Wednesday, May 31, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 2: Bianglala)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

2. Bianglala

Bianglala termasuk sekolah yang sudah cukup terkenal di Jogja dan sudah terakreditasi A. Lokasinya di Kopen, Jalan Kaliurang km 7,5. Dari Jalan Kaliurang tidak ada penanda arahnya, jadi harus tanya teman dulu. Berkebalikan dengan Al Wahdah, aksesnya cukup mudah karena berada di lingkungan perumahan yang tidak terlalu padat, hanya dua kali belok dari Jalan Kaliurang.

Foto dari website resmi Bianglala
Pertama kali sampai di sini, saya langsung disambut oleh sekuriti yang ramah dan diarahkan untuk ke resepsionis. Anak saya…langsung ke playground! Dengan kombinasi mainan fiber dan besi warna-warni plus kolam pasir, playground ini jelas menjadi magnet bagi anak-anak. Jadi, saya pun bisa bebas bertanya-tanya ke meja resepsionis di lobi yang cukup besar. Saya langsung diberi buklet berisi rincian biaya, fasilitas, dan tata tertib dan ini bisa dibawa pulang. Untuk TK, biaya pendaftaran Rp 250.000, biaya fasilitas tahunan Rp 6.600.000 dan SPP Rp 425.000 dan biaya seragam Rp 610.000. 

Biaya fasilitas dapat dicicil 3x sampai bulan November. Untuk tahun ajaran baru, siswa harus membayar biaya fasilitas lagi. Jadi misalnya anak saya sekarang masuk TK A, tahun depan harus membayar enam juta lagi untuk masuk ke TK B. Berarti kalau ditotal, kita harus menyiapkan Rp 13 jutaan sampai lulus TK.

Terlihat mahal memang, namun sebanding dengan fasilitas yang diberikan. Selain gedung sekolah yang bukan berbentuk rumah tinggal, Bianglala memiliki kelas berAC, perpustakaan, area bermain indoor dan outdoor, pemeriksaan dokter setiap bulan, dan dokter gigi setiap enam bulan sekali. Orangtua juga bisa berkonsultasi dengan psikolog sebulan sekali. Biaya field trip juga sudah termasuk dalam biaya fasilitas, dan…. kalau berenang tidak harus keluar karena mereka memiliki kolam renang sendiri, yeayy!

Jadwal belajar dimulai pukul 7.30 hingga 10.30. Karena Bianglala tidak berbasis agama, pelajaran agama disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing. Pelajaran komputer, tari, dan Iqro merupakan ekskul wajib, sementara ekskul optionalnya ada drumband, vocal, modeling, dan bahasa Inggris. Untuk orangtua yang tidak mengharuskan anaknya di sekolah berbasis agama dan tidak menginginkan durasi belajar yang tidak melelahkan, saya merekomendasikan sekolah ini.
Bianglala juga memiliki kelas playgroup dan daycare. Info lengkapnya bisa dilihat di website mereka www.bianglala-kindy-playgroup.com.

PS: Tulisan ini sebenarnya sudah dibuat hampir dua bulan yang lalu, dan saya kirim ke sebuah website parenting. Karena sudah satu bulan menunggu dan tidak dimuat, saya memutuskan untuk memuatnya di blog pribadi :) 




Monday, May 29, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 1: Sekolah Al Wahdah)


Sebentar lagi si sulung berusia empat tahun. Saya dan suami berencana memasukkannya ke TK, terutama untuk mengasah kemandirian dan sosialisasinya. Maklum, ia masih banyak dibantu termasuk ketika makan dan tergolong anak yang pemalu. Mengingat tahun ajaran baru tinggal 2 bulan lagi, kami pun survei ke beberapa sekolah yang berada di sekitar Jalan Kaliurang atas (a.k.a kilometer 6 ke atas). Berikut ini beberapa sekolah yang telah kami kunjungi berdasar rekomendasi teman dan kerabat:


1. Sekolah Al Wahdah

Sekolah yang bernama Taman Tahfidz Anak Al Wahdah ini berlokasi di Jetis Baran, Jalan Kaliurang km 10. Lokasinya tidak terlalu dekat dengan jalan besar dan masih dikelilingi oleh sawah. Saya dan suami sempat nyasar juga karena tidak ada petunjuk jalan. Sampai di sana, suasana sekolah terlihat cukup tenang dan tidak ada aktivitas di halaman luar. Tidak terlihat ada sekuriti atau resepsionis (ternyata front officenya ada di dalam).

