Showing posts with label Teaching stories. Show all posts
Showing posts with label Teaching stories. Show all posts

Friday, November 24, 2017

Kangen Ngajar


Kangen Ngajar, tulis seorang teman di status Whatsappnya.

Kebetulan, hari ini adalah Hari Guru. Di grup Whatsapp keluarga saya pun Tante saya yang guru SMP menerima ucapan selamat, begitu juga para educators di sekolah anak saya. Saya? Enggak lah, kan current statusnya bukan guru. Tapi, ungkapan “Kangen Ngajar” itu tadi sempat melintas di benak saya. Salah satu penyebabnya adalah pertanyaan guru kelas Aksa saat saya berkonsultasi tentang perkembangannya di sekolah.

“Ibu nggak kangen ngajar emangnya? Apa masih seneng nemenin Dedek?”

Jawabnya, kangen juga sih.. Walaupun tidak akut. Yang paling bikin kangen itu kalau melihat printables yang disediakan oleh beberapa mama di website mereka, kemudian pinterest tentang art and craft, juga postingan mantan rekan-rekan kerja di sekolah alam dulu. Kangen bikin worksheet, browsing ide display kelas, lembur bikin dekorasi pentas, dan lunch sama partner sambil ngegosipin murid-murid balita yang tingkahnya bikin gemes ituuu..

Sejauh ini , saya masih menikmati menemani Kakak dan Dedek di rumah, dan sedang jatuh cinta lagi dengan si bungsu. Meninggalkannya di tangan orang lain seperti tidak worth it.. Bukan masalah berapa gajinya, tetapi sisi perfeksionis saya yang mengharap saya menjadi saksi atas semua “first time” anak saya. But I’m looking forward to teaching again. Mungkin setahun lagi kalau memang ada rejekinya.

Kenapa enggak mengajar anak sendiri di rumah? Lumayan kan bisa mengobati kerinduan mengajar..

Beda, Bung.. Sama anak sendiri tipis sabarnya, hahah..Belum lagi urusan domestik menjadi the biggest distraction. Kalau mendidik, itu sudah otomatis kan ya.. Mengajari doa, lagu, kebiasaan, kemandirian, itu juga bagian dari keseharian.

Eh, iya juga ya. Kok saya baru nyadar dengan kalimat di atas. Sebenarnya saya tetap menjadi guru tapi khusus buat anak-anak saya. Guru bernama orangtua.

So glad I wrote this, karena ternyata saya tidak perlu takut kehilangan skill saya sebagai guru karena tiap hari saya mengasahnya. Kecuali bagian kesabaran ya, itu diasah, ditempa, diapain juga masih harus extra effort biar tetap pada level yang aman bagi psikis anak. #jujur

Jadi, masih kangen ngajar? Masih lah..

PS: Baru sadar, ini satu-satunya post saya yang sesuai dengan judul blog saya, at least setahun terakhir. I should've written more about teaching, or I should change the title of my blog.


Sunday, March 20, 2016

Experiencing The Magical Solar Eclipse



A lot of teachers in my school felt a bit disappointed when they had to sacrifice their holiday on March 9. The school had planned a big event since a month before to experience the solar eclipse. The teachers along with grade 5,6,7 students should spend a night at school to observe the stars and planets using a telescope, continued by witnessing the partial solar eclipse.

I didn’t really get the excitement but I planned to at least do eclipse prayer (solat gerhana). A day before, all students should decorate their eclipse glasses which they bought for Rp 20.000 each. Surprisingly, they were really prepared since most of them brought glitter, templates, flanel, etc. The result was really great! After decorating, each class took picture together with their glasses on.

The teachers came home earlier that day and returned to school at night to sleepover, but I slept at home since I had a toddler. The students watched a movie about solar eclipse and two students from ITB who studied astronomy explained some facts about the sun and the eclipse. So far, they enjoyed the event.
Use and ex X-ray film, why not?
In the morning, I rode my motorcycle at 6 to school under the bright sky. Arriving at school, the sky got brighter and almost all students, some parents, and teachers were gathering beside the school yard where the sun was clearly seen. I wore my eclipse glasses and subhanalloh...I saw a bitten sun! It’s like Apple icon but it’s circle in shape. Soooo beautiful. The situation was like 4 pm where the sun is usually shining bright and its position is almost touching the horizon.

