Sampai saat ini, saya masih
percaya bahwa membaca buku itu wajib dilakukan setidaknya satu buku per bulan,
kalau kita sibuk. Alasannya, saya merasa selalu mendapat hal yang baru dan
mencerahkan, that it makes me reflect and contemplate of how I live my life.
Friday, October 30, 2015
Hidup Tanpa Sepatu (dan Tanpa Keluh)
Posted by bukenip on 3:20 AM with 3 comments
Posted in book review
Wednesday, October 14, 2015
EF #29: The One Who Never Complains
Posted by bukenip on 2:53 AM with 2 comments
Ibu, that’s how I usually call her, is my mother-in-law. I chose to write about her because she is the one who has taught me how to be a strong woman.
Posted in English Friday
Sunday, October 4, 2015
EF #28: Songs That Make Me..
Posted by bukenip on 3:45 AM with 5 comments
Honestly, I never try to understand the lyrics everytime I
listen to a song. I decide to listen to a song based on the melody. If it
satisfy my ears, I’ll listen and sing along. So, when I read the EF challenge
this week, I was confused. I had limited time to write before weekdays start. After
thinking for two days...I still don’t know what to write, hahah..
Posted in English Friday
Saturday, September 19, 2015
EF #27: Read and Read and Read
Posted by bukenip on 2:05 AM with 8 comments
If I can mention all good habits I’ve got from my parents, I
will say reading is my favorite one. Is it a hobby or a habit? For me, it’s
both. I like reading, I do it often, then it becomes a habit.
Posted in English Friday
Monday, September 7, 2015
How Our Kids Eat
Posted by bukenip on 12:57 AM with 1 comment
Saya sedikit tergelitik dengan cerita seorang nenek dari murid
saya. Murid saya ini, sebut saja Kemal, badannya cukup besar. Saya tidak
menganggapnya gemuk karena ia juga tinggi dan larinya sangat gesit. Hari-hari
pertama di sekolah ia dibawakan sekotak susu UHT ukuran kecil. Minggu
berikutnya, sang nenek minta izin membawakan Kemal susu formula di dalam dot
karena sebelum sekolah ia minum susu pada jam yang sama. Saya pun ijinkan
dengan pertimbangan agar anak tidak kaget beradaptasi dengan rutinitas baru.
Posted in Mommy's thoughts
Sunday, August 30, 2015
Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 2)
Posted by bukenip on 11:07 AM with No comments
Read the first part here
Tadinya saya mau pilih sandaran, tapi harga lumayan, sekitar 400ribuan tanpa ongkir. Belum lagi saya jadi tidak bisa membonceng suami karena sandaran harus dipasang memakai sekrup. So, coret. Motor saya bukan matic, jadi kursi lipat juga saya coret dari list.
Tadinya saya mau pilih sandaran, tapi harga lumayan, sekitar 400ribuan tanpa ongkir. Belum lagi saya jadi tidak bisa membonceng suami karena sandaran harus dipasang memakai sekrup. So, coret. Motor saya bukan matic, jadi kursi lipat juga saya coret dari list.
Posted in Mommy's thoughts
Saturday, August 29, 2015
Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 1)
Posted by bukenip on 10:53 AM with No comments
Sebelum memutuskan untuk kembali bekerja, saya berpikir tentang siapa yang akan mengasuh anak saya. Ketika akhirnya saya menemukan daycare yang sesuai kriteria, saya harus berpikir lagi tentang bagaimana saya harus mengantar jemput anak saya. Alhamdulillah ada kendaraan pribadi sehingga kami tidak perlu naik kendaraan umum. Mertua sudah mewanti-wanti kalau bisa anak saya jangan "kena angin" dulu sampai minimal usia 3 tahun. Selain karena ayah ibunya sempat bermasalah di bagian paru-paru waktut kecil, ibu mertua juga sempat merasakan betapa buruknya kualitas jalan di daerah kami. Naik mobil saja tidak nyaman, apalagi naik motor, balita pula.
Saya dan suami sempat bingung karena mobil dipakai suami ke kantor, sementara tidak ada stasiun KRL yang dekat dengan tempat tinggal kami (jika saya naik mobil dan suami naik motor lanjut KRL). Akhirnya kami memutuskan untuk 50:50. Suami mengantar anak naik mobil sementara saya menjemputnya sepulang kerja naik motor. Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana saya bisa membonceng anak saya dengan aman? Usianya saat itu 22 bulan, beratnya hampir 11kg. Jelas, gendongan bayi yang biasa saya pakai sudah lama masuk kardus.
