Friday, October 14, 2016

Weekday Getaway di Eastparc Hotel Jogja

Setelah seminggu lebih berkutat dengan acara packing dan unpacking pindah rumah, suami memberi hadiah istimewa: menginap di hotel. Yeayyy..! Kebetulan, kantornya memiliki voucher menginap di Hotel Eastparc Yogyakarta. Betul, ini ceritanya gratisan.

Lokasi hotel hanya sekitar 2 km dari rumah orangtua saya, dan tidak sampai 1 km dari rumah adik saya (inilah enaknya Jogja, mana-mana dekat). Saya sendiri tidak tahu Eastparc tergolong hotel bintang berapa, berapa rate harganya, dsb. Niat saya hanya ingin datang dan menikmati hidup di sana, haha..

So, saya, suami, dan anak datang sekitar jam 2 untuk check in. Saya sengaja meminta suami check in sendiri sementara saya dan anak yang sedang tertidur menunggu di mobil dulu karena tidak ingin menunggu terlalu lama di lobby (ada beberapa hotel yang membutuhkan waktu lumayan untuk mempersiapkan kamar). Ternyata, tidak sampai 15 menit suami sudah turun lagi dan kami pun langsung membawa barang-barang ke dalam hotel. Karena kamar berada di gedung belakang (gedung depan khusus untuk meeting rooms) sementara lift di basement hanya terhubung ke gedung depan, jadilah saya menggotong dua travel bag yang lumayan beratnya untuk bumil menaiki tangga ke lobby sementara suami membawa ransel sembari menggendong anak.

Sampai di lobby, sudah ada seorang mbak yang menyambut kami dengan ramah dan menunjukkan jalan menuju kamar. Si Mbak (mungkin dia customer relations dan sejenisnya) juga menjelaskan cara memakai kartu akses untuk memasuki area hotel, lokasi kolam renang dan sarapan untuk besok, serta sempat menyapa anak saya yang akhirnya terbangun. Saya merasa seperti tamu agung, hehe..soalnya di hotel lain nggak pernah disambut seperti ini.

Akhirnya kami pun naik ke kamar di lantai 5. Begitu melihat ke dalam kamar….wow. Di luar ekspektasi saya. Ukuran kamarnya terlihat cukup besar, dilengkapi dengan balkon. Oh ya, saya mendapat kamar tipe Deluxe Room, yang saat itu sedang promo dengan harga Rp 820.000 semalam. Tempat tidurnya terlihat mewah dengan dekorasi bantal suede merah dan coklat, belum termasuk bantal tidur 4 buah yang besar dan empuk.







Bagaimana dengan kamar mandi? Saya juga suka…! Pintunya seperti lemari, dengan dua tipe shower, posisi kloset yang ngumpet (terlindung tembok dan lukisan), toiletries yang lengkap (shower capnya pun dilengkapi karet rambut), hairdryer, dan….tali jemuran. Serius, ini pertama kali saya liat tali jemuran di kamar hotel (iya saya memang katro’ haha). Bentuknya seperti tombol alarm, ternyata kalau ditarik jadi tali. Bagus lah, bisa jemur baju renang basah disini.




Keluar dari kamar mandi, ada lemari yang cukup besar. Sisi kiri berisi safety box, laci untuk laundry dan sandal hotel, serta dua bathrobe. Sisi kanan berisi…setrika dan papannya! Saya kemudian membayangkan cucian kering yang menumpuk di rumah mertua. Kalau saja saya tahu ada setrikaan disini, saya setrika di sini sambil menunggu suami pulang kerja haha..



Ketika suami kembali ke kantor, tinggallah saya berdua dengan si anak di kamar. Mau berenang tetapi baju renang saya baru bisa diantar nanti malam. Akhirnya saya menyalakan televisi sambil mengetes keempukan bantal dan kasur, sementara anak saya membongkar tas mainannya ke lantai. Mendadak mata saya tertuju ke bawah TV. Ada dua benda yang belum saya amati, yaitu sekotak kecil bakpia dan timbangan digital. Saya pun dengan semangat mencoba timbangan. Bakpia saya coba di rumah setelah pulang, dan rasanya enak banget! Ukurannya memang relatif kecil tetapi sangat lembut, dengan 6 rasa. Merknya Bakpia Jogja dengan logo Tugu Jogja.



Untuk mencegah anak terhipnotis di depan layar televisi, saya pun mengajak Aksa keluar kamar melihat-lihat fasilitas hotel. Kami bertemu lagi dengan Si Mbak yang mengantar kami tadi, dan dia masih ingat nama anak saya lho. Kami pun melihat-lihat kolam renang dan memutuskan untuk bermain di playground. Playgroundnya bagus..! Selain mainannya lengkap, kondisinya pun bersih dan terawat dan asri. Kebetulan hari itu adalah Senin, sehingga hotel relative sepi dan semua fasilitas berasa milik sendiri. Sembari Aksa mencoba semua mainan di playground, saya melongok ke sebelah playground yang ternyata area kebun hidroponik. Baru esoknya saya tahu bahwa kebun ini sudah pernah panen beberapa sayuran untuk keperluan restoran hotel. That’s really cool. Beberapa kali pun saya sempat berpapasan dengan kupu-kupu di depan restoran dan lebah di playground.





