Sunday, August 30, 2015

Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 2)

Read the first part here

Tadinya saya mau pilih sandaran, tapi harga lumayan, sekitar 400ribuan tanpa ongkir. Belum lagi saya jadi tidak bisa membonceng suami karena sandaran harus dipasang memakai sekrup. So, coret. Motor saya bukan matic, jadi kursi lipat juga saya coret dari list.

Saturday, August 29, 2015

Kala Harus Naik Motor dengan Balita (part 1)


Sebelum memutuskan untuk kembali bekerja, saya berpikir tentang siapa yang akan mengasuh anak saya. Ketika akhirnya saya menemukan daycare yang sesuai kriteria, saya harus berpikir lagi tentang bagaimana saya harus mengantar jemput anak saya. Alhamdulillah ada kendaraan pribadi sehingga kami tidak perlu naik kendaraan umum. Mertua sudah mewanti-wanti kalau bisa anak saya jangan "kena angin" dulu sampai minimal usia 3 tahun. Selain karena ayah ibunya sempat bermasalah di bagian paru-paru waktut kecil, ibu mertua juga sempat merasakan betapa buruknya kualitas jalan di daerah kami. Naik mobil saja tidak nyaman, apalagi naik motor, balita pula.

Saya dan suami sempat bingung karena mobil dipakai suami ke kantor, sementara tidak ada stasiun KRL yang dekat dengan tempat tinggal kami (jika saya naik mobil dan suami naik motor lanjut KRL). Akhirnya kami memutuskan untuk 50:50. Suami mengantar anak naik mobil sementara saya menjemputnya sepulang kerja naik motor. Masalah yang muncul kemudian adalah, bagaimana saya bisa membonceng anak saya dengan aman? Usianya saat itu 22 bulan, beratnya hampir 11kg. Jelas, gendongan bayi yang biasa saya pakai sudah lama masuk kardus.

Jadilah saya hunting gendongan lagi yang bisa menopangnya dengan baik kala saya mengendarai motor. Secara tidak sengaja saya melihat seorang ibu yg membonceng anaknya yang kurang lebih seusia Aksa. Saya tanya ke ibu tersebut dimana ia membeli gendongan yang ia pakai, dan ia pun menyebutkan tokonya. Saya pun belain beli, alhamdulillah cukup, walau tali untuk badan saya terlalu pendek. Saat mencobanya, ternyata talinya tidak kencang karena bahannya hanya kain biasa.

Akhirnya saya dobel ikatan pinggang dengan jarik. Bismillah, saya coba naik motor dengan Aksa di belakang saya. Baru dua tikungan, tetangga saya sudah memperingatkan, "Bu, anaknya miring tuh!" Langsung saya balik arah, kembali pulang. Ternyata tidak berhasil. Tapi saya tidak menyerah. Saya balik posisi gendongan (tadinya saya "berinovasi" bagian pantat saya taruh punggung karena bantalannya bisa menopang kepala). Tetap saya ikat dobel dengan jarik. Suami mengikuti dengan mobil di belakang saya. Rutenya? Langsung ke daycare, kurang lebih 25 menit.

Hasilnya sangat tidak menggembirakan. Beberapa kali saya harus berhenti untuk membenahi posisi anak saya, mengencangkan ikatan, serta tatapan "aneh" dari pengendara lain yang seolah berkata, "Ibu ini gimana sih, anaknya hampir jatuh"

Akhirnya saya browsing tentang boncengan motor plus tanya teman-teman yang pernah memboncengkan balitanya. Hasilnya, saya menemukan beberapa alternatif: menggunakan sabuk bonceng, memasang sandaran di motor bagian belakang, dan memasang kursi lipat di bagian depan untuk motor matic.

Mana yang saya pilih?

Tunggu cerita selanjutnya!

Friday, August 7, 2015

EF #26: Me, The Dentist, and The Broken Molar


It took me some time to decide which experience to write. Mostly, my dentist-experience went well. Then, I thought that I needed to share the worst experience since it’s important to know before your dentist do something to your tooth.

In 2010, one of my molar teeth was broken. I ate rice and unfortunately a small rock was strong enough to crack my tooth. After asking my cousin which dentist I should go to, I went to a dentist who was my cousin’s friend. The dentist checked my tooth and said that it should be removed since the crack was big enough and couldn’t be filled. I agreed and he explained the procedure. I signed the informed consent. He told me that another dentist would do the procedure since it was a surgery and he didn’t have the right to do that.

