Friday, November 4, 2016

Ke Perpustakaan Bersama Anak

Kembali ke Jogja, berarti bisa lebih sering pergi ke perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang saya rutin kunjungi dulu adalah Perpustakaan Kota Yogyakarta alias Perpuskot, yang terletak di belakang Gramedia Jl Jend. Sudirman. Sengaja saya pilih hari kerja dan pagi hari untuk menghindari suasana yang terlalu ramai. Maklum, terakhir kali saya kesana awal 2016 sewaktu mudik, perpustakaan bagian anak ramai sekali. Karena hanya berupa ruang kecil berpartisi setinggi pinggang, saya pun tidak bisa leluasa membacakan buku untuk anak saya.

Selasa kemarin, saya, Aksa, dan ayahnya datang sekitar pukul 10 pagi. Parkiran motor sudah cukup ramai. Gazebo depan pun sudah terisi 50%, begitu juga dengan ruang baca lantai pertama. Saya langsung menuju resepsionis untuk mengaktifkan kembali kartu anggota saya yang sudah hilang semenjak saya pindah Bogor. Syukurlah, mereka berhasil menemukan akun saya dan memberikan kartu sementara. Mas petugasnya sempat takjub, saya mendaftar di urutan 161 alias masa-masa awal Perpuskot beroperasi. Ya iya lah, dulu ke perpus untuk mengisi masa-masa menganggur pasca lulus kuliah, sekarang kesini sudah sama balita. Sudah lamaaa sekali.

Singkat cerita, kami naik ke lantai dua. Tas sengaja tidak saya masukkan loker karena ukurannya kecil dan hanya berisi perlengkapan darurat semacam baju ganti anak, dompet, hp, dan biskuit mini. Tupperware saya bawa begitu saja.


Sofa diapit rak buku referensi
Begitu melihat bagian anak yang kosong, saya pun bersorak. Ini artinya saya dan Aksa bisa puas memilih dan membaca buku. AC-nya pun terasa dingin. Ternyata, suami dan anak sudah lebih dulu menemukan buku-buku bertema dinosaurus yang sedang digemari Aksa. Lumayan banyak, dari yang model pop-up, ensiklopedi, sampai yang minim ilustrasi untuk usia SD.

Sambil mencarikan buku Aksa, saya bisa mengamati lebih seksama koleksi buku anak yang ada. Koleksinya mayoritas buku terbitan dalam negeri. Buku referensi yang tebal dan terbitan baru diletakkan di rak khusus dekat sofa, sementara ensiklopedi jadul macam terbitan Widyadara diletakkan di rak display. Majalah anak semacam Bobo dan NatGeo Kids juga cukup banyak, sementara di sisi kiri pintu ada koleksi komik dan novel anak. Jadi, saya duduk di sisi kanan pintu yang lebih banyak buku cerita untuk balita hingga TK, termasuk boardbook. Ada juga buku impor walau hanya satu saf, kondisi masih bagus. Tampaknya usianya masih belum terlalu tua. Sementara buku pop-up sudah banyak yang rusak, bahkan ada buku yang pop-upnya hanya utuh di satu halaman saja. Memang perawatan buku semacam ini harus ekstra.

Ruangan yang cukup nyaman walau sempit

Yang diminati Aksa
Ada boardbook untuk batita semacam Halo Balita
Karena sudah mengantongi kartu anggota, saya pun mengambil dua buku berkode SR (hanya kode ini yang boleh dibawa pulang) dan turun ke lantai satu untuk mendaftarkan pinjaman. Sayang beribu sayang, komputer sedang bermasalah sehingga untuk sementara tidak bisa meminjam buku. Hiks..
Aksa pun mulai merengek minta biskuit karena lapar. Kami berdua pun keluar (ayahnya hanya mengantar lanjut ngantor) lalu menikmati biskuit sambil duduk di gazebo yang memang dipersiapkan untuk rehat sekaligus berinternet. Ini terlihat dari stop kontak yang tersedia berjajar, tong sampah di setiap gazebo, serta gerobak angkringan di dekat gerbang masuk. Dengan rerimbunan pohon yang cukup besar (daerah kotabaru didominasi bangunan Belanda dengan hehijauan yang cukup banyak) tidak heran tempat ini selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh mahasiswa.

Tampak depan dan halaman parkir motor (mobil di luar gerbang)

Area gazebo yang teduh
Sambil menunggu dijemput, kami berdua pun masuk kembali ke perpustakaan. Saya meminta Aksa menemani saya melihat-lihat buku umum di lantai satu (walaupun saya juga ingin kembali ke lantai dua untuk menikmati majalah edisi terbaru, mulai dari Femina, Ayahbunda, hingga Intisari favorit saya). Namun Aksa yang gemar bertanya dan memanggil saya dengan suara nyaring jadi membuat saya tidak enak dengan pengunjung lain, hehe... Kalau ibunya mau menikmati perpustakaan, tampaknya anak harus dihandle ayahnya atau eyangnya ya...


Setelah dua jam di perpustakaan, saya dan Aksa pun pulang dengan senang. Cukup banyak buku yang saya bacakan untuknya tadi, hingga sinyal-sinyal bosan muncul. Lumayan, hari ini mengalihkannya dari gadget barang dua jam. Semoga bisa datang sebulan sekali, agar bisa jadi rutinitas namun tidak membosankan.


2 comments:

  1. suasana puskot ngangenin bgt mba.. udah banyak berubah ya layanan anaknya. aku paling suka duduk di gazebo, adem dan jalanan disana ga riuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semalem aja jam 8 lewat Perpuskot, orang2 masih pada betah di gazebo padahal lagi ujan lho hehe

      Delete