Meskipun terinterupsi oleh hujan, saya cukup puas bisa mengajak Aksa bermain di playground dan berkeliling hotel. Acara selanjutnya adalah mandi sore (yang ini selalu butuh strategi, apalagi kamar mandinya bukan yang di rumah sehingga butuh ekstra bujukan). Alhamdulillah, setelah Aksa merasakan hangatnya air shower, ia malah tidak mau berhenti. Maaf ya, untuk kali ini prinsip hemat air saya abaikan, karena saya lihat ia mulai berani memasukkan kepalanya ke bawah pancuran. Biasanya kalau keramas pun harus menengadah agar wajahnya tidak terguyur air #emakgaktegaan.

Sorenya, kami masih sempat menikmati langit Jogja di teras dan mencari pesawat kesukaannya, nyemil sambil nonton TV, main di kasur, dan bermain mobil-mobilan dengan lintasan di bangku sebelah meja kopi, hingga ayahnya datang.

Keesokan harinya, kami turun untuk sarapan di Verandah Alfresco. Kebetulan ada rombongan dari Epson sehingga restoran terlihat cukup penuh. Untungnya di dalam lebih lengang (restoran ada yang di teras dan ada yang di dalam ruangan), sehingga kami memilih untuk di dalam saja dan tidak ada asap rokok. Setelah mengelilingi seluruh meja sajian, ternyata menu di teras dan di dalam berbeda. It means, pilihan menunya buanyaaaak sekali…! Sajian di teras mostly masakan nusantara seperti gudeg, bubur, nasi kuning, mie kuah (ada juga jamu dan wedang ronde), sementara di dalam lebih internasional seperti sosis, beef bacon, roti dan pastry, sushi, dimsum, takoyaki, dessert, sereal, dan jus buah.



Dengan modal perut bumil, saya cukup pede mondar-mandir makan berkali-kali, hehe.. Secara kelengkapan menu dan kesigapan pramusaji mengambil piring kotor, saya beri nilai 9. Secara rasa, saya beri 7,5 kali ya.. (suami saya malah menilai sajiannya tidak ada masalah dalam hal rasa). Buat saya sih kurang nendang sedikiiiit aja tastenya. Banyak makanan yang enaknya ketika disajikan meleleh atau sebaliknya, tetapi disajikan di suhu ruangan. Misalnya takoyaki. Karena sudah dingin, ya terasa adonannya gitu. Dessert muesli juga, karena tidak terlalu dingin jadi agak jemek-jemek di lidah. Di egg station, saya baru mau order sesuai topping pilihan, eeeh sudah dikasih yang jadi. Ketika dinikmati ya otomatis sudah tidak mengepul, sementara dalamnya kan creamy. Baiklah..

Beberapa menu yang saya suka adalah tomat yang diisi seperti keju parmesan dan ditutup mozzarella lalu dipanggang, tapi saya lupa namanya. Mie kuahnya juga segar (saat memilih toppingnya pun saya sangat terbantu oleh “chef” yang masih PKL), enggak rasa MSG, dan diantar sampai meja. Sushi juga cukup enak (dan saya bisa menikmatinya karena bukan daging mentah), salad yang diletakkan di gelas kecil, plus jus kiwi.



Setelah selesai makan, ada seorang customer relations yang mendatangi meja kami dan mengajak ngobrol, small talks sampai bertanya tentang kesan kami di hotel ini. Untuk hotel baru di Jogja, adanya petugas semacam ini cukup efektif untuk perkembangan hotel lho. Soalnya kalau mengisi kartu saran, tidak semua customer sempat ataupun bersedia.

Setelah itu kami kembali ke kamar untuk berganti baju renang. Thanks to the bathrobes, sehingga saya tidak perlu bawa baju ganti ke area kolam renang. Oh ya, sebelum sarapan, saya sempat melongok fitness center yang terletak di tepi kolam renang anak, sekaligus menjemput suami yang sedang menjajal fasilitas di sana. Tempatnya kecil tetapi cukup lengkap. Baik kolam renang maupun fitness center hanya ditujukan untuk tamu hotel, sehingga kita tidak bisa datang untuk berenang saja. Kolam renangnya ada dua bagian, untuk dewasa sedalam 1,2m dan untuk anak 0,6 meter. Ada perosotan untuk anak dan pelampung (tetapi bukan ban). Airnya pun bersih walau dikelilingi pepohonan. Setelah puas berenang, kami pun ke playground (karena suami saya belum sempat melihat).



Sampai di kamar, mata sudah berat rasanya. Setelah mandi, kami masih sempat makan (saya sempat power nap 30 menit) hingga akhirnya tiba saatnya check out.

