Sunday, March 20, 2016

Experiencing The Magical Solar Eclipse



A lot of teachers in my school felt a bit disappointed when they had to sacrifice their holiday on March 9. The school had planned a big event since a month before to experience the solar eclipse. The teachers along with grade 5,6,7 students should spend a night at school to observe the stars and planets using a telescope, continued by witnessing the partial solar eclipse.

I didn’t really get the excitement but I planned to at least do eclipse prayer (solat gerhana). A day before, all students should decorate their eclipse glasses which they bought for Rp 20.000 each. Surprisingly, they were really prepared since most of them brought glitter, templates, flanel, etc. The result was really great! After decorating, each class took picture together with their glasses on.

The teachers came home earlier that day and returned to school at night to sleepover, but I slept at home since I had a toddler. The students watched a movie about solar eclipse and two students from ITB who studied astronomy explained some facts about the sun and the eclipse. So far, they enjoyed the event.
Use and ex X-ray film, why not?
In the morning, I rode my motorcycle at 6 to school under the bright sky. Arriving at school, the sky got brighter and almost all students, some parents, and teachers were gathering beside the school yard where the sun was clearly seen. I wore my eclipse glasses and subhanalloh...I saw a bitten sun! It’s like Apple icon but it’s circle in shape. Soooo beautiful. The situation was like 4 pm where the sun is usually shining bright and its position is almost touching the horizon.

Some people lined up for the telescope, while others captured this rare moment with their cameras and gadgets. Some teachers spiritfully took lots of pictures becausethere was a photo competition using cellphones (in which I joined also). I haven’t taken pictures for photography purpose for quite a long time, so I feel the excitement. It’s like going back to campus life haha..


Line up for the telescope
Around 7.30 -if I’m not mistaken- when the sun was only a half in size, suddenly the temperature dropped. The skies went darker. I could feel the breeze. It’s really magical. Since we didn’t experience the total eclipse, so the situation was like maghrib. All of us went back to school to pray on the field and when the prayer was almost done, the sun showed up again. It was back to bright shiny sky.

Look at the son with a cardbox decorated glasses. So creative!
I feel so grateful to have experienced the solar eclipse and I appreciated the school team who brought up the sudden event because it turned out to be memorable. I also feel lucky to still be able to see the eclipse because it doesn’t come every year, or every ten years.  Alhamdulillah.

This post was a part of English Friday Challenge by BEC

I like these pics that were taken by my colleagues:





Sunday, March 13, 2016

Mandirinya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 2)

Masih tentang kunjungan saya ke OISCA Kindergarten..

Selain disiplin dan keteraturan yang saya kagumi dari anak-anak Jepang tersebut, pemilik sekolah juga sedikit banyak menceritakan tentang konsep pendidikan di sana. Pertama, manusia berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah juga. Sehingga, mereka diajak untuk berinteraksi sedekat mungkin dengan alam. Wujud konkritnya seperti belajar menanam tanaman sendiri (di kebun mereka terdapat jagung, wortel, dan...padi!), memberi makan kambing (yang dilepas begitu saja dengan gembala yang berdiri beberapa meter di belakang kambing), berenang seminggu tiga kali (yeayyy, really like this!), serta pantang menyisakan makanan.

Untuk usia TK (4-6 tahun) saya rasa wajar mulai mendidik untuk menghabiskan makanan, tetapi usia playgroup yang 3 tahunan, saya sendiri di kelas merasa kesulitan plus tidak tega. Menurut Pak Dicky, anak-anak dipahamkan sejak awal untuk menghargai makanan karena “makanan ini pemberian Tuhan dan orangtua sudah susah-susah memasaknya, jadi kita harus menghargai”. So, sampai sekarang anak-anak selalu menghabiskan makanan. Kalau dipikir-pikir, mungkin ada faktor pendukung juga seperti orangtua harus menyesuaikan porsi anak dan lunch time yang dilakukan bersama-sama satu sekolahan, sehingga anak yang lebih muda mencontoh anak yang lebih tua.

Display di dinding yang dominan gambar dan hiasan 
Loker siswa yang detil: ada peg untuk menggantung ransel, untuk tas makan, pakaian ganti, topi, dsb
Konsep kedua, anak di bawah tujuh tahun dibiarkan bebas bereksplorasi agar timbul rasa ingin tahunya. Inilah mengapa dekorasi di OISCA sangat minim tulisan, apalagi belajar alfabet. Tidak ada..! Dengan tidak adanya tulisan (umumnya hanya gambar), anak diajak untuk bertanya tentang gambar tersebut. Karena sama sekali tidak mengenalkan huruf dan calistung, otomatis kegiatan mengerjakan worksheet atau LKS pun tidak ada. Kelak, ketika anak sudah berusia tujuh tahun barulah mereka diajarkan materi yang berupa pelajaran.

