Thursday, December 1, 2016

Memasukkan Anak ke Pesantren, Ya atau Tidak?

www.youtube.com


“Apakah salah jika saya mengirim kedua anak saya ke pesantren ketika mereka masuk usia TK?” tanya salah seorang peserta seminar yang saya hadiri Sabtu lalu. 

Ibu tersebut merasa risau lantaran ia dan suami merasa  bahwa lingkungan pesantren lebih aman dibanding lingkungan tempatnya tinggal in terms of raising kids, sementara orang lain dan keluarga besarnya “menuduh” ia hanya suka membuatnya tapi tidak suka membuatnya.

Soraya Haque yang menjadi pembicara dalam seminar Aku Bangga Menjadi Ibu tersebut memberikan jawaban yang cukup menenangkan: “Anda yang paling tahu anak Anda, jadi lakukan apa yang terbaik menurut Anda dan suami”.

Menurut Soraya Haque, terkadang kita dengan mudahnya menghakimi rumah tangga orang lain, sementara kita sendiri tidak mengkritisi apa yang terjadi di rumah tangga kita. Setiap pasangan memiliki style yang berbeda dalam membina perkawinan sehingga tidak ada formula yang jitu untuk menjadi ibu yang hebat, atau suami yang hebat karena kondisi keluarga yang berbeda-beda. 

Menurutnya, mengenali pasangan kita adalah hal pertama yang harus dilakukan, termasuk membuat kesepakatan bagaimana nanti perkawinan tersebut akan dijalankan, seperti pekerjaan dan pengasuhan anak, misalnya.

Mempercayakan pengasuhan anak di pesantren sekarang sudah banyak menjadi pilihan sebagian orangtua, apalagi dengan makin banyaknya pesantren modern dan boarding school yang tidak melulu mengajarkan agama. Kedekatan keluarga khususnya sang ibu dengan anak bisa membuat sebuah keluarga memilih sekolah pada umumnya daripada pesantren. Dari peserta seminar yang bertanya di atas, saya baru tahu jika anaknya bisa ditengok sebulan sekali dan pulang ke rumah setahun sekali. Jujur, kalau saya nggak akan kuat menjalaninya, haha..

Seorang peserta yang duduk di sebelah saya menambahkan, “Sekarang nggak jaminan kan mbak, kalau lulusan pesantren trus pasti sholehnya…”

Kalau itu memang di luar kuasa kita sebagai manusia sih. Sepupu saya dua kakak beradik, masuk pesantren sejak SD, tetapi outputnya berbeda. Yang sulung langsung gabung geng motor begitu masuk SMA negeri sementara si bungsu tidak. Tetangga saya keempat anaknya dimasukkan Pondok Gontor semua, dan anak kelima can’t wait to study there also padahal usianya masih 7 tahun. Rekan kerja saya bersuamikan alumni pondok pesantren. Testimoninya yang saya ingat adalah, suaminya pintar melakukan hal-hal domestik, tetapi secara batin tidak terlalu dekat dengan kedua orangtuanya. Semua ada plus minusnya dan tidak bisa dipukul rata.

Soraya Haque menambahkan, “Coba nanti kita bandingkan, katakanlah saat anak-anaknya berusia 17 tahun, antara anak-anak pesantren dan anak yang ibunya selalu ada di sekitar mereka. Biasanya yang di pesantren memang lebih mandiri.”

Hal-hal semacam ini memang menjadi pilihan kita sebagai orangtua. Menurutnya lagi, orangtua harus tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Dalam kasus pesantren tadi, pastilah orangtuanya memiliki pandangan yang jauh ke depan hingga rela mengorbankan waktu dengan anak-anaknya. Kalau saya pribadi, kenali anaknya terlebih dahulu. Saya lebih pro jika itu atas kemauan anaknya sendiri, sehingga ia akan menjalaninya dengan enjoy. Bukankah begitu?





Categories:

0 komentar:

Post a Comment