So, I went there again the next day. This doctor, let’s call him dr.P, was as young as the first dentist. He started to inject anaesthetic to my gum, pulled out my teeth, and it failed. My tooth stood still. Then, he used a bigger tool and it was some kind of pliers. I still remember that it was so big until my mouth’s corner got blister. It took him a while until he got...the crown only! Okay, so if you don’t understand, the crown is the part of a tooth that we can see. Under the crown lies the root. He left the root in my gum.


I wasn’t panic because I thought everything was fine until the next TWO HOURS I sat there with my mouth open and got more than one injections. In the end of the session he said that he failed and I should have and X-ray and go back again the next day.

My gum was stitched with black thread (believe me you don’t wanna see that) and I cried on my way home because it was extremely painful after the anaesthetic’s gone. I tried to be strong, got an X-ray, and went back there again.

He looked my X-ray result carefully and said he found out why the crown was separated. Every tooth has two roots and this molar’s roots were bent like they were holding hands. So it’s kinda locked to the bone or something. Okay, I hope everything’s fine. Then, the surgery took another TWO HOURS. Can you believe it? It wasn’t successful!!!

The dentist said that I better go to dental hospital at Gadjah Mada University because there might be more help because there were more dentists. I couldn’t think of anything unless saying yes. Don’t ask me how it felt.

The next day I went to work with a swollen face. My face wasn’t symmetrical and one of my student’s mother asked what happened. I told her the story. Her husband was a dentist and guess what, she told me that what I experienced was a malpractice. Every doctor who is still studying to be a specialist should be supervised by his “lecturer”. In my case, dr.P did the surgery himself.

Coincidentally, the first dentist called me and said his apology and told me that I didn’t need to pay (it should be Rp 400.000). He still referred me to the dental hospital. When I went home my mother was surprised seeing what happened to me and said, “One of our relatives is a senior dentist. Go meet her.”

Alhamdulillah, my mom’s cousin is a specialist in Oral Surgery (Spesialis Bedah Mulut). She pulled out my roots only in 30 minutes without any pliers or tools that were more appropriate for wood and wall. She asked me who made me like this. When I answered “dr.P” she seemed to know who he was. It cost me Rp 800.000 because she gave me discount, plus it was a public hospital.

Lessons learned: got an X-ray before you pull out your tooth.

This is a part of BEC's English Friday Challenge. 
I mean the post, not the surgery.


Sunday, July 26, 2015

Ramadhan Tanpa Amarah


Ramadhan kemarin, saya benar-benar merasakan perjuangan untuk beribadah. Hingga H-7, saya harus puas bisa tarawih sekali saja di masjid, sisanya di rumah. Tidak jauh berbeda dengan mengaji, saya tidak rutin melakukannya tiap hari. Jadi, sekalinya ada tenaga tersisa, saya rapel sekalian beberapa halaman. Yang paling “instan” sekalipun, yaitu mendengarkan tausyiah di televisi, hampir tidak pernah. Semua alasannya sama: karena anak.

Saturday, June 27, 2015

EF #23: Mudik Preparation


The day of going back to my hometown a.k.a mudik is approaching. My husband said this morning that he couldn’t wait to meet his parents. Don’t worry Yah, time flies, even in Ramadhan + holiday like now. It’s almost a week fasting! So fast, uh?

Friday, June 26, 2015

EF #24: Eggplant Stir Fry Recipe

The difference between this ramadhan and the last is I don’t cook that much. My son takes most of my time and I just don’t have that much time to cook. So, I was a bit confused what to write in this challenge since the menu during the regular month and ramadhan is the same. There’s only one thing my husband asks that he didn’t ask on regular days: hot tea. I can’t write this tea recipe, right?

Monday, June 22, 2015

EF #21: EcoHoliday Under 100K at Kuntum Farm Field

Nowadays, back to the village is becoming a trend. What i meant with “village” is a place where we can experience a life like in a village: planting, feeding farm animals, or even ploughing..! These kinds of activities were easily found in our grandparents daily life (maybe). As our country gets more modern, more people move to the city and those activities in the nature lose their charm.