Alhamdulillah, senang bisa dapat kesempatan menginap di Eastparc. Kalau ditanya apakah hotel ini recommended, saya jawab ya. Masalah makan, itu selera ya. Tapi pelayanan dan fasilitas, dua jempol deh. Sebanding dengan harganya (apaan, orang saya ga bayar). Hotel ini juga sangat ramah anak. Lokasinya pun strategis, dekat bandara, tempat makan pun tinggal memilih di seberang jalan. Mau McD tinggal melangkah 200 meter. Saya pun sempat melihat petugas hotel mengantar delivery HokBen untuk tamu hotel. 

Sip lah. 

Saturday, September 3, 2016

Welcome Back, Dear Me!



Rasanya sedikit sulit untuk memulai menulis lagi setelah vakum sekian lama dari dunia perbloggingan. Postingan terakhir saya adalah pada akhir Juni 2016, so it’s been more than two months. Tapi tidak apa-apa lah, never too late to start again.

Beberapa challenge dari BEC terpaksa saya lewatkan begitu saja karena sejak ramadhan saya divonis...hamil. It’s not surprising as I guessed before, but the change during pregnancy surprised me a lot. Meskipun sudah pernah hamil, saya merasa kehamilan yang kedua ini sepertinya lebih challenging. Lebih banyak muntah, dibumbui migren hebat, plus ngidam makanan ber-MSG, aduhhh..

Alhamdulillah sekarang sudah masuk trimester kedua so I hope I’ll be able to blog more. Ide cerita yang dulu-dulu sih sudah menguap entah kemana, tapi pasti akan banyak ide cerita baru. Cerita kehamilan? Mmm...kok enggak ada ide ya, hehe... Mungkin sudah pernah hamil jadi lebih cuek kali ya. Beda sama waktu hamil pertama dulu masih sempat browsing ini itu. Obsgyn cari yang oke walo kantong bolong, kalau sekarang bidan aja cukup. Karena dulu USGnya di obsgyn, jadi rajin koleksi foto USG. Kalo yang sekarang, diingat-ingat saja udah cukup.

Cerita traveling juga jadi berkurang, kagak ada review-reviewan tempat, secara naik mobil buat wikenan ke Jakarta aja mabok. Dulu wiken ga boleh nganggur, harus jalan. Syukur-syukur bisa dijadiin postingan. Sekarang, Sabtu-Minggu harus istirahat. Kalo enggak, Senin-Jumat enggak fit dan partner mengajar saya lah yang akan terkena imbasnya, hehe..

So, selamat menjalani kehamilan for all pregnant moms out there. Buat yang tidak hamil, saya minta doa saja semoga kehamilan ini lancar hingga persalinan. Aamiin..

Sunday, June 26, 2016

Melongok Kandang Artistik Taman Safari

Bulan Maret lalu, saya berjanji untuk membuat cerita bagian ke-3 dari Taman Safari Trip saya dan keluarga. Ternyata baru kesampaian sekarang, mohon maaf...

Jadi, kalau melihat binatang lewat mobil dan animal show sudah saya bahas di postingan yang lalu, kini saatnya saya bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang saya suka, yaitu area kebun binatang. Jadi, kebun binatang ini membentang di sepanjang jalan. Setiap kali saya berjalan dari satu arena show ke arena lainnya, saya selalu melewati kandang berbagai jenis binatang. Berbeda dari kandang di kebun binatang pada umumnya, disini binatangnya diletakkan pada lokasi dengan desain menarik. Mari kita lihat:

Bersih, nggak seperti mau liat komodo
Keliatan kan komodonya?
Yang ini dalamnya ular
Saya cukup terpukau dengan tempat komodo ini. Dengan setting area tambang ala Wild Wild West, hewan-hewan didisplay di tempat yang artistik. Semula saya tidak tahu bahwa peti-peti kayu bertuliskan dinamit tersebut adalah kandang ular. Setelah saya melongok, olala..ternyata berbagai jenis ular sedang bergelung. Warna keseluruhan area ini match banget dengan hewan-hewan di dalamnya (ini bukan postingan OOTD kan?)


Monyet Jepang, sesuai namanya, diletakkan dalam kandang berbentuk beranda ala rumah adat Jepang. Sementara itu, Bekantan yang asal Kalimantan diletakkan di dalam rumah adat Kalimantan (lengkap dengan senjata dan perkakas khas borneo), namun dipisahkan oleh dinding kaca sehingga mereka tetap bebas bergelantungan dan kita aman melihat mereka.

Kandang Monyet Jepang
Sebagian display khas Kalimantan
Yang lumayan reachable adalah Binturong. Saya katakan demikian karena mereka seolah tidak diletakkan di dalam kandang, dan bisa saja melompat ke arah kita. Demikian halnya dengan buaya, mereka terlihat cukup santai berjemur di area berumput, sementara pengunjung melihat dari jembatan diatasnya. Sepintas terlihat bersih, mungkin karena pencahayaan yang terang ya...tidak seperti tempat reptil di kebun binatang lainnya yang biasanya temaram.

