Sunday, May 24, 2015

Saat Guru menjadi Orang Tua Murid


Sudah dua minggu ini saya memasukkan anak saya ke sebuah daycare. Kebetulan, sebentar lagi saya kembali bekerja dan saya ingin anak saya nyaman terlebih dahulu di daycarenya sehingga ketika mulai bekerja nanti ia mudah ditinggal. Inilah kali pertama saya berganti peran menjadi orang tua (murid) setelah sekian lama menjadi guru dan berhadapan dengan orang tua murid. Apa perbedaan yang saya rasakan?

Pertama, rasa tidak percaya! Haha.. Saya rasa, tidak setiap orang tua yang pertama kali menitipkan anaknya pada orang lain pasti mengalami hal ini. Apalagi, saya yang dulunya seorang guru play group dan sedikit banyak mengerti tentang how they should be treated, plus menjadi seorang ibu, membuat saya memiliki harapan yang cukup tinggi pada para pengasuh di daycare.

Kebetulan, para pengasuh (yang dipanggil Bunda) usianya cukup muda dan belum pernah menjadi guru maupun merawat anak sebelumnya. Sebetulnya tidak masalah selama mereka mau belajar dan sabar, apalagi saya dulu juga mulai dari nol pengalaman, namun saya diberi kesempatan sehingga saya bisa berkembang. Sehari penuh saya mendampingi anak saya pada hari pertamanya di daycare, dan saya jadi makin paranoid, apakah mereka mampu merawat anak saya dengan benar selama saya bekerja?

Dengan sudut pandang orang tua dan guru, saya menilai performa para bunda ini. Ketika saya melihat kekurangan di hari pertama, saya menunggu dulu hingga hari berikutnya, berharap kekurangan tersebut tidak muncul kembali. Walaupun sudah “gatal” memberi masukan, saya tahan sampai saya mendapatkan gambaran penuh dalam kurun waktu yang cukup untuk mengambil kesimpulan.

Saat saya menyatakan kegundahan saya tersebut kepada beberapa sepupu yang juga memasukkan anaknya di daycare, saran mereka sama: beritahu saja para pengasuh tersebut. Akhirnya saya pun berkesempatan untuk memberi masukan dan Alhamdulillah mereka terbuka menerima kritik dan saran. Memang sih, tidak ada perubahan yang mendadak..tetapi setidaknya mereka tahu apa yang saya harapkan dari mereka.

Hari pertama masuk kerja, saya pun sudah tenang karena anak saya sudah familiar dengan para Bunda. Meskipun saya tidak lagi punya waktu sebanyak dulu untuk melihat kegiatan di daycare, saya tetap bisa memantau sebentar saat saya menyusui anak saya di jam makan siang. Kini, bukan lagi rasa tidak percaya yang muncul, tetapi kekuatiran. Bagaimana jika anak saya dinakali temannya? Apakah televisi di ruang bermain selalu dinyalakan? Bagaimana jika anak saya lama-lama jadi tertarik menonton tv padahal selama ini program “puasa” tv sudah berhasil saya laksanakan. Bagaimana jika anak saya kurang diperhatikan? Kebetulan daycare ini baru berumur sebulan dan hanya ada dua pengasuh untuk satu bayi dan lima anak.

Dalam hari-hari penuh kekuatiran tersebut, rekan kerja saya di sekolah tempat saya bekerja bercerita sedikit mengenai kondisi di kelas yang kami ajar. Salah satu catatan penting dari cerita partner adalah, mengajar anak balita adalah juga menjaga hubungan dengan orangtuanya, khususnya para mama. Dengan dua orang guru untuk 15 siswa berusia empat tahun, tentu tidak sedikit orangtua yang merasa “kok yang ditangani si A terus, anakku kok tidak?”. Mendadak saya teringat diri sendiri, hahah…

Tidak salah sih memiliki pemikiran seperti itu. Sebagai orangtua, siapa sih yang tidak ingin anaknya mendapatkan hal yang terbaik? Kalau di daycare saya melihat anak saya terlihat bosan atau menganggur, boleh dong hati kecil saya protes.. (lalu kemudian membuat self-reminder: it’s your choice to teach other kids the whole day instead of your own son. You know what’s best for him, not the caregivers… *tears*)

So, saya pun mulai belajar untuk percaya kepada para Bunda, sebagaimana para orangtua murid di sekolah berusaha untuk memercayai saya sebagai guru baru, atau orangtua murid di sekolah yang dulu berusaha percaya bahwa seorang fresh graduate dari jurusan non pendidikan, lajang pula, mampu menangani balita mereka dengan baik. Karena kadang saya sungkan memberi masukan secara langsung, saya pun menggunakan buku penghubung untuk pesan ini itu kepada Bunda-bunda.

Kini, sudah hampir sebulan dan saya mulai merasa ada peningkatan kemampuan para pengasuh daycare dalam menangani anak. Sebaliknya, anak saya mulai sadar perpisahan sementara dengan orangtuanya akan terjadi setiap hari, dan ia pun mulai lebih rewel dan mencari perhatian. Semoga saja mereka bisa menangani anak saya dengan baik (dan juga anak-anak lain), mau terus belajar, mengupdgrade ilmu parenting dan begitu juga dengan pihak manajemen daycare.


Karena saya sebagai guru sangat senang ketika dipercayai orangtua murid –ketimbang dicurigai- maka saya pun berusaha memperlakukan pengasuh anak saya dengan kepercayaan pula. Kalaupun pada akhirnya banyak harapan saya dan anak saya tidak terpenuhi, then an action should be taken. Semoga para working mama yang menitipkan anaknya ke pengasuh ataupun daycare bisa mendapatkan ketenangan ketika menitipkan anaknya ke daycare J


3 comments:

  1. Amiin... Meninggalkan anak sama pengasuh or di daycare emang banyak lika-likunya.

    Jadi inget Raya waktu pertama kali di daycare, saya rasanya pengen mewek & lari ke daycarenya tiap menit hehehe. Tapi akhirnya percaya sama miss yang pegang Raya & kalau ada apa2 ngasih masukan ke missnya baik2 dan saya jg terbuka untuk masukan dari si miss. Malah sampe sekarang miss Raya jadi informan saya & suami kalau ada apa2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak Sandra..sekarang saya juga sudah lumayan tenang meninggalkan anak saya sama bunda2 disana..

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete