Thursday, February 28, 2019

Gemari Pratama, Kelas Online ala KonMari


https://medicalxpress.com/news/2019-01-konmari-method-clinical-hoarders.html

Gemari Pratama bukanlah gerakan pramuka, walau namanya sepintas sama, hehe... Gemari merupakan kependekan dari Gemar Rapi, sejenis gerakan bebenah yang terinspirasi oleh metode KonMari-nya Marie Kondo. Pratama adalah level pemula. Jadi, Gemari Pratama (GP) adalah kelas bebenah online via Whatsapp Group untuk level pemula yang baru-baru ini saya ikuti.

Bisa terdaftar sebagai peserta GP menurut saya adalah suatu kebetulan, walau sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Diatas sebagai rejeki untuk saya. Setiap saya cek Instagram, jaraaaang banget ada post atau story @gemarrapi. Kebetulan sekali saat itu ada pengumuman kulwap tentang metode bebenah. Saya ikut lah, karena memang saya sudah pernah baca The Life Changing Magic of Tidying Up nya Marie Kondo plus ikutan seminar Gemar Rapi nya Aang Hudaya, founder Gemar Rapi (baca post nya di sini).

Nah, ternyata di akhir sesi kuliah Whatsapp tersebut, ada pengumuman tentang dibukanya kelas Gemari Pratama, dengan biaya Rp 180.000 dan terbatas untuk 150 peserta. Pendaftaran dibuka hari Minggu jam 10 pagi kalau tidak salah.

Dan saya lupa. Eaaaaa…

Alhamdulillah banget, jam 10.15 pas saya buka hp langsung terlihat grup Whatsapp Gemar Rapi sudah ramai membicarakan kelas online ini. Kecepatan tangan saya untuk langsung menuju link Shopee, membaca cepat mekanisme pendaftaran, dan melakukan transaksi membuktikan bahwa saya generasi milenial, hahaha… Enggak ding, saya pelanggan setia Shopee, jadi sudah familiar klik klik nya plus pakai m-banking. Fiuh,  thanks to technology.

Setelah bayar dan sukses, baru deh bilang suami, “Yah, aku tadi daftar kelas online Gemar Rapi bayarnya Rp 180.000. Boleh kan?”

Alhamdulillah boleh soalnya tanggal muda dan udah keburu bayar, haha..

Kenapa sih saya semangat banget buat ikutan? Kan, udah baca bukunya tuh, ikut seminar pula, plus kulwap lagi. Bukannya harusnya udah bisa praktek sendiri ya?

Teorinya sih begitu. Tapi emang bener kok, saya sudah buktikan hasil ikut seminar Pak Aang waktu itu: saya membuat beberapa boks dari kardus bekas yang saya lapisi kertas bertuliskan jenis mainan anak so they are easier to tidy up according to the type of toys. Kemudian, laci pakaian anak saya ada satu yang saya ubah metode menatanya seperti metode KonMari. Dan, bener-bener ngeliatnya seneng. Semua jenis baju keliatan donk, dalam sekali buka. Gampang milihnya, dan enggak akan ada pakaian yang “jarang dipake karena di tumpukan bawah”.

Lalu, yang paling penting, kata-kata beliau tentang benda sekecil apapun akan ada hisabnya membuat saya berpikir beeerkali-kali kalau mau beli barang.

That this “hisab” things made me still feel “I need to let go more things” (which I haven’t), I decided to join this class.

Sempat menjelang seminar Gemar Rapi waktu itu, saya dan seorang wali murid di sekolah si sulung ingin mengundang tim Gemar Rapi untuk sharing di sekolah. Sayang, kurangnya panitia membuat kami urung. Lagipula saat itu harga yang ditawarkan out of our budget.
Jadi, semoga Gemari Pratama ini membawa perubahan positif tidak hanya bagi pesertanya, tapi juga orang-orang di luar sana.

Ganbatte!




P.S: Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Gemari Pratama.



Friday, February 8, 2019

Menikmati Big Bad Wolf Book Secara Langsung (Part 3: Jadi Jastip)



Awal April 2018, alhamdulillah cita-cita saya untuk mengunjungi Big Bad Wolf Books Jakarta kesampaian. Finally!

Setelah sebelumnya saya terpaksa menggunakan jasa titip alias jastip (baca post ini), kini saya leluasa memilih buku sesuai selera sekaligus menjajal peruntungan menjadi jastip. Karena sudah memiliki online bookshop bernama Ozbooks, proses mencari customer pun menjadi lebih mudah meskipun followersnya tidak terlalu banyak. Selain itu, promosi juga saya lakukan melalui status Whatsapp. Intinya, sebisanya lah.

Hari pertama dibuka (bukan preview sale tapi ya), I was super duper excited! Begitu masuk venue di ICE BSD, rasanya senang luarrr biasa. Sekaligus takjub. Betul pemirsah, bukunya buanyak banget dan itu nggak akan puas kalau cuma sekali datang. Saya bawa dua anak kesana, umur 1,5 tahun dan 5 tahun. Sendiri. Suami memang tidak ikut ke Jakarta, tapi adik saya ada kok buat bantu-bantu, walau dia punya batita juga. Hari pertama saya cus duluan karena udah nggak sabar, hehe.. Adik dan keluarga menyusul beberapa jam kemudian.



Niat awal adalah, saya belanja buku dengan budget sejuta. Buku pilihan saya sendiri yang kira-kira banyak peminatnya. Saya nggak live shopping karena nggak ada timnya, belum lagi sambil momong bocah. Yang saya bersyukur campur kaget adalah…ternyata buku-buku yang 30ribuan dan boardbook itu BANYAK. Berarti kemarin selera jastip saya aja yang nggak match sama saya. Saya memang fokus ke boardbook murah karena saya memang suka yang murah hehe.. Saya ambil yang 50ribuan beberapa, tapi yang 75ribuan enggak.

Sekitar tiga jam saya belanja, nurutin jam ASI yang kecil. Antri kasir nggak banyak karena kasirnya banyak banget. BBW kali ini menurut saya tertib dan rapi. Alhamdulillah nggak ada kasus buku terinjak terserak seperti yang rame di sosmed pada BBW sebelumnya. Sambil antri sambil upload di status Whatsapp, siapa tahu temen-temen ada yang mau.  