Sandbox yang benar-benar bersih (padahal outdoor) dengan tepian kayu yang nyaman untuk duduk
Konsep ketiga, kemandirian. Delapan puluh persen murid di sana menggunakan mobil antar jemput, termasuk murid playgroup sekalipun. Tidak boleh ada baby sitter ataupun keluarga yang menunggui bahkan di awal tahu ajaran. Wuih, ketat juga ya peraturannya. Kalau saya jadi wali murid, sudah pasti saya nangis bombai melihat anak saya menangis naik mobil jemputan, haha.. Katanya sih, biasanya anak-anak membutuhkan seminggu untuk akhirnya bisa berani ke sekolah sendiri. Begitu juga ketika makan, rata-rata anak yang belum bisa makan hanya perlu dibantu selama seminggu dan setelah itu bisa makan sendiri. Kalau makanannya berceceran? Ya dibersihkan sendiri. Tersedia lap kotor untuk masing-masing anak, dan lap tersebut digantung rapi layaknya lap cuci tangan.

Hanger untuk handuk cuci tangan
Oya, saat saya berkunjung ke sana, kebetulan ada jadwal berenang untuk kelas TK B. Mereka pun bisa memakai baju renang sendiri dan memakai handuk sendiri, tanpa bantuan. Guru yang mengajar pun hanya satu. Bagaimana cara mereka bilas? Beramai-ramai mereka disemprot pakai selang oleh pak guru, saudara-saudara, haha... Sounds cruel? Not at all if you see it yourself. Setelah itu mereka berjalan ke dalam sekolah untuk berganti pakaian.

Meskipun saya hanya berada di sana sekitar dua jam, saya sudah mampu mengambil kesimpulan bagaimana anak-anak di Jepang dididik dan dibesarkan. Disiplin, mandiri, teratur, dan sangat berpegang pada nilai-nilai yang mereka anut. Saya juga serasa berada di dalam dorama melihat mereka semua bercakap-cakap dalam bahasa Jepang dengan segala bahasa tubuh dan kebiasaannya, hehe.. Yang terakhir, mereka sangat higienis. Kami harus memakai sandal dalam ruangan saat masuk ke kelas. Sikat gigi mereka pun diletakkan dalam wadah bekas yakult. Selain memenuhi unsur reuse, yakult juga mengandung bakteri baik. Masing-masing anak memiliki handuk tangannya sendiri, sehingga meminimalisir penularan penyakit.

Sandal dalam ruangan yang berjajar rapi
Area sikat gigi. Kelihatan tidak botol yakultnya?
Toilet anak berukuran mini. Semua sudah tidak ada yang pakai popok lho..
I really hope that one day, our children can be as discipline as them, without losing our values. As parents, it is really important that we have the same concept with our kid’s teachers. It is easier for our child to adopt values that are taught at school and at home. Misal, kalau di sekolah buang sampah di tempatnya tetapi keluarganya tidak menerapkan hal yang sama, bisa ditebak kan akhirnya bagaimana? So, we need to keep learning and be consistent karena proses mendidik anak itu benar-benar sesuatu yang terus menerus. Pada akhirnya nanti kita sendiri yang akan merasakan hasilnya.



Saturday, March 12, 2016

Disiplinnya Anak-anak Jepang (OISCA Story Part 1)


Saya belum pernah ke Jepang, tetapi akhir bulan lalu saya benar-benar merasa ada di Jepang. Dalam studi banding tersebut, saya dan rekan kerja berkunjung ke sebuah taman kanak-kanak bernama OISCA. Sekolah ini merupakan bagian dari salan satu organisasi nirlaba di Jepang yang bernama sama, dan bergerak di bidang lingkungan dan pertanian.

Sekolah ini baru berdiri dua tahun lalu di Indonesia dengan mengontrak sebuah bangunan di Menteng. Ukurannya tidak begitu besar, hanya terdiri dari tiga ruang kelas untuk siswa playgroup sampai TK besar yang seluruhnya berjumlah 50 anak. Oya, anak-anak yang bersekolah di sini adalah warga negara Jepang yang orang tuanya bekerja di Indonesia. Gurunya pun sebagian besar merupakan voluntir OISCA dari Jepang yang bersedia tinggal dan mengajar di Indonesia.

