Thursday, January 22, 2015

Saya Kolektor Tas, Anda?




Jangan salah sangka dulu ya, tas yang saya maksud adalah tas plastik alias kantong kresek, hehe.. Tidak ada niatan untuk mengoleksinya, namun mereka terkumpul dengan sangat cepatnya di rumah saya. 

Kalau diingat-ingat, kebiasaan ini sudah saya mulai sejak jaman SMA, dimana Mama selalu melipat tas plastik tersebut menjadi bentuk segitiga. Tidak hanya itu sih, tas-tas kertas sisa shopping juga saya kumpulkan, apalagi jika desainnya menarik dan dari brand ternama. Sampai akhirnya, ketika saya lulus kuliah saya menyadari tas-tas tersebut hanya memenuhi gudang saja. Sebelum ditumbuhi jamur, maka tas kertas tersebut saya jadikan goodie bag untuk bakti sosial di panti asuhan putri. Terlihat beda pastinya :)


Sekarang saya sudah jarang belanja belanji, jadi tidak ada koleksi tas kertas lucu lagi, haha.. Kalau tas plastik, saya masih setia dong mengumpulkannya. Hanya saja, cara melipatnya tidak segitiga lagi namun saya bentuk persegi seperti melipat kain (penting ya). Cara ini lebih irit tempat ketika disimpan karena tidak menggembung. 

Saat mulai pindah ke rumah sendiri dengan suami, saya mampu mengumpulkan tiga boks tas plastik berbagai ukuran, yang mungkin kalau dijumlah bisa ratusan hanya dalam tempo setahun. Itu pun sudah saya gunakan untuk membuang sampah dan berbagai keperluan lain, tapi tetap saja pertambahannya lebih cepat daripada pemakaian ulangnya. Akhirnya, saya tawarkan “koleksi” saya tersebut ke tukang sayur yang dengan senang hati menerimanya. Walau awalnya agak berat berpisah dengan plastik-plastik yang saya lipat rapi berdasarkan ukuran, akhirnya saya ikhlas juga, sebelum saya mengalami kelainan psikis seperti dalam reality show Hoarders di channel TLC, tentang orang yang gemar menimbun barang (dan berat melepaskannya).

Setelah itu, saya mulai berpikir…mau dikemanakan kumpulan plastik-plastik ini? Saya tidak tahu tempat yang bisa mendaur ulangnya, ataupun menggunakan ulang. Jadi, saya mulai mengurangi pemakaian tas plastik dengan cara membawa plastik dari rumah untuk belanja. Untuk barang belanjaan yang kering (bukan sayur mayur), saya membawa tas kain bekas goodie bag seminar dan sejenisnya. 

Khusus untuk membungkus sampah basah, saya memilih plastik dari beberapa minimarket atau supermarket yang bahannya bisa terurai dalam dua tahun. Ternyata cara ini lumayan efektif untuk mengurangi koleksi tas plastik saya. Sekarang saya sudah mulai bisa merasakan kekurangan stok plastik untuk membuang sampah, hehe.. Kalau sudah begini, saya biasanya tidak akan membawa tas belanja dari rumah ketika belanja di minimarket yang memberikan degradable plastic sampai nanti akhirnya bisa saya gunakan lagi dan habis lagi ; D

Meskipun demikian, ada kalanya tas plastik tersebut tetap menumpuk. Kalau sudah tidak tertampung, saya berikan saja pada tukang loak keliling, siapa tahu ia tahu tempat yang membutuhkannya.

Huff, andai saja ada tempat mendaur ulang tas plastik, atau ada alat pendaur ulang plastik yang bisa dibeli bebas dan mudah digunakan. Karena itu, saya mengapresiasi swalayan yang menawarkan kardus untuk membawa belanjaan yang cukup banyak, atau pemilik usaha yang menggunakan kemasan kertas atau bahan ramah lingkungan lainnya. Kalau untuk kantong kertas untuk membawa belanjaan seperti di negara barat, tampaknya masih agak susah diwujudkan ya, karena pengendara motor pasti akan kesulitan membawanya.

So, saya tidak akan lelah melipat, mengumpulkan, menggunakan ulang tas-tas plastik itu sampai datang masanya tas plastik menjadi sesuatu yang bisa didaur ulang dengan mudah, semudah kita membuat juice :)



Categories:

0 komentar:

Post a Comment