Can you find the crocs?
Jangan lompat ke saya ya!
Oya, ada pinguin juga lho! Tapi para pingu gak muncul-muncul, mungkin karena saya kesana menjelang jam 5 sore...jadi mereka sudah lelah dan istirahat. HP saya pun passs banget habis baterenya jadi tidak banyak yang bisa diabadikan.

Yang masih sejenis dengan pinguin adalah kolam lumba-lumba. Karena gagal masuk dolphin show, saya hanya bisa menikmati tempat pengunjung bisa berenang bersama lumba-lumba. Kebetulan kolam kacanya bisa dilihat langsung dari jalan. 

Berani berenang bersama mereka?
Penguins, where are you?
Tempat favorit lainnya: Meerkat!! Saya hanya pernah melihat meerkat di kartunnya Animal Planet tentang kampanye lingkungan. Ternyata aslinya imut banget....

Yang terakhir, saya suka dengan semua papan informasi di sini. Penyajiannya menarik dan mudah dicerna. Semoga kita tertarik membacanya ya....soalnya orang Indonesia itu kan...lebih suka....mmm...foto-foto, hehe...

Meerkatnya malah ketutupan
Lucu ya gambarnya? 
Singkat, padat, jelas.
Nah, kalau yang satu ini ceritanya lucu. Saat saya melintasi tempat bayi orangutan ini, saya tergoda untuk berhenti sejenak dan bercakap-cakap dengan bapak pawangnya. Saya tanya, "Umur berapa Pak?" (Orangutannya ya, bukan Bapaknya). 

Jawab sang pawang, " Satu setengah tahun". Sebagai ibu yang baru saja lulus menyapih anak, saya reflek dong bilang, "Wah, masih ASI donk!"

"Kalau ini udah selesai ASI. Bayi disini lepas ASI minumnya Bebelac. Kalau dua tahun ke atas ganti Dancow", jawab Si Bapak. Saya dalam hati tertawa, kaya manusia aja ya...!

Bayi orangutan peminum sufor
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dieksplor but we're running out of time. Paling enak ya nginep di sana (ada hotelnya lho!) jadi bisa masuk pagi-pagi dan mencoba semua wahana. Kalau saya sih, ini saja sudah puas banget, hehe...

Oh ya, saya masih ada utang jawaban pertanyaaan di postingan pertama, yaitu kenapa signboardnya tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan Arab)? Ternyata ketika masuk ke dalam, saya banyak menemui turis asal Timur Tengah. Mungkin memang prosentasenya banyak kali ya, sampai bahasa ketiganya bukan Mandarin tapi Arab. Baiklah...sekian dari saya, hope you enjoy!

EF16.11: A Dream (BigFam) Holiday

Holiday.

I’m on my holiday....at home. For a working mom, resting at home really means something. Of course, I still have a dream to travel with my family for the next holiday, after we have enough budget haha...

So, when I visited BEC’s blog today and read the latest challenge, I decided to write the post immediately. I am a visual person, the five photos that BEC provides for this challenge made it easier for me to arrange my words. And....this is the pic I picked!


Yes, picnic with a bunch of people. 

This picture reminds me of my dream to have a trip with my big family. We only have a chance to get together, the complete set from uncles to grandchildren when: one of us get married or Lebaran. Fortunately, these four years my cousins (including me) got married one by one, so we had fun met up in ones’ wedding parties, with same-color kebaya, and family pictures! The stage is getting smaller to fit all of us because more of us have spouse and kids. Yeayy!

I can imagine how fun it would be if we all (my father and his 5 siblings, including their spouse, children, and grandchildren) go somewhere near but fresh (let’s say Kaliurang or Tawangmangu) to spend a night together. There are lots of new places in Jogja that are suitable for family vacation, too. 

But if I can set the bar higher, I’d like to choose Malang or Bandung, hehe... The kids will enjoy Batu Secret Zoo for sure. My parents and the pakdhe-budhe will also enjoy the family time since most of them now live separately from their married children. How wonderful to see everyone’s happy.

I hope this family-get-together will soon be realized J

Don’t forget to visit BEC’s blog, choose one pic, and write your story. It’s fun!

The Cousins.




Tuesday, June 7, 2016

Playdate at Taman Legenda TMII

Seminggu yang lalu, mendadak seorang teman SMA memasukkan saya ke dalam grup whatsapp Funtastic Legend Park. Ternyata, grup ini dibentuk untuk agenda playdate yang beberapa kali gagal terwujud. Alhamdulillah, akhir bulan lalu kami berhasil juga playdate plus reuni kecil-kecilan, walau hanya berempat (empat keluarga maksudnya..)


Lokasi? Taman Legenda TMII. Tidak sampai sejam dari rumah (apalagi berangkat di bawah jam 9 pagi). Terakhir ke TMII tahun 2005 saat masih kuliah, itu pun hanya ke anjungan-anjungan saja. Jadi, taman legenda ini termasuk baru, konsepnya seperti mini Dufan.

