Showing posts with label zoo. Show all posts
Showing posts with label zoo. Show all posts

Sunday, April 17, 2016

Serunya Animal Shows di Taman Safari

Dalam post sebelumnya, saya dan keluarga berpetualang mengikuti kelokan jalan setapak Taman Safari dan bertemu para hewan yang dibiarkan lepas. Sekarang, tiba saatnya untuk memasuki area taman hiburan atau amusement park . Karena sudah menunjukkan waktu dhuhur, kami sepakat untuk sholat terlebih dahulu di musholla area parkir B kalau tidak salah, karena area parkir dibagi menjadi tiga (A,B,C).

Mushollanya memang tidak besar, tetapi cukup bersih. Begitu juga toilet dan tempat wudhunya, bersih dan airnya dinginnn... Saya sempat mengurungkan niat untuk solat saat itu melihat mushollanya tampak penuh. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk solat saja daripada harus cari musholla lagi, ternyata tidak lebih dari 10 orang yang sedang sholat di area wanita. Sisanya? Ada yang makan, menidurkan bayi, touch up, dsb. Padahal sudah ada larangan makan di musholla lho..

Toilet dengan background hutan

Musholla semi open air
Naik Kereta Gantung
Baiklah, kini saatnya kami menjelajahi isi amusement park..! Peta sudah ada di tangan tetapi belum saya amati dengan detil karena si anak masih duduk anteng melihat gajah safari. Sayang, harga satu putaran mencapai 250 ribu rupiah. Kalau gitu menonton saja ya nak, hehe... Di sekitar kami parkir ada juga kereta gantung dan Baby Zoo. Akhirnya kami memilih untuk naik kereta gantung. Sempat bimbang, karena sekali naik Rp 50.000, lumayan juga...namun suami benar-benar ingin melihat Taman Safari dari atas, so here we go...!

Ternyata, Taman Safari begitu luasss..... Alhamdulillah kami memutuskan untuk naik kereta gantung, karena kami jadi tahu apa saja yang bisa kami nikmati di sini. Karena saat itu libur Imlek, kami melihat ada pertunjukan barongsai di dekat area cafe. Selain itu ada juga waterparknya, lho. Saya benar-benar baru tahu, dan tampaknya banyak orang berpikiran sama dengan saya karena waterparknya cukup lengang padahal bagus, luas, dan terawat. Kereta gantung terus mengarah ke atas (saya tidak tahu arah mata anginnya) yang membuat kami tersadar bahwa kami parkir nun jauh di ujung sehingga agak ngos ngos juga kalau harus jalan ke area-area lain. Jadi, begitu turun dari kereta, kami memutuskan untuk melihat pertunjukan hewan atau animal education shows.

Naik kereta gantung tanpa antri
Kolam renang tampak atas, bikin pengen nyebur
Aksa melihat pemandangandi bawah
Setelah tanya security –yang siap siaga hampir di setiap persimpangan-, kami pun pindah area parkir untuk mengejar Dolphins Show. Sayang, begitu kami mendapat parkir dan turun dari mobil, pertunjukan baru saja usai. Saya sempat takjub melihat desain bagian depan lokasi dolphins show yang dibuat menyerupai bahtera Nabi Nuh. Benar-benar bagus. Saya melempar pandangan ke sekeliling dan cukup senang menyadari bahwa tempat ini terawat dengan baik, dan sangat marketable. Semua papan informasi, penunjuk jalan, signboard jenis hewan didesain dengan apik dan modern. Ini salah satu objek wisata yang saya akan dengan percaya diri mengajak teman berkebangsaan asing untuk kemari.

Bahtera yang keren..
Mengejar show demi show
Karena gagal menonton show pertama, kami pun berniat mengejar show berikutnya, yaitu Tigers and Lions Show jam 13.30. Sempat bingung apakah jalan kaki atau naik mobil, akhirnya kami bertanya pada petugas yang mengarahkan untuk berjalan kaki....dan ternyata it was quite a long walk hingga ketika kami sampai, show sudah sampai bagian penutup dan sudah penuh sesak. Berkaca pada pengalaman tersebut, kami pun berniat stand by setidaknya 15 menit lebih awal di arena. 



