Monday, November 24, 2014

Study vs Teenage Life

www.manjur.net
Sesuatu yang berlebihan tidaklah baik.

Setidaknya itu yang saya simpulkan dari masa remaja saya dan suami.

Saat SD, saya termasuk anak yang berprestasi di bidang akademik. Sering juara satu di kelas. Hal ini tidak terlepas dari tangan dingin mama saya, yang membuatkan jadwal kegiatan saya sehari penuh, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sudah ranking pun masih disuruh ikut les mata pelajaran, termasuk bahasa inggris, piano, mengaji, belum termasuk ekskul di sekolah seperti menari dan paduan suara. Thank God I enjoyed my busy life, dan masih sempat bermain barbie J

Masuk SMP,  orangtua saya masih menekankan pentingnya prestasi akademik. Les bahasa Inggris dan bimbel masih menjadi menu utama, hanya saja di sekolah saya ikut ekskul paskib. Pulang pergi sekolah dan les diantar jemput, sehingga hidup saya hanya sekolah, les, pulang, belajar. Saya sudah keluar dari jajaran sepuluh besar di kelas, tetapi prestasi belajar masih bisa dianggap bagus. 

Meskipun demikian, saya merasa ada yang timpang. I don’t have good social life, alias enggak gaul, haha…

Menjelang lulus SMP, saya pun bertekad kuat untuk mengikuti sebanyak mungkin ekskul dan organisasi di SMA kelak. Pokoknya, pengen eksis!

Dan, saya membuktikan janji saya tersebut. Saya mengikuti setiap ekskul yang saya minati, gabung di OSIS, berbagai kepanitiaan, termasuk ikut macam-macam kompetisi. Rapot saya? Jarang tembus 15 besar, bahkan sempat bercokol di urutan ke 34, haha.. Tetapi saya tidak menyesal, karena sebagai remaja pada saat itu saya merasakan kebutuhan sosial saya terpenuhi.

Berbeda dengan suami saya. Ia masuk SD favorit, dengan jam belajar hingga sore hari, pengelompokan kelas unggulan dan non unggulan, ternyata membuatnya berpikir “that’s enough, I’m tired”. Akhirnya, ketika SMP ia menjadi kurang semangat belajar dan memutuskan untuk menikmati masa remajanya dengan banyak bergaul, berolahraga, dan ehm…berpacaran. Efeknya, ia merasa bersalah pada sang ayah dan bertekad: pokoknya, SMA saya mau giat belajar! Successfully, he became a study oriented highschooler :p

Dari pengalaman kami yang bertolak belakang, ada satu hal yang menjadi persamaan. Apa itu?

Bisa diibaratkan, kalau kita yang bekerja mengalami work-life imbalance, maka saya dan suami ketika remaja mengalami study-life imbalance. Kami merasa terlalu banyak belajar, hingga akhirnya yang muncul adalah ketidakpuasan. Ujungnya, kami mencari aktivitas lain yang bisa membuat kami gembira. Naluriah sekali, ya. Syukurlah kegiatan tersebut bukan hal yang negatif dan masih di dalam batas kewajaran.

So, was that our parents’ mistake to send us  to the best school, a lot of courses, thus made us study a lot also?

Saya rasa tidak, karena niat semua orang tua adalah baik. They want us to succeed. Hanya saja, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini, ketika anak kita kelak mulai sekolah.
Pertama, pilihlah sekolah yang ramah anak. Kita bisa melihat dari jam belajarnya, aktivitas belajarnya , staf pengajar, hingga kegiatan ekstra yang bisa dipilih oleh siswa. Jam belajar yang terlalu panjang bisa membuat anak lelah, meskipun dari kacamata orang tua kurikulumnya bagus. Apabila memungkinkan, ajak anak memilih sekolahnya. Sekarang banyak sekolah swasta yang menawarkan trial class, sehingga anak bisa merasakan bagaimana kelak proses pembelajaran yang akan ia jalani.

Kedua, jalin komunikasi yang intens dengan anak. Pastikan dari hal tersebut kita bisa mengetahui apakah anak senang atau tidak dengan kegiatannya di sekolah, kursus, maupun pergaulannya, begitu juga dengan siapa teman-temannya dan apa saja yang sering mereka lakukan bersama. Bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan anak kita? Artikel “Berbicara Agar Remaja Mau Mendengar dan..” bisa menjadi inspirasi.