Bangunannya memang terlihat sederhana, begitu juga dengan playground yang mainannya terbuat dari besi. Kami disambut oleh seorang ustadzah yang kemudian menjelaskan tentang garis besar pengajaran di sana. Sesuai namanya, Al Wahdah menekankan pada hafalan Quran selain juga materi umum yang dijumpai di sekolah Islam lainnya seperti hafalan doa harian, hafalan hadits pilihan, dan solat berjamaah. Bedanya, siswa yang dibagi dalam kelas PG (2-3 tahun) dan TK (4-6 tahun) ini ditargetkan untuk hafal minimal 1 juz. Wow..saya saja tidak hafal juz 30 hehe..

Sekolah dimulai pukul 7.30 hingga pukul 13.00, kecuali bagi yang full day hingga pukul 16.00. Biayanya cukup terjangkau. Biaya pendaftaran Rp 85.000, biaya pendidikan Rp 650.000 dan biaya pengembangan Rp 1.800.000. Untuk kelas half day, SPP Rp 260.000 dan Rp 350.000 untuk full day. Biaya sudah termasuk snack 1x (full day 2x) dan makan siang. Kalau kita mendadak berhalangan menjemput misalnya, bisa full day insidental juga lho dengan menambah Rp 15.000 per hari. Selain biaya pokok di atas, ada uang seragam sebesar Rp 230.000 untuk 2 stel.

Contoh mainan di halaman luar
Saya tidak sempat melihat ke dalam kelas maupun kamar mandi (ini penting buat saya, haha). Saya agak takjub saja dengan ketenangan sekolah ini. Tidak terdengar suara berisik khas TK. (tapi kali lain saya melintas, halaman sekolah cukup ramai dengan murid-murid yang sedang bermain) Oh ya, sekolah ini menjadi satu bangunan dengan SD-nya lho. Saat saya iseng melongok lewat jendela di salah satu kelas SD, tidak terlihat ustadz/ustadzah di kelas, tetapi anak-anaknya tertib. Wah..
Untuk orangtua yang ingin anaknya bisa menghafal Quran sejak dini dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang agamanya, saya merekomendasikan sekolah ini. Sayangnya, trial class baru tersedia pada bulan Juli.

Untuk yang tertarik bisa mengunjungi website www.sekolahalwahdah.com.

PS: Tulisan ini sebenarnya sudah dibuat hampir dua bulan yang lalu, dan saya kirim ke sebuah website parenting. Karena sudah satu bulan menunggu dan tidak dimuat, saya memutuskan untuk memuatnya di blog pribadi :) 


Thursday, May 18, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 2)


Dalam post saya sebelumnya, saya sudah memilih salah satu jastip (jasa titip) untuk berbelanja di pameran buku terbesar namely Big Bad Wolf Book Sale Jakarta (BBW). Sambil melobi suami untuk menyiapkan budget atas nama anak (yes, right), saya mulai cuci mata beberapa “bocoran” buku yang akan dijual di BBW nanti. Selain itu, tidak lupa saya menyisakan cukup memori di hp untuk menginstall LINE dan mulai mempelajari bagaimana cara menggunakannya (ini saya berasa jadul banget ya…perasaan masih kelahiran 80an deh..)

Target saya sih, bisa mendapat boardbook yang harganya di bawah Rp 50.000. Tahun lalu boardbook seharga Rp 45.000 cukup banyak dan bagus-bagus. Sementara tahun ini, di official  Instagram BBW saya lihat Rp 50.000-Rp 75.000 yang standar. So, saya belum mempunyai wishlist atau WL (daftar belanjaan alias judul buku yang diinginkan) yang spesifik. Lihat-lihat saja dulu apa yang diupload sama jastip nanti.

Dannnn….here comes the D Day! Tanggal 20 April, jastip saya sudah di lokasi, dan kegiatan upload mengupload foto pun dimulai. Saat itu member di grup LINE sudah mencapai 120 orang. Karena saya masih play safe, saya tidak terlalu kalap mengetik kata ‘fix’. Pikir saya saat itu, event ini kan masih berlangsung sampai tanggal 2 Mei. Saya pun juga memantau Instagram beberapa jastip, dan me-screenshot buku yang saya mau untuk kemudian dijapri ke admin jastip agar bisa dicarikan. Dari situlah kemudian saya mempunyai wishlist.

