Monday, June 5, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 7: KB TK Primagama)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

7. KB TK Primagama


TK Primagama cabang Jalan Kaliurang terletak di Kentungan, sekitar km 6.5. Sama dengan BIAS, TK ini juga mempunyai banyak cabang namun dengan jangkauan hingga Sumatra dan Kalimantan. Yang saya suka dari TK Primagama adalah gedung dan dekorasinya yang sangat colorful. Konsep pembelajarannya dikaitkan dengan multiple intelligence, dengan mengedepankan aspek habits forming dan life skill. Wujudnya dapat dilihat di buku rapot, yang umumnya berisi pencapaian life skill. Mengancingkan baju, mengupas kulit jeruk, sampai membuka tutup toples pun masuk ke materi pembelajaran.

Pelajaran agamanya tidak hanya doa harian, solat, iqro, tapi juga hadits pilihan. Doa-doanya pun dibuat dalam bentuk lagu sehingga mudah dihapalkan. Bahasa Inggris digunakan dalam bentuk daily instructions sehingga anak cepat mengingatnya.

Jam sekolah dimulai pukul 7.30 hingga 11.30, Senin sampai Sabtu. Untuk  playgroup hanya tiga kali seminggu. Setiap bulan, mereka mengikuti Special Day yang diadakan sesuai hari libur nasional, misal Hari Bumi, Hari Listrik, dst juga field trip. Dibanding sekolah lain, Primagama memberikan jadwal trial class yang paling banyak yaitu tiga hari.


Biaya masuknya sekitar Rp 12.500.000 (sudah termasuk DMI atau tes potensi minat bakat melalui sidik jari) untuk TK A dengan SPP Rp 425.000. Mereka sering memberikan diskon khususnya ketika acara Open House, juga voucher yang dibagikan saat event yang mereka adakan. Teman saya ada yang membayar uang masuk yang selisihnya lumayan karena mendaftar awal saat bulan promo plus menggunakan voucher. Oya,  jika anda ibu yang suka bersosialisasi sekaligus berorganisasi, TK Primagama memiliki komunitas Prima Parents yang rutin membuat event seperti seminar parenting. Untuk keterangan lebih lengkap bisa dilihat di www.sekolahprimagama.sch.id

Banyak juga ya hasil surveynya, hehe…ini belum semua lho. Tapi karena kriteria saya mencari sekolah adalah yang dekat, yang pertama, atau yang sekolah alam, tampaknya saya mulai bisa mengerucutkan pilihan. Tentu saja yang sesuai budget dan anak kita enjoy dengan tenaga pengajar dan aktivitas di sekolahnya. Semoga review beberapa sekolah ini bisa membantu para mama untuk memilih sekolah, mumpung tahun ajaran baru belum dimulai.

Notes: foto-foto diatas diambil dari google



Sunday, June 4, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 6: TKIT BIAS)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

6. TKIT BIAS

Tampak depan TKIT BIAS Jalan Kaliurang
Sekolah ini termasuk yang terkenal di Jogja dan memiliki banyak cabang. Lokasi BIAS yang saya kunjungi ada di Jalan Kaliurang Km 10,9. Saat datang ke sana, anak saya langsung minta main di playground yang memang ukurannya sangat besar dibanding sekolah lain yang kami kunjungi. Sayangnya, playground tersebut untuk usia SD (saya tidak tahu kalau cabang tersebut adalah SD BIAS) dan ketika bertanya tentang informasi TK ternyata ada di tepi jalan Kaliurang km 9 dan hanya ada full day school. Yah..saya kira ada yang regular. Saya pun urung mengunjungi TKnya, tetapi sudah mendapat brosurnya.


Dari brosur tersebut saya tahu bahwa pengajarnya adalah para ustadzah yang rutin mengikuti kegiatan pengembangan profesi. Selain itu, pengajaran huruf AlQuran dilakukan secara small group, pengajaran ilmu tauhid dengan cara sambil bermain sehingga tidak terkesan berat, juga belajar berwudhu tanpa takut basah karena anak diwajibkan membawa dua stel pakaian ganti. Makanan disajikan secara prasmanan setelah tidur siang, dan saat tidur siang tersebut anak-anak diputarkan lantunan juz ‘amma. Cukup menarik, ya..

Biayanya cukup mahal untuk sekolah full day, yaitu pendaftaran dan tes tumbuh kembang Rp 450.000, biaya saat masuk yang dibayar sekali saja (sejenis uang gedung) Rp 11.315.000, biaya rutin per semester RP 1.645.000, registrasi naik kelas Rp 600.000, dan SPP Rp 1.350.000. Sama seperti Afkaaruna, dalam brosur dicantumkan komponen apa saja yang tercakup dalam biaya tersebut, sehingga calon walisiswa tahu pasti uangnya akan digunakan untuk apa. Untuk yang memiliki dana pendidikan lebih, dan ingin anaknya sekolah full day, saya rasa tidak udah berpikir dua kali untuk memasukkan anak kesini. Suasana sekolahnya pun sangat luas dan nyaman layaknya sekolah alam, banyak pepohonan dan dekorasi outdoor. Info lebih lengkap bisa dibaca di www.sibibias.sch.id




Saturday, June 3, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 5: Afkaaruna Islamic School)

      Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.



5. Afkaaruna Islamic School

Perkenalkan, the new kid on the block, baru menerima murid tahun lalu. Lokasinya di Harjobinangun, masuk beberapa kilo dari Jalan Kaliurang km 12,5. Suami saya tahu tentang sekolah ini dari seorang teman dan setelah di googling, kami pun mantap menengok ke sana. Sekolah ini menempati bangunan rumah sang pemilik, dan masih banyak sawah di sekelilingnya. Saat masuk ke front office, saya langsung kegirangan melihat buku-buku anak impor terpajang di sana, haha… Kebetulan sekali pemiliknya sendiri yang menyambut sehingga suami bisa bertanya-tanya sementara saya dan anak tur keliling sekolah.

Afkaaruna menyebut dirinya sebagai internasional madrasa, yang konsep intinya adalah menggabungkan tiga poin: Islam, local culture, dan international mindedness. Walaupun baru berdiri, mereka menggunakan IPC alias International Primary Curriculum dan SDnya pun sedang dalam tahap pembangunan.

Saat kami berkunjung, murid-murid TK sedang belajar bahasa Inggris dipandu seorang native speaker. Oh ya, bahasa pengantar di sini adalah bahasa Inggris (newsletter untuk walisiswa pun full in English). Kelas playgroup dan TK B kalau tidak salah berada di bangunan utama, dan kelas TK A menempati ruangan setengah terbuka di belakang dan langsung menghadap playground dan sawah, langsung bikin jatuh cinta! Mereka juga diajarkan berkebun sehingga di sekitar playground yang ada rumah bambu mininya, kita bisa melihat beberapa tanaman hasil karya mereka. Seperti sekolah alam ya..




Jam sekolahnya dimulai pukul 7.30 dimana murid-murid secara personal mengingat kembali hafalan surat-surat pendek, kemudian solat dhuha, english vocabs enrichment, materi IPC, dan materi sejarah Islam sampai sekitar 11.30, dilanjutkan sholat dhuhur berjamaah dan makan siang. Untuk murid full day, sekolah berakhir pukul 16.15. Pendirinya merupakan sekelompok dosen yang sama-sama meraih gelar doktor di luar negeri, sementara sebagian pengajarnya memiliki latar belakang pendidikan pesantren.  