Ketiga, walaupun kita produk pendidikan jadul, bear in mind that smart doesn’t mean getting good exam score. Masih banyak orangtua (termasuk saya sendiri) yang kadang terjebak berpikir bahwa nilai pelajaran yang kurang bagus merupakan tanda bahwa si anak kurang cerdas, padahal kita tahu bahwa pandai bergaul merupakan kecerdasan interpersonal dan cepat mempelajari alat musik merupakan kecerdasan musikal. Dengan berpikir bahwa everybody is smart, kita tidak akan memforsir anak kita untuk mahir di satu bidang yang ia tidak suka, atau bukan keahliannya.

So, pandai secara akademis bukan segalanya, yang penting adalah tanggung jawab dengan pilihan yang telah dibuat, dan menjalaninya dengan senang. Setidaknya, dari study-life imbalance saat remaja dulu, saya jadi bisa menemukan apa yang sebenarnya saya suka, dan sejauh mana “dosis” yang tepat untuk melakukannya. Suami pun jadi bisa berempati terhadap orangtuanya yang telah susah payah menyekolahkannya, dan akhirnya “bertanggung jawab” dengan cara kembali belajar dengan benar.

Lessons learned!

see the published version on http://mommiesdaily.com/2014/12/10/rpicstudy-life-imbalance/




Si Gembrot

Judul yang menyakitkan..

Kalau kita sendiri yang dipanggil gembrot, gendut, atau variasi unyunya macam embrot, ndut, kira-kira gimana ya?



Sunday, November 23, 2014

Sehari Tanpa MSG


Percaya atau tidak, saya dulu pernah menerapkan hukuman sedekah Rp 50.000 jika saya makan mie instan. Jumlah tersebut ternyata membuat saya disiplin untuk tidak makan mie instan selama dua tahun. Kalau akhirnya harus makan karena bener-bener kepingin, saya terpaksa harus merelakan lima puluh ribu melayang, hehe..



Tuesday, November 11, 2014

Bookworm Family


www.chambanamoms.com
I'm a bookworm. Saya tidak ingat sejak kapan persisnya saya mulai sangat menyukai buku, ataupun buku-buku pertama saya ketika saya masih balita. Seingat saya, kalimat pertama yang saya baca adalah headline surat kabar, umur saya 3tahunan saat itu. Setelah itu, memori belajar di kelas 1 SD dengan buku berisi "i-ni i-bu bu-di" masih terekam kuat dalam ingatan.

Jangan bayangkan buku warna warni dengan ilustrasi artistik, ya… karena awal 90an isi perpustakaan sekolah adalah buku Balai Pustaka dan sejenisnya. Tulisannya banyaaak, gambarnya dikit, hitam putih. Mungkin itu sebabnya hanya anak kelas 6 saja yang datang ke sana, itupun untuk mengerjakan tugas. 

Tapi, saya tetap suka buku lho, karena papa saya mengajak saya dan adik ke toko buku seminggu sekali, dengan jatah beli satu buku per minggu. Buku pertama saya: komik Mari Chan Bintangnya Cinta (masih ingat?) yang membuat saya tergila-gila pada sepatu balet. Sejak saat itu, buku demi buku mulai memenuhi lemari saya. Saya sampul plastik dengan rapi, ujungnya tidak pernah saya lipat, pokoknya I treated them as kings deh… sampai-sampai adik saya pun mau pinjam tidak saya perbolehkan, takut rusak. Pelit banget ya? Walau akhirnya saya "kualat": buku2 saya berjamur karena disimpan di lemari tertutup! Hahaha..

What a life lesson. Maksud saya sebenarnya baik, ingin saudara-saudara sepupu dan keponakan saya kelak bisa mewarisi buku-buku saya ketika mereka dewasa. Sayangnya, mereka tidak menunjukkan minat yang sama. Saya yang patah hati pun, ditambah insiden "jamur", merelakan buku koleksi saya untuk disumbangkan. Pikir saya, pasti banyak anak-anak diluar sana yang lebih membutuhkan buku-buku tersebut.
Meskipun demikian, ensiklopedi tidak pernah saya sumbangkan. Selain karena orangtua saya yang berinisiatif membeli, isinya juga tidak akan usang, fisiknya awet, dan harganya lumayan :p

Kini, koleksi buku saya kembali beranak pinak, karena suami saya ternyata juga pecinta buku. Ke toko buku pun menjadi me-time kami, sejak awal menikah hingga Aksa lahir.