Hari pertama, tidak semua buku yang saya mau saya dapat. Di BBW, terlalu lama berpikir sama dengan siap kehilangan. Cara kerja para jastip ini kan memotret buku kemudian mengupload, dan buku ini tidak bisa mereka tahan terus kan, kecuali mereka membelinya. Oke, misalnya pun mereka bisa keep bukunya, how many can they keep? Apalagi jenis buku yang peminatnya banyak, bersiaplah untuk secepat mungkin menulis kata fix. Kebanyakan kasus, kita tidak bisa 100% mengikuti live shopping karena kerja atau sedang mengurus anak. Ketika melihat hp, ada buku yang kita inginkan padahal admin sudah tidak lagi berada di dekat buku itu. Admin akan tetap mencarikan sih, tetapi tidak jaminan akan menemukan buku itu kembali.

Maka, Sembilan hari berikutnya tangan saya pun lengket ket dengan hp, hahha.. Yang tadinya saya mengharamkan suami untuk melihat hp sambil mengurus si kecil, sekarang saya sendiri yang melanggar peraturan tersebut atas nama BBW. Hp yang satu untuk melihat LINE, yang satunya untuk melihat IG, karena ada online bookstore langganan yang live shopping via IG, tanpa deposit pula. Mata ini benar-benar dimanjakan oleh warna-warni buku anak dengan fitur yang bikin kita ingin memiliki semuanya. Syukurlah, otak ini masih bisa diajak kompromi dengan selalu mengingatkan how much money I had to spend for this. Saya selalu menyiapkan buku catatan untuk menulis buku apa saja yang sudah saya fix berikut harganya.

Saya bisa bertahan mengikuti live shopping sampai hari terakhir BBW. Dari yang bukunya masih bagus-bagus sampai yang sudah tinggal sisa-sisa. Dari yang harganya masih mahal sampai dapat buku lokal yang harganya as cheap as Rp 5000. Alhamdulillah…budget saya membengkak 3 kali lipat T.T. Menyesal? Sedikit sih…karena menurut adik saya kalau kita sudah selesai baca bukunya dijual lagi pun masih laku. Jadi uang bisa kembali walau hanya sekian persen. Yang penting, kita sudah menikmati bukunya.

Setelah seminggu lebih mengikuti perhelatan akbar ini, saya bisa menilai kualitas jastip melalui poin-poin di bawah ini (in case next BBW mau ikut lagi)

1.       Jumlah anggota tim
Tim jastip saya empat orang dengan anggota mencapai 300 orang di hari-hari akhir. Saya melihat di instagram ada yang anggotanya sepuluh lebih, ada juga yang cuma berdua dengan teman karibnya. Apakah semua terhandle dengan baik? Hmmm…agak lama sih memang responnya. Ketika live shopping memang cepat uploadnya, namun ketika membuat rekapan yang lama. Rekapan ini dibuat dengan cara (kalau tidak salah) menentukan siapa saja yang mendapatkan buku yang diinginkan berdasar urutan mengetikkan kata fix. Kemudian, admin akan mengirimkan sejenis tabel ke member yang berisi judul buku, jumlahnya, harganya, dan total jastipnya.
Saat pengiriman pun lebih lama lagi. Barang baru mulai dikirim H+2 event berakhir, dan dikirim berdasarkan member yang telah menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu. Ada jastip yang mulai pengiriman lebih cepat. Saya melakukan pelunasan tanggal 6 Mei (karena rekapan baru keluar tanggal 4 Mei), barang dikirim tanggal 8 Mei (karena 7 Mei minggu) dan paket tiba tanggal 13 Mei. Takes time banget yah..

