Sunday, April 14, 2019

Mengajak Anak ke Museum Cokelat



Saya penggemar coklat, tapi baru kali ini saya ke museum coklat. Bukan, bukan di Swiss atau negara Eropa lain yang identik dengan oleh-oleh coklatnya, tapi di Jogja. Kaget? Saya juga. Besar di sini kok nggak tau kalau Jogja ternyata punya museum coklat, ya? Ternyata, Museum Coklat Monggo ini baru berdiri awal tahun 2017 meskipun coklatnya sendiri sudah diproduksi sejak tahun 2005.

Awalnya, saya mendaftarkan Aksa (5 tahun) untuk mengikuti playdate yang diadakan oleh Apple Kids Jogja, EO Playdate besutan teman semasa kuliah dulu. Agenda dalam playdate tersebut adalah mengunjungi Museum Coklat Monggo, photo session dengan atribut chef, dan yang paling ditunggu: praktek membuat coklat! Yeayy..!

Lokasinya sekitar setengah jam dari tengah kota, tetapi sampai disana saya langsung takjub karena bangunannya unik dengan mural yang Instagrammable. Musholla bernuansa jawa dengan bedug berada satu lokasi dengan toilet yang tidak kalah cantik. Setelah opening di selasar belakang museum, anak-anak diarahkan masuk museum. Alhamdulillah adem, hahah.. Soalnya saat kami ke sana, hawanya sedang terik luar biasa.



Tur di dalam museum dipandu oleh mbak guide yang menurut saya cocok untuk anak-anak: suaranya lantang, ramah, tanpa kehilangan intonasi bercerita. Saat memasuki museum, kami disuguhi foto-foto orang di balik layar Cokelat Monggo dalam pose belepotan coklat, termasuk Thierry sang pendiri. Etalase berisi berbagai macam cetakan cokelat dan biji cokelat pun menyambut kami di depan pintu masuk. Ada cokelat berbentuk ayam segala lho! Jadi inget coklat ayam jago waktu kecil dulu…

Masuk ke dalam, kita bisa membaca informasi tentang produksi kakao di Indonesia dan DIY dalam bentuk lukisan dinding yang cantik. Tahu kan, Indonesia penghasil kakao terbesar ketiga di dunia?
Di bagian selanjutnya, terdapat penjelasan sejarah coklat di dunia beserta diorama. Guide memandu anak-anak untuk menghitung bersama gambar 30 biji kakao yang harganya pada masa Aztec setara dengan seekor kelinci, karena itu coklat dianggap sebagai barang mewah. Ada juga alat pembuat minuman coklat pada jaman dulu serta etalase berisi berbagai macam jenis cokelat dari zaman dahulu.


Di bagian tengah, terdapat display dengan setting perkebunan coklat dilengkapi dengan biji kakao serta alat panennya. Buat anak-anak yang belum bisa membaca, hal ini seru karena bisa sambil memegang display. Selanjutnya adalah proses pembuatan coklat, dari masih berbentuk biji hingga menjadi coklat siap cetak.

Nah, informasi paling penting yang saya dapat dari kunjungan ini adalah tentang jenis coklat. Kenapa ada coklat yang mengandung vitamin dan mineral tapi ada juga coklat yang bisa bikin batuk? Ternyata kuncinya ada pada kandungan lemak tambahannya. Jajanan coklat yang murah biasanya sudah tidak mengandung padatan coklat lagi, namun hanya mentega coklat yang ditambah minyak nabati dari kelapa sawit dan gula. Termasuk di dalamnya biskuit dan kudapan dengan lapisan coklat. Sementara dark chocolate dengan kandungan kakao 58% lah yang masih mempertahankan mineral penting tersebut, meskipun sudah ditambah gula. Makanya, harganya lebih mahal hehe..


Selesai berkunjung ke museum, anak-anak diajak memakai apron dan topi chef ala chocolatier alias koki pembuat coklat. Setelah itu, acara pungkasan adalah membuat coklat di showroom coklat. Ada meja besar, spuit berisi coklat leleh, tray, dan topping kacang serta dried fruit. Meskipun hanya dipandu seorang chocolatier, anak-anak sukses membuat kepingan coklat dengan topping yang kemudian mereka bawa pulang setelah mengeras. Di showroom ini pula dijual berbagai macam coklat dari yang harganya belasan ribu hingga ratusan ribu. Tidak kalah cantik dengan coklat negeri empat musim, lho!


Oh ya, selain museum dan showroom, ada pula café di sisi kanan pintu masuk. Menunya andalannya adalah hot chocolate 58%. Smoking area terletak di sudut luar museum, terpisah dengan café bernuansa jawa. Plus point nya, café ini memiliki sudut dolanan anak, mulai dari egrang, angklung, bakiak, sampai gasing. Gak akan mati gaya deh kalau ajak anak ke sini.




Yang jelas, for me it’s a must visit one kalau liburan ke Jogja. Museumnya kecil dan tidak membosankan, cocok untuk anak-anak yang nggak betah serius berlama-lama.




Decluttering Dapur

Dapur sebelum decluttering

Prolog: Post ini adalah bagian dari tugas Gemari Pratama, sejenis online course tentang bebenah rumah. Kali ini, saya akan bercerita tentang proses membenahi dapur rumah saya. Selamat membaca.

Proses Decluttering

Meskipun saya menjadwalkan proses decluttering dapur pada awal April, kenyataannya saya baru bisa melakukannya pada awal minggu kedua. Dimulai dari decluttering hal yang paling mengganggu di dapur: tumpukan sampah anorganik yang uncategorized, rak piring dan bumbu, serta kardus penyimpanan yang tidak pernah saya buka.