Sampai rumah (rumah adik hanya 5 menit dari lokasi atau sekitar 12ribu naik GoCar), saya langsung foto dan upload buku. Guess what, langsung sold out! Duit balik dong.. Hari berikutnya, saya belanja lagi sendiri dan pagi-pagi biar nggak antri, si kecil saya titipin Mama. Kali ini, saya terima titipan customer yang chat via DM dan WA, plus beli lagi sesuai prediksi saya.

Yang seru adalah, ketika kita harus mencari buku titipan atau mencari lagi buku yang kemarin kita pengen. Itu harus mengandalkan memori banget banget. So, hari berikutnya saya foto nomor meja dengan buku di bawahnya, jaga-jaga kalau ada yang nitip lagi. Hari-hari berikutnya? Udah hampir apal, hahah… Kadang udah apal pun masih ngubek satu demi satu, especially di section buku yang batal di beli (lokasi di ujung menjelang kasir), juga di bagian boardbook yang udah campur baur di tepi hall. Kalau teliti, buku-buku best seller yang sold out ada yang ngumpet disini lho!

Yang aneh, ada buku yang muncul di akun resmi BBW tapi tak Nampak batang hidungnya sekalipun di hall. Padahal, teman seorang customer ada yang dapet dari jastipnya. Nah, ini yang namanya permainan jastip gede dan BBW. Langsung borong. I don’t mind, karena ga semua buku, walo yang kadang bikin sebel karena buku itu limited and murah.

Nah, hingga saat kepulangan ke Jogja, kalau ga salah saya empat or lima kali belanja. Apakah semua sold? Enggak. Ada yang masih nangkring di box sampe sekarang.

Apakah balik modal? Ya enggaklah, hahah…Secara saya dari Jogja, ada tiket dan akomodasi yang harus dibayar. Kalau ngitung jastip yang per buku 5000 udah ga nutup lah ya, but I did it for pleasure. For the sake of my hobby and passion. Kalau jastip gede jelas untung, tapi ga tau juga sih. Rempong lho ngurusin customer segambreng di grup LINE or Whatsapp. Belum yang batal, yang cancel, yang bla bla bla.. Tapi mereka timnya ada kan, so they’re ready for that.

Yang paling ngrepotin selama jadi jastip apa? Paling customer yang pengen pake Shopee sih. Barang kalau di Shopee kan harus ada data yang diisi ya. Kebetulan di rumah adik ga ada timbangan kue. Jadi pakai asas kira-kira aja. Terus, kalau customer minta Shopee tapi pecah paket. Maksudnya, kalau total transaksi dia di atas dua kilo sementara subsidi Shopee hanya maksimal 20ribu. Biasanya, customer minta bukunya dibagi dalam beberapa paket yang bisa dia tebus. Jadi saya harus bisa mix and match sekian buku biar semuanya dapet subsidi ongkir dari Shopee. Repot sih, tapi kalo customer puas itu capeknya menguapppp, hahah…

Nganter barang ke ekspedisi tiap hari juga jadi PR. Kenapa, karena saya ga pengen customer nunggu sekian purnama hingga buku sampai ke tangan. Itulah kelebihan jastip kecil. Saya memposisikan diri seperti seorang customer. Packing yang penting tebel, biar boardbook gak cacat. Ga perlu cantik or diketik, yang penting cepet. Kalo nggak pas BBW sih wajib bubble wrap n bungkus rapi, walo nggak selalu diketik.

So, minat lagi ngejastip tahun 2019 ini? Pengen lahh, tapi sayang di Jakarta lagi. Kecuali suami ngajak liburan ke sana, mending saya titip adik aja deh. Sayang uangnya hehe…



Wednesday, November 21, 2018

Minim Sampah Itu Mungkin! (Catatan Zero Waste Part 2)

Baca post sebelumnya di sini


Ia pun akhirnya memutuskan untuk memulai mencoba mengurangi sisa konsumsinya dan mendokumentasikannya dalam akun instagramnya pada Mei 2018. Dari yang awalnya hanya 20 hashtag berkembang menjadi 5600 hashtag. Dini pun menantang dirinya untuk “membimbing” 30 orang dalam grup Whatsapp selama 30 hari untuk going zerowaste. Ia membuat sendiri kurikulumnya. Sekarang, grup ini sudah masuk batch 3 (atau 4, saya lupa) dan daftar panjang waiting list. 

Pengalamannya menuju hidup minim sampah memberinya pelajaran bahwa:

Pertama, kita harus mulai dari why: miliki alasan kuat mengapa kita harus menjalani hidup yang bagi masyarakat umum “lebih repot” ini.

Kedua, setiap orang memiliki prosesnya sendiri. So, jangan minder kalau si A sudah bisa bikin kompos sementara kita baru bisa mengurangi plastik. Apalagi Indonesia masih memiliki banyak budaya yang potensial menghasilkan sampah, seperti arisan, rapat, dan ater-ater (hantaran).

Ketiga, konsisten. Cari yang paling sedikiti mudharatnya. Jangan perfeksionis.

Keempat, kita mesti berjejaring. Karena itulah dalam event tersebut, panitia mengundang sejumlah pihak yang memiliki concern yang sama, seperti LSM Lestari, Bproject yang menerima sachet bekas dan mengubahnya menjadi produk kerajinan, Jelantah4Change, Pusat Inovasi Agro Teknologi UGM, Sarah Diorita –founder Pasar Mustokoweni, yang menjual produk berkonsep green living dan zerowaste, serta Milas yang memiliki program Kampung Hijau.


Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk bertanya langsung tentang kegundahan saya mengenai masyarakat yang masih memiliki kultur membakar sampah. Ketika pelakunya adalah para tetangga, sementara saya yang uhuk-uhuk dan jemuran bau asap, what to do? Since, “ini desa bung!” I didn’t have the gut to speak up.  

Saran Mbak Dini menurut saya cukup solutif, yaitu mendekati mereka sesuai concern mereka: bisa jadi lewat alasan kesehatan (misal mengganggu sistem pernapasan hingga kanker), ekonomi (sampah anorganik bisa “dijual” ke bank sampah), hukum (ada undang-undang yang melarang pembakaran sampah), or else. Kalau mentok cara satu, pakai cara lain. Saya ingat sekali kalimat penutup jawaban beliau, “ Jalan kita dari satu orang ke orang lain sudah dicatat sebagai amal oleh Alloh.”

