Friday, February 8, 2019

Menikmati Big Bad Wolf Book Secara Langsung (Part 3: Jadi Jastip)



Awal April 2018, alhamdulillah cita-cita saya untuk mengunjungi Big Bad Wolf Books Jakarta kesampaian. Finally!

Setelah sebelumnya saya terpaksa menggunakan jasa titip alias jastip (baca post ini), kini saya leluasa memilih buku sesuai selera sekaligus menjajal peruntungan menjadi jastip. Karena sudah memiliki online bookshop bernama Ozbooks, proses mencari customer pun menjadi lebih mudah meskipun followersnya tidak terlalu banyak. Selain itu, promosi juga saya lakukan melalui status Whatsapp. Intinya, sebisanya lah.

Hari pertama dibuka (bukan preview sale tapi ya), I was super duper excited! Begitu masuk venue di ICE BSD, rasanya senang luarrr biasa. Sekaligus takjub. Betul pemirsah, bukunya buanyak banget dan itu nggak akan puas kalau cuma sekali datang. Saya bawa dua anak kesana, umur 1,5 tahun dan 5 tahun. Sendiri. Suami memang tidak ikut ke Jakarta, tapi adik saya ada kok buat bantu-bantu, walau dia punya batita juga. Hari pertama saya cus duluan karena udah nggak sabar, hehe.. Adik dan keluarga menyusul beberapa jam kemudian.



Niat awal adalah, saya belanja buku dengan budget sejuta. Buku pilihan saya sendiri yang kira-kira banyak peminatnya. Saya nggak live shopping karena nggak ada timnya, belum lagi sambil momong bocah. Yang saya bersyukur campur kaget adalah…ternyata buku-buku yang 30ribuan dan boardbook itu BANYAK. Berarti kemarin selera jastip saya aja yang nggak match sama saya. Saya memang fokus ke boardbook murah karena saya memang suka yang murah hehe.. Saya ambil yang 50ribuan beberapa, tapi yang 75ribuan enggak.

Sekitar tiga jam saya belanja, nurutin jam ASI yang kecil. Antri kasir nggak banyak karena kasirnya banyak banget. BBW kali ini menurut saya tertib dan rapi. Alhamdulillah nggak ada kasus buku terinjak terserak seperti yang rame di sosmed pada BBW sebelumnya. Sambil antri sambil upload di status Whatsapp, siapa tahu temen-temen ada yang mau.  


Sampai rumah (rumah adik hanya 5 menit dari lokasi atau sekitar 12ribu naik GoCar), saya langsung foto dan upload buku. Guess what, langsung sold out! Duit balik dong.. Hari berikutnya, saya belanja lagi sendiri dan pagi-pagi biar nggak antri, si kecil saya titipin Mama. Kali ini, saya terima titipan customer yang chat via DM dan WA, plus beli lagi sesuai prediksi saya.

Yang seru adalah, ketika kita harus mencari buku titipan atau mencari lagi buku yang kemarin kita pengen. Itu harus mengandalkan memori banget banget. So, hari berikutnya saya foto nomor meja dengan buku di bawahnya, jaga-jaga kalau ada yang nitip lagi. Hari-hari berikutnya? Udah hampir apal, hahah… Kadang udah apal pun masih ngubek satu demi satu, especially di section buku yang batal di beli (lokasi di ujung menjelang kasir), juga di bagian boardbook yang udah campur baur di tepi hall. Kalau teliti, buku-buku best seller yang sold out ada yang ngumpet disini lho!

Yang aneh, ada buku yang muncul di akun resmi BBW tapi tak Nampak batang hidungnya sekalipun di hall. Padahal, teman seorang customer ada yang dapet dari jastipnya. Nah, ini yang namanya permainan jastip gede dan BBW. Langsung borong. I don’t mind, karena ga semua buku, walo yang kadang bikin sebel karena buku itu limited and murah.

Nah, hingga saat kepulangan ke Jogja, kalau ga salah saya empat or lima kali belanja. Apakah semua sold? Enggak. Ada yang masih nangkring di box sampe sekarang.

Apakah balik modal? Ya enggaklah, hahah…Secara saya dari Jogja, ada tiket dan akomodasi yang harus dibayar. Kalau ngitung jastip yang per buku 5000 udah ga nutup lah ya, but I did it for pleasure. For the sake of my hobby and passion. Kalau jastip gede jelas untung, tapi ga tau juga sih. Rempong lho ngurusin customer segambreng di grup LINE or Whatsapp. Belum yang batal, yang cancel, yang bla bla bla.. Tapi mereka timnya ada kan, so they’re ready for that.

Yang paling ngrepotin selama jadi jastip apa? Paling customer yang pengen pake Shopee sih. Barang kalau di Shopee kan harus ada data yang diisi ya. Kebetulan di rumah adik ga ada timbangan kue. Jadi pakai asas kira-kira aja. Terus, kalau customer minta Shopee tapi pecah paket. Maksudnya, kalau total transaksi dia di atas dua kilo sementara subsidi Shopee hanya maksimal 20ribu. Biasanya, customer minta bukunya dibagi dalam beberapa paket yang bisa dia tebus. Jadi saya harus bisa mix and match sekian buku biar semuanya dapet subsidi ongkir dari Shopee. Repot sih, tapi kalo customer puas itu capeknya menguapppp, hahah…

Nganter barang ke ekspedisi tiap hari juga jadi PR. Kenapa, karena saya ga pengen customer nunggu sekian purnama hingga buku sampai ke tangan. Itulah kelebihan jastip kecil. Saya memposisikan diri seperti seorang customer. Packing yang penting tebel, biar boardbook gak cacat. Ga perlu cantik or diketik, yang penting cepet. Kalo nggak pas BBW sih wajib bubble wrap n bungkus rapi, walo nggak selalu diketik.

So, minat lagi ngejastip tahun 2019 ini? Pengen lahh, tapi sayang di Jakarta lagi. Kecuali suami ngajak liburan ke sana, mending saya titip adik aja deh. Sayang uangnya hehe…



0 komentar:

Post a Comment