Showing posts with label wisata anak. Show all posts
Showing posts with label wisata anak. Show all posts

Friday, November 4, 2016

Ke Perpustakaan Bersama Anak

Kembali ke Jogja, berarti bisa lebih sering pergi ke perpustakaan. Salah satu perpustakaan yang saya rutin kunjungi dulu adalah Perpustakaan Kota Yogyakarta alias Perpuskot, yang terletak di belakang Gramedia Jl Jend. Sudirman. Sengaja saya pilih hari kerja dan pagi hari untuk menghindari suasana yang terlalu ramai. Maklum, terakhir kali saya kesana awal 2016 sewaktu mudik, perpustakaan bagian anak ramai sekali. Karena hanya berupa ruang kecil berpartisi setinggi pinggang, saya pun tidak bisa leluasa membacakan buku untuk anak saya.

Selasa kemarin, saya, Aksa, dan ayahnya datang sekitar pukul 10 pagi. Parkiran motor sudah cukup ramai. Gazebo depan pun sudah terisi 50%, begitu juga dengan ruang baca lantai pertama. Saya langsung menuju resepsionis untuk mengaktifkan kembali kartu anggota saya yang sudah hilang semenjak saya pindah Bogor. Syukurlah, mereka berhasil menemukan akun saya dan memberikan kartu sementara. Mas petugasnya sempat takjub, saya mendaftar di urutan 161 alias masa-masa awal Perpuskot beroperasi. Ya iya lah, dulu ke perpus untuk mengisi masa-masa menganggur pasca lulus kuliah, sekarang kesini sudah sama balita. Sudah lamaaa sekali.

Singkat cerita, kami naik ke lantai dua. Tas sengaja tidak saya masukkan loker karena ukurannya kecil dan hanya berisi perlengkapan darurat semacam baju ganti anak, dompet, hp, dan biskuit mini. Tupperware saya bawa begitu saja.


Sofa diapit rak buku referensi
Begitu melihat bagian anak yang kosong, saya pun bersorak. Ini artinya saya dan Aksa bisa puas memilih dan membaca buku. AC-nya pun terasa dingin. Ternyata, suami dan anak sudah lebih dulu menemukan buku-buku bertema dinosaurus yang sedang digemari Aksa. Lumayan banyak, dari yang model pop-up, ensiklopedi, sampai yang minim ilustrasi untuk usia SD.

Sambil mencarikan buku Aksa, saya bisa mengamati lebih seksama koleksi buku anak yang ada. Koleksinya mayoritas buku terbitan dalam negeri. Buku referensi yang tebal dan terbitan baru diletakkan di rak khusus dekat sofa, sementara ensiklopedi jadul macam terbitan Widyadara diletakkan di rak display. Majalah anak semacam Bobo dan NatGeo Kids juga cukup banyak, sementara di sisi kiri pintu ada koleksi komik dan novel anak. Jadi, saya duduk di sisi kanan pintu yang lebih banyak buku cerita untuk balita hingga TK, termasuk boardbook. Ada juga buku impor walau hanya satu saf, kondisi masih bagus. Tampaknya usianya masih belum terlalu tua. Sementara buku pop-up sudah banyak yang rusak, bahkan ada buku yang pop-upnya hanya utuh di satu halaman saja. Memang perawatan buku semacam ini harus ekstra.

Ruangan yang cukup nyaman walau sempit

Yang diminati Aksa
Ada boardbook untuk batita semacam Halo Balita
Karena sudah mengantongi kartu anggota, saya pun mengambil dua buku berkode SR (hanya kode ini yang boleh dibawa pulang) dan turun ke lantai satu untuk mendaftarkan pinjaman. Sayang beribu sayang, komputer sedang bermasalah sehingga untuk sementara tidak bisa meminjam buku. Hiks..
Aksa pun mulai merengek minta biskuit karena lapar. Kami berdua pun keluar (ayahnya hanya mengantar lanjut ngantor) lalu menikmati biskuit sambil duduk di gazebo yang memang dipersiapkan untuk rehat sekaligus berinternet. Ini terlihat dari stop kontak yang tersedia berjajar, tong sampah di setiap gazebo, serta gerobak angkringan di dekat gerbang masuk. Dengan rerimbunan pohon yang cukup besar (daerah kotabaru didominasi bangunan Belanda dengan hehijauan yang cukup banyak) tidak heran tempat ini selalu ramai dikunjungi, khususnya oleh mahasiswa.