Alhamdulillah, kami berhasil menonton Birds of Prey, pertunjukan burung-burung pemangsa yang ukurannya besar, seperti elang. Menempati sejenis lapangan dengan tiga deretan bangku panjang, show ini menurut saya sangat menarik. Saya memang tidak terlalu tertarik dengan burung, tetapi sang pembawa acara (yang mengingatkan saya pada presenter acara-acara traveling di TV) berbicara dengan sangat lancar, terkadang diselipi humor. Tidak lupa, penonton pun dilibatkan dalam beberapa atraksi. Setelah show usai, kami sempat membeli makan dan minum karena bekal tertinggal di mobil.

Pertunjukan Birds of Prey
Next show yang kami incar adalah Sea Lions Show. Karena letaknya tidak jauh dari Birds of Prey, kami langsung masuk ke arena. Panggungnya berada di tepi kolam kaca, sehingga kita bisa melihat singa laut tersebut berenang. Berbeda dengan atraksi burung, singa laut lebih banyak melakukan gerakan sesuai aba-aba pawangnya, seperti bertepuk tangan dan bermain bola. Oh ya, penonton sempat diajak oleh seekor singa laut bernama Morgan untuk bermain bola. Ketika bola disundul ke arah penonton dan mengarah ke saya, saya reflek menangkis bola tersebut hingga mengenai kepala seorang penonton di depan saya. Maaf ya pak... harusnya memang saya tangkap bola itu.. 

Di show ini, ada satu hal yang saya tidak sukai, yaitu ketika seorang pawang diminta untuk menggigit ikan di mulutnya sementara ia berdiri di ujung tiang sehingga ketika singa laut memakan ikan tersebut, secara tidak langsung mencium bibir si pawang. Others laughed because of this but I didn’t think that’s funny. Saya bisa melihat wajah sang pawang yang sangat tidak nyaman.

Detok-detik menjelang adegan kissing itu, hhh...
Baiklah, show terakhir yang kami incar adalah Tigers and Lions. Mungkin karena arenanya lebih sempit atau karena memang peminatnya ekstra banyak, show ini langsung sesak pengunjung bahkan sebelum dimulai. Lucky us, bisa duduk dengan tenang di deretan nomor 4. Kali ini, pawangnya benar-benar seperti presenter televisi: dua orang laki-laki berbadan kekar dan seorang wanita yang wajahnya mirip finalis Asia’s Next Top Model cycle 3, Tahlia. Sama seperti pawang burung tadi, mereka juga berpakaian safari coklat.

Super penuh!
Setelah "anak didik" berhasil melakukan satu atraksi, pawang langsung menyuapi mereka
Adegan ini yang bikin saya deg-degan

Atraksi tiga ekor harimau ini memang paling bikin deg-degan. Bagaimana tidak, saat show dimulai, seekor harimau memanjat tiang kayu yang tingginya melebihi pagar pengaman arena. He could have jumped to the audiences! Selebihnya, saya cukup menikmati show pamungkas ini. Para harimau menunjukkan kemampuan mereka untuk berjalan dua kaki, termasuk berjalan dengan menumpukan dua kaki depannya ke bahu para pawang. Saya melihat hubungan para pawang dengan hewan-hewan ini sangat dekat, seperti usapan di kepala ketika si singa bisa melakukan perintah, atau si mbak pawang elang yang paham bahwa burung tersebut sedang lelah sehingga menolak diajak foto bersama pengunjung.

Di postingan berikutnya, saya akan bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang sempat kami jelajahi...

Monday, March 21, 2016

Menyusuri Free Range Wildlife Taman Safari

Seorang anak memberi wortel kepada rusa
Percaya atau tidak, ini pertama kalinya saya pergi ke Taman Safari. Iya, di usia saya yang ke 30 tahun ini. Memang sih, saya besar di Jogja, jadi objek wisata di luar kota menjadi tidak terjamah. Kalaupun iya, pilihan pasti jatuh ke Dufan dan sejenisnya mengingat Taman Safari lebih cocok untuk anak-anak. Karena sekarang saya punya anak balita, maka saya mendadak terobsesi dengan semua objek wisata yang bisa membuat anak saya super happy berada disana, hehe..

Setelah membulatkan tekad untuk mengunjungi Taman Safari, (yang artinya menyisihkan budget Rp 150.000 dikali tiga) kami pun memilih hari Sabtu di awal bulan dan berangkat jam 8.30. Biasanya, kalau mau ke arah Bogor atau Puncak, jam 9 ke bawah masih aman dari macet. Sayangnya, kami salah memilih rute melalui kota Bogor dan menghabiskan tiga jam lebih untuk sampai ke lokasi. Sementara itu, pulangnya kami hanya membutuhkan 1,5 jam melalui jalur berbeda.

Gerbang masuk jalur safari mobil
Sampai di Taman Safari, Aksa yang memang sedang gandrung-gandrungnya dengan segala jenis hewan langsung tidak berkedip memandang patung-patung hewan di gerbang masuk dan loket, plus berteriak-teriak heboh. Setelah membayar dan mendapatkan tanda masuk serta brosur merangkap peta, kami pun mulai memasuki jalur safari/free range wildlife. Jalur ini mengingatkan saya pada film Jurrasic Park, dengan gerbang kayu dan sungai yang membelah jalan. Mobil pun berjalan pelan, cukup banyak mobil yang beriringan bersama kami.

Akhirnya, muncullah rusa-rusa yang cantik (they are!) dan Aksa pun mulai heboh memanggil rusa. Kaca mobil pun kami buka agar bisa melihat hewan tersebut dengan lebih jelas. Saya melihat mobil-mobil lain menyorongkan seikat wortel kepada rusa-rusa tersebut. Olala, ternyata deretan penjual wortel di jalan masuk Taman Safari itu untuk makanan hewan toh, saya hampir saja membeli untuk dimasak di rumah karena saya kira daerah itu merupakan penghasil wortel, haha..

Hello boy, can I help you? (Combo hemat 2 ya rusa :p )
Sambil menyusuri jalan, kami memicingkan mata untuk melihat hewan berikutnya karena terkadang mereka berwarna gelap dan sedang tidur atau berada di balik semak. Gajah, unta, dan jerapah langsung jelas terlihat sedangkan tapir babi rusa jumlahnya lebih sedikit. Binatang yang disebut belakangan memang less popular di kalangan anak-anak dan buku cerita, sehingga ketika anak bertanya itu apa, saya dan suami harus berpikir sejenak (lalu melihat peta, dan celingukan mencari sign board) baru berkata “Ooooh...itu tapir!”Ah, andai saja masih jamannya RPAL & Buku Pintar...

Satu hewan yang menurut saya sangat mengesankan adalah zebra. Baru kali ini saya melihat dengan sangat nyata motif garis di tubuh zebra: luar biasa mulus, dengan hitam putih yang bold, dan masya Alloh pokoknya..cantikkk sekali. Oya, salah satu zebra sempat hampir memasukkan moncongnya ke jendela dan sukses meninggalkan beberapa mili air liur. Aksa yang tadinya pede meletakkan dagunya di kaca jendela pun sontak mundur, haha.. Si zebra dan teman-temannya pun melenggang dengan santai di antara mobil-mobil, termasuk berhenti sejenak hingga suami harus benting setir ke kiri karena sang hewan tidak kunjung beranjak dari posisinya. Hhhh...

Kami yang menjadi tamu, so kami yang mengalah...
Mulusss...
Tampaknya si ayah sedikit takut...
Memasuki area hewan buas, terlihat cukup banyak papan peringatan untuk tidak membuka jendela apalagi turun dari mobil. Saya sedikit penasaran, kenapa setiap sign board tertulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Arab? Biasanya bahasa yang ketiga adalah bahasa Mandarin. Nanti kita cari tahu ya.

Bahasa Arab di sign board
Tidak semua hewan buas langsung menampakkan diri, namun harimau bengal dan beruang merupakan yang langsung terlihat begitu kita memasuki daerah mereka. They are really big, dan sama seperti kekaguman saya pada kulit zebra, motif harimau juga sangat cantik dan seperti tiga dimensi. Mereka sedang bersantai di bangunan yang menyerupai beranda tetapi sangat teduh karena pepohonannya ekstra banyak. Sementara itu, puma bertengger di puncak bukit dan tersamar oleh warna alam, namun masih terlihat walaupun kami berada sekitar 25 meter didepannya. 

Kudanil dengan bangga memperlihatkan giginya...
Sungai jernih yang melintasi jalan
Menjelang akhir perjalanan, kami disambut oleh sungai yang mengalir melewati jalan, dengan air yang sangat jernih. Di salah satu aliran air, terdapat seekor kudanil dengan seorang pawang. Luckily, kami diizinkan mendekatkan mobil dan melihat si kudanil membuka mulutnya dengan sangat lebar sehingga terlihatlah giginya yang tumpul dan jarang. Persis seperti di buku.


Finally, we finish the safari and ready for the next part: amusement park.

Saturday, January 16, 2016

Ada Mini Zoo di Katoomba!

