Showing posts with label review sekolah. Show all posts
Showing posts with label review sekolah. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 5: Afkaaruna Islamic School)

      Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.



5. Afkaaruna Islamic School

Perkenalkan, the new kid on the block, baru menerima murid tahun lalu. Lokasinya di Harjobinangun, masuk beberapa kilo dari Jalan Kaliurang km 12,5. Suami saya tahu tentang sekolah ini dari seorang teman dan setelah di googling, kami pun mantap menengok ke sana. Sekolah ini menempati bangunan rumah sang pemilik, dan masih banyak sawah di sekelilingnya. Saat masuk ke front office, saya langsung kegirangan melihat buku-buku anak impor terpajang di sana, haha… Kebetulan sekali pemiliknya sendiri yang menyambut sehingga suami bisa bertanya-tanya sementara saya dan anak tur keliling sekolah.

Afkaaruna menyebut dirinya sebagai internasional madrasa, yang konsep intinya adalah menggabungkan tiga poin: Islam, local culture, dan international mindedness. Walaupun baru berdiri, mereka menggunakan IPC alias International Primary Curriculum dan SDnya pun sedang dalam tahap pembangunan.

Saat kami berkunjung, murid-murid TK sedang belajar bahasa Inggris dipandu seorang native speaker. Oh ya, bahasa pengantar di sini adalah bahasa Inggris (newsletter untuk walisiswa pun full in English). Kelas playgroup dan TK B kalau tidak salah berada di bangunan utama, dan kelas TK A menempati ruangan setengah terbuka di belakang dan langsung menghadap playground dan sawah, langsung bikin jatuh cinta! Mereka juga diajarkan berkebun sehingga di sekitar playground yang ada rumah bambu mininya, kita bisa melihat beberapa tanaman hasil karya mereka. Seperti sekolah alam ya..




Jam sekolahnya dimulai pukul 7.30 dimana murid-murid secara personal mengingat kembali hafalan surat-surat pendek, kemudian solat dhuha, english vocabs enrichment, materi IPC, dan materi sejarah Islam sampai sekitar 11.30, dilanjutkan sholat dhuhur berjamaah dan makan siang. Untuk murid full day, sekolah berakhir pukul 16.15. Pendirinya merupakan sekelompok dosen yang sama-sama meraih gelar doktor di luar negeri, sementara sebagian pengajarnya memiliki latar belakang pendidikan pesantren.  

Biayanya masuknya Rp 6.000.000 untuk TK A (sudah termasuk uang pendaftaran dan seragam, juga biaya field trip dan tutup tahun) dan TK B Rp 4.250.000. SPP Rp 450.000 termasuk snack harian, dan tambahan RP 150.000 untuk daycare. Untuk info yang lebih detil bisa dilihat di www.afkaaruna.sch.id

Halaman belakang berbatasan dengan sawah


Friday, June 2, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 4: TK Sultan Agung)

      Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

     4.  TK Sultan Agung


Secara kebetulan, suami menemukan sekolah ini saat jogging. Letaknya memang di dekat sawah, kurang lebih di Jalan Kaliurang km 13, belakang kampus UII (Universitas Islam Indonesia). Ternyata, sekolah ini memang milik Badan Wakaf UII.

Berbeda dengan semua sekolah yang saya review disini, TK Sultan Agung adalah TK konvensional yang mengingatkan saya pada masa kecil, dengan playground berisi ayunan, jungkat-jungkit, perosotan dari besi warna warni (dan lumayan banyak lho!) dengan kelas berisi meja kursi kayu warna warni pula, serta ibu guru berjilbab dan berbaju batik serta rok.

Dibandingkan dengan TK sejenis yang saya lewati sepanjang survey, TK ini ukurannya sangat bersih dan siswanya lumayan banyak. Saat itu sedang ada latihan drumband dan jam pulang sekolah untuk siswa PG A dan B, sehingga saya bisa mengamati suasana riil di sekolah. Yang saya ingat dari kunjungan ke sini adalah saya disambut dengan sangat ramah oleh ibu kepala sekolahnya. Dari semua sambutan saat mencari info, inilah yang paling genuine ramahnya. Mungkin karena beliau sudah lama jadi guru TK kali ya.

Hasil tanya-tanya ke beliau, materi di sekolah ini berdasarkan hari, misalnya Kamis cooking, Jumat religion, dan ada satu hari yang gurunya adalah wali murid. Kata teman saya memang sekolah ini melibatkan wali murid dalam porsi yang lumayan besar. TK ini juga TK Islam sehingga ada target hafalan doa harian dan surat pendek, termasuk iqro dan solat. Jam belajarnya dari pukul 7.30 sampai pukul 11.00 kalau tidak salah, tapi hari Sabtu masuk ya. Saat saya bertanya tentang trial class, ibu kepsek membolehkan namun harus konfirmasi dulu karena snack harian dikoordinir orangtua.


Biayanya? Cukup membuat mata terbelalak. Uang pangkal RP 2.600.000 dan SPP Rp 75.000. Yes, anda tidak salah baca. Saya sempat berpikir, gurunya digaji berapa, haha… Ternyata bukan seperti itu kok. Karena sekolah ini adalah milik Badan Wakaf UII so mereka menerima subsidi. Khusus untuk dosen di UII, SPP gratis kalau tidak salah. Meskipun sekolah subsidi, mereka terakreditasi A. Guru-gurunya pun sebagian besar lulusan pendidikan guru TK/PAUD. 

Website resmi tidak ada, tetapi kalau kita googling ada blog yang mereka buat tahun 2010, cukup menggambarkan kurikulum dan info dasar walau tidak update.