Tampak depan dan halaman parkir motor (mobil di luar gerbang)

Area gazebo yang teduh
Sambil menunggu dijemput, kami berdua pun masuk kembali ke perpustakaan. Saya meminta Aksa menemani saya melihat-lihat buku umum di lantai satu (walaupun saya juga ingin kembali ke lantai dua untuk menikmati majalah edisi terbaru, mulai dari Femina, Ayahbunda, hingga Intisari favorit saya). Namun Aksa yang gemar bertanya dan memanggil saya dengan suara nyaring jadi membuat saya tidak enak dengan pengunjung lain, hehe... Kalau ibunya mau menikmati perpustakaan, tampaknya anak harus dihandle ayahnya atau eyangnya ya...


Setelah dua jam di perpustakaan, saya dan Aksa pun pulang dengan senang. Cukup banyak buku yang saya bacakan untuknya tadi, hingga sinyal-sinyal bosan muncul. Lumayan, hari ini mengalihkannya dari gadget barang dua jam. Semoga bisa datang sebulan sekali, agar bisa jadi rutinitas namun tidak membosankan.

Sunday, June 26, 2016

Melongok Kandang Artistik Taman Safari

Bulan Maret lalu, saya berjanji untuk membuat cerita bagian ke-3 dari Taman Safari Trip saya dan keluarga. Ternyata baru kesampaian sekarang, mohon maaf...

Jadi, kalau melihat binatang lewat mobil dan animal show sudah saya bahas di postingan yang lalu, kini saatnya saya bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang saya suka, yaitu area kebun binatang. Jadi, kebun binatang ini membentang di sepanjang jalan. Setiap kali saya berjalan dari satu arena show ke arena lainnya, saya selalu melewati kandang berbagai jenis binatang. Berbeda dari kandang di kebun binatang pada umumnya, disini binatangnya diletakkan pada lokasi dengan desain menarik. Mari kita lihat:

Bersih, nggak seperti mau liat komodo
Keliatan kan komodonya?
Yang ini dalamnya ular
Saya cukup terpukau dengan tempat komodo ini. Dengan setting area tambang ala Wild Wild West, hewan-hewan didisplay di tempat yang artistik. Semula saya tidak tahu bahwa peti-peti kayu bertuliskan dinamit tersebut adalah kandang ular. Setelah saya melongok, olala..ternyata berbagai jenis ular sedang bergelung. Warna keseluruhan area ini match banget dengan hewan-hewan di dalamnya (ini bukan postingan OOTD kan?)


Monyet Jepang, sesuai namanya, diletakkan dalam kandang berbentuk beranda ala rumah adat Jepang. Sementara itu, Bekantan yang asal Kalimantan diletakkan di dalam rumah adat Kalimantan (lengkap dengan senjata dan perkakas khas borneo), namun dipisahkan oleh dinding kaca sehingga mereka tetap bebas bergelantungan dan kita aman melihat mereka.

Kandang Monyet Jepang
Sebagian display khas Kalimantan
Yang lumayan reachable adalah Binturong. Saya katakan demikian karena mereka seolah tidak diletakkan di dalam kandang, dan bisa saja melompat ke arah kita. Demikian halnya dengan buaya, mereka terlihat cukup santai berjemur di area berumput, sementara pengunjung melihat dari jembatan diatasnya. Sepintas terlihat bersih, mungkin karena pencahayaan yang terang ya...tidak seperti tempat reptil di kebun binatang lainnya yang biasanya temaram.