2.       Jumlah anggota grup dan rules
Mengurus member yang berjumlah ratusan dan isinya adalah emak-emak memang tidak mudah. Ada yang membombardir admin di group notes, ada yang japri, ada yang mengirimkan foto-foto buku wishlistnya di grup sehingga anggota lain mengira itu buku BBW yang diupload admin, ada yang nggak terima member lain nge fix langsung 7 buku, dsb dsb. Rame deh pokoknya. Admin pun selalu mengingatkan member untuk mematuhi rules yang sudah mereka buat, begitu juga para member. Saling mengingatkan. Yang saya tidak begitu setuju adalah admin terus menerima anggota baru (termasuk yang belum kirim deposit) dan para newbie bertanya di grup “bagaimana rulesnya, mereka harus apa” dan semua basic questions. Brrrr… Agak sedikit mengganggu ritme apalagi kalau sedang heavy uploadSebaiknya sih anggota grup dibatasi, sesuai kemapuan admin.

3.       Selera buku
Beberapa hari pertama, saya agak kecewa dengan selera buku para admin, khususnya yang bapak-bapak. Saya cari yang murah bagus tapi yang diupload yang mahal-mahal dan kurang mewakili selera buibu. Saya bisa bilang begini karena saya juga melihat apa yang diupload jastip lain di instagram. Lama kelamaan sih mereka mengupload sesuai wishlist para member dan buku-buku bestseller, termasuk juga buku dengan harga yang lebih terjangkau.

4.       Kecepatan respon
Sudah dibahas diatas ya mengenai kecepatan respon yang memang agak kurang. Saya sih memaklumi, karena ini pilihan saya juga untuk bergabung di jastip yang banyak anggotanya. Ada jastip lain yang membatasi hanya 50 orang member. Ada juga yang anggotanya 300 lebih mereka mempekerjakan karyawan, jadi lebih profesional.

5.       Cara memotret buku
Ini juga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan beli atau tidak. Jastip saya memotret buku dengan cukup baik, tetapi kadang jaraknya kurang dekat dan tidak dipotret isinya (meskipun tidak disegel). Tampaknya target mereka adalah upload sebanyak mungkin. Ada jastip yang uploadnya berupa video termasuk bagian dalam buku dan bagian harga dizoom, ada juga yang beberapa buku sekaligus sehingga mengirit waktu.

6.       Kecepatan pengiriman
Poin ini juga sudah dibahas sekilas di atas. Admin sudah menentukan jadwal rekapan, jadwal pelunasan, deadline pengiriman data member, serta jadwal pengiriman paket. Kita bisa memilih jasa paket yang kita mau, admin sudah menyediakan link untuk mengecek harga paket per kilonya. Banyak yang sampai beberapa hari sebelum tulisan ini saya post, masih belum menerima paket. Selain karena faktor dari jasa pengirimannya, ada juga faktor kecepatan jastip dalam membungkus buku. Dengan tenaga hanya maksimal empat orang dan sekian ratus customer, sudah jelas semua tidak bisa dilakukan dengan cepat.
Ada satu hal yang membuat saya kecewa, yaitu paket buku sampai di rumah saya dalam keadaan kardus ringsek. Aduh, ini nyesek sekali. Setelah saya cari penyebabnya, ternyata bukan salah cargonya, tetapi salah jastipnya yang menggunakan kardus dengan ukuran terlalu besar dan menimbulkan rongga kosong antara buku dengan kardus. Cara menggunakan lakbannya pun asal sehingga ada yang berlubang. Kardusnya pun sudah using…padahal I paid extra for bubblewrap and cardbox. Jastip langganan saya tidak mencharge untuk yang demikian. Yasudlah…ono rego ono rupo. Resiko saya pilih jastip yang feenya murah. Alhamdulillah, bukunya hanya ringsek satu dan cacat minor dua. Jastipnya pun sudah minta maaf, I appreciate that.

Fiuh…finally the story ends. Beginilah rasanya menikmati BBW via jastip. I imagine their struggle untuk memilih buku, memotret buku, upload, menjaga buku pesanan, antri membayar, menentukan siapa dapat buku apa, menunggu pelunasan sementara mereka sudah nombokin sekian banyak orang, menerima komplain, dan sebagainya. Salut.

Kalau tidak ada jastip mungkin saya hanya bisa ngiler dari sini, hehe…





Tuesday, May 9, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 1: Memilih Jastip)


Apa reaksi seorang penggemar buku anak seperti saya ketika tahu Big Bad Wolf Books (BBW) datang lagi ke Indonesia? Pengen dateng!