Saat turun dari minibus, saya langsung melihat perosotan yang besar sekali berbentuk gajah. Sungguh lucu! Di halaman parkir itu pula ada sebuah kolam renang yang dibawa jauh-jauh dari Jepang beserta dua tank penyaring air alias filter sehingga air yang dipakai berenang memiliki tingkat pH yang seimbang dan berefek menyegarkan. Di lahan terbatas tersebut pula, terdapat sepetak kebun yang ditanami jagung, tomat, wortel oleh murid-murid OISCA sendiri, serta bukit dan sungai buatan, bangku dari pohon tua yang tumbuh di lahan tersebut, serta ayunan yang menggantung di dahan pohon. It is so cool that this green area is surrounded by tall buildings, yang membuat saya berpikir bahwa menghijaukan lingkungan kita tidak membutuhkan lahan yang super luas –asal kita mau.

Sungai buatan dan mini garden
Tanaman wortel
Oke, yang lebih cool lagi menurut saya adalah what happened inside. Ketika kami diijinkan masuk ke dalam gedung sekolah (yang lebih menyerupai rumah tinggal yang disulap menjadi kelas-kelas), pemandangan yang kami lihat adalah anak-anak balita yang sedang bermain di dalam ruangan, dimana sebagian besar dari mereka sedang “berolahraga”. Jadi, ibu guru membantu setiap murid untuk berputar (rolling) di atas sejenis monkey bar setinggi pinggang dewasa sementara sisanya melompati kuda-kuda alias horse bench (yang ini mengingatkan saya pada komik Jepang). Ketika setiap anak ingin melompati kuda-kuda, mereka pun tanpa diminta membuat antrian..! I was soooo amazed.. Melihat anak-anak 5 tahunan mengantri secara otomatis itu menurut saya sesuatu banget, banget. Alhamdulillah kelas playgroup saya sudah bisa mengantri cuci tangan tanpa diingatkan, tetapi masih ada beberapa anak yang kadang lupa, hehe.. It’s a process J

Monkey bar dan horse bench yang saya maksud
Buku absensi supercute dengan kantong tempat buku di background
Jadi, menurut Pak Dicky yang juga salah satu pemilik sekolah ini, aktivitas pagi hari memang berupa olahraga plus free play selama satu jam, setelah sebelumnya berbaris rapi dan berdoa bersama. Ada benarnya juga sih karena dengan puas bergerak dulu, anak-anak bisa menyalurkan energinya dan setelah itu bisa beraktivitas di kelas dengan lebih tenang. When time’s up, they cleaned up really fast. Kebetulan saat itu saya sedang masuk ke salah satu kelas, dan beberapa murid menunjukkan pada saya buku absensi mereka yang berupa stiker-stiker lucu. I didn’t understand their language but I could feel their enthusiasm. Begitu saya keluar kelas, area bermain yang tadinya penuh alat sudah sangat rapi, tanpa saya mendengar suara guru yang berteriak ataupun membujuk, meminta anak untuk tidy up. Hmmm...

Rak sepatu kolom atas untuk sandal dalam ruangan, kolom bawah untuk sepatu 
Acara berikutnya adalah materi di kelas. Kami berkesempatan melihat salah satu kelas TK selama 15 menit. Semua murid duduk di lantai, mengikuti guru mereka yang bernyanyi sembari duduk di kursi. Setelah selesai satu lagu, sang guru pun mengambil posisi di belakang keyboard dan mulai memainkan intro sebuah lagu. Serentak, anak-anak tersebut berdiri dalam barisan dan mulai bernyanyi. Ketika saya bilang serentak itu benar-benar serentak dalam arti sebenarnya ya, tanpa ada yang masih duduk, atau malah berlari ke sudut lain, maupun bercanda dengan teman. Saya dan rekan-rekan masih penasaran, guru-guru di sini effortlessly meminta anak melakukan sesuatu. Anak-anak pun rapi, teratur, dan disiplin tanpa terlihat seperti robot. Wajah mereka tetap ceria. Apakah di rumah anak-anak tersebut juga sepatuh itu terhadap orangtuanya ya? Hehe..


(to be continued)

Friday, February 26, 2016

The Three Unacceptable Things

Have you ever thought why people did certain things that you really hate? I mean, what they did was unacceptable. To make it clear, I will list down three things that in my opinion people should not do, but I keep on witnessing that in my daily life.

Sunday, February 7, 2016

Kreatif Sampai Mati!