So, no worries kalau belum bisa meyakinkan orang lain, yang penting kita sendiri konsisten. Lama kelamaan orang akan melihat hasilnya dan tergerak hatinya untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai tambahan informasi, event Menuju Hidup Minim Sampah tersebut benar-benar menerapkan konsep minim sampah dalam pelaksanaannya.

Acara diadakan di pendopo sehingga tidak membutuhkan pendingin ruangan.


Peserta diminta membawa wadah minum sendiri, sementara snack box diganti dengan besek berisi jajan pasar beralas daun pisang. 



Goodie bag berupa paperbag berisi lerak dan kayumanis untuk membuat cairan pembersih dan mouthwash di rumah. 


Peserta bazaar diseleksi, hanya mereka yang produknya menganut konsep zerowaste. Di foto, ada booth makanan organik dan sedotan stainless.

Saat "Nyampah" adalah Biasa (Catatan Zero Waste Part 1)


Tidak perlu campur tangan Tuhan untuk membuat bumi ini “selesai”.

Salah satu kalimat dalam opening speech acara Menuju Hidup Minim Sampah bulan Oktober lalu tersebut sangat menohok. Bagaimana tidak, sampah yang dihasilkan oleh manusia sudah mulai merugikan lingkungan. Banjir tahunan hanya sebagian kecil dampak langsung kebiasaan membuang sampah secara tidak bertanggung jawab, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang longsor dan meledak juga menjadi tanda bahwa menimbun sampah di suatu lokasi bukanlah solusi. Yang paling menyedihkan (dan baru saya ketahui beberapa bulan belakangan) bahwa sampah manusia sudah mencemari lautan, melukai hewan laut, dan masuk ke dalam rantai makanan kita.

Fakta di atas banyak saya dapatkan dari akun instagram bertagar #zerowaste yang kemudian menuntun saya untuk mengikuti akun @dkwardhani, seorang penulis buku anak yang menerapkan gaya hidup zero waste atau minim sampah. Dari akun DK Wardhani itulah saya mengikuti lebih banyak akun serupa dan mulai mencoba untuk mengurangi jumlah sampah yang saya hasilkan. Karena itu, I was beyond happy sewaktu tahu beliau ke Jogja untuk sharing session di Saorsa Kopi.
Saya sudah membaca bukunya yang berjudul Menuju Hidup Minim Sampah, termasuk mengikuti grup Telegram berjudul sama sehingga sempat mendapatkan banyak informasi dan tips untuk ber- zerowaste. Walaupun begitu, tetap banyak informasi baru yang saya dapat dari event tersebut, termasuk kesempatan untuk bertanya langsung.


So, here are important facts I got!

Yang berilmu belum tentu beramal. Dalem ya, kalimatnya. Tapi Dini –begitu ia biasa dipanggil- menyimpulkan hal tersebut dari pengalamannya saat mengajar tentang Manajemen Lingkungan. Hampir setiap hari mahasiswa dan dosen belajar tentang lingkungan tetapi masih banyak yang tidak membuang sampah pada tempatnya, mencampur sampah meskipun sudah disediakan tong terpisah, dan menghasilkan sampah yang banyak setelah acara-acara kampus.  

Ia sadar bahwa masalah sampah ada di hilir, di rumah tangga, sementara teori yang diajarkan di kampus lebih banyak penanganan di hilir. Dini pernah mengusulkan pada rekan-rekan dosen untuk do something mengenai sampah, tetapi yang ia dapatkan adalah jawaban, “Penyuluhan bukan tugas kita. Kita mengurusi bagian teknis.” Para dosen berteori, sampah harus dikurangi. Titik. Sampai di situ saja.

Dari situ, ia melihat bahwa akar masalahnya adalah saat kita membuang sampah pada tempatnya, urusan kita selesai. Padahal sebenarnya, kita hanya memindahkan sampah dari tong sampah ke TPA, sungai,  or oceans (who knows). Sampah tersebut tetap di ada di bumi dan kita merupakan satu ekosistem besar. Sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia, tentu kita tahu bahwa kebiasaan kita dalam memperlakukan sampah akan mempengaruhi belahan bumi lainnya. Buktinya, Pulau Menjangan yang tak berpenghuni saja penuh sampah.

Pemerintah, apa kabarnya? Kata Dini, urusan sampah bisa baru selesai tahun 2085 kalau mengandalkan pemerintah. There are laws, but waste hasn’t been their priority. Pemerintah menyediakan TPA, hanya saja sistemnya berupa open dumping. Artinya, sampah ditumpuk dan dirapikan saja oleh alat berat. Seharusnya, TPA berbentuk sanitary landfill dimana tumpukan sampah ditutup dengan tanah dulu sebelum ditumpuk oleh sampah yang baru. Sayangnya, sanitary landfill membutuhkan biaya penanganan 20-30 ribu rupiah per harinya, jauh di atas open dumping yang hanya 2000 rupiah. Dengan “setoran” sampah ke TPA Bantar Gebang sebanyak 7000 ton per hari atau ke TPA Malang sebanyak 950 ribu ton per hari, bisa dibayangkan ya gunung sampahnya akan setinggi apa nanti. Karena itu, menurut Dini, yang harus disadarkan adalah masyarakatnya.

Mungkin kita sebel sama orang yang buang sampah sembarangan. Tapi, kita juga sebenarnya sama 
saja dengan mereka. Hanya karena kita merasa sudah membayar tukang sampah, maka kita merasa lebih baik dari mereka. Kita tidak diajari untuk men-treat plastik sejak kecil. Kepraktisan begitu memanjakan kita.


Lalu, apa yang kemudian Dini lakukan? Cek post berikutnya ya!

Saturday, November 3, 2018

Inilah Alasan Mengapa Rumah Tak Kunjung Rapi



Pernahkah kita bertanya dalam hati, mengapa rumah orang tua kita (dan generasi mereka) rata-rata penuh dengan barang? I thought it was only my parents’ tapi ternyata barang mertua saya juga banyak, bahkan sampai berdebu tebal karena jarang digunakan (dan entah masih dipakai atau tidak). Rumah orang tua sahabat saya pun demikian: penuh barang. Will I be like them one day?

