Thursday, November 17, 2016

Be Present, Solusi Cegah Anak Rewel


Semenjak memutuskan untuk resign, saya berniat untuk tidak kembali bekerja hingga saatnya melahirkan nanti. Sebetulnya lima bulan merupakan waktu yang panjang untuk kembali menjadi “pengangguran”, tetapi saya mempertimbangkan banyak faktor seperti kesehatan, repotnya memulai dari nol lagi di tempat kerja baru -itupun kalau ada yang mau mempekerjakan bumil dalam waktu singkat-, dan kembali meninggalkan Aksa di tangan orang lain selama saya bekerja. Hmm…faktor terakhir sebetulnya menjadi yang paling saya pikirkan. Kasihan juga Aksa hanya dapat “waktu sisa” dari ibunya. So, keputusan sudah bulat. Saya akan fokus di rumah.

Seperti masa-masa pascaresign yang sebelumnya, bisa bangun kapan saja itu suatu kenikmatan. Kalau dulu pada minggu kedua saya sudah resah karena merasa useless di rumah (waktu itu belum ada Aksa), kali ini saya bingung….mau ajak anak saya main apa? Sungguh, 24 jam itu waktu yang panjang untuk dihabiskan bersama seorang balita jika kita tidak punya rencana si anak mau diapakan. Apalagi saya juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik.

Saat saya masih jadi ibu rumah tangga dan Aksa masih berusia di bawah dua tahun, tampaknya bermain bersamanya tidak harus memutar otak seperti ini. Kalau mau tidur tinggal nenen saja, beres. Sekarang ketika ia sudah menjelang 3.5 tahun, kemampuan komunikasinya juga sudah semakin tinggi, waktu tidurnya berkurang, begitu juga dengan keinginannya yang makin beragam.

Ditambah lagi, semenjak pindah kesini, kami menjadi sedikit nomaden. Dua hari menginap di rumah ortu saya, hari berikutnya kembali ke rumah kontrakan, weekend di rumah mertua. Begitu kurang lebih yang terjadi setiap minggunya. Alhasil, “harta karun” Aksa tersebar di tiga rumah, haha.. Jadi, yang bisa saya lakukan hanyalah berimprovisasi ketika ia mulai bosan dan meminta video alias youtube.

 Kalau anak sudah minta video atau menyalakan tombol televisi, itu tandanya ia sudah bosan bermain…sendiri. Yap, betul. Terkadang ketika saya sibuk mencuci atau di dapur sementara Aksa bermain sendiri, saya sudah harus bersiap untuk bernegosiasi untuk tidak menyalakan televisi atau menonton video. Seringnya sih, anaknya sudah terlanjur rewel. Kalau sudah begini, saya hanya bisa memperbolehkan dengan batasan waktu, walau ketika waktunya habis dia belum bisa menepati janji. Akhirnya perang dunia deh.

Saya sempat berpikir, apa saya perlu membuat “lesson plan” aktivitas hariannya ya? Ada teman yang menyiapkan materi untuk anaknya, kurang lebih seperti homeschooling. Kalau mau lebih simple, browsing-browsing sedikit tentang aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak juga bisa. Masalahnya, semuanya hanya sampai tahap pikiran saja. Kenyataannya ya…hari-hari yang sama terulang lagi dan lagi, haha…klise banget ya..

Meskipun demikian, ada satu kunci yang lumayan bisa menjamin Aksa tidak terlalu sering minta gadget dan televisi (dan kemudian rewel jika kita batasi) : be there with him. Istilah lainnya yang pernah saya baca, be present. Jadi, ketika anak mulai melakukan aktivitas seperti bermain, kita ikut bermain bersamanya. Begitu juga ketika ia minta dibacakan buku, main bola, merangkai puzzle, dsb. Be present-nya lahir batin ya… Maksud saya, jangan sambil pegang hp atau lainnya. Jadi benar-benar bermain bersamanya.

Kalau saya temani terus, nanti ada saatnya ia tidak keberatan kita tinggal istirahat sebentar. Saya biasa meminta ijin dulu, misalnya: “Aksa, habis ini Mama tiduran sebentar ya di kamar, punggung mama capek”. Setelah anak sudah puas main dengan kita, biasanya sih ia akan asyik main sendiri tanpa kehadiran kita. Seperti me time kali ya… Sering juga yang terjadi malah sebaliknya, kita mau nimbrung tetapi tidak diijinkan, hehe..

Be present seperti di atas memang efektif mencegah anak menjadi cranky, tetapi tidak efektif jika pekerjaan rumah tangga menumpuk. Takutnya kita malah menjadi gampang tersulut emosi jika anak tidak menuruti keinginan kita. Raga di depan si kecil, tetapi pikiran di setrikaan yang menumpuk. Nanti kalau si kecil tidak mau diajak mandi, yang keluar dari mulut kita seperti, “Ayo donk nak, ibu masih belum nyuci nih, belum ini dan itu, bla bla bla..” Jadi ujung-ujungnya nyalahin anak deh.
Karena itu, saya berusaha langsung cus urusan domestik di pagi hari sebelum si anak bangun. 

Kebetulan akhir-akhir ini ia bangun agak siang. Tetapi kalau rejekinya kita lagi berat bangun pagi dan anaknya pas bangunnya lebih pagi, ya…tergantung situasi. Kalau terlihat agak rewel, ya ditemani dulu sampai suasanya hatinya membaik. Lauk sarapan bisa minta tolong si ayah belikan dulu, cucian bisa nunggu barang 30-60 menit, yang penting mood Aksa bagus. Soalnya, kalau anak bangun tidur sudah disambut muka riweuh sang ibu, anak pun jadi ketularan nggak tenang. So, peluk-peluk cium dulu agar si anak happy.

Untuk saat ini, be present bisa menjadi solusi. Namun mulai bulan depan, saya ingin agar saya juga be creative agar anak saya bisa bertambah juga kemampuannya meskipun ia belum bersekolah. Sudah saatnya saya melihat-lihat pinterest, youtube, ataupun blogwalking untuk mencari inspirasi kegiatan edukatif yang bisa dilakukan dengan Aksa. Begitu juga dengan cek milestones untuk usianya. Kesibukan kerja, dilanjut kehamilan dan pindah rumah membuat saya sedikit melupakan hal-hal tersebut. Yang di perut saja kadang dicuekin, yang penting si dedek tidak kelaparan.

So, mari singsingkan lengan baju! Ini self reminder, biarpun tidak bekerja, hidup tetap harus terencana dan berkualitas donk. Apalagi sudah ada anak. Jangan sampai masa emas terlewat gara-gara ibunya malas, hehe..







Categories:

0 komentar:

Post a Comment