Sebagai warga Jakarta coret, saya gemar mencari tempat weekend yang hijau, seperti taman dan destinasi wisata ramah anak. Tiga tahun tinggal di Kabupaten Bogor, saya baru sadar ada green park yang worth visit, hanya 5 menit dari rumah. Duh, kemana aja ya saya?

Sebetulnya sudah lama saya mendengar tentang Katoomba, tetapi hanya sebagai kolam renang saja. Plang-nya cukup besar di tepi jalan, tetapi karena lokasinya masuk ke gang kecil saya jadi underestimate. Sempat lihat juga foto DP tetangga saat berenang di sana, dan saya makin mantap tidak tertarik kesana, haha..


One day, arisan RT diadakan disana, sekaligus penutupan arisan periode ini. Pas suami juga sedang libur, saya ajak anak dan suami untuk berenang. Maksudnya, saya arisan sementara anak dan suami berenang (curang ya). Sampai di sana, ternyata tempatnya bagus. Dari depan memang terlihat sempit, gerbangnya pun biasa saja, hanya ada pos satpam yang ternyata merupakan loket pembelian karcis.

Playground yang bersih (termasuk bersih dari orang, haha)
Ketika memasuki area Katoomba, ternyata tempatnya asri, banyak taman dan mainan untuk anak seperti ayunan dan perosotan. Kolam renang menempati area sebelah kanan, sementara taman dan gazebo di sebelah kiri. Karena arisan belum dimulai, kami bertiga pun jalan berkeliling. Aksa senang sekali. Selain bisa main perosotan, ia juga bisa melihat patung berbagai hewan berukuran besar. Di ujung belakang Katoomba, ada restoran yang berada di atas sebuah kolam, begitu juga di tepi kolam renang. Tempat ini ternyata juga menyasar aktivitas meeting dan pesta. Untuk arisan, kami menyewa sebuah gazebo dengan harga Rp 350.000 tapi saya tidak tanya fasilitas apa yang diperoleh cuz it sounds too pricey for me.

When it seems like that’s the end of the path, I heard my neighbor said his son was looking at the animals. Okay, saya pikir tidak ada salahnya melihat beberapa hewan, Aksa pasti suka. Kami pun berbelok ke kiri dan mulai menemui beberapa ayam dan burung di kandang. Eh, tapi kok ada monyet juga ya? Wah, seperti kebun binatang nih. Saya pun mengikuti jalan setapak dan menemui lebih banyak hewan di sana. Ada berbagai burung seperti bangau, lalu luwak, termasuk kuda (tapi saya lupa melongok kandang kuda, cuma sempat melihat dari jauh saja). Yang saya sadari belakanga, ternyata Katoomba juga merupakan Mini Zoo. Pantas saja.

Aksa takut monyet
Burungnya bagus-bagus motifnya
Harus digendong biar keliatan
Untuk ukuran tiga hektar, mini zoo-nya cukup bagus dan bersih, harga tiket masuknya pun terjangkau, Rp 25.000 rupiah. Bagi saya , kebersihan cukup mempengaruhi penilaian. Kebetulan, saya datang jam 9 pagi di hari Sabtu sehingga kondisi belum begitu ramai. Kalau saya bandingkan dengan foto kolam renang yang ada di website, foto yang di website seperti cendol, haha..

Setelah semua kandang binatang dikunjungi, Aksa dan ayahnya pun berenang. Jika tidak membawa ban, di sana disediakan kok. Kalau lapar, banyak booth di tepi kolam renang dengan makanan yang harganya terjangkau. Beberapa anak tetangga malah main pasir dengan cetakan seperti di pantai, karena di playgroundnya ada juga area pasir yang cukup bersih. Yang tidak bersih hanya satu, kata suami saya, yaitu kamar mandi di kolam renang. Saya tidak sempat melihat sih, karena Aksa saya mandikan di shower luar. Selesai berenang, kita juga bisa menyewa ATV yang berada di bagian ujung Katoomba.

Aksa betah melihat angsa di kolam ini
Sebagai tambahan hasil browsing di Google, ternyata Katoomba juga memiliki pemancingan, ruang menyusui, musholla, dan loker. Bagi warga Bogor dan sekitar Cibubur, mungkin green park ini bisa dijadikan alternatif. Sebaiknya berkunjung di pagi hari ketika masih sepi atau (jika sedang tidak bekerja) hindari weekend.


 
Gambar ini saya ambil dari google karena saya malah tidak memotret kolam renangnya :/