya dan suami sempat menemani Aksa membuat istana pasir sampai kemudian dia berani berinteraksi dengan anak-anak teman kami. Saatnya para ortu ngobroool haha...Setelah main pasir, jangan lupa cuci kaki dulu ya...ada kamar mandi dan wastafel di area ini. Terdapat juga toko suvenir dengan koleksi cukup menarik.

Keluar dari Taman Dino, anak-anak minta naik komidi putar. Karena saldo habis, saya dan teman pun mengisi saldo di area kolam renang. Lumayan rempong ya, belum kalau antri. Kebetulan ada murid-murid SD yang ramai-ramai top up, tetapi tidak antri. Pusing saya kalau sudah begini.



Kolam renang alias Anak Tirta
Tempat kami makan siang: Kafe Barong
Alhamdulillah, komidi putar berhasil dinaiki walau hanya sekian menit selesai. Karena sudah siang, kami mampir di Kafe Barong. Bentuknya seperti pendopo, dengan view menghadap kolam renang. Dan....untuk membeli makanan kami harus memakai saldo gelang lagi! Top up lagi deh...sangat-sangat tidak praktis, sebaiknya memang beli banyak sekalian saldonya, toh nanti bisa di refund kalau sisa. Baiklah, kami pun memesan makanan yang semua dihargai Rp 35.000 (kecuali snack). Menunya seperti soto, rawon, gado-gado sampai yang internasional seperti steak dan nasi katsu. Rasanya lumayan menurut saya, hanya saja seorang teman tidak menghabiskan sotonya karena minyaknya saaangat banyak.

Mobil tanjak
Sambil makan, kami pun ngobrol. Anak-anak bermain di sekitar pagar kolam renang, sementara Aksa nongkrong saja diatas Mobil Tanjak. Akhirnya saya pun luluh mengajaknya naik mobil yang digenjot tersebut. Untungnya masih ada saldo Rp 15.000, pas untuk 15 menit sekali naik. Ternyata, menggenjot mobil itu berat saudara-saudara! Saya aja nih yang kurang olahraga, tapi saya cukup suka karena bisa berkeliling Taman Legenda, yang mungkin saya tidak tahu seberapa luasnya karena tidak menaiki semua wahananya. Dengan naik Mobil Tanjak, saya jadi tahu ada kuda dan lapangan untuk gathering di area ini.

Konter refund. Rak di belakang adalah untuk menitipkan makanan yang terlanjur dibawa pengunjung tetapi tidak boleh dibawa masuk.
Sekitar jam 2, kami memutuskan untuk pulang. Beberapa dari anak kami sedang pilek, jadi mungkin it's time to rest. Sebelum pulang, kami sempatkan menonton Film Keong Emas di Teater Legenda yang gratis. Tidak lupa kami tukar gelang dengan jaminan Rp 10.000 dan sisa saldo. Quite a fun for today!

Penasaran dengan toilet dan musholanya? Inilah fotonya:


Wastafel dan toilet di Taman Dino
Musholla di dekat Museum Asmat