Saya jelas berharap tidak memiliki rumah penuh barang seperti generasi mereka. Pengennya, rumah rapi dengan barang pun tertata rapi, sehingga anak-anak bebas bermain tanpa kita kuatir mereka bakal senggol sana berantakin sini dan beresinnya butuh tujuh hari. Tapi, seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, bertambah pula rezeki saya dan suami, kok ya keinginan untuk membeli itu bertambah juga, haha… Setiap melihat produk IKEA bawaannya pingin, kalau ke mal wajib mampir Informa, namun alhamdulillahnya saya cukup kuat untuk tidak lapar mata, alias liat aja cukup. Memang karena belum ada budgetnya sih #jujur, tapi kalau dipikir lagi, rumah kami kecil jadi lebih bijak untuk ngerem beli perabot besar (tapi buku nambah terus, gimana sihhh).

Karena itu, saya tertarik baca buku Marie Kondo tentang seni merapikan barang. Tamat baca buku 
itu, sudut pandang saya tentang menata barang pun berubah. Namun, penyakit “belum sempat” membuat penataan rumah saya masih belum Konmari enough. Menyortir dan membuang barang tidak terpakai sudah saya lakukan, namun saya masih merasa memiliki banyak barang. Terlebih, proses pindah rumah menyisakan kekecewaan bahwa saya masih belum bisa let go pakaian dan barang-barang yang jarang saya pakai. Akhirnya, saya simpan kembali.

Sabtu lalu, saya mengikuti Seminar Gemar Rapi dengan Aang Hudaya sebagai pembicara. Ia adalah co-founder Komunitas Gemar Rapi, sejenis Konmari-inspired lah ya. Saya senang sekali akhirnya ada seminar seperti ini di Jogja setelah sekian lama hanya cuma bisa mupeng  liat event serupa diadakan di kota lain.

Meskipun sudah membaca bukunya dan melihat videonya, dijelaskan secara langsung ternyata 
rasanya beda. Dari materi kemarin, saya mendapat beberapa fakta penting:

Serapi apapun rumah kita, jika kita masih harus MENCARI ketika membutuhkan barang, berarti belum rapi. Indikator rapi menurutnya adalah ketika kita perlu barang dan kita tinggal ambil saja. Kenyataan sehari-hari yang kita alami adalah, kita memiliki terlalu banyak penyimpanan barang “ekstra” seperti di balik pintu, di atas lemari, di bawah meja, di bawah dipan, dll.

Mengapa kita harus berbenah? Selain menghilangkan clutter alias tempat “ekstra” yang bikin kita tidak nyaman di atas, berbenah juga memastikan prinsip health and safety terpenuhi (misal menyimpan daging terpisah dengan es batu di freezer, kabel tidak terurai). Lalu, berbenah bisa membuat kita lebih bahagia (tidy house tidy mind) dan yang paling penting adalah berbenah merupakan wujud kita menyayangi bumi kita, lho.

For Muslims, ternyata ada hadits dan ayat pendukung untuk kita berbenah. HR Bukhari no 1407 mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh tidak suka kita menyia-nyiakan harta (idho’atul maal). Memiliki banyak barang tak terpakai merupakan salah satunya. Kemudian, setiap benda itu ada hisabnya. Di akhirat nanti, kita akan ditanya tentang usia kita, ilmu kita, dan harta kita –dari mana saja ia diperoleh dan dibelanjakan untuk apa (HR Tirmidzi no 2147). Yang paling serem, Al Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, barang timbunan akan menjadi binatang buas yang melahap kita. Nah lo! Jadi, jangan sepelekan peniti or jepit ya, karena kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang benda remeh ini, bukan cuma emas yang dihisab!

Trus, apa penyebab rumah berantakan? Undebatable, jumlah barang terlalu banyak sehingga banyak benda tak berumah. Akhirnya dijejelin kesana diselipin kemari. Boleh aja kita beralasan rumahnya kecil, tapi penyebab lain rumah berantakan adalah kebiasaan dan pola asuh. Satu lagi, suka menunda. Kalau saya nih, nunda ngelipet jemuran kering. Ah, nanti mau saya setrika dulu…dan akhirnya numpuk karena nggak distrika. Rumah boleh rapi (tidak harus selalu ya, we’re humans) dan boleh “hidup” –istilah Pak Aang untuk mengganti kata tidak rapi. Karena itu, ajak anak dan anggota keluarga untuk beberes juga. Jangan cuma ibu aja..

Aku sudah berbenah, kenapa masih juga enggak rapi? Karena kebanyakan orang ketika berbenah tidak melakukan proses mengurangi barang, namun hanya memindahkan barang ke tempat lain. Selain itu, kita tidak mengubah mindset dan lifestyle: masih pengen ini itu, beli barang karena ingin, membeli karena social pressure, dsb.

So, jika ingin berbenah yang efektif, ingat prinsip ini ya!
1.       Komitmen pada diri sendiri
Kalau tidak ada komitmen, rasa jenuh dan malas bisa membuat kita kembali berantakan. Jangan lupa, ini adalah teamwork jadi libatkan anggota keluarga yang lain. Jangan  sampai kita mengupah pembantu hanya untuk membayar kemalasan kita.
2.       Mimpikan gaya hidup ideal
Masih banyak orang sibuk mengejar harta karena mereka tidak menentukan batas atasnya. Akihrnya, makin banyak pendapatan makin banyak pula kebutuhan karena naiknya kelas sosial. Kalau kita sudah menentukan gaya hidup kita mau seperti apa, insya Alloh kita bisa istiqomah sebanyak apapun harta kita. Kita pun tak akan lelah mengejar harta.
3.       Awali dengan mengurangi barang
Jika ingin mengurangi barang dengan metode KonMari, coba googling sendiri or baca bukunya ya. Intinya adalah mengikhlaskan barang yang sudah tidak kita gunakan lagi dan memberikannya pada orang yang lebih membutuhkannya.

Sebagai penutup, Pak Aang mengatakan bahwa Alloh memberikan rizki sesuai kebutuhan kita, tetapi Alloh tidak pernah memberikan rizki sesuai keinginan kita….karena keinginan kita tidak ada batasnya.  

P.S: Event ini adalah event zero waste, jadi peserta diminta membawa tumbler sendiri. Snack disajikan dalam pincuk daun pisang. Super cool!




Thursday, September 27, 2018

Ya Alloh, Saya Lelah.

Today is not a day that I can enjoy. Uring-uringan dari pagi gara-gara Kakak mogok sekolah padahal sudah masuk ke ruang kelas. Gurunya mbujuk, ibunya ayahnya juga mbujuk tapi gagal. Ibu manyun sampai rumah dan anak sampe mewek kena mulut tajam sang ibu yang kecewa karena ekspektasinya terhadap anak tidak terpenuhi.