Can you find the crocs?
Jangan lompat ke saya ya!
Oya, ada pinguin juga lho! Tapi para pingu gak muncul-muncul, mungkin karena saya kesana menjelang jam 5 sore...jadi mereka sudah lelah dan istirahat. HP saya pun passs banget habis baterenya jadi tidak banyak yang bisa diabadikan.

Yang masih sejenis dengan pinguin adalah kolam lumba-lumba. Karena gagal masuk dolphin show, saya hanya bisa menikmati tempat pengunjung bisa berenang bersama lumba-lumba. Kebetulan kolam kacanya bisa dilihat langsung dari jalan. 

Berani berenang bersama mereka?
Penguins, where are you?
Tempat favorit lainnya: Meerkat!! Saya hanya pernah melihat meerkat di kartunnya Animal Planet tentang kampanye lingkungan. Ternyata aslinya imut banget....

Yang terakhir, saya suka dengan semua papan informasi di sini. Penyajiannya menarik dan mudah dicerna. Semoga kita tertarik membacanya ya....soalnya orang Indonesia itu kan...lebih suka....mmm...foto-foto, hehe...

Meerkatnya malah ketutupan
Lucu ya gambarnya? 
Singkat, padat, jelas.
Nah, kalau yang satu ini ceritanya lucu. Saat saya melintasi tempat bayi orangutan ini, saya tergoda untuk berhenti sejenak dan bercakap-cakap dengan bapak pawangnya. Saya tanya, "Umur berapa Pak?" (Orangutannya ya, bukan Bapaknya). 

Jawab sang pawang, " Satu setengah tahun". Sebagai ibu yang baru saja lulus menyapih anak, saya reflek dong bilang, "Wah, masih ASI donk!"

"Kalau ini udah selesai ASI. Bayi disini lepas ASI minumnya Bebelac. Kalau dua tahun ke atas ganti Dancow", jawab Si Bapak. Saya dalam hati tertawa, kaya manusia aja ya...!

Bayi orangutan peminum sufor
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dieksplor but we're running out of time. Paling enak ya nginep di sana (ada hotelnya lho!) jadi bisa masuk pagi-pagi dan mencoba semua wahana. Kalau saya sih, ini saja sudah puas banget, hehe...

Oh ya, saya masih ada utang jawaban pertanyaaan di postingan pertama, yaitu kenapa signboardnya tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Arab)? Ternyata ketika masuk ke dalam, saya banyak menemui turis asal Timur Tengah. Mungkin memang prosentasenya banyak kali ya, sampai bahasa ketiganya bukan Mandarin tapi Arab. Baiklah...sekian dari saya, hope you enjoy!

Tuesday, June 7, 2016

Playdate at Taman Legenda TMII

Seminggu yang lalu, mendadak seorang teman SMA memasukkan saya ke dalam grup whatsapp Funtastic Legend Park. Ternyata, grup ini dibentuk untuk agenda playdate yang beberapa kali gagal terwujud. Alhamdulillah, akhir bulan lalu kami berhasil juga playdate plus reuni kecil-kecilan, walau hanya berempat (empat keluarga maksudnya..)


Lokasi? Taman Legenda TMII. Tidak sampai sejam dari rumah (apalagi berangkat di bawah jam 9 pagi). Terakhir ke TMII tahun 2005 saat masih kuliah, itu pun hanya ke anjungan-anjungan saja. Jadi, taman legenda ini termasuk baru, konsepnya seperti mini Dufan.

Karena bertepatan dengan akhir Ujian Nasional, Taman Mini lumayan penuh oleh bis rombongan murid sekolah. Saya sempat kuatir di Taman Legenda akan penuh sesak, tetapi tidak demikian. Mungkin karena harga tiketnya yang lumayan. Saya tidak membawa cash banyak, karena teman saya bilang tiket masuknya hanya 25-30 ribu saja. Ternyata, tiket tersebut belum termasuk tiket per wahana. Olala...

Daftar harga terpampang di atas loket. Sebaiknya tanya-tanya agar tidak salah pilih tiket masuk.

