Sunday, March 13, 2016

Mandirinya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 2)

Masih tentang kunjungan saya ke OISCA Kindergarten..

Selain disiplin dan keteraturan yang saya kagumi dari anak-anak Jepang tersebut, pemilik sekolah juga sedikit banyak menceritakan tentang konsep pendidikan di sana. Pertama, manusia berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah juga. Sehingga, mereka diajak untuk berinteraksi sedekat mungkin dengan alam. Wujud konkritnya seperti belajar menanam tanaman sendiri (di kebun mereka terdapat jagung, wortel, dan...padi!), memberi makan kambing (yang dilepas begitu saja dengan gembala yang berdiri beberapa meter di belakang kambing), berenang seminggu tiga kali (yeayyy, really like this!), serta pantang menyisakan makanan.

Untuk usia TK (4-6 tahun) saya rasa wajar mulai mendidik untuk menghabiskan makanan, tetapi usia playgroup yang 3 tahunan, saya sendiri di kelas merasa kesulitan plus tidak tega. Menurut Pak Dicky, anak-anak dipahamkan sejak awal untuk menghargai makanan karena “makanan ini pemberian Tuhan dan orangtua sudah susah-susah memasaknya, jadi kita harus menghargai”. So, sampai sekarang anak-anak selalu menghabiskan makanan. Kalau dipikir-pikir, mungkin ada faktor pendukung juga seperti orangtua harus menyesuaikan porsi anak dan lunch time yang dilakukan bersama-sama satu sekolahan, sehingga anak yang lebih muda mencontoh anak yang lebih tua.

Display di dinding yang dominan gambar dan hiasan 
Loker siswa yang detil: ada peg untuk menggantung ransel, untuk tas makan, pakaian ganti, topi, dsb
Konsep kedua, anak di bawah tujuh tahun dibiarkan bebas bereksplorasi agar timbul rasa ingin tahunya. Inilah mengapa dekorasi di OISCA sangat minim tulisan, apalagi belajar alfabet. Tidak ada..! Dengan tidak adanya tulisan (umumnya hanya gambar), anak diajak untuk bertanya tentang gambar tersebut. Karena sama sekali tidak mengenalkan huruf dan calistung, otomatis kegiatan mengerjakan worksheet atau LKS pun tidak ada. Kelak, ketika anak sudah berusia tujuh tahun barulah mereka diajarkan materi yang berupa pelajaran.

Sandbox yang benar-benar bersih (padahal outdoor) dengan tepian kayu yang nyaman untuk duduk
Konsep ketiga, kemandirian. Delapan puluh persen murid di sana menggunakan mobil antar jemput, termasuk murid playgroup sekalipun. Tidak boleh ada baby sitter ataupun keluarga yang menunggui bahkan di awal tahu ajaran. Wuih, ketat juga ya peraturannya. Kalau saya jadi wali murid, sudah pasti saya nangis bombai melihat anak saya menangis naik mobil jemputan, haha.. Katanya sih, biasanya anak-anak membutuhkan seminggu untuk akhirnya bisa berani ke sekolah sendiri. Begitu juga ketika makan, rata-rata anak yang belum bisa makan hanya perlu dibantu selama seminggu dan setelah itu bisa makan sendiri. Kalau makanannya berceceran? Ya dibersihkan sendiri. Tersedia lap kotor untuk masing-masing anak, dan lap tersebut digantung rapi layaknya lap cuci tangan.

Hanger untuk handuk cuci tangan
Oya, saat saya berkunjung ke sana, kebetulan ada jadwal berenang untuk kelas TK B. Mereka pun bisa memakai baju renang sendiri dan memakai handuk sendiri, tanpa bantuan. Guru yang mengajar pun hanya satu. Bagaimana cara mereka bilas? Beramai-ramai mereka disemprot pakai selang oleh pak guru, saudara-saudara, haha... Sounds cruel? Not at all if you see it yourself. Setelah itu mereka berjalan ke dalam sekolah untuk berganti pakaian.

Meskipun saya hanya berada di sana sekitar dua jam, saya sudah mampu mengambil kesimpulan bagaimana anak-anak di Jepang dididik dan dibesarkan. Disiplin, mandiri, teratur, dan sangat berpegang pada nilai-nilai yang mereka anut. Saya juga serasa berada di dalam dorama melihat mereka semua bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengan segala bahasa tubuh dan kebiasaannya, hehe.. Yang terakhir, mereka sangat higienis. Kami harus memakai sandal dalam ruangan saat masuk ke kelas. Sikat gigi mereka pun diletakkan dalam wadah bekas yakult. Selain memenuhi unsur reuse, yakult juga mengandung bakteri baik. Masing-masing anak memiliki handuk tangannya sendiri, sehingga meminimalisir penularan penyakit.

Sandal dalam ruangan yang berjajar rapi
Area sikat gigi. Kelihatan tidak botol yakultnya?
Toilet anak berukuran mini. Semua sudah tidak ada yang pakai popok lho..
I really hope that one day, our children can be as discipline as them, without losing our values. As parents, it is really important that we have the same concept with our kid’s teachers. It is easier for our child to adopt values that are taught at school and at home. Misal, kalau di sekolah buang sampah di tempatnya tetapi keluarganya tidak menerapkan hal yang sama, bisa ditebak kan akhirnya bagaimana? So, we need to keep learning and be consistent karena proses mendidik anak itu benar-benar sesuatu yang terus menerus. Pada akhirnya nanti kita sendiri yang akan merasakan hasilnya.





2 comments:

  1. Iya biasa nya anak orang Jepang di biasa in dari sejak bisa megang makanan duduk suruh makan sendiri ,biasa in naruh sepatu di tempat nya sendiri dari mulai bisa jalan kaki intinya sudah dibiasakan dari dini pasti kita semua bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak...asal konsisten dan kita memberi contoh..

      Delete