Adek lagi susah makan entah apa sebabnya (padahal enggak sakit). Baru dua suap minta mimik (ASI), dan selalu seperti itu untuk ketiga menu sarapan yang berbeda. Deadline numpuk karena siang hari anaknya nggak bisa ditinggal lama, sore hari harus nemenin Adek main keluar, malam hari keburu mati lampu dan berujung tidur. Bangun-bangun ga mungkin bisa lembur karena (masih entah mengapa) Adek selalu minta mimik 4-5 kali pada jam tidur malam.

Ya Alloh. Ngeluh banget saya ini ya, padahal cuma ginian doang. Namun, saya ingat di @haloibu.id kalau it’s okay to complaint. We’re mother but we’re human also. Mungkin saya kurang piknik? Enggak juga, kemarin sempat dua hari mampir ke rumah ortu n ketemu adik saya and it’s quite a refreshing for me. Buktinya, sakit semacam gejala tipus saya langsung sembuh. Mungkin saya kurang iman? Iya banget sih honestly. Jadi gampang kena bisikan setan buat sedih, galau, nggak semangat, dan sebagainya.

Dalam puncak rasa lelah lahir batin tadi saya sholat dhuha. Setelah salam, hati tergerak untuk mengambil buku 5 Guru Kecilku yang ditulis oleh Kiki Barkiah. Sebelum membukanya, saya mohon pada Alloh agar diberi petunjuk lewat buku ini, agar tenang hati saya.

And randomly, tepat pada halaman ini saya membaca:





Alhamdulillah, Alloh tunjukkan saya cerita yang sesuai dengan kondisi saya saat ini. Membacanya membuat saya sadar bahwa saya butuh suntikan semangat karena mengasuh anak itu menguras tenaga dan pikiran. Meneteslah air mata.

Saya juga berpikir, apa sebenarnya prioritas saya? Iya betul, mengurus anak. Tapi kalau sedang ada deadline begini, pikiran mau tidak mau terpecah antara deadline dan urusan rumah. Kalau mau patuh pada manajemen waktu, maka deadline menulis hanya bisa dikerjakan pada malam hari setelah semua tertidur. Salah saya juga kalau siang hari saya suka curi-curi waktu mencari data tulisan dan kemudian bete sendiri karena terinterupsi anak yang minta dibacakan buku atau diprintkan worksheet.

Akhirnya, saya ikutan Kiki Barkiah: menghubungi suami. Saya cuma kirim satu icon sedih, dan suami pun langsung tahu kalau ada sesuatu dengan anak-anak yang bikin saya sedih, hehe… Kami pun video call dan suami pesen ke Kakak agar nurut sama ibu. Adiknya sih belum paham mau dikasi nasehat juga.

Setidaknya, mood saya sudah mendingan setelah baca buku dan telepon suami. Sudah siang juga, stress release nya ga boleh lama-lama. Writing this blog post with a cup of hot white coffee is also my stress release. Tapi kalau mau lengkap sih ditambah baca buku, nglanjutin nonton Posesif di Iflix, trus nonton Belok Kanan Barcelona di XXI, cuci mata di katalog IKEA, atau ngetik di coworking space, bisa dateng ke kajian rutin….without kids. Kemaruk yeee…

Nggak papa lah, hidup harus punya mimpi kan? Sekarang dimimpiin aja dulu karena anak-anak masih pada kecil. Nanti kalau sudah besar, kata Mbak Okina-nya Enlightening Parenting, kita akan bingung sendiri mau ngapain karena punya me time berlimpah dan anak udah punya dunianya sendiri.

Oh ya, mimpi saya jadi ibu sholeha yang sabar kaya Kiki Barkiah namun dengan jumlah anak DUA saja. Sekarang, let’s get back to real life dengan cucian piring setumpuk, keranjang cucian ompol yang besok aja nyucinya, lantai rumah penuh noda nasi keinjek yang sudah kering, dan cari data tentang kehamilan remaja buat tulisan.

Alhamduilllah ya Alloh atas waktu menulis yang sekian menit ini dengan anak anteng di halaman belakang. Terima kasih untuk Mbak Dini Swastiana atas tiga buku Kiki Barkiahnya, semoga Alloh membalas kebaikan Mbak..


Tuesday, September 18, 2018

Lebih Berkah Setelah Hijrah (Cerita Peggy Melati Sukma)



Cerita hijrah seseorang selalu mampu menjadi daya tarik, apalagi jika yang berhijrah adalah public figure. Peggy Melati Sukma adalah salah satu entertainer yang ternyata sudah berhijrah. Saya baru mengetahui hal ini ketika mendapatkan forwarded message WhatsApp sebulan yang lalu tentang pengajian yang akan diisi oleh Peggy. Dari tiga jadwal pengajian yang dijadwalkan, alhamdulillah saya berkesempatan hadir di DeHalal Mart Jogja untuk mendengarkan cerita hijrahnya.

Hari itu, ia memakai gamis berwarna pink dengan jilbab dan cadar berwarna sama. Ia masih terlihat tinggi semampai meskipun sudah tidak tampak lagi auratnya. Rasanya sempat takjub melihat sosoknya, betapa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Peggy mengawali kajian dengan doa dan tidak banyak mengumbar senyum, berbeda dengan sebagian besar ustadzah yang menjadi pembicara di pengajian yang saya datangi. Mungkin ia tahu bahwa senyum pun aurat, mungkin juga senyumnya tertutup cadarnya.

Saya tidak begitu ingat awalnya, namun ia cukup banyak bercerita tentang masa kecilnya. Bahwa ia dulu tidak begitu berada, namun orang tuanya taat beragama. Jika ia menginginkan sesuatu, ibunya kerap berkata, “Minta sama Allah”. Namun, perjalanan hidup membuatnya berjalan di jalan lain, yaitu dunia keartisan, terlepas dari keluarganya yang religius.  

“Jaman saya kecil dulu, enggak ada gadget, saya dididik (agama) dengan baik, namun saya bisa jadi seperti itu. Bayangkan sekarang dimana anak bisa tahu apa yang dilakukan anak lain di belahan dunia lain, kebayang kan beratnya jadi orang tua zaman sekarang?” , kurang lebih begitu ujarnya.
Sempat terbersit rasa kuatir dalam diri saya mendengar pernyataan tersebut. Peggy pun menyarankan untuk selalu memanjatkan doa kepada Alloh untuk melindungi kita dan anak cucu kita dari hal-hal yang diinginkan. Ia pun merasa hijrahnya memiliki kaitan dengan doa yang selalu dipanjatkan oleh keluarganya, agar ia kembali ke jalan yang benar.

Hasil Kerja 21 Tahun Habis dalam Tiga Bulan
Dalam menceritakan awal mula berhijrah, Peggy menceritakan bagaimana ia dahulu bisa memiliki segalanya. Honor satu kali naik panggung bisa puluhan juta rupiah, sehingga membeli tas branded seharga ratusan juta pun bisa dengan mudahnya dilakukan hanya dengan mengumpulkan honor tiga-empat kali manggung. Intinya, ujian berupa melimpahnya rezeki makin menjauhkannya dari agama. Gaya hidup dunia entertainment yang seperti apapun sudah pernah dijalaninya.

Namun, titik itu akhirnya datang. Keluarganya berantakan, ia menderita kerugian (ia tidak menceritakan secara detil rugi seperti apa) hingga asetnya habis, kesehatannya bermasalah. Hingga akhirnya Alloh lah tempat kembali. Ia menceritakan betapa beratnya hidup tanpa kekayaan, but somehow she managed to live that way. Ia sempat bingung bagaimana membayar tagihan listrik 5 juta rupiah yang selama ini dengan mudahnya ia bayar. Dapat uang dari mana, ia tidak tahu. Kuncinya hanya doa, maka Alloh yang beri jalan keluar. Yang ajaib, tanaman buah di halaman belakang rumahnya yang selama ini tidak pernah berbuah, mendadak berbuah saat ia mulai berhijrah di tengah keterpurukannya.

Godaan Datang
Saat ia mulai istiqomah berhijab dan meninggalkan dunia keartisan, tawaran main sinetron kembali datang. Peggy memiliki batasan yang harus ditoleransi untuk menyeleksi tawaran yang datang. Ia tidak mau beradegan dengan lawan jenis sebagai sepasang suami istri. Akhirnya, scenario pun diubah. Peran yang disodorkan kali ini adalah seorang janda. Namun, ketika mengetahui janda tersebut memiliki anak lelaki (yang sudah baligh), ia kembali menolak tawaran tersebut karena ada kemungkinan ia beradegan yang tidak sesuai syariat. Akhirnya, ujian tersebut mampu dilewatinya dan Peggy “selamat” dari kembali ke dunia entertainment.

Lebih Berkah Setelah Hijrah
Kini, ia merasakan hidupnya lebih tenang karena dekat dengan Alloh. Keberkahan pun menyelimuti setiap aktivitasnya. Dulu, 21 tahun menjadi artis, ia tidak menghasilkan satu buku pun. Kini, ia telah menulis tujuh judul buku. Bahkan, proses penulisan beberapa judul diantaranya sangat cepat. Saat menjadi artis, ia berkesempatan mengunjungi 7 negara (atau 5 saya lupa). Namun, setelah berhijrah, ia telah mengunjungi lebih dari 20 negara. Ia benar-benar tidak menyangka begitu indah rencana Alloh untuknya, meskipun ia harus kehilangan harta benda duniawi. Peggy pun bercerita, banyak pemberian dari orang-orang yang membuatnya tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, seperti busana muslimah yang ia pakai sehari-hari.

Ada satu hal yang membuat saya seperti tertohok saat itu. Ia mengingatkan, bahwa suatu hari nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh. Sebagai ibu dan istri, kita akan ditanya tentang tugas utama kita dalam mengemban kedua peran tersebut. Hal “remeh temeh” seperti memasak, membersihkan rumah pun akan dianggap sebagai amal. Karena itu, ingatlah selalu apa peran utama kita di bumi ini, agar kita tidak salah menentukan prioritas.

Alhamdulillah, so glad and thank Alloh I could make it… meskipun membawa dua anak dan segepok mainan dalam ransel mini. Anak-anak kondusif meskipun saya mendengarkan kajian sambil mobile ngikutin si kecil yang hobi jalan.

Saturday, April 28, 2018

Happiness is Homemade



Bukan homemade cookies ya, kali ini homemade-nya adalah kebahagiaan. Happiness.
Ibu-ibu, yang “kantor” utamanya adalah home alias rumah, pasti sering merasa jenuh, lelah, overwhelmed dengan tugas rumah tangga yang seolah tiada habisnya. Belum lagi kalau anaknya masih kecil-kecil, with or without assistant. Semua kesibukan itu membuat kita merasa unhappy. Belum lagi melihat kehidupan ibu-ibu lain di Instragram yang bisa bikin DIY toys, tiap hari homeschooling pakai metode Montessori, bikin MPASI yang ciamik, anaknya bisa makan sendiri, dan tetep cantik,… langsung deh lempar hape..ahahahah…

Kecenderungan ibu-ibu yang mungkin terbesit rasa unhappy with their life itulah yang menginspirasi Puty Puar untuk membuat buku Happiness is Homemade. Saya sendiri belum pernah baca bukunya sampai detik saya menghadiri acara Book Talk Mbak Puty di Ciao Point, Jogja, 21 April kemarin. Ternyata bukunya menurut saya bagussss…! Bagus disini saya lihat dari dua segi, yaitu ilustrasi dan konten. Ilustrasinya imut dengan warna-warna pastel, kontennya mengena banget karena bisa mencari “celah kebahagiaan” yang terlihat sederhana.


Dari Book Talk kemarin, saya mendapat beberapa pencerahan sebagai seorang ibu rumah tangga yang nyambi jadi freelancer, jualan buku anak, plus punya mimpi bikin buku sendiri.

Pertama, kita harus menentukan, apakah hobi yang kita lakukan selama ini akan melangkah ke jenjang komersil atau sebatas hobi saja. Mbak Puty yang hobi doodling n journaling ini dulunya seorang geologist di perusahaan minyak asing. Tahun 2014, ia memutuskan untuk mengkomersilkan kemampuannya membuat ilustrasi dengan membuat akun Instagram @byputy. Keputusan ini didasarkan pada komentar teman-temannya bahwa gambarnya memiliki ciri khas. Saya kurang tahu kapan ia resign, tetapi finally Mbak Puty berhenti bekerja agar bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.