Jadi, ada tiket terusan Rp 150.000 untuk bisa menikmati semua wahana. Usia dewasa maupun anak dikenakan biaya yang sama. Ada juga tiket yang bisa di top up berupa gelang berwarna merah seharga Rp 50.000 yang terdiri dari Rp 25.000 tiket masuk, Rp 10.000 jaminan yang bisa di refund di akhir kunjungan, dan sisa Rp 15.000 untuk naik wahana. Harga tiap wahana bervariasi. Untuk komidi putar Rp 20.000, Taman Dino Rp 30.000, Bianglala Rp 20.000. Dengan sisa saldo di gelang hanya Rp 15.000, otomatis kita harus top up. Di dalam arena ada tiga tempat top up plus bisa cek saldo. Akhirnya saya dan teman-teman pun memilih membeli gelang dengan alasan yang paling ekonomis, plus anak-anak kami masih di bawah 6 tahun rasanya tidak mungkin menaiki semua wahana.

Satu hal yang saya tidak begitu suka dari Taman Legenda adalah, pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman dari luar. Petugas benar-benar membuka tas kita dan mengeceknya. Karena saya bukan tipe nego (haha), saya pun hanya bisa membawa sekotak roti tawar isi selai plus botol minum anak saya dengan alasan, "Anak saya tidak boleh camilan ber-MSG". Teman-teman saya masih berani membawa botol minum mereka masing-masing (ternyata boleh) apalagi yang membawa bayi dan stroller, biasanya isi tas tidak dicek. Akibatnya, saya sukses membeli 5 botol air mineral ukuran kecil yang dihargai @Rp 10.000 atau Rp 15.000/2 botol. Hiks..

Terlepas dari itu, saya menilai Taman Legenda cukup cocok untuk playdate. Saya suka lokasinya yang bersih, ukuran tidak terlalu luas sehingga anak tidak mudah lelah berjalan kesana kemari. Musholanya juga bersih. Mungkin karena masih baru jadi lumayan terawat.

Pintu masuk Taman Dino: Sayapnya bisa mengepak lho!
Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Taman Dino. Awalnya saya ragu anak saya berani masuk ke sini. Setelah dibujuk, Aksa masuk dengan ayahnya sementara saya menunggu di loket. Lima menit kemudian, Aksa setengah menangis lari kembali ke arah loket, bablas sampai gerbang Taman Dino. Waduh... Ternyata di awal wahana tersebut, ada dinosaurus yang menyemburkan air dan Aksa pun terkena sembur, haha... Dengan iming-iming Yupi dan setengah terisak, Aksa pun kembali masuk dengan ayahnya, saya ikut juga.

Taman Dino memang tidak besar tetapi cukup menarik. Suasananya mengingatkan saya akan Jurrasic Park, dengan semak-semak dan jalan setapak. Ukuran dinosaurusnya pun besar dan sebagian besar bisa bergerak dan bersuara. Saking miripnya, Aksa selalu memperlambat jalannya ketika mendekati jenis dinosaurus yang baru. Ada beberapa dinosaurus yang dilengkapi dengan lubang sehingga kita bisa masuk kedalamnya dan berfoto. Saat saya masuk masih pagi sehingga untuk berfoto tidak butuh antre yang lama, karena terkadang kita harus menunggu pengunjung lain untuk berfoto terlebih dahulu.

Lihat kan semburannya?
Looks like real
Ayo siapa mau jadi anak dino..
Saatnya mencari tulang belulang si dino...
Di akhir rute Taman Dino, ada arena pasir dengan kerangka dinosaurus dari batu sehingga anak-anak bisa berpura-pura menjadi arkeolog. Seru! Saya dan suami sempat menemani Aksa membuat istana pasir sampai kemudian dia berani berinteraksi dengan anak-anak teman kami. Saatnya para ortu ngobroool haha...Setelah main pasir, jangan lupa cuci kaki dulu ya...ada kamar mandi dan wastafel di area ini. Terdapat juga toko suvenir dengan koleksi cukup menarik.