Saya pun tidak menyangka, ternyata Aksa lebih suka ke toko buku daripada toko mainan. Memang usianya baru setahun lebih, tetapi kalau melihat deretan buku anak langsung deh meloncat dari gendongan saya, hehe..

Akhirnya saya dan suami pun pakai "shift" kalau ke toko buku bertiga. Kalau saya ambil shift pertama, berarti suami yang menemani Aksa sekaligus mengembalikan buku ke rak (Aksa suka memindah buku dari 1 rak ke rak lain J). Begitu pula sebaliknya.

Meskipun repot, kami tetap senang membawa Aksa ke toko buku, membelikannya buku, membaca untuknya, karena saya dan suami telah benar-benar merasakan manfaat menjadi pecinta buku.
Aksa pun lebih cepat menyerap kosakata baru melalui gambar di dalam buku, termasuk menirukan adegan-adegan dalam dongeng yang disukainya.

Tentu saja saya dan suami senang melihatnya begitu lengket dengan buku, walau kami harus rela diinterupsi ketika sedang sibuk. Tidak tega menolak membacakan buku ketika Aksa dating ke dapur dengan semangat, membawa buku yang cukup besar dengan tangan mungilnya *hugs*

Ternyata memang memberi contoh adalah guru terbaik. Karena ayah ibunya suka buku, Aksa jadi suka buku juga. Pilihan buku juga harus dipertimbangkan dengan baik. Untuk usia Aksa, ia menyukai cerita yang pendek, gambar berwarna kontras dan mencolok, dan boardbooks sehingga halamannya mudah dibalik dan tidak gampang sobek.

Sejauh ini, kami belum memperkenalkannya pada gadget secara intens. Paling banter melihat foto dan video di smartphone. Semoga saja kecintaannya pada buku kelak tidak berkurang ketika ia mengenal teknologi. Yang penting, kita sebagai orangtua yang harus aktif mendampingi dan mengarahkan anak kita, agar mereka tetap dapat menyerap ilmu, apapun medianya. Setuju?
    


Tuesday, November 4, 2014

Curhat Cinta ke Mama?

www.visualphotos.com


Saat remaja, saya sempat iri dengan mereka yang bisa curhat masalah cinta ke mamanya. Bukannya mama saya tidak bisa dicurhatin, bisa banget malah kalau saya mau. Apalagi mama tahu semua teman saya, aktivitas saya, karena saya selalu ngobrol dengan beliau tentang apa yang saya alami hari itu. Kecuali masalah cinta, ya.

Awalnya adalah ketika masa puber tiba. Saat itu usia SD, dimana dada mulai tumbuh, perasaan ke lawan jenis mulai beda, yang tadinya main Barbie jadi mantengin boybands di MTV, and so on. Beberapa teman saya pun mulai ada yang pacaran. Mungkin mama saya kuatir kalau saya berpacaran terlalu dini sehingga beliau mulai menasehati saya bahwa pacaran itu tidak boleh, terlarang, dan segala macam embel-embel negatif lainnya.

Saya ingat sekali, cara beliau menyampaikan wejangan tersebut benar-benar tegas, dengan mimik muka disgusted (beneran..!) sehingga saya pun tercuci otak dengan suksesnya. Sukses banget karena saya kemudian menjomblo hingga usia 20 tahun, hahaha.. Oh ya, mama tidak menjelaskan mengapa tidak boleh pacaran terlalu dini, saya pun tidak bertanya mengapa. Bisa jadi, pola asuh orangtua pada saat itu lebih bersifat satu arah sehingga mama pun tidak membuka ruang diskusi. Meskipun demikian, mama dan papa memperbolehkan saya berlangganan majalah remaja so I know more about teenage life that they weren’t comfortable to talk about.

Lantas, apa efeknya? Saya jadi sangat tertutup tentang masalah cinta dan pubertas ke beliau karena saya tahu beliau tidak menyukainya. Untuk curhat, saya curhat ke teman. Bahkan, saat surat menyurat dengan artis sedang booming, saya pernah curhat via surat ke Lusi AB Three, haha..  Begitu teman membocorkan curhatan saya ke teman lainnya, saya jadi trauma dan memilih buku harian. Eeh, buku harian enggak sengaja dibaca teman, bocor juga rahasia saya.. Akhirnya saya trauma memiliki buku harian. Yaa, kalau curhat ke teman tetep lah ya, hanya akhirnya saya belajar untuk lebih selektif.