Masalahnya, saya sudah di Jogja dengan status memiliki bayi yang belum genap tiga bulan. Sedih bukan kepalang. Saya sempat browsing harga tiket pesawat dan hotel, siapa tahu masih bisa datang. Lagi-lagi akal sehat saya mengingatkan resikonya membawa bayi kesana. Bukannya senang, bisa-bisa saya malah kerepotan dan tidak bisa menikmati.

Makin nyesel lagi kalau mengingat saat BBW pertama saya juga tidak kesana though it was only two hours driving, karena nggak klop dengan jadwal suami. Kesimpulannya, saya memang tidak berjodoh dengan BBW. Solusinya, pakai jastip alias jasa titip. (saya pernah membahas tentang jastip ini di sini)
Ternyata, memilih jastip itu tidak segampang yang dikira. Eh, memang saya aja yang ribet. Namanya juga emak emak, pilih jastip yang paling ekonomis hahaha…

Saya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memilih jastip. Pertimbangannya antara lain:

1.          Biaya titip per buku
Rata-rata, setiap jastip mematok harga Rp 10.000 untuk setiap buku di bawah Rp 100.000. Ada yang lebih murah, ada yang lebih mahal.

2.          Ongkos kirim
Ini berkaitan dengan lokasi pengiriman jastip tersebut. Rata-rata memang di Jakarta atau Tangerang, tetapi ada juga yang di Jogja. Saya sempat ingin menggunakan yang sesama Jogja karena tidak perlu bayar ongkir, bisa diambil langsung ke rumah si jastip. Sayangnya, biaya jastipnya lebih mahal dibanding jastip lainnya. Kalau buku yang kita beli sedikit sih masih bisa untung. Tapi kalau banyak, misal 20 buku dengan jastip @RP 15.000 lumayan juga kan  Rp 300.000..  Sementara budget saya mungkin tidak akan mampu membeli buku lebih dari 3kg. Dengan JNE, ongkir Rp 19.000/kg berarti saya harus membayar tidak sampai Rp 60.000. Jika 1 kg setara dengan 6 buku misalnya, berarti jastipnya Rp 10.000x6 dikalikan 3kg sama dengan Rp 180.000. Tetap lebih murah yang dari Jakarta kan..

Contoh promo jastip di instagram

3.          Shopee
Buat yang sudah sering belanja online pasti tahu Shopee, sejenis portal belanja yang menawarkan free ongkir dengan transaksi minimal RP 120.000. syaratnya, kita juga harus punya akun Shopee. Dari beberapa jastip yang saya survey, ada satu yang menawarkan transaksi melalui Shopee di bio instagramnya.  Meskipun demikian, ada batas maksimalnya. Kalau tidak salah, ada juga yang sifatnya subsidi ongkir. Lumayan kan, bisa menghemat beberapa puluh ribu.

4.          Track record
Ini tidak kalah penting. Saya percaya, jastip yang sudah pengalaman biasanya sudah tahu medan. Bagaimana saya bisa menyimpulkan kualitas mereka? Kalau saya pribadi, lihat akun instagramnya. Ada yang memang spesialis jastip, itu pun masih bisa dikelompokkan lagi menjadi jastip khusus buku, jastip buku dan baju, bahkan jastip segala macam barang. Ada juga yang online bookstore biasa tetapi memutuskan untuk menjastipkan diri di BBW, dan ada juga perseorangan yang menerima jastip karena mereka memang mau.
Tips lain adalah melihat tampilan IG mereka. Saya melihat sampai ke foto terdahulu mereka, pilihan buku yang mereka jual, design dan kata-kata yang mereka pilih untuk mempromosikan diri, nomor kontak serta pencantuman rekening. Dari situ, saya cukup bisa melihat mana yang memang niat jadi jastip, yang sudah pengalaman di BBW, maupun yang anak kemarin sore.

5.          Aplikasi yang digunakan
Mayoritas jastip menggunakan LINE Karena katanya sih bisa memuat banyak foto dalam album-album terpisah, sehingga mudah diklasifikasikan. Ada juga yang melayani live shopping via instagram walau tidak banyak. Selain itu, grup LINE bersifat tertutup sehingga hanya mereka yang sudah di invite oleh admin lah yang bisa bergabung. Biasanya, syarat untuk bergabung dalam grup LINE tersebut adalah transfer deposit sebesar (rata-rata) Rp 100.000. Saya pun sudah ancang-ancang untuk mengunduh aplikasi LINE apabila sudah menjatuhkan pilihan pada sebuah jastip.  