Keluar dari Taman Dino, anak-anak minta naik komidi putar. Karena saldo habis, saya dan teman pun mengisi saldo di area kolam renang. Lumayan rempong ya, belum kalau antri. Kebetulan ada murid-murid SD yang ramai-ramai top up, tetapi tidak antri. Pusing saya kalau sudah begini.



Kolam renang alias Anak Tirta
Tempat kami makan siang: Kafe Barong
Alhamdulillah, komidi putar berhasil dinaiki walau hanya sekian menit selesai. Karena sudah siang, kami mampir di Kafe Barong. Bentuknya seperti pendopo, dengan view menghadap kolam renang. Dan....untuk membeli makanan kami harus memakai saldo gelang lagi! Top up lagi deh...sangat-sangat tidak praktis, sebaiknya memang beli banyak sekalian saldonya, toh nanti bisa di refund kalau sisa. Baiklah, kami pun memesan makanan yang semua dihargai Rp 35.000 (kecuali snack). Menunya seperti soto, rawon, gado-gado sampai yang internasional seperti steak dan nasi katsu. Rasanya lumayan menurut saya, hanya saja seorang teman tidak menghabiskan sotonya karena minyaknya saaangat banyak.

Mobil tanjak
Sambil makan, kami pun ngobrol. Anak-anak bermain di sekitar pagar kolam renang, sementara Aksa nongkrong saja diatas Mobil Tanjak. Akhirnya saya pun luluh mengajaknya naik mobil yang digenjot tersebut. Untungnya masih ada saldo Rp 15.000, pas untuk 15 menit sekali naik. Ternyata, menggenjot mobil itu berat saudara-saudara! Saya aja nih yang kurang olahraga, tapi saya cukup suka karena bisa berkeliling Taman Legenda, yang mungkin saya tidak tahu seberapa luasnya karena tidak menaiki semua wahananya. Dengan naik Mobil Tanjak, saya jadi tahu ada kuda dan lapangan untuk gathering di area ini.

Konter refund. Rak di belakang adalah untuk menitipkan makanan yang terlanjur dibawa pengunjung tetapi tidak boleh dibawa masuk.
Sekitar jam 2, kami memutuskan untuk pulang. Beberapa dari anak kami sedang pilek, jadi mungkin it's time to rest. Sebelum pulang, kami sempatkan menonton Film Keong Emas di Teater Legenda yang gratis. Tidak lupa kami tukar gelang dengan jaminan Rp 10.000 dan sisa saldo. Quite a fun for today!

Penasaran dengan toilet dan musholanya? Inilah fotonya:


Wastafel dan toilet di Taman Dino
Musholla di dekat Museum Asmat


Sunday, April 17, 2016

Serunya Animal Shows di Taman Safari

Dalam post sebelumnya, saya dan keluarga berpetualang mengikuti kelokan jalan setapak Taman Safari dan bertemu para hewan yang dibiarkan lepas. Sekarang, tiba saatnya untuk memasuki area taman hiburan atau amusement park . Karena sudah menunjukkan waktu dhuhur, kami sepakat untuk sholat terlebih dahulu di musholla area parkir B kalau tidak salah, karena area parkir dibagi menjadi tiga (A,B,C).

Mushollanya memang tidak besar, tetapi cukup bersih. Begitu juga toilet dan tempat wudhunya, bersih dan airnya dinginnn... Saya sempat mengurungkan niat untuk solat saat itu melihat mushollanya tampak penuh. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk solat saja daripada harus cari musholla lagi, ternyata tidak lebih dari 10 orang yang sedang sholat di area wanita. Sisanya? Ada yang makan, menidurkan bayi, touch up, dsb. Padahal sudah ada larangan makan di musholla lho..