Salah satu efek mencoba menjadi seorang entrepreneur adalah berminatnya saya pada buku berbau entrepreneurship, motivasi, dan kreativitas. Saya tidak menyukai buku step-by-step memulai wirausaha, karena saya memang belum seratus persen memberikan hati saya pada bidang yang satu ini (dan saya cukup keras kepala untuk I’ll do it my way). So, buku-buku yang membangkitkan semangat dan memberi inspirasi lah yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati yang ditulis oleh Wahyu Aditya.


Sebelumnya saya tidak tahu siapa Mas Wahyu ini, juga tidak tahu HelloFest –festival pop culture terbesar di Indonesia yang digagasnya. Begitu melihat komentar pengantar dari orang-orang yang saya tahu pasti memang kreatif, seperti Yoris Sebastian dan Rene Suhardono, saya langsung yakin buku ini bagus. Dan memang demikian: bagus kontennya, tulisan enak dibaca dan cukup lucu, desain menarik disertai ilustrasi dan foto yang memperjelas maksud tulisan, plus quotes yang menghiasi setiap perpindahan bab.
Kalimat pertama yang saya suka dari buku ini adalah “Kreativitas tidak hanya dimiliki oleh orang yang berprofesi seniman. Kreatif adalah hak untuk semuanya, yang kaya, miskin, tua, muda, entrepreneur, akuntan, tentara, hingga pengangguran.” Sedikit tersadarkan, karena saya masih sering menganggap hal kreatif itu berkaitan dengan menarik secara visual atau ide yang mendobrak hal-hal yang sudah diterima umum.

Semakin jauh saya baca, saya makin suka cara penulis memaparkan idenya. Contohnya dalam Butir 6: Makin Lengket (ya, karena judulnya pakai kata “Sila” maka bab pun disesuaikan menjadi “Butir”). Inti dari bagian ini adalah mengajak pembaca untuk menghasilkan karya yang memorable sehingga bisa membuat orang terus menerus tertarik. Di sini, Wadit (nama panggilan penulis) mengambil contoh beberapa ciri khas Kota London dan membandingkannya dengan Jakarta. Perbandingannya bukan bagus vs jelek yaa..tapi bagus vs (bisa) bagus (juga). Misalnya, topi polisi di London yang bentuknya menarik, hingga bisa dijadikan souvenir ataupun cukup mengajak foto si polisi. Polisi kita sebenarnya bisa juga sama eye catching nya dengan yang di London, jika...topinya berbentuk Monas, misalnya, hahah... It’s really possible for tourism needs, right?


Bab lain yang membuat saya berpikir, “I totally agree!” adalah Butir 8: Informal ke Formal. Sadarkah kita bahwa kita terlalu banyak dikelilingi oleh logo atau simbol yang terlalu formal? Wadit mengambil contoh Jepang. Pelayanan publik di sana banyak menggunakan logo informal yang menyerupai tokoh komik, contohnya maskot anjing imut-imut untuk Shibuya Community Bus. Efek imutnya maskot ini adalah suasana menyenangkan ketika menggunakan transportasi publik tersebut. Sementara di Indonesia, Si Elang Bondol maskot Transjakarta terkesan angker, tidak jauh beda dengan pengalaman naik busway yang tidak begitu “fun”, khususnya saat sedang penuh dan macet. Saya tidak berani jamin sih, apabila Elang Bondol diubah menjadi unyu maka naik busway juga jadi lebih nyaman J

 
Saya juga suka Butir 17: Monoton No Way! yang mengupas betapa tidak kreatifnya pemerintah kita dengan logo HUT RI ke 60 sampai ke 67 yang sama, hanya berbeda di jumlah bendera. Sementara itu, negara tetangga kita Malaysia, berganti logo setiap tahunnya. Akhirnya, Wadit membuat logo alternatif yang ternyata diterima masyarakat dan digunakan oleh banyak pihak dalam bentuk kaos hingga spanduk institusi pemerintahan. Isn’t that cool?

Semoga saja kalian yang membaca tulisan ini paham di mana sisi menarik dari buku ini ya. At first I thought, okay let’s post about this book. Then, I felt stuck of how to describe the interesting visual part of this book. Jadi mending baca sendiri saja ya, hehe..

 

 

 

Wednesday, February 3, 2016

How Did They Know That I am Javanese?


It's been some time I don't speak Javanese since I live in Bogor. I communicate in Bahasa with my husband and son at home. Sometimes, I speak using a lot of Betawi/Jakartans expression and accent. It's quite common here because it's still the suburb of Jakarta although on the map it's West Java. Thus, I conclude that I don't have that strong Javanese accent (a.k.a medok) anymore. At least, it's lessen..