6.          Presale Ticket
Satu hari sebelum BBW resmi dibuka, ada yang namanya acara Penjualan Perdana atau presale. Hanya yang memiliki tiket lah yang bisa masuk. Saya sendiri tidak tahu mekanisme mendapatkan tiketnya bagaimana, namun cukup banyak jastip yang memiliki tiket ini. Keuntungannya adalah, stok buku masih lengkap sehingga kemungkinan mendapatkan buku yang lebih bagus dan lebih murah lebih besar.


Baiklah, akhirnya saya sudah memantapkan hati memilih satu jastip setelah berpikir masak-masak. Serunya membeli buku di BBW akan saya tulis di postingan berikutnya.


Wednesday, May 3, 2017

Hotel Review: Kusuma Sahid Prince Solo

Kalau di post sebelumnya saya mereview sebuah hotel yang menurut saya “tua”, ternyata kali ini saya akan berbagi pengalaman menginap di sebuah hotel yang lebih tua lagi.

Awalnya, suami menawarkan saya untuk ikut liputan ke Solo dan menginap di Lor In. Saya setuju donk ya, karena saya tahu Lor In itu hotel bagus dan worth it kalau bela-belain ngajak baby Argi dengan segala resiko rewelnya di mobil. Sehari sebelum berangkat, suami dapat kabar kalau hotel full booked dan dapatnya Kusuma Sahid Prince. Langsung saya gooling hotel tersebut dan langsung agak syok karena tidak sesuai ekspektasi saya. Bahkan, hotel berbentuk semi keraton ini sempat direview tidak bagus tentang kebersihannya. Well, okay, saya tidak mungkin membatalkan ini karena sudah bilang iya ke suami. Bismillah, semoga hotel ini tidak seburuk yang saya kira.

Bagian hotel tempat kamar kami berada
Kami tiba sekitar pukul 11 malam dan clueless dimana lahan parkirnya, dimana resepsionisnya. Kebetulan di hotel ini ada pendopo besar dan halaman parkirnya disulap menjadi booth untuk pameran moge (motor gede). Ternyata, resepsionisnya berada di pendopo tersebut, hanya berupa sebuah meja kayu dan seorang resepsionis. Persis bersebelahan dengan meja panitia moge. Setelah check in, kami pun masuk ke kamar yang berada di gedung paling dekat gerbang (dan terlihat paling modern), sementara kamar lain berupa bungalow. Lahan parkir pun outdoor dan berada di depan bungalow. Dengan dibantu seorang bellboy bertroli, kami pun naik ke bangunan berlantai dua tersebut.

Saat masuk, terlihat sekali bekas-bekas kejayaan hotel ini. Lantai full berkarpet, termasuk tangga ke lantai dua. Beberapa frame dipasang berisi tanda tangan tokoh penting yang pernah menginap disana. Sampai di kamar, ternyata lantainya berkarpet juga….dan sudah sangat kusam. Begitu juga kondisi kamar mandi dengan noda di bathtub dan lubang kloset, serta saluran pembuangan air bathtub yang rusak sehingga harus ditarik secara manual.



Di penunjuk jalan tadi, terlihat lima bintang di bawah namanya, sementara di ulasan internet tergolong bintang empat. Kalau menurut saya sih…bisa saja bintang empat asal lebih dirawat fasilitasnya. Tempat tidur dan yang lain-lain standar sih. Saya suka lemarinya yang besar sehingga bisa memuat baju-baju tanpa harus digantung. Amenitiesnya juga cukup lengkap dengan adanya sisir dan cotton bud. Yang tidak saya temui disini adalah…krimer! Betul, kopi teh hanya ditemani gula dan diasweet. Itu pun berlaku di restoran tempat kami sarapan. Padahal saya pecinta kopi krimer…

Selalu pas sudah ada bayi ya kalau foto bednya..
Cukup luas untuk menyimpan semua barang bawaan

Suasana kamarnya cukup temaram. Sama seperti Inna Garuda, di meja nakasnya juga terdapat tombol lampu. Hanya saja, AC sudah memakai remote. Alhamdulillah, kami masih dapat tidur nyenyak walaupun mendapat kamar dengan twin bed yang artinya saya harus menjaga Argi agar tidak ngglundung (jatuh –red) dari bed, hehe… Dia pun mendadak jadi bayi manis yang doyan tidur disini. Alhamdulillah lagi, masih ada penunjuk arah kiblat sehingga kami bisa langsung solat (hotel masa kini sudah jarang yang memasang tanda kiblat, IMO).