Toilet dengan background hutan

Musholla semi open air
Naik Kereta Gantung
Baiklah, kini saatnya kami menjelajahi isi amusement park..! Peta sudah ada di tangan tetapi belum saya amati dengan detil karena si anak masih duduk anteng melihat gajah safari. Sayang, harga satu putaran mencapai 250 ribu rupiah. Kalau gitu menonton saja ya nak, hehe... Di sekitar kami parkir ada juga kereta gantung dan Baby Zoo. Akhirnya kami memilih untuk naik kereta gantung. Sempat bimbang, karena sekali naik Rp 50.000, lumayan juga...namun suami benar-benar ingin melihat Taman Safari dari atas, so here we go...!

Ternyata, Taman Safari begitu luasss..... Alhamdulillah kami memutuskan untuk naik kereta gantung, karena kami jadi tahu apa saja yang bisa kami nikmati di sini. Karena saat itu libur Imlek, kami melihat ada pertunjukan barongsai di dekat area cafe. Selain itu ada juga waterparknya, lho. Saya benar-benar baru tahu, dan tampaknya banyak orang berpikiran sama dengan saya karena waterparknya cukup lengang padahal bagus, luas, dan terawat. Kereta gantung terus mengarah ke atas (saya tidak tahu arah mata anginnya) yang membuat kami tersadar bahwa kami parkir nun jauh di ujung sehingga agak ngos ngos juga kalau harus jalan ke area-area lain. Jadi, begitu turun dari kereta, kami memutuskan untuk melihat pertunjukan hewan atau animal education shows.

Naik kereta gantung tanpa antri
Kolam renang tampak atas, bikin pengen nyebur
Aksa melihat pemandangandi bawah
Setelah tanya security –yang siap siaga hampir di setiap persimpangan-, kami pun pindah area parkir untuk mengejar Dolphins Show. Sayang, begitu kami mendapat parkir dan turun dari mobil, pertunjukan baru saja usai. Saya sempat takjub melihat desain bagian depan lokasi dolphins show yang dibuat menyerupai bahtera Nabi Nuh. Benar-benar bagus. Saya melempar pandangan ke sekeliling dan cukup senang menyadari bahwa tempat ini terawat dengan baik, dan sangat marketable. Semua papan informasi, penunjuk jalan, signboard jenis hewan didesain dengan apik dan modern. Ini salah satu objek wisata yang saya akan dengan percaya diri mengajak teman berkebangsaan asing untuk kemari.

Bahtera yang keren..
Mengejar show demi show
Karena gagal menonton show pertama, kami pun berniat mengejar show berikutnya, yaitu Tigers and Lions Show jam 13.30. Sempat bingung apakah jalan kaki atau naik mobil, akhirnya kami bertanya pada petugas yang mengarahkan untuk berjalan kaki....dan ternyata it was quite a long walk hingga ketika kami sampai, show sudah sampai bagian penutup dan sudah penuh sesak. Berkaca pada pengalaman tersebut, kami pun berniat stand by setidaknya 15 menit lebih awal di arena. 



Alhamdulillah, kami berhasil menonton Birds of Prey, pertunjukan burung-burung pemangsa yang ukurannya besar, seperti elang. Menempati sejenis lapangan dengan tiga deretan bangku panjang, show ini menurut saya sangat menarik. Saya memang tidak terlalu tertarik dengan burung, tetapi sang pembawa acara (yang mengingatkan saya pada presenter acara-acara traveling di TV) berbicara dengan sangat lancar, terkadang diselipi humor. Tidak lupa, penonton pun dilibatkan dalam beberapa atraksi. Setelah show usai, kami sempat membeli makan dan minum karena bekal tertinggal di mobil.

Pertunjukan Birds of Prey
Next show yang kami incar adalah Sea Lions Show. Karena letaknya tidak jauh dari Birds of Prey, kami langsung masuk ke arena. Panggungnya berada di tepi kolam kaca, sehingga kita bisa melihat singa laut tersebut berenang. Berbeda dengan atraksi burung, singa laut lebih banyak melakukan gerakan sesuai aba-aba pawangnya, seperti bertepuk tangan dan bermain bola. Oh ya, penonton sempat diajak oleh seekor singa laut bernama Morgan untuk bermain bola. Ketika bola disundul ke arah penonton dan mengarah ke saya, saya reflek menangkis bola tersebut hingga mengenai kepala seorang penonton di depan saya. Maaf ya pak... harusnya memang saya tangkap bola itu.. 