Kedua, rejeki bukan hanya nominal. Banyak pertanyaan tentang bagaimana bisa move on dari karyawan bergaji dua digit menjadi ibu rumah tangga yang ngurusin harga daging. Kuncinya adalah resign berdasar keikhlasan. Tidak perlu membandingkan dengan kalimat “andai saja aku nggak resign, pasti aku…” Bisa saja rekening kita tidak bertambah isinya, namun tidak ada pengeluaran gaya hidup, jarang sakit karena kecapekan, anak lebih bagus moodnya. Itu semua rejeki yang bukan nominal. Termasuk Mbak Puty yang sekarang bisa membuat buku berdasarkan passionnya, saya rasa itu adalah rejeki dari keputusan resign tadi.

Rejeki bukan cuma nominal kan..
Ketiga, manajemen waktu. Once kita memutuskan untuk bekerja dari rumah, kita harus siap untuk juggling dengan cucian, jadwal anak, dan pekerjaan. Langkah pertama agar bisa mengatur waktu dengan baik adalah menentukan prioritas. Kalau sudah punya prioritas, kita lebih mudah untuk say no ke hal-hal yang tidak berhubungan dengan apa yang menjadi target kita.

Kemudian, jika ternyata usaha kita direspon baik oleh pasar, tentukan ritme kerja kita, berapa banyak yang bisa kita handle, begitu juga dengan mengetahui kapan mood kerja kita berada pada kondisi terbaiknya. Jadi, kalau ada pesanan yang sayang kita tolak tetapi faktanya tidak bisa kita tangani, kita lebih mudah untuk menolaknya. Apalagi jika kita tidak memiliki asisten rumah tangga. Atau, tentukan kapan kita siap menerima pesanan tersebut. Misal, setelah baby kita berusia enam bulan.

Honestly, I feel so blessed berjodoh dengan acara ini karena baru H-2 saya tahu infonya. Langsung daftar dan alhamdulillah ada spot, jadwal dengan suami cocok. Karena belum baca bukunya, saya sempet agak blank nanti bakal membicarakan apa. Ternyata, banyak banget yang relevan dengan kehidupan saya… Namun, satu hal yang agak mengagetkan, ternyata mayoritas yang datang adalah mahasiswi! Wah, ternyata yang butuh happiness book dengan kemasan unyu adalah juga mbak-mbak ini, hehe…

Setelah saya baca sampai habis, ternyata bukunya tidak spesifik mengisahkan wanita sebagai ibu kok. Jadi, make sense ya banyak mahasiswanya, especially jika mereka hobi doodling.

Playground yang membuat suami lebih mudah jagain anak-anak

Isi goodie bag, minus gelang rajut imut
Nilai plus dari event ini adalah…goodie bag! Ya ampun, jiwa keremajaan saya membuncah lho melihat notebook, sticker, dan masking tape…serius! It sparks happiness and my high school memories… The unexpected things was, ada playground buat anak. Alhamdulillah banget kalau ini. Thanks a lot Mbak Puty n tim *kisses*

Semoga banyak pembaca buku ini yang mendadak happy dan always be happy, sehappy habis lihat ilustrasi Britney Spears and dancers nya joget lagu Sometimes di dek…     



Friday, March 23, 2018

Recommended Hotel in Malang: Savana



Akhirnya, kami sampai juga di hotel (post sebelumnya ada di sini dan sini). Ternyata hotelnya cukup besar dan tepat di persimpangan di jalan besar pula. Saat kami tiba di hotel, petugas cukup cekatan membantu kami dan menaikkan barang-barang kami ke troli hingga mengantarkan ke kamar.

Ternyata, hotel ini belum lama berdiri. Kalau tidak salah lima tahun yang lalu. Pantas saja, penjual makanan di depan stasiun tidak tahu hotel ini dimana sewaktu kami tanya.

Saat kami datang, banyak tamu hotel yang sedang duduk di lobi. Tampaknya sedang ada konferensi dan sejenisnya. Namun karena lobinya cukup lapang dengan langit-langit yang tinggi, hotel tidak terasa “penuh”. Yang nyesek hanya asap rokok saja dari para tamu yang bersarung dan berkopiah itu. Padahal, di sofa sisi kanan resepsionis ada tulisan no smoking. Mungkin yang sisi kiri tempat mereka berbincang tidak ada tulisannya. Ah, yasudahlah. Gotong saja bayi ke kamar. Yuk, cusss!

Suasana lobi
Desain hotelnya separuh terbuka, dengan pencahayaan alami dari atap dan sirkulasi dari jendela. Ramah energi dan irit AC. Lorongnya pun tidak terlalu panjang. Kamar kami yang di ujung lorong dengan pemandangan menghadap ke jalan pun hanya melewati sekitar empat kamar.    

Saat masuk kamar, alhamdulillah kamarnya lapang dan bednya pun cukup besar. Desainnya minimalis, baik kamar tidur maupun kamar mandi. Walaupun kamar mandinya menggunakan shower (it means bayi harus dimandikan melantai atau digendong), saya suka kamarnya yang tanpa karpet sehingga kalau dedek ngompol bisa langsung dibersihkan. Yes, saya tipe diaper-free at least setengah hari agar kulitnya bisa bernafas. Kalau dalam perjalanan ya harus pakai lah..






Lemari dan tempat penyimpanan lain juga sesuai kebutuhan. Ada laci dengan kaca di bagian atasnya sehingga camilan, sereal, dan segala macam keperluan makan bayi bisa tersimpan namun terlihat. Untuk perjalanan seperti ini saya mengandalkan bubur instan, sementara di kereta bawa homemade food. Minibar bisa digunakan untuk menyimpan buah, sementara untuk sarapan bisa melihat apa yang tersedia di restoran. Malam itu, saya, suami, dan anak-anak beristirahat sambil menyantap makanan di meja kerja yang ada di kamar. Anak-anak puas sekali main kejar-kejaran: kakak berlari dan adik merangkak. Modal mobil-mobilan sebiji dan dinosaurus tiga biji pun cukup untuk imaginative play si kakak, sementara dedek sibuk aja mau masuk kamar mandi, hahah…

Paginya, kami sempat ingin berenang. Ternyata, kolam renangnya sedang dibersihkan. Petugas langsung mendatangi kami untuk memberitahu. Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu ingin berenang mengingat suhu udara yang dingin (walaupun kolam renangnya indoor) dan lokasi kolam renang yang berada di tepi restoran dan dikelilingi oleh balkon kamar-kamar hotel. Risih rasanya. Jadi, kami ubah rencana pagi menjadi jalan-jalan di sekitar area hotel, menyeberang jalan dan lihat-lihat sebentar.

