Tuesday, December 9, 2014

Move On dari TV? Bisa!




Tentang bahaya menonton televisi bagi anak, saya sudah mengerti. Cukup banyak artikel yang saya baca ketika Aksa menginjak usia tiga bulan, mengingat saat itu kami mulai sering memperlihatkannya acara kartun di saluran khusus bayi tv kabel kami. Beberapa artikel mengatakan bahwa batasnya adalah tiga jam per hari. Kami pun berusaha untuk tidak melebihi durasi tersebut.

Karena saya dan suami berkacamata, maka PR kami berikutnya adalah mengatur jarak pandang menonton tv yang ideal bagi Aksa. Apalagi televisi konon memancarkan sinar biru yang membahayakan retina mata bayi.

Hingga usia Aksa setahun lebih, acara menonton televisi bersama masih menjadi salah satu rutinitas harian di sore hari. Apalagi, makannya agak lebih mudah kalau sambil menonton TV, karena ia fokus pada layar televisi. Kadang rasa bersalah sering muncul, karena saya juga pernah membaca bahwa menonton televisi sambil makan menghambat anak untuk belajar makan dengan baik.  Saat itu saya berpikir, yang penting ada makanan yang masuk perut Aksa deh!

Sampai sekitar sebulan lalu, saya membaca artikel KonsentrasiDonk, Nak dimana sang ibu menceritakan bahwa anaknya memiliki attention span (rentang perhatian) yang rendah karena penggunaan gadget dan menonton TV yang ternyata lebih lama dari yang seharusnya. Dari sekian banyak artikel yang saya baca sejak Aksa lahir, yang ini langsung membuat takut! Beneran..

Sejak saat itu, saya benar-benar membatasi akses Aksa ke televisi. Kalau biasanya saya bela-belain menidurkan Aksa di depan televisi demi menonton The Voice atau Got to Dance, kali ini saya benar-benar tahan mental untuk tidak menyaksikan episode terbaru acara TV favorit. Kebiasaan Aksa dan saya menonton Berpacu Dalam Melodi sambil menyanyi dan joget berdua pun terpaksa harus dihilangkan, hiks..

Apalagi, seminggu sebelumnya, saya sempat datang ke sebuah seminar mengenai penggunaan gadget pada anak, dimana Anna Surti Ariani sebagai pembicaranya menyarankan bahwa anak usia di bawah dua tahun tidak disarankan untuk menonton televisi maupun menggunakan gadget. Makin mantap saya menjalankan tv-free-life buat Aksa, meskipun ini berarti saya harus menyediakan aktivitas pengganti. Untuk saat ini belum sampai nol persen sih, karena suami saya terkadang perlu menonton pertandingan bola untuk urusan pekerjaannya, sementara rumah kecil kami memungkinkan televisi terlihat dari pintu ruang tamu sekalipun.

Lantas, bagaimana reaksi anak saya?

Pada awalnya, Aksa masih suka mendatangi televisi dan menyalakan tombol, lalu duduk manis di depan televisi. Ketika saya matikan televisi dan mencabut kabelnya dari stop kontak, paling-paling Aksa berusaha menyalakan tombol lagi. Kalau tidak menyala, maka dia akan berlalu dan mencari mainan lain. Bisa saja karena frekuensi menontonnya sejak awal tidak terlalu lama juga, jadi tidak ada acara merengek atau menangis.

Untuk mengganti tv time berdua Aksa di sore hari sepulang aktivitas bermain di luar rumah, saya memperpanjang acara main di luar hingga menjelang Magrib. Aksa bertambah semangat, karena anak-anak di kompleks saya pada jam tersebut hampir semua bermain bersama. Selepas Magrib, Aksa langsung saya ajak bermain di kamar tidur, mulai dari gelitik-gelitikan, baca buku, menyanyi, sampai drama boneka, hingga akhirnya Aksa mengantuk.

More effort, of course. Saya dituntut untuk lebih kreatif, lebih menghibur, dan pastinya lebih staminanya. Saya baru tahu kalau menemani anak bermain bola selama 5 menit sudah bisa bikin saya berkeringat, hehe..
Hasilnya? Seminggu dua minggu, Aksa sudah mulai jarang menyalakan tombol televisi. Beberapa kali saya kabulkan permintaannya, dan menonton bersamanya dengan jarak pandang yang aman. Kira-kira 10 menit kemudian dia sudah beralih ke mainan yang lain. Syukurlah.. Mungkin karena yang kami tonton acara berita kali ya.. Beda halnya ketika saya pilihkan channel kartun semacam Upin Ipin. Aksa terlihat sangat fokus menatap layar televisi dan tertawa terbahak-bahak meskipun ceritanya tidak lucu, saking excitednya! Tetapi, paling lama 15 menit dan dia mulai teralih perhatiannya. 

Sebenarnya tidak hanya dalam kasus televisi. Saya amati sejak ia kecil, perhatiannya memang mudah teralih. Kalau sedang menyusui di nursing room mal atau rumah sakit misalnya, maka ia bisa batal menyusu hanya karena asyik melihat bayi lain menyusu. Contoh lain, ketika ia minta dibacakan buku A, maka bisa saja tiba-tiba ia menengok ke buku lain ketika saya sudah siap membacakan cerita. Setelah browsing sana sini, ternyata memang rentang perhatian anak seusia Aksa tidaklah lama. Menurut Wikipedia, anak berusia dua tahun rata-rata memiliki attention span sekitar 5 menit. Jadi, saya bisa bernapas lega..

Sekarang sudah hampir sebulan Aksa move on dari televisi. Yang menakjubkan adalah, Aksa memilih untuk mendatangi toy box-nya daripada televisi, padahal posisi keduanya tepat bersebelahan. Senang sekali rasanya. Saya juga jadi ikutan jarang menonton TV, dan ternyata saya masih hidup, haha..

Hari ini, Aksa membuat kejutan. Ia bisa menyusun balok-balok mini selama 20 menit! Seingat saya, belum pernah ia fokus pada satu hal selama ini. Setiap kali menara baloknya runtuh, ia pun mengulang dari awal. Apakah ini karena frekuensi menonton tv nya berkurang (sehingga ia bisa lebih fokus), atau karena tadi saya temani ya (sehingga ia lebih semangat)?

Ah, buat saya yang manapun penyebabnya tidak menjadi soal. Yang terpenting adalah, saya belajar bahwa untuk menciptakan suatu kebiasaan yang positif orangtua harus mau repot, harus mau belajar. Semoga saja kita selalu bisa mengambil keputusan yang tepat untuk anak kita ya, Mommies :)
    
see the published version on http://mommiesdaily.com/2015/01/06/rpicberalih-dari-tv/


Categories:

0 komentar:

Post a Comment