Diawali dari sampah anorganik, saya pun mau tidak mau harus ke gudang dimana sampah anorganik saya berpusat. Saya pilah berdasarkan sub kategori:
1.                   Sachet, kemasan makanan

2.                   Kertas (termasuk koran, struk, dan sejenisnya)
3.                   Duplex (karton snack box, kardus susu, dan sejenisnya
4.                   Plastik bening yang sudah dicuci
5.                   Tas kresek
6.                   Mika
7.                   Botol/cup/mangkok/cutleries plastic
8.                   Styrofoam
9.                   Plastik bening kotor (untuk ke TPA)
10.               E-waste
11.               Uncategorized (pulpen, spidol)


Pengkategorian di atas tidak saya persiapkan sebelumnya karena ketika action, baru ternyata pemilahannya sebanyak kategori tersebut. Dari decluttering rak piring dan bumbu, saya banyak membuang mangkuk plastik dari hasil beli makanan semacam salad buah, sekaligus cup plastik dari jus atau kopi. Saya sisakan mangkuk dan tutupnya sekitar 6 buah dengan berbagai ukuran untuk keperluan food prep, leftover food, dan ketika bertukar makanan dengan mertua. Saya beri kode dengan marker agar tahu tutup setiap mangkuk. Plastic cutleries juga saya sisakan 3 sendok, 3 garpu, 1 pisau, dua cup obat. Sisanya saya masukkan gudang anorganik. Sementara kardus penyimpanan yang tidak pernah saya buka, malah memberikan harta karun berupa toples dan mangkuk. Kardus ini sisa pindahan 6 bulan lalu, dimana barang yang saya keluarkan di dapur adalah yang saya prediksi akan selalu diperlukan dan ternyata saya kekurangan mangkuk dan toples. Tapi dari kardus tersebut saya juga mengeliminasi beberapa wadah, dan sisanya tetap saya simpan karena suatu saat akan diperlukan (ice tray, satu panci bertangkai, jar, etc).

Nah, progressnya baru sampai situ. Minggu depan kemungkinan panggil go clean untuk deep clean dapur terutama bawah kompor dan rak, lemari penyimpanan bawah counter, beli pengharum (saran teman DDPB sih daun pandan, pasang tirai penutup bawah sink (karena bikin kelihatan kumuh), mencuci rak piring, membuat dua wadah lagi untuk menyimpan bumbu dan gelas.

Kulkas sudah saya benahi saat masih proses penyusunan jadwal karena sudah kotor. Yang saya lakukan adalah mencuci rak kaca dan laci kulkas bagian bawah. Yang belum adalah membersihkan freezer, mencuci pintu bagian bumbu (ada tumpahan bumbu yang lengket), dan declutter sambal dalam jar (karena harus dibuang isinya dan dicuci jarnya. Saya belum mood haha).

Oh ya, satu lagi. Nampaknya saya butuh kardus sesuai sub kategori sampah yang sering ada di dapur agar kasus sampah plastic all in one tidak terjadi lagi. Yang saya perlukan wadah dengan kategori: plastik habis cuci, kemasan makanan, kresek bersih, kresek kotor, semua dengan label. Karena anak saya kalau buang sampah sering tanya, “Bu, ini masuk ke tong yang mana?”. Untuk organic saya sediakan baskom yang rutin di drop ke rumah mertua untuk pakan ayam, untuk sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi diangkut tukang sampah ke TPA.

Tentang sub kategori:

Dari 5 kategori sesuai materi, hanya bahan makanan yang ada sub kategorinya. Yaitu bumbu masak harian, bumbu dapur alami, makanan kemasan (mie, spaghetti, sereal, jelly, bumbu kemasan). Semuanya ada di pantry. Sementara itu, di kulkas ada sayur (tidak saya food prep karena saya full time IRT dan masih sempat olah langsung), daging n frozen food (saya food prep dengan alasan hygiene dan kemudahan proses masak), leftover food (tuppy tertutup agar tidak bau).

Tentang pola makan keluarga:

Menu keseharian, saya memasak hampir tiap hari, belanja bahan makanan di tukang sayur 2-3 hari sekali, belanja ayam/ikan seminggu sekali. Beli makanan di luar biasanya kalau pagi weekend atau mau ada acara pagi sehingga tidak sempat masak, kemungkinan seminggu sekali. Jika sedang ingin makanan tertentu, saya biasa go food. Sekitar 1-2 kali per minggu.

Untuk barang2 di dapur sejauh ini sudah memenuhi kebutuhan, dan menurut saya tidak berlebihan. Apalagi jika dibanding mertua yg ratu dapur, maupun mama yg anti dapur tapi glassware unyu nya banyak.

Saya hanya memakai 2 panci, 2 wajan medium, 1 teflon kecil, 1 wajan mini untuk sambel/reheat Leftover, kukusan tupperware 1. Elektronik hanya blender dan magic com yang di dapur, sementara oven dan mixer di gudang krn setelah berusaha eating clean jadi jarang baking. Peralatan masak juga cuma dua buah per item. Sendok garpu ga sampe selusin piring dan mangkok juga cukup.

Barang yang tidak pernah digunakan? Piring gelas set kado nikah yang luxurious dengan banyak ornamen. Karena saya jarang ada tamu. Sekalinya ada maks. 3 orang dan nyemil aja. Sementara gelas batang saya sudah ada, dan cuma keluar 3 dari boks. Meja makan juga ukuran dua kursi, sementara anak masih kecil. Ngeluarin pecah belah sama juga cari mati haha.. Dan dining set tadi saya taruh gudang, NBU selama 7 tahun pernikahan kami. Saya ga buang or donasikan krn I'm sure one day I'll use it.

Yang tidak pernah disentuh lagi adalah piring lebar. Hanya 4 buah sih, ga saya pakai krn piring reguler masih bisa memenuhi kebutuhan. Mungkin 4 piring td bisa masuk kardus ya.. free up some space.

Jadi sebenernya dapur saya udah sesuai kebutuhan ya.. mungkin ga sparks joy karena pada dasarnya saya emang ga suka masak. Kemudian, rumah ini dapurnya udah tua dgn tegel kusam dan sink bernoda, jadi mindset saya tentang cleanliness jadi terusik. Terakhir, aroma. Sampah organik maksimal 2 hari di dapur sebelum dibawa ke rumah mertua, tp kalau isinya pas heboh, jadi aromanya kemana2.

Dan, thanks to grup DDPB, saya hari ini rencana pergi dua hari, sementara ada sisa gule kambing donksss, akhirnya nurutin saran temen2, masukin kulkas dulu sampahnya, baru buank. Yes, for the first time ever, saya masukin makanan yg udah nyentuh sink ke kulkas (tp di tuppy rapet kok)! Demi kemaslahatan aroma dapur potensi belatung unyu di daging tadi.

Untuk masalah dapur, yg overwhelming hanya sampah anorganik yang saya ceritakan di awal. Oh ya, satu lagi yang berasa overwhelming, macam Maudy Ayunda milih kampus, yaitu decluttering mangkuk plastik! Hahaha.. ini soalnya seriiing bgt dipake. Tapi di dapur udah kaya gunungan aja.. Akhirnya diliatin satu2, dicari yg matched ama tutupnya, dan setelah mempertimbangkan prinsip RASA (especially Rapi dan teraturnya) , saya putuskan menyimpan 2 large, 2 medium, 2 small. Sama ekstra yg masih di sink, 1 besar dan 2 kecil. Done.

Proses organizing
Barang sisa decluttering sementara sudah ada di gudang, masing-masing kategori ada wadahnya, dan akan saya salurkan saat gudang sudah selesai decluttering. Sejauh ini msh ada satu kardus besar dan satu kardus medium yg masih nyampur.

Saya juga dengan seorang teman sudah membuat grup jualan barang preloved, dan kemungkinan ada yg akan saya tawarkan di grup ini. Batas waktu, maksimal akhir april. Jadi Ramadhan udah clear. (dan siap ketambahan sampah kemasan makanan takjil, huhuhu.. sedih saya tuuuh, no Styrofoam please...)

Penataan barang dapur belum yaa.. nunggu go clean dulu sklian saya bikin ekstra kompartemen. Prinsipnya, ga beli storage baru walo pengenn... Tapi kalau tnyt demi alasan hygiene perlu, saya ga masalah kalau akhirnya beli.


Tuesday, March 26, 2019

Maudy Ayunda, Glenn Close, dan Mimpi Seorang Ibu


grid.id

Pagi tadi, salah satu teman di grup content writer tempat saya kerja post video MataNajwa yang menginterview Maudy Ayunda. Topik yang teman saya garis bawahi adalah gimana orang tua Maudy kasih trust ke anaknya untuk menentukan pilihannya sendiri sejak kecil. Karena pagi tadi lumayan senggang, nonton lah saya sampe habis.

Jadi, dia pilih Stanford donk.

Hahah, nggak nggak, bukan itu sih yang saya pengen ceritain di sini. Setelah berkutat di dunia permamakan ini, rasanya membahas kampus, mimpi, motivation letter itu udah old days banget ya. I used to think, I was there. But then I think, I still can be there. Masalah mimpi mah gak kenal umur, iya nggak? Maudy bilang, dia pengen banget bikin sekolah, kaya Najelaa Shihab dengan Cikal-nya. Yes, me too.

Dulu banget sih, pengen bikin sekolah. Apalagi pulang dari Kalimantan, ngeliat anak sana sekolahnya jauh dari kondisi Jogja. Trus, sempet ngajar juga, dan mentahbiskan diri sebagai seorang guru (walau tanpa gelar sarjana pendidikan) selama beberapa tahun hingga anak kedua lahir. And here I am stranded at home, which I still feel grateful for, karena saya juga jadi gurunya anak-anak saya khannn…pahalanya jelas, bebannya luar biasa.

Mungkin karena adaptasi menjadi ibu dan ibu rumah tangga serta keterpautan dengan anak yang susah dilepaskan, tawaran mengajar pun saya abaikan. Nunggu sampai dapet feel nya, nunggu sampai, “Ok, I got to go back to teach!”, pikir saya.  Jadi, mimpi saya untuk membuat sekolah masih sekadar mimpi, yang kata Maudy “mimpi nanggung”, hahah…iya ya, katanya pengen tapi nggak effort.

Bismillah, semoga momen sekarang sebagai ibu rumah tangga bisa untuk memperkaya diri dan ilmu untuk nanti come back ke dunia pendidikan. Ga bisa bohong, selama menjadi ibu, banyak kesempatan dimana saya berpikir, “Ooh, harusnya gini ya cara treat anak yang lagi tantrum/rebel/dll” yang dulu saya hanya learning by doing tapi missed di ilmunya karena belum dipertemukan dengan sumber/buku/guru yang tepat.  Jadi, instead of mengubur mimpi, saya masih punya mimpi itu. Waktu eksekusi menyusul, berikut time plan nya.

Tapi, ini kok malah ambil job content writer? Why not, selama tidak mengganggu peran utama saya sebagai ibu rumah tangga. Menulis juga memperkaya ilmu, untuk portfolio n networking juga. Sekarang kemampuan menulis itu penting, karena tulisan mudah tersebar luas dengan makin mudahnya akses informasi. Bukan nggak mungkin dari berbagi ide di dunia maya bisa bertemu kawan sevisi untuk mimpi besar tadi.

Sebenernya topik tentang wanita dan mimpi ini pernah disinggung oleh seorang teman baik, sebut saja Mustika, seorang ibu beranak satu yang kini baru mengawali studi Ph.D nya di negeri 4 musim. Dalam IG story nya, ia membahas tentang pidato Glenn Close di Golden Globes 2019 saat memenangkan best actress dalam film The Wife. Pidato tersebut menceritakan ibu Glenn Close yang selalu setia pada ayahnya, pada usia 80 tahun mengatakan, “I feel like I haven’t accomplished anything.”
……
(walau topik ini dibahas dengan Mustika via chat dan baca artikel, but for this post I watched the speech on YouTube, and I shed tears…)

Kemudian kami pun membahas tentang personal fulfillment, yang oleh Glenn Close disebutkan bahwa wanita harus memilikinya dan diperbolehkan untuk mencapainya. I said to her, sekarang wanita lebih mudah menemukan passion-nya, apa yang dia mau, dsb, namun ada juga yang menjadi ibu rumah tangga memang ultimate goalnya. Then she replied, jangan sampai ya ending-nya kaya ibunya Glenn Close tadi. Merasa nggak achieve anything.

Sejujurnya, mimpi besar saya adalah menjadi ibu dan istri yang baik sesuai keyakinan saya (dan mimpi nanggung saya adalah bikin sekolah, hehe)… But, it needs a process and that personal fulfillment definitely will fuel my ultimate goal.  

Mau menulis atau mengajar, I feel fulfilled. Sejauh ini, hal tersebut sudah cukup untuk menyalurkan passion saya untuk share knowledge, untuk merasa memberi dampak di luar rumah, thus I feel recharged at home. Written or verbal, for adults or for kids, tidak masalah buat saya selama karya saya berada di jalan yang benar dan anak-anak plus suami juga di jalan yang benar (alias kepegang). 
Balance, it is!!

So, have you found your personal fulfillment?



Thursday, February 28, 2019

Gemari Pratama, Kelas Online ala KonMari


https://medicalxpress.com/news/2019-01-konmari-method-clinical-hoarders.html

Gemari Pratama bukanlah gerakan pramuka, walau namanya sepintas sama, hehe... Gemari merupakan kependekan dari Gemar Rapi, sejenis gerakan bebenah yang terinspirasi oleh metode KonMari-nya Marie Kondo. Pratama adalah level pemula. Jadi, Gemari Pratama (GP) adalah kelas bebenah online via Whatsapp Group untuk level pemula yang baru-baru ini saya ikuti.

Bisa terdaftar sebagai peserta GP menurut saya adalah suatu kebetulan, walau sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Diatas sebagai rejeki untuk saya. Setiap saya cek Instagram, jaraaaang banget ada post atau story @gemarrapi. Kebetulan sekali saat itu ada pengumuman kulwap tentang metode bebenah. Saya ikut lah, karena memang saya sudah pernah baca The Life Changing Magic of Tidying Up nya Marie Kondo plus ikutan seminar Gemar Rapi nya Aang Hudaya, founder Gemar Rapi (baca post nya di sini).

Nah, ternyata di akhir sesi kuliah Whatsapp tersebut, ada pengumuman tentang dibukanya kelas Gemari Pratama, dengan biaya Rp 180.000 dan terbatas untuk 150 peserta. Pendaftaran dibuka hari Minggu jam 10 pagi kalau tidak salah.

Dan saya lupa. Eaaaaa…

Alhamdulillah banget, jam 10.15 pas saya buka hp langsung terlihat grup Whatsapp Gemar Rapi sudah ramai membicarakan kelas online ini. Kecepatan tangan saya untuk langsung menuju link Shopee, membaca cepat mekanisme pendaftaran, dan melakukan transaksi membuktikan bahwa saya generasi milenial, hahaha… Enggak ding, saya pelanggan setia Shopee, jadi sudah familiar klik klik nya plus pakai m-banking. Fiuh,  thanks to technology.

Setelah bayar dan sukses, baru deh bilang suami, “Yah, aku tadi daftar kelas online Gemar Rapi bayarnya Rp 180.000. Boleh kan?”

Alhamdulillah boleh soalnya tanggal muda dan udah keburu bayar, haha..

Kenapa sih saya semangat banget buat ikutan? Kan, udah baca bukunya tuh, ikut seminar pula, plus kulwap lagi. Bukannya harusnya udah bisa praktek sendiri ya?

Teorinya sih begitu. Tapi emang bener kok, saya sudah buktikan hasil ikut seminar Pak Aang waktu itu: saya membuat beberapa boks dari kardus bekas yang saya lapisi kertas bertuliskan jenis mainan anak so they are easier to tidy up according to the type of toys. Kemudian, laci pakaian anak saya ada satu yang saya ubah metode menatanya seperti metode KonMari. Dan, bener-bener ngeliatnya seneng. Semua jenis baju keliatan donk, dalam sekali buka. Gampang milihnya, dan enggak akan ada pakaian yang “jarang dipake karena di tumpukan bawah”.

Lalu, yang paling penting, kata-kata beliau tentang benda sekecil apapun akan ada hisabnya membuat saya berpikir beeerkali-kali kalau mau beli barang.

That this “hisab” things made me still feel “I need to let go more things” (which I haven’t), I decided to join this class.

Sempat menjelang seminar Gemar Rapi waktu itu, saya dan seorang wali murid di sekolah si sulung ingin mengundang tim Gemar Rapi untuk sharing di sekolah. Sayang, kurangnya panitia membuat kami urung. Lagipula saat itu harga yang ditawarkan out of our budget.
Jadi, semoga Gemari Pratama ini membawa perubahan positif tidak hanya bagi pesertanya, tapi juga orang-orang di luar sana.

Ganbatte!




P.S: Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Gemari Pratama.



Friday, February 8, 2019

Menikmati Big Bad Wolf Book Secara Langsung (Part 3: Jadi Jastip)



Awal April 2018, alhamdulillah cita-cita saya untuk mengunjungi Big Bad Wolf Books Jakarta kesampaian. Finally!

Setelah sebelumnya saya terpaksa menggunakan jasa titip alias jastip (baca post ini), kini saya leluasa memilih buku sesuai selera sekaligus menjajal peruntungan menjadi jastip. Karena sudah memiliki online bookshop bernama Ozbooks, proses mencari customer pun menjadi lebih mudah meskipun followersnya tidak terlalu banyak. Selain itu, promosi juga saya lakukan melalui status Whatsapp. Intinya, sebisanya lah.

Hari pertama dibuka (bukan preview sale tapi ya), I was super duper excited! Begitu masuk venue di ICE BSD, rasanya senang luarrr biasa. Sekaligus takjub. Betul pemirsah, bukunya buanyak banget dan itu nggak akan puas kalau cuma sekali datang. Saya bawa dua anak kesana, umur 1,5 tahun dan 5 tahun. Sendiri. Suami memang tidak ikut ke Jakarta, tapi adik saya ada kok buat bantu-bantu, walau dia punya batita juga. Hari pertama saya cus duluan karena udah nggak sabar, hehe.. Adik dan keluarga menyusul beberapa jam kemudian.



Niat awal adalah, saya belanja buku dengan budget sejuta. Buku pilihan saya sendiri yang kira-kira banyak peminatnya. Saya nggak live shopping karena nggak ada timnya, belum lagi sambil momong bocah. Yang saya bersyukur campur kaget adalah…ternyata buku-buku yang 30ribuan dan boardbook itu BANYAK. Berarti kemarin selera jastip saya aja yang nggak match sama saya. Saya memang fokus ke boardbook murah karena saya memang suka yang murah hehe.. Saya ambil yang 50ribuan beberapa, tapi yang 75ribuan enggak.

Sekitar tiga jam saya belanja, nurutin jam ASI yang kecil. Antri kasir nggak banyak karena kasirnya banyak banget. BBW kali ini menurut saya tertib dan rapi. Alhamdulillah nggak ada kasus buku terinjak terserak seperti yang rame di sosmed pada BBW sebelumnya. Sambil antri sambil upload di status Whatsapp, siapa tahu temen-temen ada yang mau.  


Sampai rumah (rumah adik hanya 5 menit dari lokasi atau sekitar 12ribu naik GoCar), saya langsung foto dan upload buku. Guess what, langsung sold out! Duit balik dong.. Hari berikutnya, saya belanja lagi sendiri dan pagi-pagi biar nggak antri, si kecil saya titipin Mama. Kali ini, saya terima titipan customer yang chat via DM dan WA, plus beli lagi sesuai prediksi saya.

Yang seru adalah, ketika kita harus mencari buku titipan atau mencari lagi buku yang kemarin kita pengen. Itu harus mengandalkan memori banget banget. So, hari berikutnya saya foto nomor meja dengan buku di bawahnya, jaga-jaga kalau ada yang nitip lagi. Hari-hari berikutnya? Udah hampir apal, hahah… Kadang udah apal pun masih ngubek satu demi satu, especially di section buku yang batal di beli (lokasi di ujung menjelang kasir), juga di bagian boardbook yang udah campur baur di tepi hall. Kalau teliti, buku-buku best seller yang sold out ada yang ngumpet disini lho!

Yang aneh, ada buku yang muncul di akun resmi BBW tapi tak Nampak batang hidungnya sekalipun di hall. Padahal, teman seorang customer ada yang dapet dari jastipnya. Nah, ini yang namanya permainan jastip gede dan BBW. Langsung borong. I don’t mind, karena ga semua buku, walo yang kadang bikin sebel karena buku itu limited and murah.

Nah, hingga saat kepulangan ke Jogja, kalau ga salah saya empat or lima kali belanja. Apakah semua sold? Enggak. Ada yang masih nangkring di box sampe sekarang.

Apakah balik modal? Ya enggaklah, hahah…Secara saya dari Jogja, ada tiket dan akomodasi yang harus dibayar. Kalau ngitung jastip yang per buku 5000 udah ga nutup lah ya, but I did it for pleasure. For the sake of my hobby and passion. Kalau jastip gede jelas untung, tapi ga tau juga sih. Rempong lho ngurusin customer segambreng di grup LINE or Whatsapp. Belum yang batal, yang cancel, yang bla bla bla.. Tapi mereka timnya ada kan, so they’re ready for that.

Yang paling ngrepotin selama jadi jastip apa? Paling customer yang pengen pake Shopee sih. Barang kalau di Shopee kan harus ada data yang diisi ya. Kebetulan di rumah adik ga ada timbangan kue. Jadi pakai asas kira-kira aja. Terus, kalau customer minta Shopee tapi pecah paket. Maksudnya, kalau total transaksi dia di atas dua kilo sementara subsidi Shopee hanya maksimal 20ribu. Biasanya, customer minta bukunya dibagi dalam beberapa paket yang bisa dia tebus. Jadi saya harus bisa mix and match sekian buku biar semuanya dapet subsidi ongkir dari Shopee. Repot sih, tapi kalo customer puas itu capeknya menguapppp, hahah…

Nganter barang ke ekspedisi tiap hari juga jadi PR. Kenapa, karena saya ga pengen customer nunggu sekian purnama hingga buku sampai ke tangan. Itulah kelebihan jastip kecil. Saya memposisikan diri seperti seorang customer. Packing yang penting tebel, biar boardbook gak cacat. Ga perlu cantik or diketik, yang penting cepet. Kalo nggak pas BBW sih wajib bubble wrap n bungkus rapi, walo nggak selalu diketik.

So, minat lagi ngejastip tahun 2019 ini? Pengen lahh, tapi sayang di Jakarta lagi. Kecuali suami ngajak liburan ke sana, mending saya titip adik aja deh. Sayang uangnya hehe…



Wednesday, November 21, 2018

Minim Sampah Itu Mungkin! (Catatan Zero Waste Part 2)

Baca post sebelumnya di sini


Ia pun akhirnya memutuskan untuk memulai mencoba mengurangi sisa konsumsinya dan mendokumentasikannya dalam akun instagramnya pada Mei 2018. Dari yang awalnya hanya 20 hashtag berkembang menjadi 5600 hashtag. Dini pun menantang dirinya untuk “membimbing” 30 orang dalam grup Whatsapp selama 30 hari untuk going zerowaste. Ia membuat sendiri kurikulumnya. Sekarang, grup ini sudah masuk batch 3 (atau 4, saya lupa) dan daftar panjang waiting list. 

Pengalamannya menuju hidup minim sampah memberinya pelajaran bahwa:

Pertama, kita harus mulai dari why: miliki alasan kuat mengapa kita harus menjalani hidup yang bagi masyarakat umum “lebih repot” ini.

Kedua, setiap orang memiliki prosesnya sendiri. So, jangan minder kalau si A sudah bisa bikin kompos sementara kita baru bisa mengurangi plastik. Apalagi Indonesia masih memiliki banyak budaya yang potensial menghasilkan sampah, seperti arisan, rapat, dan ater-ater (hantaran).

Ketiga, konsisten. Cari yang paling sedikiti mudharatnya. Jangan perfeksionis.

Keempat, kita mesti berjejaring. Karena itulah dalam event tersebut, panitia mengundang sejumlah pihak yang memiliki concern yang sama, seperti LSM Lestari, Bproject yang menerima sachet bekas dan mengubahnya menjadi produk kerajinan, Jelantah4Change, Pusat Inovasi Agro Teknologi UGM, Sarah Diorita –founder Pasar Mustokoweni, yang menjual produk berkonsep green living dan zerowaste, serta Milas yang memiliki program Kampung Hijau.


Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk bertanya langsung tentang kegundahan saya mengenai masyarakat yang masih memiliki kultur membakar sampah. Ketika pelakunya adalah para tetangga, sementara saya yang uhuk-uhuk dan jemuran bau asap, what to do? Since, “ini desa bung!” I didn’t have the gut to speak up.  

Saran Mbak Dini menurut saya cukup solutif, yaitu mendekati mereka sesuai concern mereka: bisa jadi lewat alasan kesehatan (misal mengganggu sistem pernapasan hingga kanker), ekonomi (sampah anorganik bisa “dijual” ke bank sampah), hukum (ada undang-undang yang melarang pembakaran sampah), or else. Kalau mentok cara satu, pakai cara lain. Saya ingat sekali kalimat penutup jawaban beliau, “ Jalan kita dari satu orang ke orang lain sudah dicatat sebagai amal oleh Alloh.”

So, no worries kalau belum bisa meyakinkan orang lain, yang penting kita sendiri konsisten. Lama kelamaan orang akan melihat hasilnya dan tergerak hatinya untuk melakukan hal yang sama.

Sebagai tambahan informasi, event Menuju Hidup Minim Sampah tersebut benar-benar menerapkan konsep minim sampah dalam pelaksanaannya.

Acara diadakan di pendopo sehingga tidak membutuhkan pendingin ruangan.


Peserta diminta membawa wadah minum sendiri, sementara snack box diganti dengan besek berisi jajan pasar beralas daun pisang. 



Goodie bag berupa paperbag berisi lerak dan kayumanis untuk membuat cairan pembersih dan mouthwash di rumah. 


Peserta bazaar diseleksi, hanya mereka yang produknya menganut konsep zerowaste. Di foto, ada booth makanan organik dan sedotan stainless.

Saat "Nyampah" adalah Biasa (Catatan Zero Waste Part 1)


Tidak perlu campur tangan Tuhan untuk membuat bumi ini “selesai”.

Salah satu kalimat dalam opening speech acara Menuju Hidup Minim Sampah bulan Oktober lalu tersebut sangat menohok. Bagaimana tidak, sampah yang dihasilkan oleh manusia sudah mulai merugikan lingkungan. Banjir tahunan hanya sebagian kecil dampak langsung kebiasaan membuang sampah secara tidak bertanggung jawab, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang longsor dan meledak juga menjadi tanda bahwa menimbun sampah di suatu lokasi bukanlah solusi. Yang paling menyedihkan (dan baru saya ketahui beberapa bulan belakangan) bahwa sampah manusia sudah mencemari lautan, melukai hewan laut, dan masuk ke dalam rantai makanan kita.

