Sunday, April 14, 2019

Mengajak Anak ke Museum Cokelat



Saya penggemar coklat, tapi baru kali ini saya ke museum coklat. Bukan, bukan di Swiss atau negara Eropa lain yang identik dengan oleh-oleh coklatnya, tapi di Jogja. Kaget? Saya juga. Besar di sini kok nggak tau kalau Jogja ternyata punya museum coklat, ya? Ternyata, Museum Coklat Monggo ini baru berdiri awal tahun 2017 meskipun coklatnya sendiri sudah diproduksi sejak tahun 2005.

Awalnya, saya mendaftarkan Aksa (5 tahun) untuk mengikuti playdate yang diadakan oleh Apple Kids Jogja, EO Playdate besutan teman semasa kuliah dulu. Agenda dalam playdate tersebut adalah mengunjungi Museum Coklat Monggo, photo session dengan atribut chef, dan yang paling ditunggu: praktek membuat coklat! Yeayy..!

Lokasinya sekitar setengah jam dari tengah kota, tetapi sampai disana saya langsung takjub karena bangunannya unik dengan mural yang Instagrammable. Musholla bernuansa jawa dengan bedug berada satu lokasi dengan toilet yang tidak kalah cantik. Setelah opening di selasar belakang museum, anak-anak diarahkan masuk museum. Alhamdulillah adem, hahah.. Soalnya saat kami ke sana, hawanya sedang terik luar biasa.



Tur di dalam museum dipandu oleh mbak guide yang menurut saya cocok untuk anak-anak: suaranya lantang, ramah, tanpa kehilangan intonasi bercerita. Saat memasuki museum, kami disuguhi foto-foto orang di balik layar Cokelat Monggo dalam pose belepotan coklat, termasuk Thierry sang pendiri. Etalase berisi berbagai macam cetakan cokelat dan biji cokelat pun menyambut kami di depan pintu masuk. Ada cokelat berbentuk ayam segala lho! Jadi inget coklat ayam jago waktu kecil dulu…

Masuk ke dalam, kita bisa membaca informasi tentang produksi kakao di Indonesia dan DIY dalam bentuk lukisan dinding yang cantik. Tahu kan, Indonesia penghasil kakao terbesar ketiga di dunia?
Di bagian selanjutnya, terdapat penjelasan sejarah coklat di dunia beserta diorama. Guide memandu anak-anak untuk menghitung bersama gambar 30 biji kakao yang harganya pada masa Aztec setara dengan seekor kelinci, karena itu coklat dianggap sebagai barang mewah. Ada juga alat pembuat minuman coklat pada jaman dulu serta etalase berisi berbagai macam jenis cokelat dari zaman dahulu.


Di bagian tengah, terdapat display dengan setting perkebunan coklat dilengkapi dengan biji kakao serta alat panennya. Buat anak-anak yang belum bisa membaca, hal ini seru karena bisa sambil memegang display. Selanjutnya adalah proses pembuatan coklat, dari masih berbentuk biji hingga menjadi coklat siap cetak.

Nah, informasi paling penting yang saya dapat dari kunjungan ini adalah tentang jenis coklat. Kenapa ada coklat yang mengandung vitamin dan mineral tapi ada juga coklat yang bisa bikin batuk? Ternyata kuncinya ada pada kandungan lemak tambahannya. Jajanan coklat yang murah biasanya sudah tidak mengandung padatan coklat lagi, namun hanya mentega coklat yang ditambah minyak nabati dari kelapa sawit dan gula. Termasuk di dalamnya biskuit dan kudapan dengan lapisan coklat. Sementara dark chocolate dengan kandungan kakao 58% lah yang masih mempertahankan mineral penting tersebut, meskipun sudah ditambah gula. Makanya, harganya lebih mahal hehe..


Selesai berkunjung ke museum, anak-anak diajak memakai apron dan topi chef ala chocolatier alias koki pembuat coklat. Setelah itu, acara pungkasan adalah membuat coklat di showroom coklat. Ada meja besar, spuit berisi coklat leleh, tray, dan topping kacang serta dried fruit. Meskipun hanya dipandu seorang chocolatier, anak-anak sukses membuat kepingan coklat dengan topping yang kemudian mereka bawa pulang setelah mengeras. Di showroom ini pula dijual berbagai macam coklat dari yang harganya belasan ribu hingga ratusan ribu. Tidak kalah cantik dengan coklat negeri empat musim, lho!


Oh ya, selain museum dan showroom, ada pula café di sisi kanan pintu masuk. Menunya andalannya adalah hot chocolate 58%. Smoking area terletak di sudut luar museum, terpisah dengan café bernuansa jawa. Plus point nya, café ini memiliki sudut dolanan anak, mulai dari egrang, angklung, bakiak, sampai gasing. Gak akan mati gaya deh kalau ajak anak ke sini.




Yang jelas, for me it’s a must visit one kalau liburan ke Jogja. Museumnya kecil dan tidak membosankan, cocok untuk anak-anak yang nggak betah serius berlama-lama.




0 komentar:

Post a Comment