Karena bertepatan dengan akhir Ujian Nasional, Taman Mini lumayan penuh oleh bis rombongan murid sekolah. Saya sempat kuatir di Taman Legenda akan penuh sesak, tetapi tidak demikian. Mungkin karena harga tiketnya yang lumayan. Saya tidak membawa cash banyak, karena teman saya bilang tiket masuknya hanya 25-30 ribu saja. Ternyata, tiket tersebut belum termasuk tiket per wahana. Olala...

Daftar harga terpampang di atas loket. Sebaiknya tanya-tanya agar tidak salah pilih tiket masuk.

Jadi, ada tiket terusan Rp 150.000 untuk bisa menikmati semua wahana. Usia dewasa maupun anak dikenakan biaya yang sama. Ada juga tiket yang bisa di top up berupa gelang berwarna merah seharga Rp 50.000 yang terdiri dari Rp 25.000 tiket masuk, Rp 10.000 jaminan yang bisa di refund di akhir kunjungan, dan sisa Rp 15.000 untuk naik wahana. Harga tiap wahana bervariasi. Untuk komidi putar Rp 20.000, Taman Dino Rp 30.000, Bianglala Rp 20.000. Dengan sisa saldo di gelang hanya Rp 15.000, otomatis kita harus top up. Di dalam arena ada tiga tempat top up plus bisa cek saldo. Akhirnya saya dan teman-teman pun memilih membeli gelang dengan alasan yang paling ekonomis, plus anak-anak kami masih di bawah 6 tahun rasanya tidak mungkin menaiki semua wahana.

Satu hal yang saya tidak begitu suka dari Taman Legenda adalah, pengunjung tidak diperkenankan membawa makanan dan minuman dari luar. Petugas benar-benar membuka tas kita dan mengeceknya. Karena saya bukan tipe nego (haha), saya pun hanya bisa membawa sekotak roti tawar isi selai plus botol minum anak saya dengan alasan, "Anak saya tidak boleh camilan ber-MSG". Teman-teman saya masih berani membawa botol minum mereka masing-masing (ternyata boleh) apalagi yang membawa bayi dan stroller, biasanya isi tas tidak dicek. Akibatnya, saya sukses membeli 5 botol air mineral ukuran kecil yang dihargai @Rp 10.000 atau Rp 15.000/2 botol. Hiks..

Terlepas dari itu, saya menilai Taman Legenda cukup cocok untuk playdate. Saya suka lokasinya yang bersih, ukuran tidak terlalu luas sehingga anak tidak mudah lelah berjalan kesana kemari. Musholanya juga bersih. Mungkin karena masih baru jadi lumayan terawat.

Pintu masuk Taman Dino: Sayapnya bisa mengepak lho!
Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Taman Dino. Awalnya saya ragu anak saya berani masuk ke sini. Setelah dibujuk, Aksa masuk dengan ayahnya sementara saya menunggu di loket. Lima menit kemudian, Aksa setengah menangis lari kembali ke arah loket, bablas sampai gerbang Taman Dino. Waduh... Ternyata di awal wahana tersebut, ada dinosaurus yang menyemburkan air dan Aksa pun terkena sembur, haha... Dengan iming-iming Yupi dan setengah terisak, Aksa pun kembali masuk dengan ayahnya, saya ikut juga.

Taman Dino memang tidak besar tetapi cukup menarik. Suasananya mengingatkan saya akan Jurrasic Park, dengan semak-semak dan jalan setapak. Ukuran dinosaurusnya pun besar dan sebagian besar bisa bergerak dan bersuara. Saking miripnya, Aksa selalu memperlambat jalannya ketika mendekati jenis dinosaurus yang baru. Ada beberapa dinosaurus yang dilengkapi dengan lubang sehingga kita bisa masuk kedalamnya dan berfoto. Saat saya masuk masih pagi sehingga untuk berfoto tidak butuh antre yang lama, karena terkadang kita harus menunggu pengunjung lain untuk berfoto terlebih dahulu.

Lihat kan semburannya?
Looks like real
Ayo siapa mau jadi anak dino..
Saatnya mencari tulang belulang si dino...
Di akhir rute Taman Dino, ada arena pasir dengan kerangka dinosaurus dari batu sehingga anak-anak bisa berpura-pura menjadi arkeolog. Seru! Saya dan suami sempat menemani Aksa membuat istana pasir sampai kemudian dia berani berinteraksi dengan anak-anak teman kami. Saatnya para ortu ngobroool haha...Setelah main pasir, jangan lupa cuci kaki dulu ya...ada kamar mandi dan wastafel di area ini. Terdapat juga toko suvenir dengan koleksi cukup menarik.

Keluar dari Taman Dino, anak-anak minta naik komidi putar. Karena saldo habis, saya dan teman pun mengisi saldo di area kolam renang. Lumayan rempong ya, belum kalau antri. Kebetulan ada murid-murid SD yang ramai-ramai top up, tetapi tidak antri. Pusing saya kalau sudah begini.