Some people lined up for the telescope, while others captured this rare moment with their cameras and gadgets. Some teachers spiritfully took lots of pictures becausethere was a photo competition using cellphones (in which I joined also). I haven’t taken pictures for photography purpose for quite a long time, so I feel the excitement. It’s like going back to campus life haha..


Line up for the telescope
Around 7.30 -if I’m not mistaken- when the sun was only a half in size, suddenly the temperature dropped. The skies went darker. I could feel the breeze. It’s really magical. Since we didn’t experience the total eclipse, so the situation was like maghrib. All of us went back to school to pray on the field and when the prayer was almost done, the sun showed up again. It was back to bright shiny sky.

Look at the son with a cardbox decorated glasses. So creative!
I feel so grateful to have experienced the solar eclipse and I appreciated the school team who brought up the sudden event because it turned out to be memorable. I also feel lucky to still be able to see the eclipse because it doesn’t come every year, or every ten years.  Alhamdulillah.

This post was a part of English Friday Challenge by BEC

I like these pics that were taken by my colleagues:





Sunday, March 13, 2016

Mandirinya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 2)

Masih tentang kunjungan saya ke OISCA Kindergarten..

Selain disiplin dan keteraturan yang saya kagumi dari anak-anak Jepang tersebut, pemilik sekolah juga sedikit banyak menceritakan tentang konsep pendidikan di sana. Pertama, manusia berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah juga. Sehingga, mereka diajak untuk berinteraksi sedekat mungkin dengan alam. Wujud konkritnya seperti belajar menanam tanaman sendiri (di kebun mereka terdapat jagung, wortel, dan...padi!), memberi makan kambing (yang dilepas begitu saja dengan gembala yang berdiri beberapa meter di belakang kambing), berenang seminggu tiga kali (yeayyy, really like this!), serta pantang menyisakan makanan.

Untuk usia TK (4-6 tahun) saya rasa wajar mulai mendidik untuk menghabiskan makanan, tetapi usia playgroup yang 3 tahunan, saya sendiri di kelas merasa kesulitan plus tidak tega. Menurut Pak Dicky, anak-anak dipahamkan sejak awal untuk menghargai makanan karena “makanan ini pemberian Tuhan dan orangtua sudah susah-susah memasaknya, jadi kita harus menghargai”. So, sampai sekarang anak-anak selalu menghabiskan makanan. Kalau dipikir-pikir, mungkin ada faktor pendukung juga seperti orangtua harus menyesuaikan porsi anak dan lunch time yang dilakukan bersama-sama satu sekolahan, sehingga anak yang lebih muda mencontoh anak yang lebih tua.

Display di dinding yang dominan gambar dan hiasan 
Loker siswa yang detil: ada peg untuk menggantung ransel, untuk tas makan, pakaian ganti, topi, dsb
Konsep kedua, anak di bawah tujuh tahun dibiarkan bebas bereksplorasi agar timbul rasa ingin tahunya. Inilah mengapa dekorasi di OISCA sangat minim tulisan, apalagi belajar alfabet. Tidak ada..! Dengan tidak adanya tulisan (umumnya hanya gambar), anak diajak untuk bertanya tentang gambar tersebut. Karena sama sekali tidak mengenalkan huruf dan calistung, otomatis kegiatan mengerjakan worksheet atau LKS pun tidak ada. Kelak, ketika anak sudah berusia tujuh tahun barulah mereka diajarkan materi yang berupa pelajaran.

Sandbox yang benar-benar bersih (padahal outdoor) dengan tepian kayu yang nyaman untuk duduk
Konsep ketiga, kemandirian. Delapan puluh persen murid di sana menggunakan mobil antar jemput, termasuk murid playgroup sekalipun. Tidak boleh ada baby sitter ataupun keluarga yang menunggui bahkan di awal tahu ajaran. Wuih, ketat juga ya peraturannya. Kalau saya jadi wali murid, sudah pasti saya nangis bombai melihat anak saya menangis naik mobil jemputan, haha.. Katanya sih, biasanya anak-anak membutuhkan seminggu untuk akhirnya bisa berani ke sekolah sendiri. Begitu juga ketika makan, rata-rata anak yang belum bisa makan hanya perlu dibantu selama seminggu dan setelah itu bisa makan sendiri. Kalau makanannya berceceran? Ya dibersihkan sendiri. Tersedia lap kotor untuk masing-masing anak, dan lap tersebut digantung rapi layaknya lap cuci tangan.

