Tuesday, December 9, 2014

Mainan Masa Kecil




Kalau melihat anak saya sedang bermain, saya sering berpikir: dulu saat saya seusianya, saya main apa ya? Ingatan saya tidak bisa lebih jauh dari ketika saya berumur tiga tahun. Waktu itu saya suka bermain bongkar pasang. Masih ingat? Kalau Mommies termasuk generasi yang lahir tahun 80-an, pasti tahu mainan berupa selembar kertas karton yang berisi gambar perempuan dan sejumlah pakaian yang bisa dilepas mengikuti garis putus-putus. Si perempuan ini berfungi sebagai boneka kertas yang bisa kita gonta-ganti pakaiannya.

Agak sedikit berbeda sih dengan anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya sekarang, dimana mereka suka bermain berkelompok di luar rumah. Kebetulan, saat saya kecil saya tidak banyak bermain di luar. I can say that I’m an indoor person. Jadi, mainnya di dalam rumah saja sama adik perempuan saya. Memang akhirnya saya jadi lebih pemalu, atau karena aslinya pemalu jadi tidak suka main di luar? Hehe..

Walaupun begitu, memori saya tentang bermain di masa kecil sangat banyak. Kalau dipikir-pikir, dulu orangtua saya memberi saya jadwal belajar yang lumayan ketat, plus serangkaian les di sore hari, yang bisa membuat stress. Alhamdulillah saya tidak, mungkin karena mereka juga memberikan porsi bermain serta mainan yang banyak pula, sehingga saya bisa menikmati keduanya.

Saya percaya –dan banyak penelitian pun membuktikan- bahwa bermain adalah proses belajar. Setiap hal yang saya mainkan di waktu kecil turut pula membentuk minat saya ketika dewasa, atau sebaliknya: pilihan mainan saya di waktu kecil menunjukkan minat dan bakat saya kelak. Tidak ada permainan yang sia-sia, karena semuanya mengajarkan sesuatu. Berikut ini adalah beberapa permainan masa kecil yang menjadi favorit saya. Apakah ada yang sama dengan mainan favorit Mommies?

1.       Boneka Barbie
Dari sekian banyak mainan, Barbie lah yang paling banyak mengambil porsi di memori masa kecil saya. Saya masih ingat siapa saja nama Barbie saya dan adik, berikut karakternya, model rumahnya, perabotnya, dan..pakaiannya dong. Tidak hanya belajar berimajinasi melalui jalan cerita yang kami mainkan, saya juga “mendadak desainer”: saya buat desain baju Barbie, lantas Mama yang menjahit; saya buat pula perabot dari karton, serta koran mini agar Ken dan Barbie bisa update berita terkini, hihi..

2.       Menggambar dan mewarnai
Orangtua saya termasuk tipe yang rajin membelikan buku mewarnai serta alat gambar. Selain karena saya menunjukkan minat di bidang tersebut, juga karena bisa melatih motorik halus dan belajar mengenai bentuk serta komposisi warna
.
3.       Gunting tempel
Baik yang berbentuk menggunting sendiri lalu ditempel dengan lem, atau yang sudah berbentuk stiker, saya suka semua. Tantangannya adalah, bagaimana agar mengguntingnya rapi, menempelnya tepat dengan garis, serta..lemnya tidak terlalu banyak agar gambarnya tidak “keriting”. 

4.       Bermain drama dan role play
Ternyata main Barbie saja kurang puas ya, akhirnya saya dan adik suka berakting berdasarkan buku cerita Hans Christian Andersen (bentuk persegi, terbitan Elex Media Komputindo), lengkap dengan properti, setting, dan kostum lho! Sengaja saya bedakan dengan bermain drama, karena titik tekan dari role play adalah peran yang dilihat dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, saya bermain masak-masakan atau salon-salonan karena meniru ibu saya, atau menjadi kasir dan pembeli.

5.       Lego dan sejenisnya
Ini permainan yang menurut saya seru, karena saya bisa belajar mengenai konstruksi bangunan secara sederhana, seperti kalau membuat tembok itu balok legonya harus disusun selang seling seperti batu bata agar tidak jatuh. Bahkan, Lego seri kendaraan bisa menunjukkan cara kerja roda dan setir. Saya juga suka building blocks geometri yang terbuat dari kayu dengan lukisan bagian-bagian rumah seperti ventilasi, pilar, pintu dan jendela. Serasa jadi arsitek!

6.       Puzzle
Kalau ini jelas lah ya, melatih memori dan logika banget. Pokoknya enggak bakal berhenti sampai semua bagian puzzle tersusun rapi. 

7.       Ular tangga
Ular tangga masih menduduki urutan pertama untuk board game favorit saya. Berbeda dengan permainan yang saya sebut sebelumnya,ular tangga mengajarkan kita untuk taat pada aturan main yang sudah ditetapkan serta tujuan akhir dari permainan.

8.       Menyanyi
Dulu, lagu anak masih banyak. Hobi saya menonton video klipnya di teve lalu ikut bernyanyi dengan mic dari sisir. Tidak lupa, mengkoleksi kaset soundtrack film Disney, sambil belajar bahasa Inggris.

9.       Mengkoleksi mainan dari makanan dan minuman
Beberapa yang masih saya ingat adalah Tazos dari Chiki, yang bisa dirangkai maupun dibuat gasing. Ada juga keping gambar hologram dari Twistko, mainan dari Happy Meal McD, serta koleksi hewan dan peternakan dari kemasan kardus susu Bendera. Mengkoleksi barang membuat saya lebih menghargai mainan tersebut, karena proses mengumpulkannya sedikit demi sedikit.

10.   Permainan kelompok/olahraga
Kalau yang ini biasanya dimainkan di sekolah. Beberapa yang saya sukai adalah donal bebek, ular naga (khusunya bagian terakhir saat yang kalah berusaha mengejar “ekor” yang menang), candak patung (kejar-kejaran, kalau mau tertangkap harus mematung agar kebal dari sentuhan si pengejar), karena memicu adrenalin! Saya juga suka permainan khas anak perempuan seperti lompat tali, bola bekel, dan cublak-cublak suweng.

Eh , mainan saya kok tidak ada video game-nya ya? Hehe..iya nih, soalnya Mama melihat para sepupu laki-laki yang lumayan susah berhenti kalau sudah main Sega atau Nintendo. Tetapi, saya dan adik tetap merasakan main game di komputer, yang waktu itu cuma dua: Prehistoric (tentang manusia purba yang membawa pentungan) dan Prince of Persia (tentang Sinbad yang berada di dalam benteng). Itu saja sudah sukses membuat kami berdua berebut..!

Setelah dibaca-baca lagi, I started to make sense why I like certain things and dislike the others. Saya suka desain, pernah ingin jadi arsitek sampai fashion designer, cepat menghapal lirik lagu, hobi membuat naskah drama saat sekolah. Sebaliknya, saya tidak suka pramuka, camping, naik gunung, dan canggung kalau berada di lingkungan baru. Ternyata jawabannya ada di permainan saya pada waktu kecil. Atau, hanya perasaan saya saja?

See the published version on http://mommiesdaily.com/2015/02/05/rpic10-mainan-masa-kecil/

0 komentar:

Post a Comment