Kolam renang alias Anak Tirta
Tempat kami makan siang: Kafe Barong
Alhamdulillah, komidi putar berhasil dinaiki walau hanya sekian menit selesai. Karena sudah siang, kami mampir di Kafe Barong. Bentuknya seperti pendopo, dengan view menghadap kolam renang. Dan....untuk membeli makanan kami harus memakai saldo gelang lagi! Top up lagi deh...sangat-sangat tidak praktis, sebaiknya memang beli banyak sekalian saldonya, toh nanti bisa di refund kalau sisa. Baiklah, kami pun memesan makanan yang semua dihargai Rp 35.000 (kecuali snack). Menunya seperti soto, rawon, gado-gado sampai yang internasional seperti steak dan nasi katsu. Rasanya lumayan menurut saya, hanya saja seorang teman tidak menghabiskan sotonya karena minyaknya saaangat banyak.

Mobil tanjak
Sambil makan, kami pun ngobrol. Anak-anak bermain di sekitar pagar kolam renang, sementara Aksa nongkrong saja diatas Mobil Tanjak. Akhirnya saya pun luluh mengajaknya naik mobil yang digenjot tersebut. Untungnya masih ada saldo Rp 15.000, pas untuk 15 menit sekali naik. Ternyata, menggenjot mobil itu berat saudara-saudara! Saya aja nih yang kurang olahraga, tapi saya cukup suka karena bisa berkeliling Taman Legenda, yang mungkin saya tidak tahu seberapa luasnya karena tidak menaiki semua wahananya. Dengan naik Mobil Tanjak, saya jadi tahu ada kuda dan lapangan untuk gathering di area ini.

Konter refund. Rak di belakang adalah untuk menitipkan makanan yang terlanjur dibawa pengunjung tetapi tidak boleh dibawa masuk.
Sekitar jam 2, kami memutuskan untuk pulang. Beberapa dari anak kami sedang pilek, jadi mungkin it's time to rest. Sebelum pulang, kami sempatkan menonton Film Keong Emas di Teater Legenda yang gratis. Tidak lupa kami tukar gelang dengan jaminan Rp 10.000 dan sisa saldo. Quite a fun for today!

Penasaran dengan toilet dan musholanya? Inilah fotonya:


Wastafel dan toilet di Taman Dino
Musholla di dekat Museum Asmat


Saturday, May 14, 2016

It's Because AADC?2


Honestly, I’m not a cinema person. I used to, when I was a kid. I spent a weekend in a month to watch movies with my dad and my sister. When Empire 21 in Jogja was burnt and left no good cinema in the city, I stopped doing that routine. Fortunately, Ambarrukmo Plaza brought back a 21 to Jogja. At that time I was a university student and I went there quite often. The reason was quite simple: because I feel like it. If I didn’t feel like going there, I’d rather watch rented VCDs. The second reason was peer group. Few times I went to the cinema because we were 6 or more people. It added the fun, since we watched horror movies J

Now, after a long pause (4-5 years), I got the chance and mood to go to the cinema to watch...you know what, hahaha... Yup, right, AADC?2. Thank God I managed to watch it with my husband and sister because we were on a vacation in Jogja, and my mom kindly took care of my son when we were away. The “what-about-our-son” issue has always been there if I and my husband want to go to XXI. Thus, we never went there in this four-year marriage. Wait, we did! For the first time we had a night out at XXI in Jogja, watching The Dawn of The Planet of The Apes. It’s my sister’s choice, but I didn’t care since I really wanted to watch movie not on a cable TV (like we always did).

The reason was different with AADC?2. When the first AADC? was released, I was still in high school. I watched it with my highschool gank, lined up until parking area, made it to the lobby when the glass window of ticket box was broken already, and decided to quit because we couldn’t breath. Did we fail? No. We bought tickets from calo (broker?)...for three-times fold! So, you can see, this movie was so memorable. The soundtrack colored my high school days, and Dian Sastro has become my idol since the first time she was crowned as Gadis Sampul 1996.

Wow, that is more than enough reason to explain why I watched AADC?2 in the cinema. After this movie, I predict that I’ll back to my absence from the cinema, unless someone take care of my son. He’s almost three and I haven’t got the confidence to take him along. Maybe if he’s older we’ll watch children movie together, okay kid?

P.S: This post is a part of BEC English Friday Challenge.


Kecanduan Tabloid



Akhir-akhir ini saya sedikit mengalami kecanduan. Bukan, bukan kecanduan makanan manis seperti biasanya, tetapi kecanduan membeli tabloid. Tabloid wanita, tabloid gosip, atau tabloid hiburan tepatnya. Saya berusaha mengingat-ingat sejak kapan tepatnya keinginan untuk membeli tabloid ini seperti tidak bisa ditahan. Sepertinya sebulan terakhir ini saya bisa membeli sekaligus dua tabloid sekali beli. 

Awal tahun ini saya juga sudah mulai beli sih, tapi saya masih merasa rasional saat memutuskan untuk membeli. Kalau sekarang, saya seperti "nagih", haha... Asal tahu saja, di daerah tempat tinggal saya itu hanya ada satu kios koran dan satu los penjual majalah/buku bekas. Padahal daerahnya padat dan cukup luas, tapi tak sebanding dengan minat baca. Kios koran satu-satunya tadi terletak di tengah pasar yang jalannya hancur berat. Jadi kalau naik motor kesana harus rela isi perut bergoncang-goncang.