Wednesday, June 17, 2015

Tidur Nyenyak, Tanpa Nyamuk

Ada satu hal yang saya sukai dari musim hujan, yaitu udara dingin saat tidur malam. Maklum, kamar saya tidak ada AC-nya. Selain kamar menjadi “seperti ber-AC”, nyamuk juga enggak mampir ke kamar. Kebetulan, kamar tempat saya, suami, dan anak saya tidur jendelanya tidak bisa tertutup sempurna. Sepertinya masalah kualitas kayu dan pemuaian, sehingga ada celah yang sebetulnya kecil namun cukup untuk nyamuk menyelinap masuk. Bisa ditebak, kalau musim hujan berlalu, saya pun menjadi mosquito hunter.

Masalahnya sekarang, musim hujan dan kemarau itu tidak jelas kapan mulainya. Sampai hari ini, di tempat tinggal saya masih saja hujan setidaknya sekali dalam seminggu. Sisanya, hawa panas. Kalau musim tidak jelas seperti ini, malam hari bisa diduga hawanya gerah luar biasa. Kalau pintu kamar saya buka, nyamuk masuk. Kalau saya tutup, nyamuk masih masuk juga..! Memang sih, tidak sebanyak kalau pintu dibuka, tetapi sudah saya nyalakan standing fan pun, nyamuk masih berkeliaran juga.

Sempat pusing, itu jelas. Kalau kita orang dewasa, biasanya gigitan nyamuk bisa membuat terbangun. Kita tepuk, nyamuk mati. Eh, tapi suami saya sih tetap saja tidur walau digigit tiga nyamuk dalam waktu bersamaan, hehe... Yang enggak tega adalah kalau Aksa yang digigit nyamuk. Mungkin karena masih anak-anak kali ya (umurnya hampir 2 tahun) jadi tidur-tidur aja walau digigit nyamuk. Begitu kerasa gatel, a.k.a setelah nyamuknya puas dan kenyang, baru deh Aksa rewel. Setahu saya, dia belum bisa refleks menggaruk, tetapi biasanya badannya bergerak kesana kemari sambil merengek dan menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Itu bisa terjadi lebih dari tiga kali semalam.

Obat nyamuk? Jelas sudah saya pakai. Pertama pakai yang spray, disemprot setengah jam sebelum kamar dipakai tidur. Kalau nyamuk lagi low season sih bisa bertahan sampai tengah malam saja. Setelah itu ya sudah hilang efeknya, apalagi jendela saya menyediakan shortcut buat para nyamuk untuk masuk. Gorden udah enggak mempan menghalangi celah jendela. Kalau lagi peak season, saya bisa hopeless, obat nyamuk spray enggak mempan. Saya bisa terbangun berkali-kali hanya untuk berburu nyamuk. Sedih plus gemes rasanya, kalau kita keluar kamar dan kembali sejam kemudian melihat nyamuk yang sudah gendut-gendut sedang enak-enak “nangkring” di dahi anak saya.

Terlihatkah dua nyamuk gendut di tepi rambut pelipis dan tangan kiri Aksa? 
Sebelum obat nyamuk semprot, saya juga pernah pakai obat nyamuk bakar. Kekurangannya memang bau asap dan tidak aman. Saya takut saja kalau anak bangun lebih dulu daripada saya dan mainan obat nyamuk. Tingkat efektifitasnya juga masih kalah sama tipe spray. Kalau yang spray, anak saya suka memaksa masuk kamar ketika aromanya belum memudar, sehingga saya kuatir zat kimia tersebut berefek tidak baik bagi pernapasannya.

Akhirnya saya coba Baygon Liquid Elektrik. Seperti anjuran di boks, saya nyalakan 30 menit sebelum jam tidur. Ketika masuk kamar, yang saya suka adalah aromanya: hanya tercium ketika kita dekat dengan alatnya. Saat di kasur, saya sudah tidak bisa menciumnya karena baunya cukup lembut. Tombol pengatur saya set di tanda “+” karena nyamuknya termasuk banyak. Alhamdulillah, sejak saya pakai tiga minggu lalu, tidak ada lagi adegan berburu nyamuk di badan anak ataupun membersihkan sprei dari noda darah nyamuk gendut. Kalaupun Aksa terbangun, hanya sebatas minta ASI dan kemudian tidur lagi. Yeayyy..!

Tidur nyenyak, tanpa nyamuk. Background: Baygon Liquid Elektrik tertancap manis :)
That’s why it took me a while to post this, soalnya saya hanya memastikan Baygon Liquid Elektrik benar-benar perlindungan anti nyamuk yang tepat untuk kamar anak. Saya rasa tiga minggu sudah cukup untuk mengetes keampuhan obat nyamuk ini, apalagi hujan dan panas datang silih berganti dalam kurun waktu tersebut. Saya tidak lagi kuatir soal bau menyengat obat nyamuk, karena selain aromanya tidak keras, Baygon Liquid Elektrik juga tanpa asap dan tanpa repot. Saya tinggal tancapkan saja, selesai. Kadang, tengah malam saya lepas dan saya nyalakan fan karena hanya ada satu colokan di kamar. Alhamdulillah (lagi), walau sudah saya lepas, tidur saya dan anak tetap tanpa nyamuk sampai pagi.