Hanger untuk handuk cuci tangan
Oya, saat saya berkunjung ke sana, kebetulan ada jadwal berenang untuk kelas TK B. Mereka pun bisa memakai baju renang sendiri dan memakai handuk sendiri, tanpa bantuan. Guru yang mengajar pun hanya satu. Bagaimana cara mereka bilas? Beramai-ramai mereka disemprot pakai selang oleh pak guru, saudara-saudara, haha... Sounds cruel? Not at all if you see it yourself. Setelah itu mereka berjalan ke dalam sekolah untuk berganti pakaian.

Meskipun saya hanya berada di sana sekitar dua jam, saya sudah mampu mengambil kesimpulan bagaimana anak-anak di Jepang dididik dan dibesarkan. Disiplin, mandiri, teratur, dan sangat berpegang pada nilai-nilai yang mereka anut. Saya juga serasa berada di dalam dorama melihat mereka semua bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengan segala bahasa tubuh dan kebiasaannya, hehe.. Yang terakhir, mereka sangat higienis. Kami harus memakai sandal dalam ruangan saat masuk ke kelas. Sikat gigi mereka pun diletakkan dalam wadah bekas yakult. Selain memenuhi unsur reuse, yakult juga mengandung bakteri baik. Masing-masing anak memiliki handuk tangannya sendiri, sehingga meminimalisir penularan penyakit.

Sandal dalam ruangan yang berjajar rapi
Area sikat gigi. Kelihatan tidak botol yakultnya?
Toilet anak berukuran mini. Semua sudah tidak ada yang pakai popok lho..
I really hope that one day, our children can be as discipline as them, without losing our values. As parents, it is really important that we have the same concept with our kid’s teachers. It is easier for our child to adopt values that are taught at school and at home. Misal, kalau di sekolah buang sampah di tempatnya tetapi keluarganya tidak menerapkan hal yang sama, bisa ditebak kan akhirnya bagaimana? So, we need to keep learning and be consistent karena proses mendidik anak itu benar-benar sesuatu yang terus menerus. Pada akhirnya nanti kita sendiri yang akan merasakan hasilnya.



Saturday, March 12, 2016

Disiplinnya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 1)


Saya belum pernah ke Jepang, tetapi akhir bulan lalu saya benar-benar merasa ada di Jepang. Dalam studi banding tersebut, saya dan rekan kerja berkunjung ke sebuah taman kanak-kanak bernama OISCA. Sekolah ini merupakan bagian dari salan satu organisasi nirlaba di Jepang yang bernama sama, dan bergerak di bidang lingkungan dan pertanian.

Sekolah ini baru berdiri dua tahun lalu di Indonesia dengan mengontrak sebuah bangunan di Menteng. Ukurannya tidak begitu besar, hanya terdiri dari tiga ruang kelas untuk siswa playgroup sampai TK besar yang seluruhnya berjumlah 50 anak. Oya, anak-anak yang bersekolah di sini adalah warga negara Jepang yang orang tuanya bekerja di Indonesia. Gurunya pun sebagian besar merupakan voluntir OISCA dari Jepang yang bersedia tinggal dan mengajar di Indonesia.

Saat turun dari minibus, saya langsung melihat perosotan yang besar sekali berbentuk gajah. Sungguh lucu! Di halaman parkir itu pula ada sebuah kolam renang yang dibawa jauh-jauh dari Jepang beserta dua tank penyaring air alias filter sehingga air yang dipakai berenang memiliki tingkat pH yang seimbang dan berefek menyegarkan. Di lahan terbatas tersebut pula, terdapat sepetak kebun yang ditanami jagung, tomat, wortel oleh murid-murid OISCA sendiri, serta bukit dan sungai buatan, bangku dari pohon tua yang tumbuh di lahan tersebut, serta ayunan yang menggantung di dahan pohon. It is so cool that this green area is surrounded by tall buildings, yang membuat saya berpikir bahwa menghijaukan lingkungan kita tidak membutuhkan lahan yang super luas –asal kita mau.