Kesediaan berkorban demi sebuah tabloid itu mungkin didorong oleh rasa lelah.. Sebulan terakhir, saya menjadi panitia inti sebuah event tahunan tempat saya mengajar. Ternyata cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Apalagi, tugas mengajar dan tetek bengeknya juga masih berlangsung. Sehingga, ketika sampai rumah saya ingin rileks, membaca yang ringan-ringan saja. Jadilah tabloid menjadi pilihan.

Meskipun ringan, saya tetap memilih isu yang diangkat oleh tabloid tersebut. Nova tetap yang paling sering saya beli, karena selain menurut saya beritanya up to date, nulisnya juga tidak asal, plus ada isu spesial yang sering mengupas tentang parenting. Saya juga sempat beli Bintang, biasanya karena berani mengangkat isu artis yang rada kontroversial walau saya tidak begitu suka ulasan tentang artis koreanya. Tabloid Nyata juga cukup infotainment, berita artisnya cukup padat.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa selera bacaan bisa berubah mengikuti fase hidup. Saat anak saya lahir hingga usianya 2,5 tahun, saya menjadi kolektor majalah Ayahbunda dan sejenisnya, sampai dibela-belain hunting majalah bekasnya karena yang edisi baru cukup mahal, hehe..

Sekarang sedang gandrung tabloid karena selain murah juga menyelesaikannya tidak menghabiskan banyak waktu. Dibaca sambil menemani anak bermain juga bisa. Sebelum event di atas menyita pikiran saya, saya bisa menghabiskan satu buku dalam seminggu, yang saya baca di sela-sela mengasuh anak sepulang kerja, atau sebelum tidur. Tetapi ketika otak sedang full, mengingat-ingat bagian terakhir yang kita baca dari buku agak sedikit berat, akhirnya malah menjadi beban, bukan hiburan.

So, for mommies out there, I suggest you to still read, whatever it is. Meskipun tabloid hiburan, saya masih merasa hal tersebut informatif lho. Beda lah dengan menonton televisi walau yang dibahas sama. Well, sebenarnya saya tidak bisa menonton televisi karena pasti akan disabotase si terrible two ini, begitu juga dengan mengakses internet lewat gadget. Kalo tabloid kan, anak saya enggak doyan, haha..

Sunday, April 17, 2016

Serunya Animal Shows di Taman Safari

Dalam post sebelumnya, saya dan keluarga berpetualang mengikuti kelokan jalan setapak Taman Safari dan bertemu para hewan yang dibiarkan lepas. Sekarang, tiba saatnya untuk memasuki area taman hiburan atau amusement park . Karena sudah menunjukkan waktu dhuhur, kami sepakat untuk sholat terlebih dahulu di musholla area parkir B kalau tidak salah, karena area parkir dibagi menjadi tiga (A,B,C).

Mushollanya memang tidak besar, tetapi cukup bersih. Begitu juga toilet dan tempat wudhunya, bersih dan airnya dinginnn... Saya sempat mengurungkan niat untuk solat saat itu melihat mushollanya tampak penuh. Ketika akhirnya saya memutuskan untuk solat saja daripada harus cari musholla lagi, ternyata tidak lebih dari 10 orang yang sedang sholat di area wanita. Sisanya? Ada yang makan, menidurkan bayi, touch up, dsb. Padahal sudah ada larangan makan di musholla lho..

Toilet dengan background hutan

Musholla semi open air
Naik Kereta Gantung
Baiklah, kini saatnya kami menjelajahi isi amusement park..! Peta sudah ada di tangan tetapi belum saya amati dengan detil karena si anak masih duduk anteng melihat gajah safari. Sayang, harga satu putaran mencapai 250 ribu rupiah. Kalau gitu menonton saja ya nak, hehe... Di sekitar kami parkir ada juga kereta gantung dan Baby Zoo. Akhirnya kami memilih untuk naik kereta gantung. Sempat bimbang, karena sekali naik Rp 50.000, lumayan juga...namun suami benar-benar ingin melihat Taman Safari dari atas, so here we go...!

Ternyata, Taman Safari begitu luasss..... Alhamdulillah kami memutuskan untuk naik kereta gantung, karena kami jadi tahu apa saja yang bisa kami nikmati di sini. Karena saat itu libur Imlek, kami melihat ada pertunjukan barongsai di dekat area cafe. Selain itu ada juga waterparknya, lho. Saya benar-benar baru tahu, dan tampaknya banyak orang berpikiran sama dengan saya karena waterparknya cukup lengang padahal bagus, luas, dan terawat. Kereta gantung terus mengarah ke atas (saya tidak tahu arah mata anginnya) yang membuat kami tersadar bahwa kami parkir nun jauh di ujung sehingga agak ngos ngos juga kalau harus jalan ke area-area lain. Jadi, begitu turun dari kereta, kami memutuskan untuk melihat pertunjukan hewan atau animal education shows.