Fakta di atas banyak saya dapatkan dari akun instagram bertagar #zerowaste yang kemudian menuntun saya untuk mengikuti akun @dkwardhani, seorang penulis buku anak yang menerapkan gaya hidup zero waste atau minim sampah. Dari akun DK Wardhani itulah saya mengikuti lebih banyak akun serupa dan mulai mencoba untuk mengurangi jumlah sampah yang saya hasilkan. Karena itu, I was beyond happy sewaktu tahu beliau ke Jogja untuk sharing session di Saorsa Kopi.
Saya sudah membaca bukunya yang berjudul Menuju Hidup Minim Sampah, termasuk mengikuti grup Telegram berjudul sama sehingga sempat mendapatkan banyak informasi dan tips untuk ber- zerowaste. Walaupun begitu, tetap banyak informasi baru yang saya dapat dari event tersebut, termasuk kesempatan untuk bertanya langsung.


So, here are important facts I got!

Yang berilmu belum tentu beramal. Dalem ya, kalimatnya. Tapi Dini –begitu ia biasa dipanggil- menyimpulkan hal tersebut dari pengalamannya saat mengajar tentang Manajemen Lingkungan. Hampir setiap hari mahasiswa dan dosen belajar tentang lingkungan tetapi masih banyak yang tidak membuang sampah pada tempatnya, mencampur sampah meskipun sudah disediakan tong terpisah, dan menghasilkan sampah yang banyak setelah acara-acara kampus.  

Ia sadar bahwa masalah sampah ada di hilir, di rumah tangga, sementara teori yang diajarkan di kampus lebih banyak penanganan di hilir. Dini pernah mengusulkan pada rekan-rekan dosen untuk do something mengenai sampah, tetapi yang ia dapatkan adalah jawaban, “Penyuluhan bukan tugas kita. Kita mengurusi bagian teknis.” Para dosen berteori, sampah harus dikurangi. Titik. Sampai di situ saja.

Dari situ, ia melihat bahwa akar masalahnya adalah saat kita membuang sampah pada tempatnya, urusan kita selesai. Padahal sebenarnya, kita hanya memindahkan sampah dari tong sampah ke TPA, sungai,  or oceans (who knows). Sampah tersebut tetap di ada di bumi dan kita merupakan satu ekosistem besar. Sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia, tentu kita tahu bahwa kebiasaan kita dalam memperlakukan sampah akan mempengaruhi belahan bumi lainnya. Buktinya, Pulau Menjangan yang tak berpenghuni saja penuh sampah.

Pemerintah, apa kabarnya? Kata Dini, urusan sampah bisa baru selesai tahun 2085 kalau mengandalkan pemerintah. There are laws, but waste hasn’t been their priority. Pemerintah menyediakan TPA, hanya saja sistemnya berupa open dumping. Artinya, sampah ditumpuk dan dirapikan saja oleh alat berat. Seharusnya, TPA berbentuk sanitary landfill dimana tumpukan sampah ditutup dengan tanah dulu sebelum ditumpuk oleh sampah yang baru. Sayangnya, sanitary landfill membutuhkan biaya penanganan 20-30 ribu rupiah per harinya, jauh di atas open dumping yang hanya 2000 rupiah. Dengan “setoran” sampah ke TPA Bantar Gebang sebanyak 7000 ton per hari atau ke TPA Malang sebanyak 950 ribu ton per hari, bisa dibayangkan ya gunung sampahnya akan setinggi apa nanti. Karena itu, menurut Dini, yang harus disadarkan adalah masyarakatnya.

Mungkin kita sebel sama orang yang buang sampah sembarangan. Tapi, kita juga sebenarnya sama 
saja dengan mereka. Hanya karena kita merasa sudah membayar tukang sampah, maka kita merasa lebih baik dari mereka. Kita tidak diajari untuk men-treat plastik sejak kecil. Kepraktisan begitu memanjakan kita.


Lalu, apa yang kemudian Dini lakukan? Cek post berikutnya ya!

Saturday, November 3, 2018

Inilah Alasan Mengapa Rumah Tak Kunjung Rapi



Pernahkah kita bertanya dalam hati, mengapa rumah orang tua kita (dan generasi mereka) rata-rata penuh dengan barang? I thought it was only my parents’ tapi ternyata barang mertua saya juga banyak, bahkan sampai berdebu tebal karena jarang digunakan (dan entah masih dipakai atau tidak). Rumah orang tua sahabat saya pun demikian: penuh barang. Will I be like them one day?

Saya jelas berharap tidak memiliki rumah penuh barang seperti generasi mereka. Pengennya, rumah rapi dengan barang pun tertata rapi, sehingga anak-anak bebas bermain tanpa kita kuatir mereka bakal senggol sana berantakin sini dan beresinnya butuh tujuh hari. Tapi, seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, bertambah pula rezeki saya dan suami, kok ya keinginan untuk membeli itu bertambah juga, haha… Setiap melihat produk IKEA bawaannya pingin, kalau ke mal wajib mampir Informa, namun alhamdulillahnya saya cukup kuat untuk tidak lapar mata, alias liat aja cukup. Memang karena belum ada budgetnya sih #jujur, tapi kalau dipikir lagi, rumah kami kecil jadi lebih bijak untuk ngerem beli perabot besar (tapi buku nambah terus, gimana sihhh).