Di show ini, ada satu hal yang saya tidak sukai, yaitu ketika seorang pawang diminta untuk menggigit ikan di mulutnya sementara ia berdiri di ujung tiang sehingga ketika singa laut memakan ikan tersebut, secara tidak langsung mencium bibir si pawang. Others laughed because of this but I didn’t think that’s funny. Saya bisa melihat wajah sang pawang yang sangat tidak nyaman.

Detok-detik menjelang adegan kissing itu, hhh...
Baiklah, show terakhir yang kami incar adalah Tigers and Lions. Mungkin karena arenanya lebih sempit atau karena memang peminatnya ekstra banyak, show ini langsung sesak pengunjung bahkan sebelum dimulai. Lucky us, bisa duduk dengan tenang di deretan nomor 4. Kali ini, pawangnya benar-benar seperti presenter televisi: dua orang laki-laki berbadan kekar dan seorang wanita yang wajahnya mirip finalis Asia’s Next Top Model cycle 3, Tahlia. Sama seperti pawang burung tadi, mereka juga berpakaian safari coklat.

Super penuh!
Setelah "anak didik" berhasil melakukan satu atraksi, pawang langsung menyuapi mereka
Adegan ini yang bikin saya deg-degan

Atraksi tiga ekor harimau ini memang paling bikin deg-degan. Bagaimana tidak, saat show dimulai, seekor harimau memanjat tiang kayu yang tingginya melebihi pagar pengaman arena. He could have jumped to the audiences! Selebihnya, saya cukup menikmati show pamungkas ini. Para harimau menunjukkan kemampuan mereka untuk berjalan dua kaki, termasuk berjalan dengan menumpukan dua kaki depannya ke bahu para pawang. Saya melihat hubungan para pawang dengan hewan-hewan ini sangat dekat, seperti usapan di kepala ketika si singa bisa melakukan perintah, atau si mbak pawang elang yang paham bahwa burung tersebut sedang lelah sehingga menolak diajak foto bersama pengunjung.

Di postingan berikutnya, saya akan bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang sempat kami jelajahi...

Monday, March 21, 2016

Menyusuri Free Range Wildlife Taman Safari

Seorang anak memberi wortel kepada rusa
Percaya atau tidak, ini pertama kalinya saya pergi ke Taman Safari. Iya, di usia saya yang ke 30 tahun ini. Memang sih, saya besar di Jogja, jadi objek wisata di luar kota menjadi tidak terjamah. Kalaupun iya, pilihan pasti jatuh ke Dufan dan sejenisnya mengingat Taman Safari lebih cocok untuk anak-anak. Karena sekarang saya punya anak balita, maka saya mendadak terobsesi dengan semua objek wisata yang bisa membuat anak saya super happy berada disana, hehe..

Setelah membulatkan tekad untuk mengunjungi Taman Safari, (yang artinya menyisihkan budget Rp 150.000 dikali tiga) kami pun memilih hari Sabtu di awal bulan dan berangkat jam 8.30. Biasanya, kalau mau ke arah Bogor atau Puncak, jam 9 ke bawah masih aman dari macet. Sayangnya, kami salah memilih rute melalui kota Bogor dan menghabiskan tiga jam lebih untuk sampai ke lokasi. Sementara itu, pulangnya kami hanya membutuhkan 1,5 jam melalui jalur berbeda.

Gerbang masuk jalur safari mobil
Sampai di Taman Safari, Aksa yang memang sedang gandrung-gandrungnya dengan segala jenis hewan langsung tidak berkedip memandang patung-patung hewan di gerbang masuk dan loket, plus berteriak-teriak heboh. Setelah membayar dan mendapatkan tanda masuk serta brosur merangkap peta, kami pun mulai memasuki jalur safari/free range wildlife. Jalur ini mengingatkan saya pada film Jurrasic Park, dengan gerbang kayu dan sungai yang membelah jalan. Mobil pun berjalan pelan, cukup banyak mobil yang beriringan bersama kami.