For me, it is reccommended. Harganya juga terjangkau, di bawah Rp 20.000 dan bisa dipakai hingga 45 hari. Baygon Liquid Elektrik saya malah masih tiga per empat isi, irit yah.. Sekarang, tugas membuat anak tidur nyenyak tanpa nyamuk sudah selesai. PR berikutnya adalah, membuat anak tidur nyenyak tanpa...ASI! *langsunggalau*



This post is a part of #TUMBaygonBlogCompetition

Sunday, June 14, 2015

Review: Arch Hotel Bogor by Horison


To be honest, saya belum pernah spending weekend dengan cara menginap di hotel. Pertama sih mikir, sayang duitnya hehe..dan takut kurang seru aja kalo cuma di hotel sehari semalem. Entah kenapa, bulan lalu keinginan untuk nge-hotel tiba-tiba muncul. Pikir saya, sekali-sekali lah ya.. Setelah suami menyetujui, saya pun mulai survey hotel di Kota Bogor. Selama ini kalau weekend ke Jakarta terus, padahal saya tinggal di Kabupaten Bogor.

Akhirnya, saya berkunjung ke situs pesan tiket favorit, Traveloka. Saya pun memimilih beberapa hotel yang sesuai budget. Karena bingung, saya survey terlalu lama. Saya google hotel-hotel pilihan, termasuk membandingkan harga juga dengan website sejenis, seperti Expedia, Agoda, dan Pegipegi. Ketika akhirnya saya memilih Padjajaran Suites Hotel yang dekat dengan Jungle Land, kamarnya sudah tidak available lagi. Hiks.. Ada sih di website lain, hanya saja lebih mahal jatuhnya.

Tidak ada pilihan lain, saya pun lari ke pilihan kedua, Arch Hotel. Saya tidak pesan melalui Traveloka karena sudah sold juga. Akhirnya di pegipegi.com dapat juga walaupun harga yang semula 520 menjadi 540. Tak apalah, hanya selisih sedikit. Bedanya Traveloka dan Pegipegi adalah, di Traveloka harga yang tercantum adalah harga asli, tidak ada tambahan apa-apa lagi. Sementara di Pegipegi, harga yang tercantum masih belum ditambah pajak.

Pada hari Sabtu long weekend kemarin pun kami meluncur ke Arch Hotel. Kami sempat mampir Kebun Raya Bogor sebentar, biar sejuknya hotel lebih kerasa habis panas-panasan di KRB, haha.. Sampai di sana saya sudah pesan ke suami kalau menurut review, parkirannya sempit. Memang sih..saya parkir di basement yang hanya muat kurang dari 10 mobil mungkin…saya pun parkir di tanjakan keluar basement.


Sampai di lobi, saya langsung disambut pemandangan kolam renang dari jendela kaca. Okay, that means I will not swim. Langsung agak kecewa… Saya enggak nyaman renang dengan pemandangan yang sangat terbuka, dimana semua yang di lobi bisa melihat kita. Ya sudah, yang penting anak saya bisa berenang :)

Proses di lobi tidak lama, hanya antre sebentar karena ada rombongan tamu yang komplain ke resepsionis satunya (total ada dua resepsionis). Belum jam dua, kami sudah bisa check in ke kamar di lantai enam.

Kami pesan kamar deluxe twin room, include breakfast. Sampai di kamar alhamdulillah cukup sesuai dengan harapan. Kamarnya bersih, dengan lantai parket, tidak sesempit budget hotel pada umumnya. Anak saya pun bisa bermain dengan leluasa dan saya juga enggak pusing kalau ada yang tumpah atau makanan dilepeh ke lantai, karena tinggal di lap saja.




Karena gagal mendapatkan double bed, akhirnya suami saya pun menggeser dua kasur menjadi satu, dan memindahkan meja telepon ke dekat jendela. Sampai sebelum magrib, kami tidak perlu menyalakan lampu kamar karena jendela kami menghadap ke utara dan sinar matahari lebih dari menyilaukan untuk sekadar menerangi kamar kami.