Kolam anak

Kolam dewasa
Setelah itu, saya dan suami sarapan bergantian karena dedek tidur. Restorannya cukup ramai, tapi makanan tidak ada yang out of stock. Apa favorit saya? Mie ayam dan pastry. Menurut saya mie ayamnya fresh karena langsung diracik pada saat itu, sementara pastry nya renyah sekali. Sisanya juga enak, seperti dimsum, omelet, salad, dan makanan khas Indonesia seperti nasi dan sayur.

Pada hari kedua, saya sempat membawa dedek ke restoran dan menyuapi buah yang sudah saya crush pakai Nuby. Saya selalu bawa Nuby ini kalau traveling, karena praktis banget. Tinggal pilih menu buah segar, masukkan, dan press. Buah pun lumat. Dedek pun sarapan sehat.

Tinggal masukkan buah potong dan press




Oya, di hotel ini ada juga fasilitas mushola yang cukup besar. Sayang saya tidak sempat menengok ke sana. Resepsionis pun membolehkan persewaan stroller untuk menitipkan stroller baik pada saat peminjaman maupun pengembalian. Jadi, selama kami menyewa stroller kami tidak pernah sekalipun bertemu si penyedia jasa. Dari segi lokasi, menurut saya cukup strategis karena tidak jauh dari stasiun, ada beberapa ATM di parkiran hotel, dan tinggal kayang ke Indomaret.

Overall, recommended sih.



Thursday, March 22, 2018

On The Train (Trip to Dino Park Part 2)



Setelah berkutat dengan budgeting (baca di post ini), akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Traveling pertama kami sejak beranak dua! Hahah.. Itu sebuah pencapaian ya, baik secara finansial, fisik, maupun mental. Jadi, we’re soooo excited to start this journey!

Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal (terutama tiket), kami pun menuju Stasiun Tugu. Rencana untuk memakai jasa porter urung kami lakukan karena saya masih bisa menggendong Argi (10 mo) dan membawa tas bayi. Sementara itu, suami membawa koper dan ransel sambil menggandeng Aksa (4,5 yo). Kemudian, suami menuju meja check in untuk mencetak boarding pass.


Sekarang jamannya apa-apa sendiri, cetak tiket pun sendiri. Praktis!
Kereta Malioboro Ekspress yang kami tumpangi ternyata sudah datang meskipun waktu keberangkatan masih sekitar 20 menit. Suami pun menyempatkan diri membeli bekal makan siang di stasiun (yang akhirnya dimakan juga sebelum jam makan siang). Keretanya cukup tua tapi worth it lah dengan harga Rp 250.000. ACnya pun cukup dingin sampai-sampai hoodie anak-anak selalu saya pasang. Saya tidak membayangkan jika tripnya malam hari, pasti Argi kedinginan.

Delapan jam, anak-anak bosen gak ya?
Saya sudah antisipasi munculnya rasa bosan, khususnya Argi. Saya memang tidak membawa banyak mainan, cukup tiga jenis untuk Argi plus Aksa, yaitu satu mobil-mobilan dan dua dinosaurus kecil. Selain itu, camilan dan air putih. Argi memang tipe bayi yang aktif, jadi mainan hanya membuatnya senang sesaat. Ketika mulai lelah duduk, he’s craving for crawling. Iya, saya tahu lantai kereta api memang kotor. Tapi, anak bungsu saya ini membuat saya harus mengalah dengan membiarkannya merangkak demi meredakan rewelnya. Karena dia masih suka memasukkan benda asing ke mulut, saya harus melakukan pengawasan melekat, jika tidak ingin tangan kotornya masuk mulut. Tisu basah pun sudah ready di tangan, siap meluncur ke tangan kecilnya begitu ia ingin menyentuh mulut atau wajahnya.

Kalau Aksa sih alhamdulillah aman terkendali. Saya bawakan buku ensiklopedi dinosaurus yang cukup ringan, but he’s not in the mood to read. Instead, dia memainkan dua dino yang saya bawa dan menciptakan skenarionya sendiri. Selain itu, saya juga menjelaskan tentang sawah, kabel listrik, terowongan, jembatan, sungai, apapun yang kami lewati dan kira-kira menarik baginya. Berdiri di pintu dekat sambungan kereta juga menyenangkan, cuz we had different view. Sayang, kami diusir petugas karena ternyata it is prohibited to do so.

Sampai di Malang!
Setelah sempat hampir turun di stasiun yang salah, akhirnya kami menginjakkan kaki di Stasiun Malang. Kesan pertama, kok kumuh-gelap-bau ya? Dengan objek wisata sekelas Batu Secret Zoo, I imagined something more than this. Tapi sudahlah, saya yakin kotanya bersih. Saat keluar, ternyata tidak ada lahan parkir sehingga mobil angkutan berjubel, seberjubel sopir taksi yang berusaha mencari penumpang. Dalam hujan ringan, kami pun menyeberang ke deretan warung makan dengan tujuan memesan Go Car. Ternyata, Go Car dilarang menaikkan penumpang di stasiun. Sempat ada yang ambil order kami, tapi mendadak dicancel .

Sambil menunggu, kami pun memesan rawon, pecel, dan ayam goreng di warung makan yang berjajar di seberang stasiun. Harganya sih cukup terjangkau dan tempatnya cukup bersih. Sayang, saat itu hujan. Kalau tidak, saya dan anak-anak pasti sudah main di Taman Trunojoyo, yang tepat berada satu area dengan warung-warung makan tadi.


Taman Trunojoyo

Deretan warung makan di tepi taman seberang stasiun Malang

Daftar menu, biar ada bayangan harga makanan di sana
Akhirnya, kami berhasil naik Go Car walau harganya dua kali lipat. Saya lupa, antara Rp 16.000 - Rp 22.000 kalau tidak salah. Itupun berhentinya di agak jauh supaya tidak ketahuan, hahah… Serius, kalau ketahuan bisa didenda 200 ribuan drivernya. Serem juga ya.

Alhamdulillah, perjalanan menuju hotel hanya ditempuh sekitar 15 menit. Berbeda dengan stasiun tadi, Malang ternyata bersih. Lalu lintas di jalan yang kami lewati sepintas mengingatkan saya akan Solo. Tak sabar rasanya untuk sampai di hotel dan mandi.

Next post: Savana Hotel Malang