Thursday, May 18, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 2)


Dalam post saya sebelumnya, saya sudah memilih salah satu jastip (jasa titip) untuk berbelanja di pameran buku terbesar namely Big Bad Wolf Book Sale Jakarta (BBW). Sambil melobi suami untuk menyiapkan budget atas nama anak (yes, right), saya mulai cuci mata beberapa “bocoran” buku yang akan dijual di BBW nanti. Selain itu, tidak lupa saya menyisakan cukup memori di hp untuk menginstall LINE dan mulai mempelajari bagaimana cara menggunakannya (ini saya berasa jadul banget ya…perasaan masih kelahiran 80an deh..)

Target saya sih, bisa mendapat boardbook yang harganya di bawah Rp 50.000. Tahun lalu boardbook seharga Rp 45.000 cukup banyak dan bagus-bagus. Sementara tahun ini, di official  Instagram BBW saya lihat Rp 50.000-Rp 75.000 yang standar. So, saya belum mempunyai wishlist atau WL (daftar belanjaan alias judul buku yang diinginkan) yang spesifik. Lihat-lihat saja dulu apa yang diupload sama jastip nanti.

Dannnn….here comes the D Day! Tanggal 20 April, jastip saya sudah di lokasi, dan kegiatan upload mengupload foto pun dimulai. Saat itu member di grup LINE sudah mencapai 120 orang. Karena saya masih play safe, saya tidak terlalu kalap mengetik kata ‘fix’. Pikir saya saat itu, event ini kan masih berlangsung sampai tanggal 2 Mei. Saya pun juga memantau Instagram beberapa jastip, dan me-screenshot buku yang saya mau untuk kemudian dijapri ke admin jastip agar bisa dicarikan. Dari situlah kemudian saya mempunyai wishlist.

Hari pertama, tidak semua buku yang saya mau saya dapat. Di BBW, terlalu lama berpikir sama dengan siap kehilangan. Cara kerja para jastip ini kan memotret buku kemudian mengupload, dan buku ini tidak bisa mereka tahan terus kan, kecuali mereka membelinya. Oke, misalnya pun mereka bisa keep bukunya, how many can they keep? Apalagi jenis buku yang peminatnya banyak, bersiaplah untuk secepat mungkin menulis kata fix. Kebanyakan kasus, kita tidak bisa 100% mengikuti live shopping karena kerja atau sedang mengurus anak. Ketika melihat hp, ada buku yang kita inginkan padahal admin sudah tidak lagi berada di dekat buku itu. Admin akan tetap mencarikan sih, tetapi tidak jaminan akan menemukan buku itu kembali.

Maka, Sembilan hari berikutnya tangan saya pun lengket ket dengan hp, hahha.. Yang tadinya saya mengharamkan suami untuk melihat hp sambil mengurus si kecil, sekarang saya sendiri yang melanggar peraturan tersebut atas nama BBW. Hp yang satu untuk melihat LINE, yang satunya untuk melihat IG, karena ada online bookstore langganan yang live shopping via IG, tanpa deposit pula. Mata ini benar-benar dimanjakan oleh warna-warni buku anak dengan fitur yang bikin kita ingin memiliki semuanya. Syukurlah, otak ini masih bisa diajak kompromi dengan selalu mengingatkan how much money I had to spend for this. Saya selalu menyiapkan buku catatan untuk menulis buku apa saja yang sudah saya fix berikut harganya.

Saya bisa bertahan mengikuti live shopping sampai hari terakhir BBW. Dari yang bukunya masih bagus-bagus sampai yang sudah tinggal sisa-sisa. Dari yang harganya masih mahal sampai dapat buku lokal yang harganya as cheap as Rp 5000. Alhamdulillah…budget saya membengkak 3 kali lipat T.T. Menyesal? Sedikit sih…karena menurut adik saya kalau kita sudah selesai baca bukunya dijual lagi pun masih laku. Jadi uang bisa kembali walau hanya sekian persen. Yang penting, kita sudah menikmati bukunya.

Setelah seminggu lebih mengikuti perhelatan akbar ini, saya bisa menilai kualitas jastip melalui poin-poin di bawah ini (in case next BBW mau ikut lagi)

1.       Jumlah anggota tim
Tim jastip saya empat orang dengan anggota mencapai 300 orang di hari-hari akhir. Saya melihat di instagram ada yang anggotanya sepuluh lebih, ada juga yang cuma berdua dengan teman karibnya. Apakah semua terhandle dengan baik? Hmmm…agak lama sih memang responnya. Ketika live shopping memang cepat uploadnya, namun ketika membuat rekapan yang lama. Rekapan ini dibuat dengan cara (kalau tidak salah) menentukan siapa saja yang mendapatkan buku yang diinginkan berdasar urutan mengetikkan kata fix. Kemudian, admin akan mengirimkan sejenis tabel ke member yang berisi judul buku, jumlahnya, harganya, dan total jastipnya.
Saat pengiriman pun lebih lama lagi. Barang baru mulai dikirim H+2 event berakhir, dan dikirim berdasarkan member yang telah menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu. Ada jastip yang mulai pengiriman lebih cepat. Saya melakukan pelunasan tanggal 6 Mei (karena rekapan baru keluar tanggal 4 Mei), barang dikirim tanggal 8 Mei (karena 7 Mei minggu) dan paket tiba tanggal 13 Mei. Takes time banget yah..

