Friday, March 2, 2018

Manajemen Emosi, Bagaimana Caranya?


Akhir-akhir ini, kepala saya sering dibuat pening oleh Aksa, anak sulung saya yang berusia 4,5 tahun. Bagaimana tidak, ia sedang senang-senangnya melempar mainan ke arah adiknya dan ibunya, dengan atau tanpa sebab. Saya yang kadang sudah terlalu lelah berkutat dengan urusan rumah tangga pun sering tersulut emosinya dan akhirnya membentak atau menghukumnya. Hanya sesal yang ada setelah itu.

Ketika minggu lalu ada sharing session mengenai manajemen emosi yang diadakan oleh JMP (Jogja Muslimahpreneur Community), saya pun langsung memutuskan untuk ikut. Pembicaranya adalah Hendri Harjanto, Trainer dan Grafolog, Founder Omah Tentrem.

Ternyata, emosi itu tidak melulu berbentuk negatif lho. Beliau mengambil contoh film Inside Out, yang menggambarkan bahwa setiap bentuk emosi memiliki tugasnya masing-masing. Nah, untuk bisa mengelola emosi dengan baik, kita harus memahami bahwa emosi itu melibatkan otak dan hati. Dimanakah hati? Menurut Pak Hendri sih di jantung, pusat kehidupan seseorang karena ialah yang memompa darah ke seluruh tubuh.


Nah, kenapa kita kalau kelepasan marah seringnya menyesal kemudian? Karena bagian otak yang bekerja kala itu adalah pikiran bawah sadar kita. Saya lumayan kaget ketika tahu bahwa pikiran bawah sadar kita itu memegang peranan sekitar 80-90% sementara pikiran sadar kita hanya sekitar 5-10%. Yang perlu kita sadari, pikiran bawah sadar atau unconscious mind ini terbuka lebar (menyerap sesuatu) ketika ia dalam kondisi intens. Jadi, ketika anak dalam keadaan takut dan kita memarahinya, tahu kan, apa yang ia simpan di otaknya?

Masih berhubungan dengan otak, Pak Hendri juga berbagi informasi tentang gelombang otak. Karena ketika bagian ini Aksa minta ke toilet, pemahaman saya kurang utuh. Intinya sih, gelombang otak manusia ada gamma, beta, alpha, theta, delta. Ketika kita sadar seperti ini, otak kita berada pada gelombang beta. Gelombang alpha terjadi saat kita mengantuk namun tetap sadar. Karena itu, gelombang alpha digunakan untuk proses hypnosis karena menghubungkan pikiran sadar dan bawah sadar. Sementara itu, gelombang theta muncul saat kita dalam kondisi tertidur ringan atau dalam kondisi ibadah yang khusyuk. Bayi dan balita mostly memiliki gelombang theta dan alpha karena mereka tidur 12 jam sehari.  Kedua gelombang ini adalah pikiran bawah sadar, sehingga anak-anak mudah menerima perkataan orang lain apa adanya. So, sortir kata-kata kita ya buibu khususnya kalau sedang emosi..

Oke, dari penjelasan di atas, kurang lebih kita jadi tahu bahwa pikiran bawah sadar memiliki peranan yang besar, termasuk ketika kita sedang dalam keadaan emosi yang kurang stabil. Lantas, bagaimana solusinya?

Orang Indonesia (kata Pak Hendri ya, saya tidak tahu benar tidaknya) rata-rata memiliki dua kebiasaan terkait dengan emosi. Pertama, melampiaskan. Kalau diibaratkan bisa seperti magic jar saat sedang proses menanak nasi: keluar asapnya saja tapi nasinya masih di dalam. Kedua, menekan. Kalau yang ini ibaratnya seperti pegas: jika ditekan terus maka suatu saat akan melontar. So, keduanya sama-sama kurang sehat ya. Ujung-ujungnya menyesal deh.


Nah, agar emosi negatif tersalurkan dengan lebih sehat, caranya adalah AIR. Akui-Ijinkan-Relakan. Misalnya, kita bad mood karena sariawan yang tak kunjung sembuh. Maka, akui saja kalau kita memang merasa kesal dan terganggu dengan adanya penyakit tersebut. Lalu, ijinkan penyakit tersebut untuk menghuni mulut kita untuk sementara waktu. Lihat sisi posistifnya. Mungkin saja sariawan tersebut adalah pertanda kita harus lebih memperhatikan kesehatan, atau mungkin dengan adanya sariawan tersebut, kita jadi lebih sedikit ngomelin anak dan suami, hahah.. Terakhir, relakan. Relakan segala rasa sakit dan kesal itu untuk kita alami dan kemudian pergi.

Mudah ya bacanya.. Susah ngejalaninnya J

Untuk bisa pintar mengelola emosi, tentu saja kita harus berlatih. Yang dilatih adalah menjangkau pikiran bawah sadar kita, karena disanalah semua berasal. Pengulangan bisa menjadi salah satu caranya. Jangan terlampau sedih kalau belum berhasil, ya. Yang penting semangat untuk berubah tidak hilang. proses transformasi ini memiliki pola: tidak sadar-sadar-berlatih-berubah. Semua manusia bisa berubah, asalkan ia mau.

Satu lagi. Kita bisa mengubah orang di sekitar kita dengan gelombang elektromagnetik yang kita miliki. Ternyata, setiap orang memancarkan gelombang. Pernah merasakan hatinya mendadak adem ketika datang mengunjungi suatu masjid? Itu adalah salah satu contoh bahwa gelombang elektromagnetik orang-orang yang pernah beribadah disana tertinggal dan memancarkan energi positif.  

Kalau kita sedang uring-uringan sejak mata terbuka di pagi hari, bisa saja orang serumah mendadak “kesamber” gelombang negatif kita. Karena itu, melatih diri untuk mengatur emosi tadi penting sekali, apalagi saya menghadapi makhluk-makhluk mungil yang siap mencontoh saya 24 jam! Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal.

Jadi, sudah siap berlatih dan berubah ya!


photos: instagram @jogjamuslimahpreneur

0 komentar:

Post a Comment