Keesokan paginya, saya dan suami bergantian turun sarapan karena anak-anak masih bobok juga sementara kami sudah lapar. Saya sarapan berdua dengan Aksa yang baru saja melek mata. Suasana restoran Gambir Sekethi sudah ramai. Selain karena ukurannya tidak besar, ada dua rombongan yang menginap disana. Saat itu jam setengah delapan kalau tidak salah. Menu buffetnya standar, nasi putih, nasgor, sayur, ayam. Saya sempat mencoba nasi goring yang tampaknya menjadi favorit karena selalu ludes dan refillnya lama. Bahkan saat saya mau nambah sudah habis. Jus buah pun habis dan tidak direfill. Sisanya, saya mencoba bubur ayam, sup sayur, omelet, dan roti selai. Semuanya enak. Petugasnya yang beberapa masih seperti PKL cukup ramah, bahkan di mbak yang membuat omelet selalu menawarkan untuk mengantar pesanan ke meja. Sampai pada suatu titik tampaknya ia sudah tidak mampu mengingat siapa pesan apa duduk di mana, hahah…



Kesimpulannya, rasa tidak mengecewakan tetapi stoknya yang harus diperbanyak.

Sambil menunggu suami pulang liputan, saya terpaksa stay di kamar saja karena Argi masih bayi, riskan kalau diajak jalan-jalan keluar. So, di kamar saya sempat main petak umpet dengan si sulung, nonton TV, baca koran, menemani Aksa main hewan-hewan mininya, sampai bikin popmie. Dalam masa pingitan tersebut, saya baru sadar bahwa bed tempat Argi bobok kok sering kedatangan semut kecil ya.saya yakin, saya menemui lebih dari sepuluh selama saya menginap di sana. Jadi, saya rutin ngecek kondisi kasur.

Tapi yang paling menyebalkan, tas saya disemutin gara-gara ada sebungkus yupi. Di rumah saya saja tidak pernah kejadian seperti ini. Sampai-sampai saya jemur tas di dekat jendela yang ada terik mataharinya. Semakin banyak makanan di meja, makin banyak pula semut ini datang. Bahkan, ada semut yang besar dan mereka berjalan di sudut tembok. Di malam kedua kami disana, malah si semut besar ini berani “nyebrang jalan” dari tembok ke tempat sampah. Saya jadi parno sendiri, sering ngecek barang-barang, apalagi lampu temaram membuat everything looks fine.

Mobil kami pun sempat parkir di luar hotel sepulang suami liputan. Area parkir hotel sudah full oleh peserta yang ikut acara moge tadi. Ohya, satu lagi, the wi-fi didn’t work. Berkali-kali saya masukkan username dan password di tiga gadget berbeda, semua gagal. Ketika telepon ke room service, mereka hanya menyarankan untuk mencoba lagi. Wewwww. Saya sempat agak bete karena kebetulan hape saya yang ada LINEnya habis kuotanya, modem juga (di rumah kami terbiasa ber wifi) sementara hari itu live shopping Big Bad Wolf Books. Akhirnya keesokan paginya saya isi pulsa modem.

Dari sini, sudah bisa disimpulkan bagaimana kesan saya selama disini. Dengan room rate sekitar 400ribuan semalam, mungkin kita masih bisa menginap di tempat yang lebih bersih. Jangan berpatokan pada bintang berapa karena mungkin sudah tidak sesuai lagi. Sebaiknya memang membaca review dulu di internet. Namun, mengingat ini adalah gratisan, saya sudah sangat bersyukur bisa weekend-an di luar kota.

Kolam renang bagaimana kabarnya? Kata suami sih bersih walau ramai. Suami batal mencoba fitness karena sudah gatel pengen renang. Kalau lokasinya termasuk strategis, hanya belok sekali dari Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo. Aksa pun sempat naik becak dengan ayahnya sambil cari makan, and he looked happy. And that’s what matters to me J