Sungai buatan dan mini garden
Tanaman wortel
Oke, yang lebih cool lagi menurut saya adalah what happened inside. Ketika kami diijinkan masuk ke dalam gedung sekolah (yang lebih menyerupai rumah tinggal yang disulap menjadi kelas-kelas), pemandangan yang kami lihat adalah anak-anak balita yang sedang bermain di dalam ruangan, dimana sebagian besar dari mereka sedang “berolahraga”. Jadi, ibu guru membantu setiap murid untuk berputar (rolling) di atas sejenis monkey bar setinggi pinggang dewasa sementara sisanya melompati kuda-kuda alias horse bench (yang ini mengingatkan saya pada komik Jepang). Ketika setiap anak ingin melompati kuda-kuda, mereka pun tanpa diminta membuat antrian..! I was soooo amazed.. Melihat anak-anak 5 tahunan mengantri secara otomatis itu menurut saya sesuatu banget, banget. Alhamdulillah kelas playgroup saya sudah bisa mengantri cuci tangan tanpa diingatkan, tetapi masih ada beberapa anak yang kadang lupa, hehe.. It’s a process J

Monkey bar dan horse bench yang saya maksud
Buku absensi supercute dengan kantong tempat buku di background
Jadi, menurut Pak Dicky yang juga salah satu pemilik sekolah ini, aktivitas pagi hari memang berupa olahraga plus free play selama satu jam, setelah sebelumnya berbaris rapi dan berdoa bersama. Ada benarnya juga sih karena dengan puas bergerak dulu, anak-anak bisa menyalurkan energinya dan setelah itu bisa beraktivitas di kelas dengan lebih tenang. When time’s up, they cleaned up really fast. Kebetulan saat itu saya sedang masuk ke salah satu kelas, dan beberapa murid menunjukkan pada saya buku absensi mereka yang berupa stiker-stiker lucu. I didn’t understand their language but I could feel their enthusiasm. Begitu saya keluar kelas, area bermain yang tadinya penuh alat sudah sangat rapi, tanpa saya mendengar suara guru yang berteriak ataupun membujuk, meminta anak untuk tidy up. Hmmm...

Rak sepatu kolom atas untuk sandal dalam ruangan, kolom bawah untuk sepatu 
Acara berikutnya adalah materi di kelas. Kami berkesempatan melihat salah satu kelas TK selama 15 menit. Semua murid duduk di lantai, mengikuti guru mereka yang bernyanyi sembari duduk di kursi. Setelah selesai satu lagu, sang guru pun mengambil posisi di belakang keyboard dan mulai memainkan intro sebuah lagu. Serentak, anak-anak tersebut berdiri dalam barisan dan mulai bernyanyi. Ketika saya bilang serentak itu benar-benar serentak dalam arti sebenarnya ya, tanpa ada yang masih duduk, atau malah berlari ke sudut lain, maupun bercanda dengan teman. Saya dan rekan-rekan masih penasaran, guru-guru di sini effortlessly meminta anak melakukan sesuatu. Anak-anak pun rapi, teratur, dan disiplin tanpa terlihat seperti robot. Wajah mereka tetap ceria. Apakah di rumah anak-anak tersebut juga sepatuh itu terhadap orangtuanya ya? Hehe..


(to be continued)

Tuesday, December 8, 2015

Antara Sea World, NatGeo Wild, dan Zebra


Punya channel TV kabel favorit? Kalau saya sih Star World (karena saya suka reality shownya) dan National Geographic (karena menurut saya edukatif dan informatif) selain channel berita lokal. Berbeda dengan anak saya, hanya ada satu pilihan yaitu Baby TV. Awalnya saya sempat sedikit “perang” dengan anak saya untuk memperpendek durasi menonton TV nya. Memang sih muatannya edukatif, tetapi pancaran sinar biru pesawat televisi –menurut artikel yang pernah saya baca- dapat merusak mata.