Karena itu, saya tertarik baca buku Marie Kondo tentang seni merapikan barang. Tamat baca buku 
itu, sudut pandang saya tentang menata barang pun berubah. Namun, penyakit “belum sempat” membuat penataan rumah saya masih belum Konmari enough. Menyortir dan membuang barang tidak terpakai sudah saya lakukan, namun saya masih merasa memiliki banyak barang. Terlebih, proses pindah rumah menyisakan kekecewaan bahwa saya masih belum bisa let go pakaian dan barang-barang yang jarang saya pakai. Akhirnya, saya simpan kembali.

Sabtu lalu, saya mengikuti Seminar Gemar Rapi dengan Aang Hudaya sebagai pembicara. Ia adalah co-founder Komunitas Gemar Rapi, sejenis Konmari-inspired lah ya. Saya senang sekali akhirnya ada seminar seperti ini di Jogja setelah sekian lama hanya cuma bisa mupeng  liat event serupa diadakan di kota lain.

Meskipun sudah membaca bukunya dan melihat videonya, dijelaskan secara langsung ternyata 
rasanya beda. Dari materi kemarin, saya mendapat beberapa fakta penting:

Serapi apapun rumah kita, jika kita masih harus MENCARI ketika membutuhkan barang, berarti belum rapi. Indikator rapi menurutnya adalah ketika kita perlu barang dan kita tinggal ambil saja. Kenyataan sehari-hari yang kita alami adalah, kita memiliki terlalu banyak penyimpanan barang “ekstra” seperti di balik pintu, di atas lemari, di bawah meja, di bawah dipan, dll.

Mengapa kita harus berbenah? Selain menghilangkan clutter alias tempat “ekstra” yang bikin kita tidak nyaman di atas, berbenah juga memastikan prinsip health and safety terpenuhi (misal menyimpan daging terpisah dengan es batu di freezer, kabel tidak terurai). Lalu, berbenah bisa membuat kita lebih bahagia (tidy house tidy mind) dan yang paling penting adalah berbenah merupakan wujud kita menyayangi bumi kita, lho.

For Muslims, ternyata ada hadits dan ayat pendukung untuk kita berbenah. HR Bukhari no 1407 mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh tidak suka kita menyia-nyiakan harta (idho’atul maal). Memiliki banyak barang tak terpakai merupakan salah satunya. Kemudian, setiap benda itu ada hisabnya. Di akhirat nanti, kita akan ditanya tentang usia kita, ilmu kita, dan harta kita –dari mana saja ia diperoleh dan dibelanjakan untuk apa (HR Tirmidzi no 2147). Yang paling serem, Al Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, barang timbunan akan menjadi binatang buas yang melahap kita. Nah lo! Jadi, jangan sepelekan peniti or jepit ya, karena kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang benda remeh ini, bukan cuma emas yang dihisab!

Trus, apa penyebab rumah berantakan? Undebatable, jumlah barang terlalu banyak sehingga banyak benda tak berumah. Akhirnya dijejelin kesana diselipin kemari. Boleh aja kita beralasan rumahnya kecil, tapi penyebab lain rumah berantakan adalah kebiasaan dan pola asuh. Satu lagi, suka menunda. Kalau saya nih, nunda ngelipet jemuran kering. Ah, nanti mau saya setrika dulu…dan akhirnya numpuk karena nggak distrika. Rumah boleh rapi (tidak harus selalu ya, we’re humans) dan boleh “hidup” –istilah Pak Aang untuk mengganti kata tidak rapi. Karena itu, ajak anak dan anggota keluarga untuk beberes juga. Jangan cuma ibu aja..

Aku sudah berbenah, kenapa masih juga enggak rapi? Karena kebanyakan orang ketika berbenah tidak melakukan proses mengurangi barang, namun hanya memindahkan barang ke tempat lain. Selain itu, kita tidak mengubah mindset dan lifestyle: masih pengen ini itu, beli barang karena ingin, membeli karena social pressure, dsb.

So, jika ingin berbenah yang efektif, ingat prinsip ini ya!
1.       Komitmen pada diri sendiri
Kalau tidak ada komitmen, rasa jenuh dan malas bisa membuat kita kembali berantakan. Jangan lupa, ini adalah teamwork jadi libatkan anggota keluarga yang lain. Jangan  sampai kita mengupah pembantu hanya untuk membayar kemalasan kita.
2.       Mimpikan gaya hidup ideal
Masih banyak orang sibuk mengejar harta karena mereka tidak menentukan batas atasnya. Akihrnya, makin banyak pendapatan makin banyak pula kebutuhan karena naiknya kelas sosial. Kalau kita sudah menentukan gaya hidup kita mau seperti apa, insya Alloh kita bisa istiqomah sebanyak apapun harta kita. Kita pun tak akan lelah mengejar harta.
3.       Awali dengan mengurangi barang
Jika ingin mengurangi barang dengan metode KonMari, coba googling sendiri or baca bukunya ya. Intinya adalah mengikhlaskan barang yang sudah tidak kita gunakan lagi dan memberikannya pada orang yang lebih membutuhkannya.

Sebagai penutup, Pak Aang mengatakan bahwa Alloh memberikan rizki sesuai kebutuhan kita, tetapi Alloh tidak pernah memberikan rizki sesuai keinginan kita….karena keinginan kita tidak ada batasnya.  

P.S: Event ini adalah event zero waste, jadi peserta diminta membawa tumbler sendiri. Snack disajikan dalam pincuk daun pisang. Super cool!