...or it's not. There were times where I bought something and I asked the seller in Bahasa, "How much is it, Bang?" and he answered "Limang ewu" which means Rp 5000 in Javanese. I usually got surprised but I kept quiet. I didn't want to ask how they knew I spoke their language (mmm..our language actually). If things like that happen, I definitely will say thank you in Javanese also. So, they felt they found their family here, far away from their hometown.

One day, I asked my husband, "Yah, why did they know I am Javanese although I felt that I said a really short sentence?"

He answered, "I think they recognized your accent."

Then, I denied that what I said to them was really accent-less.

Knowing that whatever he said would end in denial, he said in a really flat tone and expression, "Maybe your face." and he quit the room. Okay, I accept the fact that it's my face so I started to get used to it.

Last week, it happened again. I went to a fruit stall and bought a papaya. I said, " This one, Bang" while handed him a papaya to be weighed. He answered, "Njih" which means sure/yes/okay in Javanese. I got confused again for sure, but I kinda enjoy that now haha..

I still remember a lot of my friends who are not Javanese said that I was "Jawa banget" but I didn't ask which part of me that makes me "So Javanese". It's fine, and I'm quite happy they said so.

From this experience I can conclude that you might find your identity if you're out of your hometown. Do you agree?

P.S: I wrote this as a part of BEC English Friday Challenge. If you are creative enough to use "quit-quite-quiet" and "sometimes-sometime-some time" is one story, join this challenge. Good luck!






Friday, January 22, 2016

My Word for 2016: RETURN


I never thought that finding a word for this EF challenge would take more than a week! Sunday I got the word, then Wednesday I found more suitable word for 2016, and the end of the week I changed again, ahh..maybe my word for this year should be DECIDE :D

Saturday, January 16, 2016

Ada Mini Zoo di Katoomba!

Sebagai warga Jakarta coret, saya gemar mencari tempat weekend yang hijau, seperti taman dan destinasi wisata ramah anak. Tiga tahun tinggal di Kabupaten Bogor, saya baru sadar ada green park yang worth visit, hanya 5 menit dari rumah. Duh, kemana aja ya saya?

Sebetulnya sudah lama saya mendengar tentang Katoomba, tetapi hanya sebagai kolam renang saja. Plang-nya cukup besar di tepi jalan, tetapi karena lokasinya masuk ke gang kecil saya jadi underestimate. Sempat lihat juga foto DP tetangga saat berenang di sana, dan saya makin mantap tidak tertarik kesana, haha..


One day, arisan RT diadakan disana, sekaligus penutupan arisan periode ini. Pas suami juga sedang libur, saya ajak anak dan suami untuk berenang. Maksudnya, saya arisan sementara anak dan suami berenang (curang ya). Sampai di sana, ternyata tempatnya bagus. Dari depan memang terlihat sempit, gerbangnya pun biasa saja, hanya ada pos satpam yang ternyata merupakan loket pembelian karcis.

Playground yang bersih (termasuk bersih dari orang, haha)
Ketika memasuki area Katoomba, ternyata tempatnya asri, banyak taman dan mainan untuk anak seperti ayunan dan perosotan. Kolam renang menempati area sebelah kanan, sementara taman dan gazebo di sebelah kiri. Karena arisan belum dimulai, kami bertiga pun jalan berkeliling. Aksa senang sekali. Selain bisa main perosotan, ia juga bisa melihat patung berbagai hewan berukuran besar. Di ujung belakang Katoomba, ada restoran yang berada di atas sebuah kolam, begitu juga di tepi kolam renang. Tempat ini ternyata juga menyasar aktivitas meeting dan pesta. Untuk arisan, kami menyewa sebuah gazebo dengan harga Rp 350.000 tapi saya tidak tanya fasilitas apa yang diperoleh cuz it sounds too pricey for me.

When it seems like that’s the end of the path, I heard my neighbor said his son was looking at the animals. Okay, saya pikir tidak ada salahnya melihat beberapa hewan, Aksa pasti suka. Kami pun berbelok ke kiri dan mulai menemui beberapa ayam dan burung di kandang. Eh, tapi kok ada monyet juga ya? Wah, seperti kebun binatang nih. Saya pun mengikuti jalan setapak dan menemui lebih banyak hewan di sana. Ada berbagai burung seperti bangau, lalu luwak, termasuk kuda (tapi saya lupa melongok kandang kuda, cuma sempat melihat dari jauh saja). Yang saya sadari belakanga, ternyata Katoomba juga merupakan Mini Zoo. Pantas saja.