Jadilah saya hunting gendongan lagi yang bisa menopangnya dengan baik kala saya mengendarai motor. Secara tidak sengaja saya melihat seorang ibu yg membonceng anaknya yang kurang lebih seusia Aksa. Saya tanya ke ibu tersebut dimana ia membeli gendongan yang ia pakai, dan ia pun menyebutkan tokonya. Saya pun belain beli, alhamdulillah cukup, walau tali untuk badan saya terlalu pendek. Saat mencobanya, ternyata talinya tidak kencang karena bahannya hanya kain biasa.
Akhirnya saya dobel ikatan pinggang dengan jarik. Bismillah, saya coba naik motor dengan Aksa di belakang saya. Baru dua tikungan, tetangga saya sudah memperingatkan, "Bu, anaknya miring tuh!" Langsung saya balik arah, kembali pulang. Ternyata tidak berhasil. Tapi saya tidak menyerah. Saya balik posisi gendongan (tadinya saya "berinovasi" bagian pantat saya taruh punggung karena bantalannya bisa menopang kepala). Tetap saya ikat dobel dengan jarik. Suami mengikuti dengan mobil di belakang saya. Rutenya? Langsung ke daycare, kurang lebih 25 menit.
Hasilnya sangat tidak menggembirakan. Beberapa kali saya harus berhenti untuk membenahi posisi anak saya, mengencangkan ikatan, serta tatapan "aneh" dari pengendara lain yang seolah berkata, "Ibu ini gimana sih, anaknya hampir jatuh"
Akhirnya saya browsing tentang boncengan motor plus tanya teman-teman yang pernah memboncengkan balitanya. Hasilnya, saya menemukan beberapa alternatif: menggunakan sabuk bonceng, memasang sandaran di motor bagian belakang, dan memasang kursi lipat di bagian depan untuk motor matic.
Saya dan suami sempat bingung karena mobil dipakai suami ke kantor, sementara tidak ada stasiun KRL yang dekat dengan tempat tinggal kami (jika saya naik mobil dan suami naik motor lanjut KRL). Akhirnya kami memutuskan untuk 50:50. Suami mengantar anak naik mobil sementara saya menjemputnya sepulang kerja naik motor. Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana saya bisa membonceng anak saya dengan aman? Usianya saat itu 22 bulan, beratnya hampir 11kg. Jelas, gendongan bayi yang biasa saya pakai sudah lama masuk kardus.
Jadilah saya hunting gendongan lagi yang bisa menopangnya dengan baik kala saya mengendarai motor. Secara tidak sengaja saya melihat seorang ibu yg membonceng anaknya yang kurang lebih seusia Aksa. Saya tanya ke ibu tersebut dimana ia membeli gendongan yang ia pakai, dan ia pun menyebutkan tokonya. Saya pun belain beli, alhamdulillah cukup, walau tali untuk badan saya terlalu pendek. Saat mencobanya, ternyata talinya tidak kencang karena bahannya hanya kain biasa.
Akhirnya saya dobel ikatan pinggang dengan jarik. Bismillah, saya coba naik motor dengan Aksa di belakang saya. Baru dua tikungan, tetangga saya sudah memperingatkan, "Bu, anaknya miring tuh!" Langsung saya balik arah, kembali pulang. Ternyata tidak berhasil. Tapi saya tidak menyerah. Saya balik posisi gendongan (tadinya saya "berinovasi" bagian pantat saya taruh punggung karena bantalannya bisa menopang kepala). Tetap saya ikat dobel dengan jarik. Suami mengikuti dengan mobil di belakang saya. Rutenya? Langsung ke daycare, kurang lebih 25 menit.
Hasilnya sangat tidak menggembirakan. Beberapa kali saya harus berhenti untuk membenahi posisi anak saya, mengencangkan ikatan, serta tatapan "aneh" dari pengendara lain yang seolah berkata, "Ibu ini gimana sih, anaknya hampir jatuh"
Akhirnya saya browsing tentang boncengan motor plus tanya teman-teman yang pernah memboncengkan balitanya. Hasilnya, saya menemukan beberapa alternatif: menggunakan sabuk bonceng, memasang sandaran di motor bagian belakang, dan memasang kursi lipat di bagian depan untuk motor matic.
Mana yang saya pilih?
Tunggu cerita selanjutnya!
Tunggu cerita selanjutnya!
Friday, August 7, 2015
EF #26: Me, The Dentist, and The Broken Molar
Posted by bukenip on 10:23 AM with 4 comments
It took me some time to decide which experience to write. Mostly,
my dentist-experience went well. Then, I thought that I needed to share the
worst experience since it’s important to know before your dentist do something
to your tooth.
In 2010, one of my molar teeth was broken. I ate rice and
unfortunately a small rock was strong enough to crack my tooth. After asking my
cousin which dentist I should go to, I went to a dentist who was my cousin’s
friend. The dentist checked my tooth and said that it should be removed since
the crack was big enough and couldn’t be filled. I agreed and he explained the
procedure. I signed the informed consent. He told me that another dentist would
do the procedure since it was a surgery and he didn’t have the right to do
that.