Sunday, March 13, 2016

Mandirinya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 2)

Masih tentang kunjungan saya ke OISCA Kindergarten..

Selain disiplin dan keteraturan yang saya kagumi dari anak-anak Jepang tersebut, pemilik sekolah juga sedikit banyak menceritakan tentang konsep pendidikan di sana. Pertama, manusia berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah juga. Sehingga, mereka diajak untuk berinteraksi sedekat mungkin dengan alam. Wujud konkritnya seperti belajar menanam tanaman sendiri (di kebun mereka terdapat jagung, wortel, dan...padi!), memberi makan kambing (yang dilepas begitu saja dengan gembala yang berdiri beberapa meter di belakang kambing), berenang seminggu tiga kali (yeayyy, really like this!), serta pantang menyisakan makanan.

Untuk usia TK (4-6 tahun) saya rasa wajar mulai mendidik untuk menghabiskan makanan, tetapi usia playgroup yang 3 tahunan, saya sendiri di kelas merasa kesulitan plus tidak tega. Menurut Pak Dicky, anak-anak dipahamkan sejak awal untuk menghargai makanan karena “makanan ini pemberian Tuhan dan orangtua sudah susah-susah memasaknya, jadi kita harus menghargai”. So, sampai sekarang anak-anak selalu menghabiskan makanan. Kalau dipikir-pikir, mungkin ada faktor pendukung juga seperti orangtua harus menyesuaikan porsi anak dan lunch time yang dilakukan bersama-sama satu sekolahan, sehingga anak yang lebih muda mencontoh anak yang lebih tua.

Display di dinding yang dominan gambar dan hiasan 
Loker siswa yang detil: ada peg untuk menggantung ransel, untuk tas makan, pakaian ganti, topi, dsb
Konsep kedua, anak di bawah tujuh tahun dibiarkan bebas bereksplorasi agar timbul rasa ingin tahunya. Inilah mengapa dekorasi di OISCA sangat minim tulisan, apalagi belajar alfabet. Tidak ada..! Dengan tidak adanya tulisan (umumnya hanya gambar), anak diajak untuk bertanya tentang gambar tersebut. Karena sama sekali tidak mengenalkan huruf dan calistung, otomatis kegiatan mengerjakan worksheet atau LKS pun tidak ada. Kelak, ketika anak sudah berusia tujuh tahun barulah mereka diajarkan materi yang berupa pelajaran.

Sandbox yang benar-benar bersih (padahal outdoor) dengan tepian kayu yang nyaman untuk duduk
Konsep ketiga, kemandirian. Delapan puluh persen murid di sana menggunakan mobil antar jemput, termasuk murid playgroup sekalipun. Tidak boleh ada baby sitter ataupun keluarga yang menunggui bahkan di awal tahu ajaran. Wuih, ketat juga ya peraturannya. Kalau saya jadi wali murid, sudah pasti saya nangis bombai melihat anak saya menangis naik mobil jemputan, haha.. Katanya sih, biasanya anak-anak membutuhkan seminggu untuk akhirnya bisa berani ke sekolah sendiri. Begitu juga ketika makan, rata-rata anak yang belum bisa makan hanya perlu dibantu selama seminggu dan setelah itu bisa makan sendiri. Kalau makanannya berceceran? Ya dibersihkan sendiri. Tersedia lap kotor untuk masing-masing anak, dan lap tersebut digantung rapi layaknya lap cuci tangan.

Hanger untuk handuk cuci tangan
Oya, saat saya berkunjung ke sana, kebetulan ada jadwal berenang untuk kelas TK B. Mereka pun bisa memakai baju renang sendiri dan memakai handuk sendiri, tanpa bantuan. Guru yang mengajar pun hanya satu. Bagaimana cara mereka bilas? Beramai-ramai mereka disemprot pakai selang oleh pak guru, saudara-saudara, haha... Sounds cruel? Not at all if you see it yourself. Setelah itu mereka berjalan ke dalam sekolah untuk berganti pakaian.

Meskipun saya hanya berada di sana sekitar dua jam, saya sudah mampu mengambil kesimpulan bagaimana anak-anak di Jepang dididik dan dibesarkan. Disiplin, mandiri, teratur, dan sangat berpegang pada nilai-nilai yang mereka anut. Saya juga serasa berada di dalam dorama melihat mereka semua bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengan segala bahasa tubuh dan kebiasaannya, hehe.. Yang terakhir, mereka sangat higienis. Kami harus memakai sandal dalam ruangan saat masuk ke kelas. Sikat gigi mereka pun diletakkan dalam wadah bekas yakult. Selain memenuhi unsur reuse, yakult juga mengandung bakteri baik. Masing-masing anak memiliki handuk tangannya sendiri, sehingga meminimalisir penularan penyakit.

Sandal dalam ruangan yang berjajar rapi
Area sikat gigi. Kelihatan tidak botol yakultnya?
Toilet anak berukuran mini. Semua sudah tidak ada yang pakai popok lho..
I really hope that one day, our children can be as discipline as them, without losing our values. As parents, it is really important that we have the same concept with our kid’s teachers. It is easier for our child to adopt values that are taught at school and at home. Misal, kalau di sekolah buang sampah di tempatnya tetapi keluarganya tidak menerapkan hal yang sama, bisa ditebak kan akhirnya bagaimana? So, we need to keep learning and be consistent karena proses mendidik anak itu benar-benar sesuatu yang terus menerus. Pada akhirnya nanti kita sendiri yang akan merasakan hasilnya.