Naik kereta gantung tanpa antri
Kolam renang tampak atas, bikin pengen nyebur
Aksa melihat pemandangandi bawah
Setelah tanya security –yang siap siaga hampir di setiap persimpangan-, kami pun pindah area parkir untuk mengejar Dolphins Show. Sayang, begitu kami mendapat parkir dan turun dari mobil, pertunjukan baru saja usai. Saya sempat takjub melihat desain bagian depan lokasi dolphins show yang dibuat menyerupai bahtera Nabi Nuh. Benar-benar bagus. Saya melempar pandangan ke sekeliling dan cukup senang menyadari bahwa tempat ini terawat dengan baik, dan sangat marketable. Semua papan informasi, penunjuk jalan, signboard jenis hewan didesain dengan apik dan modern. Ini salah satu objek wisata yang saya akan dengan percaya diri mengajak teman berkebangsaan asing untuk kemari.

Bahtera yang keren..
Mengejar show demi show
Karena gagal menonton show pertama, kami pun berniat mengejar show berikutnya, yaitu Tigers and Lions Show jam 13.30. Sempat bingung apakah jalan kaki atau naik mobil, akhirnya kami bertanya pada petugas yang mengarahkan untuk berjalan kaki....dan ternyata it was quite a long walk hingga ketika kami sampai, show sudah sampai bagian penutup dan sudah penuh sesak. Berkaca pada pengalaman tersebut, kami pun berniat stand by setidaknya 15 menit lebih awal di arena. 



Alhamdulillah, kami berhasil menonton Birds of Prey, pertunjukan burung-burung pemangsa yang ukurannya besar, seperti elang. Menempati sejenis lapangan dengan tiga deretan bangku panjang, show ini menurut saya sangat menarik. Saya memang tidak terlalu tertarik dengan burung, tetapi sang pembawa acara (yang mengingatkan saya pada presenter acara-acara traveling di TV) berbicara dengan sangat lancar, terkadang diselipi humor. Tidak lupa, penonton pun dilibatkan dalam beberapa atraksi. Setelah show usai, kami sempat membeli makan dan minum karena bekal tertinggal di mobil.

Pertunjukan Birds of Prey
Next show yang kami incar adalah Sea Lions Show. Karena letaknya tidak jauh dari Birds of Prey, kami langsung masuk ke arena. Panggungnya berada di tepi kolam kaca, sehingga kita bisa melihat singa laut tersebut berenang. Berbeda dengan atraksi burung, singa laut lebih banyak melakukan gerakan sesuai aba-aba pawangnya, seperti bertepuk tangan dan bermain bola. Oh ya, penonton sempat diajak oleh seekor singa laut bernama Morgan untuk bermain bola. Ketika bola disundul ke arah penonton dan mengarah ke saya, saya reflek menangkis bola tersebut hingga mengenai kepala seorang penonton di depan saya. Maaf ya pak... harusnya memang saya tangkap bola itu.. 

Di show ini, ada satu hal yang saya tidak sukai, yaitu ketika seorang pawang diminta untuk menggigit ikan di mulutnya sementara ia berdiri di ujung tiang sehingga ketika singa laut memakan ikan tersebut, secara tidak langsung mencium bibir si pawang. Others laughed because of this but I didn’t think that’s funny. Saya bisa melihat wajah sang pawang yang sangat tidak nyaman.

Detok-detik menjelang adegan kissing itu, hhh...
Baiklah, show terakhir yang kami incar adalah Tigers and Lions. Mungkin karena arenanya lebih sempit atau karena memang peminatnya ekstra banyak, show ini langsung sesak pengunjung bahkan sebelum dimulai. Lucky us, bisa duduk dengan tenang di deretan nomor 4. Kali ini, pawangnya benar-benar seperti presenter televisi: dua orang laki-laki berbadan kekar dan seorang wanita yang wajahnya mirip finalis Asia’s Next Top Model cycle 3, Tahlia. Sama seperti pawang burung tadi, mereka juga berpakaian safari coklat.

Super penuh!
Setelah "anak didik" berhasil melakukan satu atraksi, pawang langsung menyuapi mereka
Adegan ini yang bikin saya deg-degan

Atraksi tiga ekor harimau ini memang paling bikin deg-degan. Bagaimana tidak, saat show dimulai, seekor harimau memanjat tiang kayu yang tingginya melebihi pagar pengaman arena. He could have jumped to the audiences! Selebihnya, saya cukup menikmati show pamungkas ini. Para harimau menunjukkan kemampuan mereka untuk berjalan dua kaki, termasuk berjalan dengan menumpukan dua kaki depannya ke bahu para pawang. Saya melihat hubungan para pawang dengan hewan-hewan ini sangat dekat, seperti usapan di kepala ketika si singa bisa melakukan perintah, atau si mbak pawang elang yang paham bahwa burung tersebut sedang lelah sehingga menolak diajak foto bersama pengunjung.

Di postingan berikutnya, saya akan bercerita tentang bagian lain dari Taman Safari yang sempat kami jelajahi...