So, I went there again the next day. This doctor, let’s call
him dr.P, was as young as the first dentist. He started to inject anaesthetic
to my gum, pulled out my teeth, and it failed. My tooth stood still. Then, he
used a bigger tool and it was some kind of pliers. I still remember that it was
so big until my mouth’s corner got blister. It took him a while until he got...the
crown only! Okay, so if you don’t understand, the crown is the part of a tooth
that we can see. Under the crown lies the root. He left the root in my gum.
I wasn’t panic because I thought everything was fine until
the next TWO HOURS I sat there with my mouth open and got more than one
injections. In the end of the session he said that he failed and I should have
and X-ray and go back again the next day.
My gum was stitched with black thread (believe me you don’t
wanna see that) and I cried on my way home because it was extremely painful
after the anaesthetic’s gone. I tried to be strong, got an X-ray, and went back
there again.
He looked my X-ray result carefully and said he found out
why the crown was separated. Every tooth has two roots and this molar’s roots
were bent like they were holding hands. So it’s kinda locked to the bone or
something. Okay, I hope everything’s fine. Then, the surgery took another TWO
HOURS. Can you believe it? It wasn’t successful!!!
The dentist said that I better go to dental hospital at
Gadjah Mada University because there might be more help because there were more
dentists. I couldn’t think of anything unless saying yes. Don’t ask me how it
felt.
The next day I went to work with a swollen face. My face
wasn’t symmetrical and one of my student’s mother asked what happened. I told
her the story. Her husband was a dentist and guess what, she told me that what
I experienced was a malpractice. Every doctor who is still studying to be a
specialist should be supervised by his “lecturer”. In my case, dr.P did the
surgery himself.
Coincidentally, the first dentist called me and said his
apology and told me that I didn’t need to pay (it should be Rp 400.000). He still referred me to the
dental hospital. When I went home my mother was surprised seeing what happened
to me and said, “One of our relatives is a senior dentist. Go meet her.”
Alhamdulillah, my mom’s cousin is a specialist in Oral
Surgery (Spesialis Bedah Mulut). She pulled
out my roots only in 30 minutes without any pliers or tools that were more
appropriate for wood and wall. She asked me who made me like this. When I
answered “dr.P” she seemed to know who he was. It cost me Rp 800.000 because
she gave me discount, plus it was a public hospital.
Lessons learned: got an X-ray before you pull out your
tooth.
This is a part of BEC's English Friday Challenge.
I mean the post, not the surgery.
Posted in English Friday
Sunday, July 26, 2015
Ramadhan Tanpa Amarah
Posted by bukenip on 12:06 AM with 2 comments
Ramadhan kemarin, saya benar-benar merasakan perjuangan untuk beribadah. Hingga H-7, saya harus puas bisa tarawih sekali saja di masjid, sisanya di rumah. Tidak jauh berbeda dengan mengaji, saya tidak rutin melakukannya tiap hari. Jadi, sekalinya ada tenaga tersisa, saya rapel sekalian beberapa halaman. Yang paling “instan” sekalipun, yaitu mendengarkan tausyiah di televisi, hampir tidak pernah. Semua alasannya sama: karena anak.
Posted in Mommy's thoughts
Saturday, June 27, 2015
EF #23: Mudik Preparation
Posted by bukenip on 6:40 PM with 4 comments
The day of
going back to my hometown a.k.a mudik
is approaching. My husband said this morning that he couldn’t wait to meet his
parents. Don’t worry Yah, time flies, even in Ramadhan + holiday like now. It’s
almost a week fasting! So fast, uh?
Posted in English Friday, travel
Friday, June 26, 2015
EF #24: Eggplant Stir Fry Recipe
Posted by bukenip on 7:25 PM with 4 comments
The difference between this ramadhan and the last is I don’t
cook that much. My son takes most of my time and I just don’t have that much
time to cook. So, I was a bit confused what to write in this challenge since
the menu during the regular month and ramadhan is the same. There’s only one
thing my husband asks that he didn’t ask on regular days: hot tea. I can’t
write this tea recipe, right?
Monday, June 22, 2015
EF #21: EcoHoliday Under 100K at Kuntum Farm Field
Posted by bukenip on 1:27 AM with No comments
Nowadays, back to the village is becoming a trend. What i
meant with “village” is a place where we can experience a life like in a
village: planting, feeding farm animals, or even ploughing..! These kinds of
activities were easily found in our grandparents daily life (maybe). As our
country gets more modern, more people move to the city and those activities in
the nature lose their charm.
Posted in go green, green park, kuntum farmfield, travel, weekend, wisata anak, wisata bogor
Subscribe to:
Posts (Atom)