Namun, karena saya biasanya sibuk menyiapkan sarapan dan bekal di pagi hari, saya pun tak kuasa menolak permintaannya menonton Baby TV meskipun lama-lama dia bosan juga. Setidaknya sebulan terakhir, ketika Aksa minta Baby TV, ia hanya bertahan kurang dari sepuluh menit dan berpindah ke mainan atau buku. Saya bersyukur, hehe...soalnya kalau melihat dia “tersihir” di depan televisi, miris juga rasanya. Diajak bicara pun seolah tidak mendengar.

Karena merasa ia sudah bosan, saya pun jadi sering curi-curi menyalakan televisi dan menyetel channel favorit saya tanpa takut diinterupsi. Saat sedang memilih channel, Aksa tiba-tiba berteriak, “Ikan! Ikan!” sambil menunjuk layar televisi. Oh, ternyata NatGeo Wild sedang menayangkan program memancing ikan raksasa. Ya sudah, akhirnya saya dampingi ia menonton sambil menjelaskan apa yang dikatakan oleh sang presenter. Ia keliatan heboh berceloteh, kadang melongo, kadang tertawa, apalagi jika jeda iklan menunjukkan binatang-binatang lain yang ia tahu, seperti beruang dan harimau. Saat itu, saya berpikir, sejak kapan ia mendadak suka binatang ya? Apalagi ikan. Yang saya ingat, beberapa bulan lalu ketika ia membaca ensiklopedi Kehidupan di Dalam Air, ia selalu bilang: “Akuk!” dan beringsut mundur (Akuk = takut, red.) khususnya ketika gambarnya ikan bergigi tajam atau berwajah tidak imut. Lalu, kenapa sekarang menjadi senang ya?

Biar takut gelapnya Sea World, ternyata diam-diam ia belajar juga

Oh, saya kemudian ingat kalau awal bulan lalu kami ke Sea World. Memang sih, disana ia lebih banyak takutnya, haha.. Pertama, takut gelap. Di Sea World memang suasananya temaram dan ikan-ikannya banyak yang tidak sesuai imajinasinya (mungkin). Sedikit gondok sih waktu itu, jauh-jauh ke Ancol, tiketnya pun enggak murah, tapi Aksa bisa dikatakan 60-70% saja excitednya. Siapa yang menyangka, setelah dari Sea World lah ia menunjukkan rasa sukanya pada binatang-binatang tersebut. Buku favoritnya pun berubah menjadi ensiklopedi yang tadi ia takuti.

Akhirnya, saya pun jadi sering menonton program satwa bersama Aksa. Ternyata seru juga lho! Saya jadi tahu perilaku berbagai jenis satwa liar, termasuk fakta bahwa kucing bisa bisulan, atau rematik akut di kaki seekor kuda bisa membuat pemiliknya rela menganestesi kuda yang menemaninya selama 30 tahun tersebut. Belum lagi dari narasi yang kadang kocak karena mengambil sudut pandang hewan dengan cara bertutur manusia. Super kreatif. Andai tidak ada Aksa, mungkin seumur hidup saya tidak akan tahu menariknya kehidupan di alam liar. (peluk anak dulu)

Bersamaan dengan ketertarikannya pada hewan liar, saya pun mengeluarkan mainan miniatur hewan yang dibelikan neneknya setahun yang lalu. Saat itu, ia sama sekali tidak tertarik memainkannya (tapi saya tidak bilang ibu mertua haha). Sekarang, zebra mini dan badak bisa jadi jurus ampuh ketika ia susah diajak mandi. Saya tinggal bilang, “Aksa mau mandi sama zebra atau badak?” dan ia pun akan mengambil salah satunya. Tapi kalau pertanyaannya diganti, “Mandi sama zebra yuk!” maka ia akan menjawab, “Udah!” which means “no”. Hhhh...


Hayo, yang mana saja yang "catutan" dari kartun Disney?

Satu lagi efek dari Sea World + Ensiklopedi Ikan + NatGeo Wild adalah...ia jadi tertarik dengan buku cerita tentang hewan yang saya belikan hampir setahun lalu. Buku cerita berharga 7000 rupiah dengan ilustrasi cropping-an dari tokoh kartun film layar lebar ini sekarang menjadi favoritnya. Tapi dia bukan tipe anak yang mendengarkan cerita ibunya ya.. Ia akan fokus bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk semua hewan. Tidak apa-apa, mungkin belum masanya aja...

Setidaknya, ketertarikan Aksa yang selalu berganti dalam periode beberapa bulan membuat saya bisa menyesuaikan diri tentang what to give and what activity to choose ketika saya menemaninya. Saya juga harus bisa peka dengan kebutuhannya akan stimulus dari keluarga dan lingkungan sekitarnya so that he learns new things and never gets bored easily.

Semoga sebelum tahun baru, kami sudah bisa mengajak Aksa ke Taman Safari...biar sesuai dengan tema belajarnya bulan ini J











Monday, March 30, 2015

A Job for My Soul


Dulu, saya tidak suka anak-anak. Selain merepotkan, saya juga tidak dianugerahi kemampuan untuk berbasa-basi dan mengajak bermain anak kecil. So, tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa kelak saya akan menjadi guru yang mengajar anak-anak..! Setidaknya, itulah pelajaran hidup yang saya ingat sampai sekarang: jangan pernah terlalu membenci sesuatu, karena pada akhirnya Alloh akan mendekatkan kita dengan hal-hal yang tidak kita sukai just to show that nothing is bad if we want to know closer (saya sekarang bersahabat dengan “musuh” saya waktu SD, dan tinggal di kota yang saya paling tidak ingin tinggali x-))

Friday, May 16, 2014

(not) Forgotten Teachers



When you were asked about your school teacher, who do you still remember? What memory do you have about them?

As an  Indonesian who spent 2 years in pre-school, 12 years in primary, junior high, and high school, i have been taught by probably more than 50 teachers. From all of them, i still remember the names, the faces, including some of their teaching styles.

I try to find out why the memory of some are stronger than the others. First, it might be they are funny. Yes, students like funny teachers. Especially back then when schools consisted of students who listened and took notes of what their teachers are saying.

Second, they are “killer” teachers, who are more than just assertive that can make you sweat to death even before they get into your classroom.

Third, they are different in a good way. I can say that “creative” is the right term to describe that. Recalling my memory, creative teacher is one out of ten at that time. I remember Bu Rini as one of them. She’s my english teacher when i was in junior high school. She introduced me to the concept of role play. So late, huh? When preschoolers nowadays learn that, we –the older generation- had that years after we were born.
The role play was a mini drama that the students created during the lesson, a week preparation before we presented that, and the final one- involving costumes and setting. We really enjoyed the sessions.
And now i’m thinking again, who else taught differently?  

My primary school teachers...mmm, no. My junior high teachers...only Bu Rini. My high school teachers, maybe Pak Agus, who liked to bring us studying outdoor and discussed in a circle. That’s all.

No games, as long as i remember.

So when i started to teach, and searched online for some inspiration to live up the class, i got amazed! There are so many warm up activities, icebreakers, games, even lesson plan that we can find and do in our class. Sometimes i used exactly the same games, and i also like to combine it with my ideas, or use my own ideas.
If our teachers long time ago knew about creative and fun teaching, we would have enjoyed school more, right? ( Although i never felt that bored to go to school with that teaching method)

Well, at least i know now how to teach in a more fun-understandable-memorable way (inshaa Alloh). I still respect and be thankful to all teachers who taught me, no matter what. They had their own style and consideration of how to teach, and more importantly, they shared what they had. I still remember multiplication, i know what natural resources found in what province, I understand why Indonesian heroes seldom won the war against the Dutch, and more...  It means what they shared  are not forgotten, although i might have forgotten their names and faces.


So, i think, the point of becoming a teacher is not how to be remembered, but how they remember what you teach (and understand). 

Thursday, October 24, 2013

Teaching Teens



having worked as a pre-school teacher for more than two years, made me feel so confident to apply for a position in a primary school where i moved to.

well, i have ever taught several primary school students also -if that makes my teaching experience even greater :p

i mean, i could handle kids aged 2 until 11, back then in Jogja.

okay, back to the story. so, i got accepted as a 4th grade teacher. hmmm, great. i kinda liked it at first, cuz it means i don't have to deal with pee and puke :D and i like to discuss with kids- and i can do it with 4th graders for sure.

but the reality was harder.

one thing i didn;t realize was that they're in a transition phase from kids to teens. it makes them unpredictable.

i didn't get any admiration like those cute little toddlers i taught.

wait wait...as long as i remember, i always become a substitute teacher! it makes everything even challenging for me. and if i'm not mistaken, it took me a while to get into it. to be accepted and to heartfully accept the new condition.

well, it was actually 3-5 months. quite long, eh?

for these transteens students (note it, i made this term, copyrighted), i had to know their character first. and of course, their learning style.

thank God, i ONLY taught 25 students  -accompanied by a teaching partner.
this is way too easy, compared with my primary school teacher at that time: 54 students special for him.

the problem was, i had to substitute an experienced teacher, she's older than me, and she was an assertive yet funny one.

it was a struggle, really. i am confident enough if we talk about creative teaching. or knowledge i have known. but when it comes to be firm and assertive, i'm not sure.
it doesn't mean i don't have that, i just unsure that it will come naturally.

at first, they were really nice -when i had my introduction session. they looked interested. when the break time came, the girls showered me with questions.i feel accepted.

but it didn't last long.

teens are rebel. they know how to make a mess and being stubborn at the same time. and when they need to be calmed down, we have to be firm of course. since i was a newbie there, some of them felt uncomfortable to be told- or even warned. maybe they thought: who are you?

at that time, i thought that i should win their heart first, but it's not that easy since there were 25 heads 25 characters, style, and habits. and i didn't have enough time.what i thought i could do was: do my best in creative teaching.

and hell ya, i got 4 subjects to teach and my partner got 2. viewed from the hours of teaching, it was balance. but from the materials, i don't think that social+science+civics+english was balance compared with bahasa+math. but it was blessing in disguise, since those subjects allowed me to have more ways to teach.

i know they like games. A LOT. i suppose they are in an phase where competition matters. so i started to give competitive games more than they used to have.

for some of them, it worked. for the rest who didn't really good at the subject, it failed. they had fun, but they didn't really remember what they studied. even for they who felt discouraged already, they looked withdrawn.

so i made more worksheets, more often, in order to know their real capacity personally. though it led to some protests of how often i gave them tasks lol.

out of the class, when we didn;t have lesson, i like to do small talks with them. and i also used the friend-like talking style, more or less inspired by my partner.

at the same time, i still try to be assertive, learned when to say "no means no".

and i don't know how it went, because when i left the job for my pregnancy leave, i was appreciated differently.

some of the girls who seemed reluctant to share something to me were in tears.others were asking whether i will be back. and surprisingly, the parents were even more friendly and close to me.

alhamdulillah...

although i didn't have tasty appetizer here, a "mouth watering chocolate cake" dessert made my journey thousand times better than what i expected before.

something easy never brings you to the top.

Saturday, November 24, 2012

"Why Teaching?"


I am sure quite a lot of my friends raised their eyebrows when i told them that i was a kindergarten teacher (at that time). Then, they'd be saying, "Oh..that's awesome! You must have been so patient." That's a normal comment. Kids, especially toddlers, are considered difficult to handle. The other comment was like, "Are you sure? How come?" because my bachelor degree is in communication. But i told them, i love teaching, and i love kids, too. I put teaching before the kids because the passion that i have is more to teaching itself.

If we say teaching, it means that we teach the students. We give, tell, transfer the knowledge from the students. In short, we make them learn something. But what i've learned proves different things. I learn from my students. A lot. I can also put it in general, that i learn from my workmates and the school, too.

I tried quite a lot of jobs before, and none of them gave me the richness like what i've got from teaching. Maybe those jobs could gave me more money in shorter time, but the satisfaction we get from something we really love doing will pay off all things we don't like from our profession. The feeling of giving, sharing, and empowering sometimes give me the sense of doing something good. And God promises us that good things will only get good things in return. Deep in my soul, i feel fulfilled by teaching. Thus, i gave this blog name The Miracle of Teaching.