2.       Jumlah anggota grup dan rules
Mengurus member yang berjumlah ratusan dan isinya adalah emak-emak memang tidak mudah. Ada yang membombardir admin di group notes, ada yang japri, ada yang mengirimkan foto-foto buku wishlistnya di grup sehingga anggota lain mengira itu buku BBW yang diupload admin, ada yang nggak terima member lain nge fix langsung 7 buku, dsb dsb. Rame deh pokoknya. Admin pun selalu mengingatkan member untuk mematuhi rules yang sudah mereka buat, begitu juga para member. Saling mengingatkan. Yang saya tidak begitu setuju adalah admin terus menerima anggota baru (termasuk yang belum kirim deposit) dan para newbie bertanya di grup “bagaimana rulesnya, mereka harus apa” dan semua basic questions. Brrrr… Agak sedikit mengganggu ritme apalagi kalau sedang heavy uploadSebaiknya sih anggota grup dibatasi, sesuai kemapuan admin.

3.       Selera buku
Beberapa hari pertama, saya agak kecewa dengan selera buku para admin, khususnya yang bapak-bapak. Saya cari yang murah bagus tapi yang diupload yang mahal-mahal dan kurang mewakili selera buibu. Saya bisa bilang begini karena saya juga melihat apa yang diupload jastip lain di instagram. Lama kelamaan sih mereka mengupload sesuai wishlist para member dan buku-buku bestseller, termasuk juga buku dengan harga yang lebih terjangkau.

4.       Kecepatan respon
Sudah dibahas diatas ya mengenai kecepatan respon yang memang agak kurang. Saya sih memaklumi, karena ini pilihan saya juga untuk bergabung di jastip yang banyak anggotanya. Ada jastip lain yang membatasi hanya 50 orang member. Ada juga yang anggotanya 300 lebih mereka mempekerjakan karyawan, jadi lebih profesional.

5.       Cara memotret buku
Ini juga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan beli atau tidak. Jastip saya memotret buku dengan cukup baik, tetapi kadang jaraknya kurang dekat dan tidak dipotret isinya (meskipun tidak disegel). Tampaknya target mereka adalah upload sebanyak mungkin. Ada jastip yang uploadnya berupa video termasuk bagian dalam buku dan bagian harga dizoom, ada juga yang beberapa buku sekaligus sehingga mengirit waktu.

6.       Kecepatan pengiriman
Poin ini juga sudah dibahas sekilas di atas. Admin sudah menentukan jadwal rekapan, jadwal pelunasan, deadline pengiriman data member, serta jadwal pengiriman paket. Kita bisa memilih jasa paket yang kita mau, admin sudah menyediakan link untuk mengecek harga paket per kilonya. Banyak yang sampai beberapa hari sebelum tulisan ini saya post, masih belum menerima paket. Selain karena faktor dari jasa pengirimannya, ada juga faktor kecepatan jastip dalam membungkus buku. Dengan tenaga hanya maksimal empat orang dan sekian ratus customer, sudah jelas semua tidak bisa dilakukan dengan cepat.
Ada satu hal yang membuat saya kecewa, yaitu paket buku sampai di rumah saya dalam keadaan kardus ringsek. Aduh, ini nyesek sekali. Setelah saya cari penyebabnya, ternyata bukan salah cargonya, tetapi salah jastipnya yang menggunakan kardus dengan ukuran terlalu besar dan menimbulkan rongga kosong antara buku dengan kardus. Cara menggunakan lakbannya pun asal sehingga ada yang berlubang. Kardusnya pun sudah using…padahal I paid extra for bubblewrap and cardbox. Jastip langganan saya tidak mencharge untuk yang demikian. Yasudlah…ono rego ono rupo. Resiko saya pilih jastip yang feenya murah. Alhamdulillah, bukunya hanya ringsek satu dan cacat minor dua. Jastipnya pun sudah minta maaf, I appreciate that.

Fiuh…finally the story ends. Beginilah rasanya menikmati BBW via jastip. I imagine their struggle untuk memilih buku, memotret buku, upload, menjaga buku pesanan, antri membayar, menentukan siapa dapat buku apa, menunggu pelunasan sementara mereka sudah nombokin sekian banyak orang, menerima komplain, dan sebagainya. Salut.

Kalau tidak ada jastip mungkin saya hanya bisa ngiler dari sini, hehe…





0 komentar:

Post a Comment