Tuesday, December 2, 2014

Bukan (Sekadar) tentang Pak Hasim



www.dreamstime.com
Ini bukan kisah mengenai seseorang bernama Pak Hasim, mantan security kompleks saya.
Ini kisah tentang performa kerja seseorang, meskipun itu hanyalah hal yang sepele menurut orang lain.
Hari itu, saya dipertemukan dengan Pak Hasim oleh tetangga saya. Ceritanya, bau bangkai menyengat muncul dari eternit kamar rumah saya, dan someone has to climb up the ceiling to get rid of it. And it’s definitely not my husband hihihi…

Jadinya suami pun mencari bala bantuan sejak sehari sebelumnya ke tetangga sebelah yang sedang membangun rumah, jadi banyak tukang. Sayangnya, minggu tukangnya libur. So, ibu sebelah pun merekomendasikan Pak Hasim, yang dirumahkan beberapa bulan lalu oleh RT saya, untuk membantu mengambil bangkai.

Baru sore harinya ketika suami sudah berangkat kerja, Pak Hasim datang. Saya pun bergegas meminjam tangga ke tetangga depan (duh, ngeribetin tetangga mulu’ ya) dan meninggalkan Aksa yang masih makan pisang sambil mondar-mandir di dalam rumah. Karena agak lama, Pak Hasim pun keluar menyusul saya sambil menggendong Aksa dengan santainya, hehe… (plus point #1)

Detik berikutnya, saya mulai beraksi menjadi klien/mandor/asisten Pak Hasim. Dengan tangan kanan sibuk meraih Aksa yang mulai kepo pengen naik tangga, tangan kiri saya sibuk mengoper senter, lanjut memegangi tangga yang sedikit goyah, kemudian berteriak memberi arahan kemana beliau harus mencari.

Anehnya, tak ada bangkai tikus, padahal baunya masih menyengat. Akhirnya  kami pun berasumsi bahwa bangkainya telah diambil kucing. Kamper pun dilempar ke beberapa penjuru atap untuk menghilangkan bau.
Ketika hendak membereskan alat tempur, Pak Hasim melongok ke ruang cuci di belakang yang atapnya terbuka, dan berkata bahwa ada kemungkinan bangkainya di atas ruang cuci. Saya pun menawarkan (tidak menyuruh) Pak Hasim kalau-kalau beliau mau melihat ke atas, yang artinya harus mindah tangga + buka teralis atas+ manjat lagi. Alhamdulillah beliau mau J (plus point #2)

FYI, di atas ruang cuci itu ada tangki air, dan beton tempat tangki itu berada sudah ditumbuhi tanaman liar setinggi 30cm.. Tanpa saya duga, Pak Hasim mencabut tanaman-tanaman tersebut sampai bersih..! (plus point #3) Lagi-lagi, saya tidak menyuruh lho ya.. Dan, there it was!! Si bangkai tikus pun ditemukan.. Setelah di masukkan ke plastik dan TKPnya ditaburi kopi untuk menyerap bau, Pak Hasim pun meminta izin untuk membuang plastik bertikus tersebut.

Semenit, dua menit..kok lama ya? Tempat sampah saya ada di depan rumah, tidak jauh. Sekitar hampir 5 menit, beliau pun kembali. Saya tanya saja buangnya dimana. Jawabnya, “ Di deket pos satpam Bu, kalau di depan rumah bau nanti,”  

Saya pun takjub mendengarnya, karena pos satpam itu jaraknya sekitar dua perempatan ditambah satu pertigaan, yang artinya beliau harus naik motor untuk sampai kembali ke rumah dalam 5menit. Woow….itu totalitas bekerja lho menurut saya. (plus point #4)

Sampai di rumah, beliau pun mengambil sapu dan membersihkan sisa cabutan rumput yang berserakan di ruang cuci. (plus point #5) Saya pun terkagum-kagum lagi dibuatnya, karena it never happened before to all repairman fixing my house, kecuali tukang kayu karena serpihan sisa kayu berbahaya kalau tidak dibuang. Untuk sekadar perbandingan: 

1.       Pak tukang listrik langganan, selalu pakai sepatu keds masuk rumah. Mungkin karena beliau harus naik-naik ke atap jadi takut menginjak paku, mungkin? (positive thinking)
2.       Pak tukang instalasi BIG TV, meninggalkan sejumlah potongan kabel di TKP
3.       Mas-mas tukang instalasi Indovision, kardus bekas satelitnya tidak dibawa lagi, pun tidak dimasukkan di tong sampah. Hanya dibiarkan di teras rumah saya. Bonus, ada perkakas ketinggalan.
4.       Pembantu saya, kadang masih suka membuang sisa sachet deterjen dan bungkus permen anaknya ke ember cucian di belakang,  ataupun membuang kotoran menyapu langsung ke halaman.
5.       Saya juga suka main buang debu sisa menyapu begitu saja ke halaman (jujur).

Sebelum pulang pun, Pak Hasim masih mau membersihkan jejak kakinya di kamar mandi yang memang lumayan kelihatan. Saya bilang tidak usah, toh saya tinggal mengguyurnya. Tangga pun hampir digotongnya kembali ke rumah tetangga, saya larang juga karena memang yang punya rumah sedang pergi. (plus point #6).

So, ya… dari sini saya belajar bahwa kesungguhan dalam bekerja menghasilkan efek yang luar biasa. Bisa jadi Pak Hasim tidak tahu kekaguman saya atas bantuannya tadi. Dan siapa tahu, words of mouth alias gethok tular akan membukakan pintu rejekinya lebih lebar. Who knows, only from simple things.  

Mmm..apa sebaiknya judulnya saya ganti menjadi Hikmah Dibalik Bangkai Tikus ya?



Categories:

0 komentar:

Post a Comment