Aksa takut monyet
Burungnya bagus-bagus motifnya
Harus digendong biar keliatan
Untuk ukuran tiga hektar, mini zoo-nya cukup bagus dan bersih, harga tiket masuknya pun terjangkau, Rp 25.000 rupiah. Bagi saya , kebersihan cukup mempengaruhi penilaian. Kebetulan, saya datang jam 9 pagi di hari Sabtu sehingga kondisi belum begitu ramai. Kalau saya bandingkan dengan foto kolam renang yang ada di website, foto yang di website seperti cendol, haha..

Setelah semua kandang binatang dikunjungi, Aksa dan ayahnya pun berenang. Jika tidak membawa ban, di sana disediakan kok. Kalau lapar, banyak booth di tepi kolam renang dengan makanan yang harganya terjangkau. Beberapa anak tetangga malah main pasir dengan cetakan seperti di pantai, karena di playgroundnya ada juga area pasir yang cukup bersih. Yang tidak bersih hanya satu, kata suami saya, yaitu kamar mandi di kolam renang. Saya tidak sempat melihat sih, karena Aksa saya mandikan di shower luar. Selesai berenang, kita juga bisa menyewa ATV yang berada di bagian ujung Katoomba.

Aksa betah melihat angsa di kolam ini
Sebagai tambahan hasil browsing di Google, ternyata Katoomba juga memiliki pemancingan, ruang menyusui, musholla, dan loker. Bagi warga Bogor dan sekitar Cibubur, mungkin green park ini bisa dijadikan alternatif. Sebaiknya berkunjung di pagi hari ketika masih sepi atau (jika sedang tidak bekerja) hindari weekend.


 
Gambar ini saya ambil dari google karena saya malah tidak memotret kolam renangnya :/


Sunday, January 3, 2016

Akhirnya Bisnis Juga


Dulu sekali, adik saya sempat menyarankan untuk membuka toko online. Ia mengajukan ide ini karena melihat saya sempat bosan di rumah (dan tidak punya penghasilan, hehe). Saya merasa membuka usaha is not my thing. Bukannya saya tidak mau mencoba, karena saat kuliah saya pernah mencoba menitipkan makanan ringan di kantin dan warung sekadar untuk tahu bagaimana rasanya. Waktu SD pun beberapa kali saya menjual gambar-gambar Sailormoon yang sudah saya warnai dan laminating. Dari semua pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa saya tidak bakat berdagang. Selain malas merayu orang untuk membeli barang kita, saya tidak enak menagih utang kalau ada yang belum lunas. Jadi dengan alasan “bukan passion saya”, saya pun tidak membuka bisnis apapun.

Kemudian, lebaran dua tahun lalu sahabat saya masa kuliah menawarkan buku dagangannya ke saya. Sebagai pecinta buku, saya jadi lapar mata. Soalnya, buku yang dia jual buku second untuk anak dan terbitan asing. So, harganya ramah di kantong lah. Dia pun menawarkan saya untuk menjualkan bukunya meskipun kami berbeda kota. Saya pikir, kenapa tidak. Soalnya saya tidak harus merayu orang (haha) untuk membeli, hanya modal mengganti foto DP di Blackberry saja. Tapi sebenarnya, alasan yang lebih kuat adalah karena saya suka buku anak.

Ternyata beberapa teman tertarik dan membelinya lewat saya. Untungnya hanya beberapa ribu saja per buku, tetapi entah mengapa saya merasa sangat senang. Akhirnya saya jadi keterusan menjualkan buku teman saya itu. Kadang, saya mencoba untuk mencari used books sendiri dan saya jual lagi walaupun kondisinya tidak sebagus stok dari teman saya. Tidak apa, saya tetap merasakan semangatnya.

Tidak terasa, saya sudah menjalani usaha ini hampir dua tahun. Bahkan, saya minta ijin teman saya tersebut untuk membeli buku sendiri untuk dijual juga. Saya takut tidak etis untuk menjadi pesaingnya sementara karena ialah saya bisa tercebur ke bisnis ini, tapi alhamdulillah ia tidak keberatan. Toh stok saya tidak selalu ada seperti miliknya.

Saya masih tidak percaya saya konsisten menjalaninya, padahal sejak awal saya yakin saya bukan tipe pengusaha. Setelah saya pikir-pikir, ternyata jawabannya adalah passion. Saya sangat mencintai buku, dan buku anak ini masih memenuhi mimpi saya untuk kelak membuat perpustakaan dan rumah baca. Jadi, kalau ada buku yang tidak laku, saya jadikan koleksi pribadi sehingga dalam bisnis ini saya tidak pernah rugi, insya Alloh. Di sisi lain, saya termasuk pecinta reused and recycled things. Apapun yang ramah lingkungan, saya support. Termasuk buku bekas ini.

