Monday, January 26, 2015

Kebahagiaan Sederhana




Katanya, kebahagiaan itu sederhana. 

Hmmm..ada sih yang sederhana, semacam makan cokelat dan dipeluk orang yang disayangi. Ada juga yang lebih membutuhkan perjuangan seperti kebahagiaan ketika bisa menyekolahkan anak hingga kuliah atau meraih prestasi di bidang yang kita geluti.

Kemarin, saya merasakan kebahagiaan sederhana itu. At first, I just felt so happy before the day ended. I tried to remember what happened that day that made me feel so. Ternyata, inilah penyebabnya:


1.       Morning walk, three of us. Inilah salah satu hal dari pekerjaan suami yang membuat saya senang: berangkat kerja siang. Jadi, pagi hari kami masih sempat jalan kaki berdua ke tukang sayur, sementara si kecil naik sepeda roda tiga. Walaupun Cuma 20-30 menit, rasanya beda dengan belanja sendiri.
2.       Tidur cukup. Pagi itu, ketika ART saya datang, saya menyusui Aksa hingga kami berdua tertidur pulas. Tak disangka, saya terbangun sekitar dua jam kemudian ketika si mbak sudah pulang ke rumahnya. Lumayan lah, bisa membayar kekurangan tidur akibat begadang semalam. Bangun tidur pun jadi lebih segar, dan siap “tempur” dengan tugas-tugas di rumah.
3.       Masih bisa masak. Kadang, kalau hari sudah agak siang, mood masak saya tinggal seperempat karena saya biasa masak agak pagi. Ternyata, setelah saya memasak jam sebelas kemarin, rasanya tetap enjoy saja. Kuncinya bukan pada jam berapa masaknya, tetapi lebih kepada sesegar apa kondisi kita dan bagaimana mood kita ketika memasak. Klasik banget ya, hehe..
4.       Be present in playing with my son. Maksudnya “be present” di sini adalah fokus dengan Aksa ketika bersama dengannya, karena cukup sering saya bermain dengannya tetapi pikiran melayang ke cucian piring, curi-curi duduk di depan laptop, atau malah sambil bbm-an. Pengalaman saya membuktikan, kalau kita present maka anak akan mudah senang karena mendapat perhatian total kita dan…setelah dia puas maka ia akan meninggalkan kita dan bermain sendiri. Kemarin, saya meladeninya bermain gulungan kasur dengan sepenuh hati, sampai kami berdua terbahak-bahak. Si anak pun jadi lahap makannya. Lumayan J
5.       Bisa window shopping sendirian. Ini belum pernah terjadi sebelumnya selama saya punya anak, lho.. Kemarin sore si Ayah minta ditemani ke kantor. Kebetulan tepat di depan kantor ayah ada mal. Biasanya saya selalu menolak karena menunggu ayah kerja dari jam 3-9 dengan browsing around the mall with the always-walking kiddo membuat saya lelah (mengikuti Aksa yang kesana kemari). Yang berbeda, sesampainya di kantor, Ayah bilang: “Aksa biar sama aku, kamu jalan sendiri aja.” Saya masih agak tidak menyangka sambil menjawab, “Ooh, gitu?” walaupun beberapa menit kemudian saya melonjak-lonjak kegirangan (dalam hati).
6.       Tidak memarahi anak sehari penuh. Nah, this is the ultimate happiness!! Diantara semua kesenangan saya atas hal-hal sederhana di atas, poin terakhir ini adalah hal yang paling tinggi levelnya dalam strata kebahagiaan saya. It feels like I’m the most successful mom in the world, haha.. Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa nomor enam ini bisa terjadi? Mmm..saya jadi bingung menjawabnya, tapi untuk kasus ini mungkin berkaitan dengan lima poin sebelumnya.

So, that’s my simple happiness as a mom-wife-woman now, yang beberapa tahun lalu berisi “bisa tidur cukup-dapet gaji-woles weekend”. Intinya, syukuri hidup dengan cara menikmati setiap detiknya. The more positive thinking you are towards your life, the happier you are.  

Enjoy your day!



Categories:

0 komentar:

Post a Comment