Setelah solat dan bersantai di kamar sejenak sembari menonton pertandingan badminton di TV, kami turun untuk berenang. Ternyata, di kolam yang tidak begitu besar tersebut sudah cukup ramai oleh tamu lain yang rata-rata keluarga. Walaupun satu pool, tingkat kedalaman dibagi dua, seperempatnya untuk anak dan sisanya untuk dewasa. Ada bola plastik besar dan sebuah ban berukuran dewasa yang disediakan pihak hotel, lumayanlah bagi yang tidak membawa mainan. Saya sempat meminta handuk berenang karena handuk yang disediakan di meja hotel habis. Hanya tersedia tiga atau empat meja saja, sehingga agak sedikit berebut dengan yang lain.



Selesai berenang, kami sempat kembali ke kamar, menemani anak bermain di kamar dan menonton TV. Menjelang malam, lampu kami nyalakan dan ternyata kurang terang untuk ukuran saya. Cukup temaram dibandingkan beberapa hotel yang pernah saya kunjungi. That’s fine, kami tetap dapat tidur nyenyak.

Paginya, kami sarapan pagi di restoran.. Ternyata kami yang pertama datang,haha.. Masih jam setengah tujuh kalau tidak salah. Restorannya di lantai dua dan kami memilih untuk duduk di sebelah jendela yang menghadap swimming pool. Walaupun anak saya sibuk ngelihat ke kolam dan minta berenang tetapi lebih mudah menyuapinya ketika mulai susah makan.



Alhamdulillah, menurut saya menu yang ditawarkan tergolong banyak dan rasanya enak untuk standar saya. Dengan bentuk buffet, saya bisa icip-icip banyak makanan walau yang diambil itu-itu lagi sih, hehe.. Saya pilih kentang goreng yang dibentuk bulat, sosis, dan salad sementara suami yang lidahnya Indonesia banget memilih nasi pecel (atau gudeg ya? Saya udah lupa). Bubur dan soto betawi juga ada, yang enggak ada adalah…sliced cake :p Ada mini croissant sih sebagai pengobat kekecewaan, ada egg station juga (yeayyy!). Oya, ini menu yang bikin saya kurang minum air putih: jamu beras kencur! Ga nyangka ada jamu dan rasanya membuat saya serasa di Jogja (soalnya jamu gendong di tempat tinggal saya manis banget, kebanyakan gula jawanya).


Setelah kenyang, saya “terpaksa” balik ke kamar soalnya enggak enak sama yang baru dateng dan tidak mendapat tempat duduk. Kebetulan tamunya lagi banyak kali ya, padahal otak masih craving for something sweet (tapi perut udah said stop), maklum ibu menyusui :D

Setelah sarapan, kami hanya di kamar saja. Pertimbangannya, selain enggak tau jalan di Bogor, takut nyasar dan terjebak macet. Padahal, tujuan weekend kali ini adalah beristirahat saja di hotel. So, sampai check out kami stay di kamar aja, ngobrol, nonton TV, main bareng anak, dan bobok siang.
Kesimpulannya, we really enjoyed our weekend! Buat hotel under 500k, reccommended. Jadi pengen hunting voucher hotel lagi nih, hehe..



Saturday, June 13, 2015

EF #22: A Failed Trip to Kebun Raya Bogor


Being a mother makes me want to visit as many parks as possible. Of course, I want my son to experience playing in the parks more than he does at malls. So, last month we went to Kebun Raya Bogor. It wasn’t a well planned one since our main destination was staying in a hotel. If we went to Bogor before check-in time, which was at 2 pm, we would definitely be trapped in a traffic jam. So, before 10 am we left for Bogor already and that means we had more than 3 hours to spend somewhere. Then, Kebun Raya Bogor was our choice.

Tuesday, June 2, 2015

Sabtu Bersama Bapak: Lessons Learned


Setiap kali selesai membaca buku bagus, pasti saya pengen review tulisannya di blog. Entah mengapa, selalu saja tidak kesampaian. Kali ini, saya paksain bikin ala-ala review (karena saya belum pernah bikin review buku) berbentuk poin-poin aja so it’s easier to remember.

Monday, June 1, 2015

If I were a BEC's admin..


..I would separate grammar sessions for beginners and advanced members. For beginners, the session is in Bahasa Indonesia. Joining a conversation in English where all members speak fluently can be intimidating for beginners. So, give a room for members to ask basic-repeated-silly questions J