Saat saya membaca satu per satu buku yang akan saya jual, saya masih takjub mengapa pengarang buku anak di sana (English speaking countries) bisa membuat buku yang sederhana, kata-kata yang mudah dicerna, mengena, dan sesuai usia. Tentu saja saya bersyukur bahwa dunia penerbitan buku anak di Indonesia sekarang sudah jauh lebih bagus dan menarik dibanding dulu. Namun, konten buku anak masih banyak yang kurang pas untuk usia yang menjadi pasar buku tersebut.  

Kembali ke bisnis ini, saya merasa bahwa menjalankan sebuah bisnis itu banyak pelajarannya. Saya jadi dituntut untuk bisa mencari tahu secara aktif (tidak ada atasan atau rekan kerja yang memberi tahu), menentukan harga, negosiasi harga, membuat kesepakatan dengan orang lain, serta membuat kita berpikir kreatif untuk bisa berbeda dengan kompetitor agar orang tertarik.

Jadi, kalau ada yang bilang bisnis itu mudah, iya hal tersebut memang mudah. Tetapi jika ingin serius menekuni bisnis dan menjalankannya sebagai sumber utama penghasilan, kita harus level up our effort. Jauh lebih susah menjadi entrepreneur daripada menjadi pegawai karena we do all on our own. Karena itu saya masih betah menjadi karyawan dan menjalankan bisnis sebagai sampingan, haha.. Enggak apa-apa lah, hitung-hitung sambil belajar dan saya enjoy menjalaninya.

Saya rasa, semakin banyak teman-teman yang saya kenal mencoba dunia usaha, meskipun sifatnya hanya reseller alias menjualkan barang orang lain, meskipun sifatnya on-off alias jualan kalau sempat saja. Bagi saya, hal tersebut telah menunjukkan bahwa berjualan bukan lagi hal yang dipandang sebelah mata seperti dulu. Generasi orang tua saya bisa jadi malu kalau disuruh berjualan, tetapi generasi di bawah saya malu kalau tidak berjualan, iya enggak? Terlepas dari itu merupakan tren atau memang keinginan yang bersangkutan, mencoba menjalankan sebuah usaha itu lebih banyak sisi positifnya so it’s worth to try. Siapa tahu yang awalnya coba-coba bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan J



Friday, January 1, 2016

Rimba Baca: A Must Visit Place for Kids

Perpustakaan yang satu ini sudah lama sekali menjadi target weekend saya, tapi entah  mengapa kok tidak pernah kesampaian pergi ke sana. Tiap kali ada event yang muncul di Instagram Rimba Baca, selalu jadwalnya tidak pernah cocok dengan jadwal saya atau suami.

Thursday, December 31, 2015

(Semoga) Saya (Bukan) Ibu Pemarah


Ketika saya memutuskan untuk kembali bekerja, salah satu hal yang menjadi pertimbangan adalah emosi yang mudah tersulut ketika saya 24 jam berada di rumah. Memang benar, ketika saya sudah memiliki kegiatan di luar rumah, saya lebih mudah menghadapi anak saya dengan sabar. Tentu saja karena saya merasa waktu saya jauh berkurang dengannya, sehingga sepulang kerja dan harus menjadi quality time bagi kami berdua.

Entah apa yang berubah dari kesadaran saya di atas, kini saya kembali mudah marah. Bentuknya berbeda dari yang dahulu. Kalau yang dulu, saya bisa “meledak” karena menahan rasa kesal lalu mendadak menangis karena menyesal. Sekarang, saya cenderung mudah mengomel. It’s not as shocking as yelling for my son, but it last longer and annoying, haha.. Ia  mungkin kebal kalau saya mengomel, jadi setiap bentuk larangan tidak diresponnya seperti dahulu. Bisa jadi karena anak saya mulai memasuki usia 2-3 tahun yang kata orang memang lagi susah-susahnya diatur, atau juga karena saya mulai merasakan workload yang banyak di sekolah. Ibadah saya jadi tidak khusyuk dan berkurang, sehingga hati juga kurang “adem”.