Biayanya masuknya Rp 6.000.000 untuk TK A (sudah termasuk uang pendaftaran dan seragam, juga biaya field trip dan tutup tahun) dan TK B Rp 4.250.000. SPP Rp 450.000 termasuk snack harian, dan tambahan RP 150.000 untuk daycare. Untuk info yang lebih detil bisa dilihat di www.afkaaruna.sch.id

Halaman belakang berbatasan dengan sawah




Friday, June 2, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 4: TK Sultan Agung)

      Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

     4.  TK Sultan Agung


Secara kebetulan, suami menemukan sekolah ini saat jogging. Letaknya memang di dekat sawah, kurang lebih di Jalan Kaliurang km 13, belakang kampus UII (Universitas Islam Indonesia). Ternyata, sekolah ini memang milik Badan Wakaf UII.

Berbeda dengan semua sekolah yang saya review disini, TK Sultan Agung adalah TK konvensional yang mengingatkan saya pada masa kecil, dengan playground berisi ayunan, jungkat-jungkit, perosotan dari besi warna warni (dan lumayan banyak lho!) dengan kelas berisi meja kursi kayu warna warni pula, serta ibu guru berjilbab dan berbaju batik serta rok.

Dibandingkan dengan TK sejenis yang saya lewati sepanjang survey, TK ini ukurannya sangat bersih dan siswanya lumayan banyak. Saat itu sedang ada latihan drumband dan jam pulang sekolah untuk siswa PG A dan B, sehingga saya bisa mengamati suasana riil di sekolah. Yang saya ingat dari kunjungan ke sini adalah saya disambut dengan sangat ramah oleh ibu kepala sekolahnya. Dari semua sambutan saat mencari info, inilah yang paling genuine ramahnya. Mungkin karena beliau sudah lama jadi guru TK kali ya.

Hasil tanya-tanya ke beliau, materi di sekolah ini berdasarkan hari, misalnya Kamis cooking, Jumat religion, dan ada satu hari yang gurunya adalah wali murid. Kata teman saya memang sekolah ini melibatkan wali murid dalam porsi yang lumayan besar. TK ini juga TK Islam sehingga ada target hafalan doa harian dan surat pendek, termasuk iqro dan solat. Jam belajarnya dari pukul 7.30 sampai pukul 11.00 kalau tidak salah, tapi hari Sabtu masuk ya. Saat saya bertanya tentang trial class, ibu kepsek membolehkan namun harus konfirmasi dulu karena snack harian dikoordinir orangtua.


Biayanya? Cukup membuat mata terbelalak. Uang pangkal RP 2.600.000 dan SPP Rp 75.000. Yes, anda tidak salah baca. Saya sempat berpikir, gurunya digaji berapa, haha… Ternyata bukan seperti itu kok. Karena sekolah ini adalah milik Badan Wakaf UII so mereka menerima subsidi. Khusus untuk dosen di UII, SPP gratis kalau tidak salah. Meskipun sekolah subsidi, mereka terakreditasi A. Guru-gurunya pun sebagian besar lulusan pendidikan guru TK/PAUD. 

Website resmi tidak ada, tetapi kalau kita googling ada blog yang mereka buat tahun 2010, cukup menggambarkan kurikulum dan info dasar walau tidak update.


Thursday, June 1, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 3: MySchool)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.
Tampak depan gedung library dan playgroup
3. Sekolahku-MySchool

Sama seperti Bianglala, MySchool juga tidak berbasis agama. Bedanya, MySchool konsepnya mirip sekolah alam dengan lokasi yang terletak di tepi sawah dan peternakan ikan. Fyi, pemandangan di sekitarnya indah sekali, apalagi jika langit cerah dan Gunung Merapi terlihat jelas. Bangunan untuk TK dan SDnya pun sederhana, seperti gedung SD negeri (dulunya merupakan gedung SD inpres) namun lebih banyak dekorasi. No fancy playground ya, seperti sekolah alam pada umumnya.

Untuk playgroup dan daycare gedungnya terpisah dan tentu saja ada tempat bermain yang menarik. Gedung daycare ini menjadi satu dengan perpustakaan yang  -untuk standar sekolah di Jogja- buku anak berbahasa Inggrisnya lumayan banyak dan terbuka untuk umum.

Sayang sekali, karena kuota yang terbatas, mereka tidak memiliki trial class. Khususnya untuk TK, mereka mengutamakan murid playgroup mereka yang naik kelas. Jadilah saya gigit jari, mengingat saya sangat menyukai konsep sekolah alam. 


Ruang bermain siswa playgroup berada di balik rak buku ini (mau motret gak enak hehe)  
Biaya sekolah di sini menurut saya cukup terjangkau. Uang pendaftaran Rp 200.000, SPP Rp 425.000, uang tahunan Rp 3.500.000. Sekolah ini juga merupakan sekolah inklusi, dengan tambahan biaya Rp 100.000/bulan untuk ABK. Jika naik kelas, siswa mendapatkan diskon uang tahunan 20%. Jika menghendaki antar jemput dan katering, layanan tersebut juga tersedia.

Kurikulum yang digunakan di MySchool adalah kurikulum homeschooling nasional dengan student engagement yang tinggi. Selain pelajaran standar di TK seperti Science dan English, MySchool juga memiliki pelajaran Library, Gymnastics, dan Gardening.  Bagi yang ingin mengetahui konsep mereka secara lebih detil bisa mengunjungi website www.sekolahku-myschool.org

PS: Tulisan ini sebenarnya sudah dibuat hampir dua bulan yang lalu, dan saya kirim ke sebuah website parenting. Karena sudah satu bulan menunggu dan tidak dimuat, saya memutuskan untuk memuatnya di blog pribadi :) 


Wednesday, May 31, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 2: Bianglala)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

2. Bianglala

Bianglala termasuk sekolah yang sudah cukup terkenal di Jogja dan sudah terakreditasi A. Lokasinya di Kopen, Jalan Kaliurang km 7,5. Dari Jalan Kaliurang tidak ada penanda arahnya, jadi harus tanya teman dulu. Berkebalikan dengan Al Wahdah, aksesnya cukup mudah karena berada di lingkungan perumahan yang tidak terlalu padat, hanya dua kali belok dari Jalan Kaliurang.

Foto dari website resmi Bianglala
Pertama kali sampai di sini, saya langsung disambut oleh sekuriti yang ramah dan diarahkan untuk ke resepsionis. Anak saya…langsung ke playground! Dengan kombinasi mainan fiber dan besi warna-warni plus kolam pasir, playground ini jelas menjadi magnet bagi anak-anak. Jadi, saya pun bisa bebas bertanya-tanya ke meja resepsionis di lobi yang cukup besar. Saya langsung diberi buklet berisi rincian biaya, fasilitas, dan tata tertib dan ini bisa dibawa pulang. Untuk TK, biaya pendaftaran Rp 250.000, biaya fasilitas tahunan Rp 6.600.000 dan SPP Rp 425.000 dan biaya seragam Rp 610.000. 

Biaya fasilitas dapat dicicil 3x sampai bulan November. Untuk tahun ajaran baru, siswa harus membayar biaya fasilitas lagi. Jadi misalnya anak saya sekarang masuk TK A, tahun depan harus membayar enam juta lagi untuk masuk ke TK B. Berarti kalau ditotal, kita harus menyiapkan Rp 13 jutaan sampai lulus TK.

Terlihat mahal memang, namun sebanding dengan fasilitas yang diberikan. Selain gedung sekolah yang bukan berbentuk rumah tinggal, Bianglala memiliki kelas berAC, perpustakaan, area bermain indoor dan outdoor, pemeriksaan dokter setiap bulan, dan dokter gigi setiap enam bulan sekali. Orangtua juga bisa berkonsultasi dengan psikolog sebulan sekali. Biaya field trip juga sudah termasuk dalam biaya fasilitas, dan…. kalau berenang tidak harus keluar karena mereka memiliki kolam renang sendiri, yeayy!

Jadwal belajar dimulai pukul 7.30 hingga 10.30. Karena Bianglala tidak berbasis agama, pelajaran agama disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing. Pelajaran komputer, tari, dan Iqro merupakan ekskul wajib, sementara ekskul optionalnya ada drumband, vocal, modeling, dan bahasa Inggris. Untuk orangtua yang tidak mengharuskan anaknya di sekolah berbasis agama dan tidak menginginkan durasi belajar yang tidak melelahkan, saya merekomendasikan sekolah ini.
Bianglala juga memiliki kelas playgroup dan daycare. Info lengkapnya bisa dilihat di website mereka www.bianglala-kindy-playgroup.com.

PS: Tulisan ini sebenarnya sudah dibuat hampir dua bulan yang lalu, dan saya kirim ke sebuah website parenting. Karena sudah satu bulan menunggu dan tidak dimuat, saya memutuskan untuk memuatnya di blog pribadi :) 




Monday, May 29, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 1: Sekolah Al Wahdah)


Sebentar lagi si sulung berusia empat tahun. Saya dan suami berencana memasukkannya ke TK, terutama untuk mengasah kemandirian dan sosialisasinya. Maklum, ia masih banyak dibantu termasuk ketika makan dan tergolong anak yang pemalu. Mengingat tahun ajaran baru tinggal 2 bulan lagi, kami pun survei ke beberapa sekolah yang berada di sekitar Jalan Kaliurang atas (a.k.a kilometer 6 ke atas). Berikut ini beberapa sekolah yang telah kami kunjungi berdasar rekomendasi teman dan kerabat:


1. Sekolah Al Wahdah

Sekolah yang bernama Taman Tahfidz Anak Al Wahdah ini berlokasi di Jetis Baran, Jalan Kaliurang km 10. Lokasinya tidak terlalu dekat dengan jalan besar dan masih dikelilingi oleh sawah. Saya dan suami sempat nyasar juga karena tidak ada petunjuk jalan. Sampai di sana, suasana sekolah terlihat cukup tenang dan tidak ada aktivitas di halaman luar. Tidak terlihat ada sekuriti atau resepsionis (ternyata front officenya ada di dalam).

Bangunannya memang terlihat sederhana, begitu juga dengan playground yang mainannya terbuat dari besi. Kami disambut oleh seorang ustadzah yang kemudian menjelaskan tentang garis besar pengajaran di sana. Sesuai namanya, Al Wahdah menekankan pada hafalan Quran selain juga materi umum yang dijumpai di sekolah Islam lainnya seperti hafalan doa harian, hafalan hadits pilihan, dan solat berjamaah. Bedanya, siswa yang dibagi dalam kelas PG (2-3 tahun) dan TK (4-6 tahun) ini ditargetkan untuk hafal minimal 1 juz. Wow..saya saja tidak hafal juz 30 hehe..

Sekolah dimulai pukul 7.30 hingga pukul 13.00, kecuali bagi yang full day hingga pukul 16.00. Biayanya cukup terjangkau. Biaya pendaftaran Rp 85.000, biaya pendidikan Rp 650.000 dan biaya pengembangan Rp 1.800.000. Untuk kelas half day, SPP Rp 260.000 dan Rp 350.000 untuk full day. Biaya sudah termasuk snack 1x (full day 2x) dan makan siang. Kalau kita mendadak berhalangan menjemput misalnya, bisa full day insidental juga lho dengan menambah Rp 15.000 per hari. Selain biaya pokok di atas, ada uang seragam sebesar Rp 230.000 untuk 2 stel.

Contoh mainan di halaman luar
Saya tidak sempat melihat ke dalam kelas maupun kamar mandi (ini penting buat saya, haha). Saya agak takjub saja dengan ketenangan sekolah ini. Tidak terdengar suara berisik khas TK. (tapi kali lain saya melintas, halaman sekolah cukup ramai dengan murid-murid yang sedang bermain) Oh ya, sekolah ini menjadi satu bangunan dengan SD-nya lho. Saat saya iseng melongok lewat jendela di salah satu kelas SD, tidak terlihat ustadz/ustadzah di kelas, tetapi anak-anaknya tertib. Wah..
Untuk orangtua yang ingin anaknya bisa menghafal Quran sejak dini dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang agamanya, saya merekomendasikan sekolah ini. Sayangnya, trial class baru tersedia pada bulan Juli.

Untuk yang tertarik bisa mengunjungi website www.sekolahalwahdah.com.

PS: Tulisan ini sebenarnya sudah dibuat hampir dua bulan yang lalu, dan saya kirim ke sebuah website parenting. Karena sudah satu bulan menunggu dan tidak dimuat, saya memutuskan untuk memuatnya di blog pribadi :) 


Thursday, May 18, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 2)


Dalam post saya sebelumnya, saya sudah memilih salah satu jastip (jasa titip) untuk berbelanja di pameran buku terbesar namely Big Bad Wolf Book Sale Jakarta (BBW). Sambil melobi suami untuk menyiapkan budget atas nama anak (yes, right), saya mulai cuci mata beberapa “bocoran” buku yang akan dijual di BBW nanti. Selain itu, tidak lupa saya menyisakan cukup memori di hp untuk menginstall LINE dan mulai mempelajari bagaimana cara menggunakannya (ini saya berasa jadul banget ya…perasaan masih kelahiran 80an deh..)

Target saya sih, bisa mendapat boardbook yang harganya di bawah Rp 50.000. Tahun lalu boardbook seharga Rp 45.000 cukup banyak dan bagus-bagus. Sementara tahun ini, di official  Instagram BBW saya lihat Rp 50.000-Rp 75.000 yang standar. So, saya belum mempunyai wishlist atau WL (daftar belanjaan alias judul buku yang diinginkan) yang spesifik. Lihat-lihat saja dulu apa yang diupload sama jastip nanti.

Dannnn….here comes the D Day! Tanggal 20 April, jastip saya sudah di lokasi, dan kegiatan upload mengupload foto pun dimulai. Saat itu member di grup LINE sudah mencapai 120 orang. Karena saya masih play safe, saya tidak terlalu kalap mengetik kata ‘fix’. Pikir saya saat itu, event ini kan masih berlangsung sampai tanggal 2 Mei. Saya pun juga memantau Instagram beberapa jastip, dan me-screenshot buku yang saya mau untuk kemudian dijapri ke admin jastip agar bisa dicarikan. Dari situlah kemudian saya mempunyai wishlist.

Hari pertama, tidak semua buku yang saya mau saya dapat. Di BBW, terlalu lama berpikir sama dengan siap kehilangan. Cara kerja para jastip ini kan memotret buku kemudian mengupload, dan buku ini tidak bisa mereka tahan terus kan, kecuali mereka membelinya. Oke, misalnya pun mereka bisa keep bukunya, how many can they keep? Apalagi jenis buku yang peminatnya banyak, bersiaplah untuk secepat mungkin menulis kata fix. Kebanyakan kasus, kita tidak bisa 100% mengikuti live shopping karena kerja atau sedang mengurus anak. Ketika melihat hp, ada buku yang kita inginkan padahal admin sudah tidak lagi berada di dekat buku itu. Admin akan tetap mencarikan sih, tetapi tidak jaminan akan menemukan buku itu kembali.

Maka, Sembilan hari berikutnya tangan saya pun lengket ket dengan hp, hahha.. Yang tadinya saya mengharamkan suami untuk melihat hp sambil mengurus si kecil, sekarang saya sendiri yang melanggar peraturan tersebut atas nama BBW. Hp yang satu untuk melihat LINE, yang satunya untuk melihat IG, karena ada online bookstore langganan yang live shopping via IG, tanpa deposit pula. Mata ini benar-benar dimanjakan oleh warna-warni buku anak dengan fitur yang bikin kita ingin memiliki semuanya. Syukurlah, otak ini masih bisa diajak kompromi dengan selalu mengingatkan how much money I had to spend for this. Saya selalu menyiapkan buku catatan untuk menulis buku apa saja yang sudah saya fix berikut harganya.

Saya bisa bertahan mengikuti live shopping sampai hari terakhir BBW. Dari yang bukunya masih bagus-bagus sampai yang sudah tinggal sisa-sisa. Dari yang harganya masih mahal sampai dapat buku lokal yang harganya as cheap as Rp 5000. Alhamdulillah…budget saya membengkak 3 kali lipat T.T. Menyesal? Sedikit sih…karena menurut adik saya kalau kita sudah selesai baca bukunya dijual lagi pun masih laku. Jadi uang bisa kembali walau hanya sekian persen. Yang penting, kita sudah menikmati bukunya.

Setelah seminggu lebih mengikuti perhelatan akbar ini, saya bisa menilai kualitas jastip melalui poin-poin di bawah ini (in case next BBW mau ikut lagi)

1.       Jumlah anggota tim
Tim jastip saya empat orang dengan anggota mencapai 300 orang di hari-hari akhir. Saya melihat di instagram ada yang anggotanya sepuluh lebih, ada juga yang cuma berdua dengan teman karibnya. Apakah semua terhandle dengan baik? Hmmm…agak lama sih memang responnya. Ketika live shopping memang cepat uploadnya, namun ketika membuat rekapan yang lama. Rekapan ini dibuat dengan cara (kalau tidak salah) menentukan siapa saja yang mendapatkan buku yang diinginkan berdasar urutan mengetikkan kata fix. Kemudian, admin akan mengirimkan sejenis tabel ke member yang berisi judul buku, jumlahnya, harganya, dan total jastipnya.
Saat pengiriman pun lebih lama lagi. Barang baru mulai dikirim H+2 event berakhir, dan dikirim berdasarkan member yang telah menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu. Ada jastip yang mulai pengiriman lebih cepat. Saya melakukan pelunasan tanggal 6 Mei (karena rekapan baru keluar tanggal 4 Mei), barang dikirim tanggal 8 Mei (karena 7 Mei minggu) dan paket tiba tanggal 13 Mei. Takes time banget yah..

2.       Jumlah anggota grup dan rules
Mengurus member yang berjumlah ratusan dan isinya adalah emak-emak memang tidak mudah. Ada yang membombardir admin di group notes, ada yang japri, ada yang mengirimkan foto-foto buku wishlistnya di grup sehingga anggota lain mengira itu buku BBW yang diupload admin, ada yang nggak terima member lain nge fix langsung 7 buku, dsb dsb. Rame deh pokoknya. Admin pun selalu mengingatkan member untuk mematuhi rules yang sudah mereka buat, begitu juga para member. Saling mengingatkan. Yang saya tidak begitu setuju adalah admin terus menerima anggota baru (termasuk yang belum kirim deposit) dan para newbie bertanya di grup “bagaimana rulesnya, mereka harus apa” dan semua basic questions. Brrrr… Agak sedikit mengganggu ritme apalagi kalau sedang heavy uploadSebaiknya sih anggota grup dibatasi, sesuai kemapuan admin.

3.       Selera buku
Beberapa hari pertama, saya agak kecewa dengan selera buku para admin, khususnya yang bapak-bapak. Saya cari yang murah bagus tapi yang diupload yang mahal-mahal dan kurang mewakili selera buibu. Saya bisa bilang begini karena saya juga melihat apa yang diupload jastip lain di instagram. Lama kelamaan sih mereka mengupload sesuai wishlist para member dan buku-buku bestseller, termasuk juga buku dengan harga yang lebih terjangkau.

4.       Kecepatan respon
Sudah dibahas diatas ya mengenai kecepatan respon yang memang agak kurang. Saya sih memaklumi, karena ini pilihan saya juga untuk bergabung di jastip yang banyak anggotanya. Ada jastip lain yang membatasi hanya 50 orang member. Ada juga yang anggotanya 300 lebih mereka mempekerjakan karyawan, jadi lebih profesional.

5.       Cara memotret buku
Ini juga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan beli atau tidak. Jastip saya memotret buku dengan cukup baik, tetapi kadang jaraknya kurang dekat dan tidak dipotret isinya (meskipun tidak disegel). Tampaknya target mereka adalah upload sebanyak mungkin. Ada jastip yang uploadnya berupa video termasuk bagian dalam buku dan bagian harga dizoom, ada juga yang beberapa buku sekaligus sehingga mengirit waktu.

6.       Kecepatan pengiriman
Poin ini juga sudah dibahas sekilas di atas. Admin sudah menentukan jadwal rekapan, jadwal pelunasan, deadline pengiriman data member, serta jadwal pengiriman paket. Kita bisa memilih jasa paket yang kita mau, admin sudah menyediakan link untuk mengecek harga paket per kilonya. Banyak yang sampai beberapa hari sebelum tulisan ini saya post, masih belum menerima paket. Selain karena faktor dari jasa pengirimannya, ada juga faktor kecepatan jastip dalam membungkus buku. Dengan tenaga hanya maksimal empat orang dan sekian ratus customer, sudah jelas semua tidak bisa dilakukan dengan cepat.
Ada satu hal yang membuat saya kecewa, yaitu paket buku sampai di rumah saya dalam keadaan kardus ringsek. Aduh, ini nyesek sekali. Setelah saya cari penyebabnya, ternyata bukan salah cargonya, tetapi salah jastipnya yang menggunakan kardus dengan ukuran terlalu besar dan menimbulkan rongga kosong antara buku dengan kardus. Cara menggunakan lakbannya pun asal sehingga ada yang berlubang. Kardusnya pun sudah using…padahal I paid extra for bubblewrap and cardbox. Jastip langganan saya tidak mencharge untuk yang demikian. Yasudlah…ono rego ono rupo. Resiko saya pilih jastip yang feenya murah. Alhamdulillah, bukunya hanya ringsek satu dan cacat minor dua. Jastipnya pun sudah minta maaf, I appreciate that.

Fiuh…finally the story ends. Beginilah rasanya menikmati BBW via jastip. I imagine their struggle untuk memilih buku, memotret buku, upload, menjaga buku pesanan, antri membayar, menentukan siapa dapat buku apa, menunggu pelunasan sementara mereka sudah nombokin sekian banyak orang, menerima komplain, dan sebagainya. Salut.

Kalau tidak ada jastip mungkin saya hanya bisa ngiler dari sini, hehe…





Tuesday, May 9, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 1: Memilih Jastip)


Apa reaksi seorang penggemar buku anak seperti saya ketika tahu Big Bad Wolf Books (BBW) datang lagi ke Indonesia? Pengen dateng!

Masalahnya, saya sudah di Jogja dengan status memiliki bayi yang belum genap tiga bulan. Sedih bukan kepalang. Saya sempat browsing harga tiket pesawat dan hotel, siapa tahu masih bisa datang. Lagi-lagi akal sehat saya mengingatkan resikonya membawa bayi kesana. Bukannya senang, bisa-bisa saya malah kerepotan dan tidak bisa menikmati.

Makin nyesel lagi kalau mengingat saat BBW pertama saya juga tidak kesana though it was only two hours driving, karena nggak klop dengan jadwal suami. Kesimpulannya, saya memang tidak berjodoh dengan BBW. Solusinya, pakai jastip alias jasa titip. (saya pernah membahas tentang jastip ini di sini)
Ternyata, memilih jastip itu tidak segampang yang dikira. Eh, memang saya aja yang ribet. Namanya juga emak emak, pilih jastip yang paling ekonomis hahaha…

Saya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memilih jastip. Pertimbangannya antara lain:

1.          Biaya titip per buku
Rata-rata, setiap jastip mematok harga Rp 10.000 untuk setiap buku di bawah Rp 100.000. Ada yang lebih murah, ada yang lebih mahal.

2.          Ongkos kirim
Ini berkaitan dengan lokasi pengiriman jastip tersebut. Rata-rata memang di Jakarta atau Tangerang, tetapi ada juga yang di Jogja. Saya sempat ingin menggunakan yang sesama Jogja karena tidak perlu bayar ongkir, bisa diambil langsung ke rumah si jastip. Sayangnya, biaya jastipnya lebih mahal dibanding jastip lainnya. Kalau buku yang kita beli sedikit sih masih bisa untung. Tapi kalau banyak, misal 20 buku dengan jastip @RP 15.000 lumayan juga kan  Rp 300.000..  Sementara budget saya mungkin tidak akan mampu membeli buku lebih dari 3kg. Dengan JNE, ongkir Rp 19.000/kg berarti saya harus membayar tidak sampai Rp 60.000. Jika 1 kg setara dengan 6 buku misalnya, berarti jastipnya Rp 10.000x6 dikalikan 3kg sama dengan Rp 180.000. Tetap lebih murah yang dari Jakarta kan..

Contoh promo jastip di instagram

3.          Shopee
Buat yang sudah sering belanja online pasti tahu Shopee, sejenis portal belanja yang menawarkan free ongkir dengan transaksi minimal RP 120.000. syaratnya, kita juga harus punya akun Shopee. Dari beberapa jastip yang saya survey, ada satu yang menawarkan transaksi melalui Shopee di bio instagramnya.  Meskipun demikian, ada batas maksimalnya. Kalau tidak salah, ada juga yang sifatnya subsidi ongkir. Lumayan kan, bisa menghemat beberapa puluh ribu.

4.          Track record
Ini tidak kalah penting. Saya percaya, jastip yang sudah pengalaman biasanya sudah tahu medan. Bagaimana saya bisa menyimpulkan kualitas mereka? Kalau saya pribadi, lihat akun instagramnya. Ada yang memang spesialis jastip, itu pun masih bisa dikelompokkan lagi menjadi jastip khusus buku, jastip buku dan baju, bahkan jastip segala macam barang. Ada juga yang online bookstore biasa tetapi memutuskan untuk menjastipkan diri di BBW, dan ada juga perseorangan yang menerima jastip karena mereka memang mau.
Tips lain adalah melihat tampilan IG mereka. Saya melihat sampai ke foto terdahulu mereka, pilihan buku yang mereka jual, design dan kata-kata yang mereka pilih untuk mempromosikan diri, nomor kontak serta pencantuman rekening. Dari situ, saya cukup bisa melihat mana yang memang niat jadi jastip, yang sudah pengalaman di BBW, maupun yang anak kemarin sore.

5.          Aplikasi yang digunakan
Mayoritas jastip menggunakan LINE Karena katanya sih bisa memuat banyak foto dalam album-album terpisah, sehingga mudah diklasifikasikan. Ada juga yang melayani live shopping via instagram walau tidak banyak. Selain itu, grup LINE bersifat tertutup sehingga hanya mereka yang sudah di invite oleh admin lah yang bisa bergabung. Biasanya, syarat untuk bergabung dalam grup LINE tersebut adalah transfer deposit sebesar (rata-rata) Rp 100.000. Saya pun sudah ancang-ancang untuk mengunduh aplikasi LINE apabila sudah menjatuhkan pilihan pada sebuah jastip.  

6.          Presale Ticket
Satu hari sebelum BBW resmi dibuka, ada yang namanya acara Penjualan Perdana atau presale. Hanya yang memiliki tiket lah yang bisa masuk. Saya sendiri tidak tahu mekanisme mendapatkan tiketnya bagaimana, namun cukup banyak jastip yang memiliki tiket ini. Keuntungannya adalah, stok buku masih lengkap sehingga kemungkinan mendapatkan buku yang lebih bagus dan lebih murah lebih besar.


Baiklah, akhirnya saya sudah memantapkan hati memilih satu jastip setelah berpikir masak-masak. Serunya membeli buku di BBW akan saya tulis di postingan berikutnya.


Wednesday, May 3, 2017

Hotel Review: Kusuma Sahid Prince Solo

Kalau di post sebelumnya saya mereview sebuah hotel yang menurut saya “tua”, ternyata kali ini saya akan berbagi pengalaman menginap di sebuah hotel yang lebih tua lagi.

Awalnya, suami menawarkan saya untuk ikut liputan ke Solo dan menginap di Lor In. Saya setuju donk ya, karena saya tahu Lor In itu hotel bagus dan worth it kalau bela-belain ngajak baby Argi dengan segala resiko rewelnya di mobil. Sehari sebelum berangkat, suami dapat kabar kalau hotel full booked dan dapatnya Kusuma Sahid Prince. Langsung saya gooling hotel tersebut dan langsung agak syok karena tidak sesuai ekspektasi saya. Bahkan, hotel berbentuk semi keraton ini sempat direview tidak bagus tentang kebersihannya. Well, okay, saya tidak mungkin membatalkan ini karena sudah bilang iya ke suami. Bismillah, semoga hotel ini tidak seburuk yang saya kira.

Bagian hotel tempat kamar kami berada
Kami tiba sekitar pukul 11 malam dan clueless dimana lahan parkirnya, dimana resepsionisnya. Kebetulan di hotel ini ada pendopo besar dan halaman parkirnya disulap menjadi booth untuk pameran moge (motor gede). Ternyata, resepsionisnya berada di pendopo tersebut, hanya berupa sebuah meja kayu dan seorang resepsionis. Persis bersebelahan dengan meja panitia moge. Setelah check in, kami pun masuk ke kamar yang berada di gedung paling dekat gerbang (dan terlihat paling modern), sementara kamar lain berupa bungalow. Lahan parkir pun outdoor dan berada di depan bungalow. Dengan dibantu seorang bellboy bertroli, kami pun naik ke bangunan berlantai dua tersebut.

Saat masuk, terlihat sekali bekas-bekas kejayaan hotel ini. Lantai full berkarpet, termasuk tangga ke lantai dua. Beberapa frame dipasang berisi tanda tangan tokoh penting yang pernah menginap disana. Sampai di kamar, ternyata lantainya berkarpet juga….dan sudah sangat kusam. Begitu juga kondisi kamar mandi dengan noda di bathtub dan lubang kloset, serta saluran pembuangan air bathtub yang rusak sehingga harus ditarik secara manual.



Di penunjuk jalan tadi, terlihat lima bintang di bawah namanya, sementara di ulasan internet tergolong bintang empat. Kalau menurut saya sih…bisa saja bintang empat asal lebih dirawat fasilitasnya. Tempat tidur dan yang lain-lain standar sih. Saya suka lemarinya yang besar sehingga bisa memuat baju-baju tanpa harus digantung. Amenitiesnya juga cukup lengkap dengan adanya sisir dan cotton bud. Yang tidak saya temui disini adalah…krimer! Betul, kopi teh hanya ditemani gula dan diasweet. Itu pun berlaku di restoran tempat kami sarapan. Padahal saya pecinta kopi krimer…

Selalu pas sudah ada bayi ya kalau foto bednya..
Cukup luas untuk menyimpan semua barang bawaan

Suasana kamarnya cukup temaram. Sama seperti Inna Garuda, di meja nakasnya juga terdapat tombol lampu. Hanya saja, AC sudah memakai remote. Alhamdulillah, kami masih dapat tidur nyenyak walaupun mendapat kamar dengan twin bed yang artinya saya harus menjaga Argi agar tidak ngglundung (jatuh –red) dari bed, hehe… Dia pun mendadak jadi bayi manis yang doyan tidur disini. Alhamdulillah lagi, masih ada penunjuk arah kiblat sehingga kami bisa langsung solat (hotel masa kini sudah jarang yang memasang tanda kiblat, IMO).

Keesokan paginya, saya dan suami bergantian turun sarapan karena anak-anak masih bobok juga sementara kami sudah lapar. Saya sarapan berdua dengan Aksa yang baru saja melek mata. Suasana restoran Gambir Sekethi sudah ramai. Selain karena ukurannya tidak besar, ada dua rombongan yang menginap disana. Saat itu jam setengah delapan kalau tidak salah. Menu buffetnya standar, nasi putih, nasgor, sayur, ayam. Saya sempat mencoba nasi goring yang tampaknya menjadi favorit karena selalu ludes dan refillnya lama. Bahkan saat saya mau nambah sudah habis. Jus buah pun habis dan tidak direfill. Sisanya, saya mencoba bubur ayam, sup sayur, omelet, dan roti selai. Semuanya enak. Petugasnya yang beberapa masih seperti PKL cukup ramah, bahkan di mbak yang membuat omelet selalu menawarkan untuk mengantar pesanan ke meja. Sampai pada suatu titik tampaknya ia sudah tidak mampu mengingat siapa pesan apa duduk di mana, hahah…



Kesimpulannya, rasa tidak mengecewakan tetapi stoknya yang harus diperbanyak.

Sambil menunggu suami pulang liputan, saya terpaksa stay di kamar saja karena Argi masih bayi, riskan kalau diajak jalan-jalan keluar. So, di kamar saya sempat main petak umpet dengan si sulung, nonton TV, baca koran, menemani Aksa main hewan-hewan mininya, sampai bikin popmie. Dalam masa pingitan tersebut, saya baru sadar bahwa bed tempat Argi bobok kok sering kedatangan semut kecil ya.saya yakin, saya menemui lebih dari sepuluh selama saya menginap di sana. Jadi, saya rutin ngecek kondisi kasur.

Tapi yang paling menyebalkan, tas saya disemutin gara-gara ada sebungkus yupi. Di rumah saya saja tidak pernah kejadian seperti ini. Sampai-sampai saya jemur tas di dekat jendela yang ada terik mataharinya. Semakin banyak makanan di meja, makin banyak pula semut ini datang. Bahkan, ada semut yang besar dan mereka berjalan di sudut tembok. Di malam kedua kami disana, malah si semut besar ini berani “nyebrang jalan” dari tembok ke tempat sampah. Saya jadi parno sendiri, sering ngecek barang-barang, apalagi lampu temaram membuat everything looks fine.

Mobil kami pun sempat parkir di luar hotel sepulang suami liputan. Area parkir hotel sudah full oleh peserta yang ikut acara moge tadi. Ohya, satu lagi, the wi-fi didn’t work. Berkali-kali saya masukkan username dan password di tiga gadget berbeda, semua gagal. Ketika telepon ke room service, mereka hanya menyarankan untuk mencoba lagi. Wewwww. Saya sempat agak bete karena kebetulan hape saya yang ada LINEnya habis kuotanya, modem juga (di rumah kami terbiasa ber wifi) sementara hari itu live shopping Big Bad Wolf Books. Akhirnya keesokan paginya saya isi pulsa modem.

Dari sini, sudah bisa disimpulkan bagaimana kesan saya selama disini. Dengan room rate sekitar 400ribuan semalam, mungkin kita masih bisa menginap di tempat yang lebih bersih. Jangan berpatokan pada bintang berapa karena mungkin sudah tidak sesuai lagi. Sebaiknya memang membaca review dulu di internet. Namun, mengingat ini adalah gratisan, saya sudah sangat bersyukur bisa weekend-an di luar kota.

Kolam renang bagaimana kabarnya? Kata suami sih bersih walau ramai. Suami batal mencoba fitness karena sudah gatel pengen renang. Kalau lokasinya termasuk strategis, hanya belok sekali dari Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo. Aksa pun sempat naik becak dengan ayahnya sambil cari makan, and he looked happy. And that’s what matters to me J


Saturday, April 22, 2017

Inna Garuda: Hotel Tua Nan Ramah

Bertahun-tahun tinggal di Jogja, tentunya Hotel Garuda tidak asing bagi saya. Saat namanya masih Natour Garuda, hotel ini menyimpan banyak memori. Sewaktu SD saya selalu ikut lomba menghias perangko di halaman parkirnya, termasuk parkir di hotel ini kalau lahan parkir di Malioboro Mall penuh, sampai solat di musholla karyawan yang ternyata sangat luas saat saya menjadi interpreter seorang tamu hotel. Persamaan semua pengalaman itu adalah: saya tidak pernah menginap di sana.

Awal bulan lalu, suami mendapat voucher menginap di Inna Garuda (begitu namanya sekarang) dari kantornya. Saya tentu saja semangat donk, hehe.. Selain karena termasuk hotel berbintang, saya juga penasaran dengan kondisinya saat ini. Tahu sendiri, pemerintah kota ini hobi banget ngijinin hotel baru sampai gang senggol pun ada hotel berbintangnya (dan cari taman kota buat anak aja susah #curcol). Dengan gempuran hotel-hotel baru tersebut, apakah Hotel Garuda masih tetap “wah” seperti imagenya di waktu dulu?

Well, I guess so.

Saya sudah menyiapkan mental sebetulnya, untuk mendapati “ketuaan” hotel ini. Pernah saya mendengar dari seorang rekan jika ada beberapa sudut kamar yang sudah lusuh karena usia. I won’t expect much then walau sejelek-jeleknya hotel bintang 4 harusnya tetap bagus kan..

Sampai di sana, parkirnya memang outdoor. Di musim hujan begini, saya dan suami tidak mau mengambil resiko butuh barang dan harus berbasah-basah ke mobil. Mending gotong aja semua printilan bayi dan balita ke kamar. Efeknya, kami harus minta bantuan bellboy untuk mengangkut barang bawaan kami sampai troli sangkar burungnya penuh. Alhamdulillah..

Sambil menunggu suami check in di resepsionis, saya menunggu di lobi yang saat itu memang sepi banget walaupun hari itu adalah Minggu. Ternyata saya tahu dari bapak doorman kalau kemarin mereka kedatangan 11 bus rombongan Bank BRI. Ooh gitu, berarti bisa disimpulkan hotel ini masih banyak peminatnya. Saya bersyukur menginap saat sepi begini, karena saat sarapan bisa lebih leluasa begitu juga besar kemungkinan untuk bisa berenang tanpa rasa risih.

Saat kami naik lift menuju kamar, kami sempat berpapasan dengan seorang bellboy yang sudah bapak-bapak. I guess he’s around 45. Ini pertama kalinya menemui karyawan berusia senior di hotel berbintang (berarti hotel ini masih menghargai dedikasi karyawannya). Beliau ramah dengan membuka percakapan yang membuat saya merasa “saya benar-benar di Jogja”. Atau, bisa juga karena saya orang Jogja jadi ada sejenis language connection di situ. Ya, intinya, bapak ini ramahnya tulus menurut saya.



Sampai di kamar, yeayyy..! Bagus kok hotelnya. Karpet yang biasanya menjadi ciri khas hotel berbintang tahun 90an sudah berganti parket, walaupun meja di samping tempat tidur masih original, termasuk teleponnya. Saat ingin mematikan AC (bayi saya tidak kuat dingin), saya mencari remote dan…tidak ketemu. Ternyata kontrol AC ada di meja nakas, berupa tombol putar off-low-medium-high. Si sulung pun iseng memutar-mutarnya dan ternyata…tombolnya lepas. Untungnya masih bisa dipasang lagi dan masih berfungsi dengan baik.



Kamar mandi (I did hope that it was not shower only seperti hotel kekinian or my baby wouldn’t be able to take a bath) alhamdulillah ada bath tub nya, dan kondisinya bagus. Overall, masih ada kesan luxurious di kamar ini, sampai ke kamar mandinya. Amenitiesnya memang biasa saja: sabun, sampo, shower cap, sikat gigi, sewing kit. Tidak ada bath gel untuk berendam, sisir, dan laundry bag tetapi ada hair dryer. Tisu juga hanya tersedia di kamar mandi.

Sekarang, saatnya melihat ke jendela. Ternyata kamar kami menghadap ke kolam renang! Langsung pengen nyebur rasanya karena sama sekali tidak ada orang. Karena di luar masih terik, kami leyeh-leyeh dulu saja sambil melihat channel apa saja yang ada di TV. Saluran TVnya lengkap hanya kurang jernih saja gambarnya.


Sorenya, kami turun ke kolam renang di lantai tiga. Ada dua keluarga dengan anak-anak yang sudah sibuk bermain air. Suami menemani Aksa berenang hingga pukul 5 sore, sementara saya di kamar dengan Argi yang tidur nyenyak. Saat suami kembali, gantian saya menikmati me time berenang sendirian hingga adzan Maghrib. Pool areanya memang tidak besar tetapi bersih, dengan changing room dan spa kecil di salah satu sisi.

Oya, kebetulan saat menuju kolam renang saya sempat satu lift dengan seorang bapak bellboy yang lagi-lagi ramah juga. Ia bisa membuka pembicaraan tanpa saya merasa dikepoin, haha… So far, saya merasa mereka membuat atmosfer hotel ini menjadi hangat J

Sehabis solat, suami dan Aksa sempat jalan-jalan di Malioboro. Niatnya sih mencari makan malam, tetapi yang ada hanya lesehan. Akhirnya kami sepakat untuk pesan makanan via GoFood, setelah sorenya diganjel Pop Mie hehe.. Pilihan GoFoodnya pun banyak sekali karena dekat dengan Malioboro Mall. Itulah yang menurut saya menjadi kelebihan dari hotel ini: lokasinya yang berada di Jalan Malioboro. No wonder harga deluxe room yang kami tempati 700 ribuan untuk weekdays dan 900 ribuan untuk weekend.
Suasana restoran
Sambalnya lengkap!
Sop melati yang segar

Masih ada manisan salak lho!

Paginya, kami sarapan sekitar pukul 8 pagi. Restoran yang bernama Malioboro something ini terletak di sebelah lobby lantai dasar. Ukurannya lumayan besar dan terbuka, dan pilihan makanannya pun lengkap. Menu standar seperti roti, salad, sereal, omelet jelas ada, termasuk yang khas Jogja yaitu gudeg serta jamu. Kesan saya adalah, makanannya enak! Dibandingkan dengan Eastparc (yang terakhir saya kunjungi) yang variasinya hampir dua kali lipat Inna Garuda, rasa makanan disini lebih nendang. Favorit saya adalah: omelet, puding roti, dan sop melati. Sop melati berisi sayuran segar seperti wortel, bunga kol, brokoli yang kita pilih sendiri dengan kuah yang gurih. Pokoknya enak deh. Yang failed hanya satu: nasi putih. Entah mengapa nasi putih yang saya makan kok keras, seperti belum matang…

Selesai makan, kami sempat duduk-duduk di lounge sambil baca koran, membaca sejarah hotel garuda, transformasinya sejak jaman Belanda hingga sekarang (betul, hotel ini sejak dulunya memang hotel dan masih mempertahankan bangunan aslinya), juga melewati beberapa fasilitas seperti business center, salon, drugstore, dan berpapasan dengan beberapa PNS yang menghadiri seminar sebuah dinas di lantai dua. Sampai di kamar, suami saya sudah mengambil jatah tidur duluan, haha…memang kalau menjelang check out itu kok bawaannya ngantuk ya… Saya? Packing dan beberes lalu tidur sebentar saat suami sudah bangun, sehingga anak kami tidak terlantar.

Ada gamelan tapi stiknya "menghilang", mungkin biar nggak dimainkan tamu anak-anak

Foto transformasi Hotel Garuda
Saat kami akan check out, kami dibantu oleh bapak-bapak lagi haha… Aduh, ini kenapa isi tulisannya bapak-bapak mulu ya? Tapi memang itu yang paling berkesan sih. Saat sarapan di restoran (dengan pramusaji yang masih muda), saya tidak merasakan aura yang sama. Mungkin mereka bisa lebih banyak belajar dari seniornya, ataukah keluwesan itu muncul seiring dengan waktu? It’s okay, saya tetap merasa senang kok spending night here.




Monday, April 17, 2017

Ketika Si Bayi Ikut Perpanjangan SIM..


Sabtu kemarin menjadi pengalaman pertama bagi Argi, anak kedua saya, berada di udara terbuka dalam waktu yang cukup lama. Pasalnya, saya harus memperpanjang SIM yang expired kurang dari seminggu lagi. Sehari sebelumnya, saya ke Jogja City Mall untuk tujuan yang sama. Sayangnya, mereka hanya melayani pemohon dengan KTP Jogja, sementara KTP saya masih Bogor. Petugas pun mengarahkan untuk memperpanjang di layanan SIM Keliling karena bisa melayani semua KTP. Baiklah..

Akhirnya saya, suami, Aksa dan Argi sampai di bundaran UGM sekitar pukul 9.30. Si bayi dua bulan ini rada rewel kalau naik mobil, dan sampai di lokasi pun masih rewel. Jadilah suami yang mengambilkan formulir untuk saya dan kemudian kembali ke mobil untuk menjaga Argi. Saya dan Aksa menunggu di dekat mobil SIM Keliling sembari….mencari pinjaman pulpen! Saya benar-benar clueless ya harus isi form semacam itu. Mengacak-acak bagasi mobil yang ada juga Cuma pensil…alis. Hahah… Alhamdulillah dapat pinjaman dari seorang ibu walau wajahnya setengah ikhlas LOL

Setelah isi formulir, saya menunggu di kursi-kursi plastik yang disediakan di trotoar sampai akhirnya setengah jam kemudian suami dan baby menyusul.  Untungnya lokasi mobil SIM parkir lumayan teduh hingga menjelang pukul 11 jadi tidak terkena terik matahari. Tahap selanjutnya setelah mengisi formulir adalah menunggu panggilan dari petugas kesehatan yang berada di dalam pos polisi. Saya mendapat nomor 40 dan saat Argi mulai digendong keluar nomor antrian baru sampai 23. Bismillah, semoga tidak rewel.

Suasana di trotoar tempat menunggu antrian
Suami saya menggendong Argi yang tertidur tanpa gendongan sekitar 45 menit, padahal ia belum sarapan. Saya tawarkan untuk bergantian ia tidak mau, walau akhirnya mau juga saat ia sudah benar-benar lapar dan tangannya kebas, hehe.. Akhirnya saya gendong Argi sementara suami ke mobil untuk makan.

Sekitar jam 10.30 saya mendapat panggilan untuk tes kesehatan. Petugasnya seorang bapak yang bisa dibilang celelekan alias suka guyon. Saya Cuma ditanyai golongan darah dan berat badan, serta minus berapa. Lalu saya diminta melihat kartu angka untuk tes buta warna. Done.

Tahap selanjutnya adalah menunggu panggilan foto. Ini memakan waktu sekitar satu jam juga karena entah kenapa petugas sempat menghilang sekitar 15 menit.  Ke toilet kali ya.. Sementara itu saya mulai haus dan lapar (#busui) dan masih menggendong mengayun Argi agar tidak menangis, soalnya mau nyusuin kok tanggung…takut pas dipanggil. Anaknya juga masih tidak terlihat kehausan. Saya Cuma agak kuatir ia masuk angin karena anginnya lumayan semilir. Suami pun akhirnya membawanya masuk mobil dengan tujuan bisa dibaringkan di kasur plus ngadem. Sayangnya, Argi nangis terus di mobil akhirnya dibawa keluar lagi deh.

Menjelang giliran saya, sempat seorang bapak yang nomernya sebelum saya menggerutu karena seorang ibu menyelak antrian. Tampaknya ibu itu menggunakan jalur titipan. Hmmm, selama kita masih di Indonesia, harus ikhlas aja melihat yang seperti ini. Entah sampai presiden ke berapa cara main seperti ini akan terus berlangsung.

Akhirnya, nama saya pun dipanggil. Saya masuk mobil van tersebut bersama Aksa yang cukup excited masuk mobil polisi. Di mobil tersebut ada dua petugas tak berseragam. Yang satu mas-mas masih muda yang berada di jendela loket, sementara yang satu lagi adalah yang memproses foto dan kartu. Ada satu lagi berdiri di luar untuk melayani pengambilan sim dan pengambilan formulir. Sekitar 10 menit menunggu, saya pun mendapat giliran foto, tanda tangan dan sidik jari digital. Jadi ingat saat pertama membuat SIM, saya masih menggunakan sidik jari dengan tinta. Berarti, saya sudah tua juga ya hahah…

Oh ya, sebelum foto, petugas meminta biaya Rp 105.000. Di internet (dan juga di bodi mobil SIM) tertulis biaya Rp 75.000 jadi saya hanya membawa Rp 100.000. Saya tidak bertanya yang Rp 30.000 untuk apa. Mungkin tes kesehatan, karena di kantor polisi biasanya tes kesehatan dikenai biaya. Akhirnya saya minta uang suami.

Selesai membayar dan foto, saya keluar mengambil SIM di jendela loket mobil, kemudian ditawari laminating agar awet seharga RP 5000. Saat itulah suami saya yang menggendong Argi ikut menemani, dan petugas pun agak kaget sambil berkata, “Lho, njenengan kok nggak bilang kalau bawa bayi? Tahu begitu kan saya dahulukan…”

Jengjeng….!


Ya sudah, ndak papa, Pak…buat pengalaman. Itung-itung ngajak bayi saya lihat langit dan jalan raya..

So, tips bagi ibu yang harus membawa bayinya untuk menggunakan layanan SIM keliling:
1. Tanyakan pada petugas apakah bisa mendapat prioritas
2. Bawa pulpen dan copy KTP+copy SIM
3. Bawa minum dan camilan, siapa tahu dapat nomor antrian belakang
4. Datang pagi, agar tidak kepanasan mengingat ruang tunggu outdoor
5. Kalau tidak mengendarai mobil, bawa nursing cover, siapatahu bayi minta menyusu
6. Jangan bawa uang pas, karena ada biaya tambahan yang tidak tercantum

Semoga bermanfaat :)


Saturday, March 25, 2017

All Out Menjadi Ibu Baru (Andien-Inspired)


Pernah melihat akun Instagram Andien? Yes, saya salah seorang followernya. Saya tidak ingat sejak kapan, tetapi saya turut “menjadi saksi” pernikahannya yang bertema rustic dan bulan madunya ke Jepang, hingga akhirnya Andien mengandung. Karena usia kehamilan saya saat itu hanya berbeda 2-3 minggu dengan Andien, maka saya pun tidak pernah melewatkan postingannya di Instagram, khususnya tentang cerita kehamilannya.

Saat saya sedang di trimester pertama dan teler luar biasa, Andien masih bisa melakukan workout rutinnya yang menurutnya sama seperti saat ia belum hamil. Pikir saya, nekat juga ya, haha.. but it did no harm for her pregnancy. Mungkin karena ia sudah terbiasa melakukannya. Satu caption yang saya ingat dari postingannya waktu itu adalah: hamil jangan lebay (kurang lebih intinya seperti itu, saya lupa kalimat tepatnya). Mmm…itu jleb banget buat saya karena saya memang lebay, apalagi morning sicknya sampai evening. Saya hanya bisa menikmati ke-lebay-an itu karena kondisi kehamilan orang berbeda-beda, termasuk daya tahan psikisnya menghadapi perubahan itu. So, lucky her.

Namun, titik “wow” dari Andien datang ketika ia melahirkan. She needed less than 4 hours to give birth! Buat yang pernah melahirkan anak pertama pasti tahu donk rasanya berjam-jam menahan sakit hingga bayinya lahir… Bahkan, saya bisa menyimpulkan dari cerita teman dan saudara, they needed 10-14 hours. Dari sini saya berpikir bahwa Andien sukses melakukan gentle birth, untuk mengelola rasa sakit dan berkomunikasi dengan janinnya, juga staminanya yang prima untuk proses persalinan.

Keputusannya untuk menggunakan bidan (tanpa dokter kandungan-cmiiw) dan water birth di rumah pun buat saya termasuk berani. Suaminya juga berani. They must have learned about this really well. Apalagi, keluarga yang usianya lebih tua (seperti orangtua) biasanya sedikit resisten terhadap hal-hal baru, dan pasangan-pasangan muda biasanya akan menghadapi dilema antara pengen A tetapi tidak enak karena ortu maunya B, dan sebagainya. Saya tidak tahu apakah Andien-Ippe mengalami hal tersebut.


Oya, ada dua foto yang cukup membuat saya amazed, yaitu foto baby Kawa dengan tali pusar yang masih terhubung dengan plasenta dan….. Andien yang masih cantik walaupun sedang melahirkan! Hahah.. Saya ingat sekali kata bidan menjelang proses melahirkan anak pertama saya. Kurang lebih dialognya seperti ini:

Saya: “Udah bukaan berapa ini, Sus?” (saya kok manggil bidan suster ya?)
Bidan: “Masih lama ini, Bu, wong masih cantik. Pokoknya kalau bentuknya ibu udah nggak karuan, berarti bayinya sudah mau keluar”
(malamnya saya didorong menggunakan kursi roda ke ruang bersalin dalam keadaan rambut acak-acakan, karet rambut setengah menggantung, baju penuh keringat, jilbab entah dimana)

Back to Andien. Setelah Kawa lahir, akun IGnya benar-benar menggambarkan kebahagiaannya menjadi seorang ibu. Bisa jadi perasaan saya saja, atau memang demikian adanya, bahwa tidak banyak pasangan muda  atau artis yang membawa pesan bahwa melahirkan, menjadi ibu itu sesuatu yang 100 persen membahagiakan. She brings another point of view, bahwa kehamilan dan melahirkan adalah proses yang full of blessings, yang membahagiakan dan harus dinikmati.

Dari pemberitaan di media, saya bisa melihat bahwa ia dan suaminya well educated untuk masalah seluk beluk kehamilan, proses melahirkan, dan pasca melahirkan seperti pentingnya bonding dengan ayah. Di sebuah tabloid juga disebutkan bahwa Andien meminta bidan untuk menginap di rumahnya dan mengajarinya cara memijat bayi, karena ternyata manfaat pijit bayi sangatlah besar. All out sekali ya.

Dari Andien saya belajar bahwa memiliki anak itu hal yang indah, no matter how difficult it is, kita harus tetap bersyukur. Pastilah ada rasa lelah dan segala macamnya, tapi pikiran positif akan membuatnya lebih mudah dijalani. Dan, be a smart parent. Memiliki anak memang hal yang (dalam budaya kita) menjadi salah satu fase hidup yang pasti dijalani, hingga membuat kebanyakan orang menjalaninya secara apa adanya. Padahal, pengetahuan kita tentang kesehatan ibu dan bayi, tumbuh kembang anak, teknik perawatan bayi, misalnya, akan membuat anak tumbuh dengan lebih baik, insya Alloh.


Yang lebih tua memang lebih berpengalaman, tapi yang muda punya lebih banyak energi untuk belajar. Bukan begitu?