Akhirnya, muncullah rusa-rusa yang cantik (they are!) dan Aksa pun mulai heboh memanggil rusa. Kaca mobil pun kami buka agar bisa melihat hewan tersebut dengan lebih jelas. Saya melihat mobil-mobil lain menyorongkan seikat wortel kepada rusa-rusa tersebut. Olala, ternyata deretan penjual wortel di jalan masuk Taman Safari itu untuk makanan hewan toh, saya hampir saja membeli untuk dimasak di rumah karena saya kira daerah itu merupakan penghasil wortel, haha..

Hello boy, can I help you? (Combo hemat 2 ya rusa :p )
Sambil menyusuri jalan, kami memicingkan mata untuk melihat hewan berikutnya karena terkadang mereka berwarna gelap dan sedang tidur atau berada di balik semak. Gajah, unta, dan jerapah langsung jelas terlihat sedangkan tapir babi rusa jumlahnya lebih sedikit. Binatang yang disebut belakangan memang less popular di kalangan anak-anak dan buku cerita, sehingga ketika anak bertanya itu apa, saya dan suami harus berpikir sejenak (lalu melihat peta, dan celingukan mencari sign board) baru berkata “Ooooh...itu tapir!”Ah, andai saja masih jamannya RPAL & Buku Pintar...

Satu hewan yang menurut saya sangat mengesankan adalah zebra. Baru kali ini saya melihat dengan sangat nyata motif garis di tubuh zebra: luar biasa mulus, dengan hitam putih yang bold, dan masya Alloh pokoknya..cantikkk sekali. Oya, salah satu zebra sempat hampir memasukkan moncongnya ke jendela dan sukses meninggalkan beberapa mili air liur. Aksa yang tadinya pede meletakkan dagunya di kaca jendela pun sontak mundur, haha.. Si zebra dan teman-temannya pun melenggang dengan santai di antara mobil-mobil, termasuk berhenti sejenak hingga suami harus benting setir ke kiri karena sang hewan tidak kunjung beranjak dari posisinya. Hhhh...

Kami yang menjadi tamu, so kami yang mengalah...
Mulusss...
Tampaknya si ayah sedikit takut...
Memasuki area hewan buas, terlihat cukup banyak papan peringatan untuk tidak membuka jendela apalagi turun dari mobil. Saya sedikit penasaran, kenapa setiap sign board tertulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab? Biasanya bahasa yang ketiga adalah bahasa Mandarin. Nanti kita cari tahu ya.

Bahasa Arab di sign board
Tidak semua hewan buas langsung menampakkan diri, namun harimau bengal dan beruang merupakan yang langsung terlihat begitu kita memasuki daerah mereka. They are really big, dan sama seperti kekaguman saya pada kulit zebra, motif harimau juga sangat cantik dan seperti tiga dimensi. Mereka sedang bersantai di bangunan yang menyerupai beranda tetapi sangat teduh karena pepohonannya ekstra banyak. Sementara itu, puma bertengger di puncak bukit dan tersamar oleh warna alam, namun masih terlihat walaupun kami berada sekitar 25 meter didepannya. 

Kudanil dengan bangga memperlihatkan giginya...
Sungai jernih yang melintasi jalan
Menjelang akhir perjalanan, kami disambut oleh sungai yang mengalir melewati jalan, dengan air yang sangat jernih. Di salah satu aliran air, terdapat seekor kudanil dengan seorang pawang. Luckily, kami diizinkan mendekatkan mobil dan melihat si kudanil membuka mulutnya dengan sangat lebar sehingga terlihatlah giginya yang tumpul dan jarang. Persis seperti di buku.


Finally, we finish the safari and ready for the next part: amusement park.