Ternyata efeknya tidak hanya di saya. Mama pun juga merasa “iri” ketika beliau tahu siapa kecengan saya dari wali murid lain yang suka ngobrol sewaktu menjemput anak. Kok bukan ke beliau ceritanya ya? Sebenarnya ada satu lagi yang membuat saya jadi malu bercerita ke mama: karena mama suka menjadikan hal-hal tersebut sebagai lelucon. Misalnya, saat dada saya tumbuh, aroma badan mulai berubah, termasuk punya kecengan itu tadi. Saya kan jadi malu kalau keluarga besar saya jadi ikutan tertawa atas sesuatu yg privat menurut saya.

Hingga saya SMA, mama benar-benar clueless about my love life. Sampai-sampai beliau menanyai sahabat saya, apakah saya sudah punya pacar. Lah, saya jadi bingung ya, kan dulu enggak boleh pacaran. Begitu anaknya enggak pacaran beneran, malah enggak percaya, haha..

Akhirnya, saya punya pacar pada saat kuliah, dan….saya enggak bilang mama! Jujur, saya enggak bermaksud backstreet. Namun, saya benar-benar merasa canggung, malu, rikuh untuk mengatakan ke mama bahwa saya punya pacar. Orang pertama yang tahu pun menjadi adik saya, bukan mama atau papa. Akibatnya, pacar saya dijutekin mama tiap kali ngapel, hhhh….

Dari pengalaman ini, saya memutuskan untuk menggunakan cara yang berbeda ketika kelak Aksa remaja. Bagaimana caranya?

Beri dukungan moral ketika anak memulai masa pubernya
Di saat anak mengalami perubahan besar pertamanya, jangan sampai kita menunjukkan ekspresi yang akan membuatnya malu. Bersikaplah biasa ketika mengetahuinya, ataupun menanyainya. Ketika ada saudara, tetangga, atau orang dewasa yang dekat dengannya bertanya mengenai masa pubernya, jawablah sesuai apa yang ditanyakan, tanpa menjadikan anak merasa tidak nyaman, apalagi mengejeknya. So, kita sebagai orangtua harus sensitif melihat bahasa tubuhnya, khususnya apabila anak memiliki tipe introvert.   

Berilah informasi yang diperlukan anak seputar perubahan tersebut
Sekarang sudah banyak referensi tentang apa yang harus disampaikan ke anak pada masa pubertas, berikut tips cara bagaimana menyampaikannya pada anak. Meskipun sudah banyak media yang bisa diakses anak untuk mengetahui informasi tersebut, tetap orangtua harus berbicara langsung pada anak karena anak pasti akan mengingatnya. Ini juga untuk menghindarkan anak dari bertanya dan mencari tahu pada sumber yang salah.

Biasakan selalu menjalin komunikasi dengan anak sejak dini
Agar anak bersikap terbuka pada kita, usahakan selalu mengajaknya bercerita tentang apa yang dialaminya hari itu. Saya yakin, komunikasi yang lancar sejak anak belum memasuki usia remaja akan mempermudah kita tetap dekat dengan anak ketika masa remajanya tiba. Ini bukanlah suatu jaminan karena lingkungan dan karakter anak akan berpengaruh juga. Setidaknya, kita mencoba kan?

Semoga saja semua tips saya diatas bisa terlaksana dengan baik ketika Aksa mulai beranjak remaja *degdegan*. Apalagi suami dulu mengaku tidak diberi wejangan apapun ketika orangtuanya tahu ia mengalami mimpi basah. Saya ingin agar kami berdua kelak bisa membicarakan hal-hal yang dulu dianggap tabu oleh orangtua kami -seperti seks dan pubertas- secara nyaman dan terbuka kepada anak-anak kami.

Saking paranoidnya, saya sering menggendong Aksa sambil berbicara, “Besok kalo udah gede jadi anak yang sholeh ya Nak, ayah ibu disayang ya, kalo ada apa-apa ceritain ke ayah ibu ya Nak, jangan ke orang lain…” Suami saya pun cuma bisa geleng-geleng kepala, wong Aksa baru juga 16 bulan..

Oya, saya menemukan beberapa slideshow bagus tentang mendampingi anak di masa pubertas di www.24hourparenting.com. Atau, Mommies ada yang mau share tips lain?  

See the published version on http://mommiesdaily.com/2014/11/05/curhat-bukan-ke-mama/