So, ketika momen libur sekolah datang, saya sangat senang. Berlibur berdua bersama Aksa ke kampung halaman bisa mengurangi penat saya dan otomatis amarah saya pun berkurang. Ternyata yang terjadi tidak demikian. Beberapa kali saya sempat emosi hanya karena hal sederhana, seperti Aksa mengompol (ia sebenarnya sudah lulus toilet training, tetapi proses menyapih membuatnya ngompol lagi), tidak mau makan, memukul kepala saya, dan sebagainya.

Akhirnya, ibu mertua saya pun menegur saya untuk tidak memarahinya. Padahal menurut saya, yang saya lakukan hanya memberitahu anak saya dengan tegas. Hal itu ditangkap sebagai amarah oleh ibu karena mungkin nada yang saya gunakan tinggi, dan keluarga suami memang keluarga yang hampir tidak pernah marah (they tend to keep silent if they’re angry). Saya ceritakan hal itu kepada adik saya, and surprisingly she said so! Adik saya ini sekeluarga paling temperamental dan saya kira standar kemarahannya jauh lebih tinggi dari saya, tetapi ia melihat saya memang terlalu mudah marah ke Aksa. So, it’s time to evaluate.

Saat saya mulai bebenah diri untuk sebisa mungkin menahan amarah, dan merapal-rapal kalimat “he just doesn’t understand yet” anak saya mulai menunjukkan perubahan perilaku:  sedikit saja saya menunjukkan nada melarang, ia akan mulai menjerit dan memukul saya. Ia juga menolak bujukan dan ajakan orang tuanya dengan kata “enggak” namun nadanya persis seperti nada saya ketika menolaknya. Duh, hati saya langsung menangis. Saya merasa memetik buah amarah yang selama ini saya tunjukkan di depannya. Anak saya mengadopsi cara saya untuk menunjukkan emosinya.

Sedih? Pasti. Kemudian tadi pagi saya menemukan judul thread menarik di discussion forum theurbanmama.com, “Bagaimana Melatih Sabar”. Langsung saya klik dan saya baca dari page 1 yang ternyata post dari tahun 2012. Saya memang belum selesai membacanya, tetapi kurang lebih kesimpulannya adalah ujian kesabaran ini dihadapi oleh setiap mama di luar sana. Alhamdulillah saya seperti mendapat pencerahan di penghujung tahun ini. Merasa mendapat banyak teman seperjuangan dan juga mengetahui bahwa hampir semuanya merasa it’s not okay to get angry to your child easily. Semua mama pasti ingin menjadi sosok yang sabar, lembut, dan bisa dicontoh oleh anak-anaknya dan hal tersebut membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Oya, juga support dari pasangan.

Sudah pasti, bersikap bijak dalam menghadapi perilaku anak akan menjadi resolusi utama saya di tahun 2016. Tarik napas, ingat-ingat bahwa Aksa belum paham apa yang dilakukannya, hindari nada tinggi (because he won’t get our message), kalau masih emosi juga pindah ruangan untuk menenangkan diri. Good luck for me!

Sebagai kalimat penutup, saya ambil dari blog zataligouw: Mothers are Angels in Training. Setuju?



Tuesday, December 8, 2015

Antara Sea World, NatGeo Wild, dan Zebra


Punya channel TV kabel favorit? Kalau saya sih Star World (karena saya suka reality shownya) dan National Geographic (karena menurut saya edukatif dan informatif) selain channel berita lokal. Berbeda dengan anak saya, hanya ada satu pilihan yaitu Baby TV. Awalnya saya sempat sedikit “perang” dengan anak saya untuk memperpendek durasi menonton TV nya. Memang sih muatannya edukatif, tetapi pancaran sinar biru pesawat televisi –menurut artikel yang pernah saya baca- dapat merusak mata.

Namun, karena saya biasanya sibuk menyiapkan sarapan dan bekal di pagi hari, saya pun tak kuasa menolak permintaannya menonton Baby TV meskipun lama-lama dia bosan juga. Setidaknya sebulan terakhir, ketika Aksa minta Baby TV, ia hanya bertahan kurang dari sepuluh menit dan berpindah ke mainan atau buku. Saya bersyukur, hehe...soalnya kalau melihat dia “tersihir” di depan televisi, miris juga rasanya. Diajak bicara pun seolah tidak mendengar.

Karena merasa ia sudah bosan, saya pun jadi sering curi-curi menyalakan televisi dan menyetel channel favorit saya tanpa takut diinterupsi. Saat sedang memilih channel, Aksa tiba-tiba berteriak, “Ikan! Ikan!” sambil menunjuk layar televisi. Oh, ternyata NatGeo Wild sedang menayangkan program memancing ikan raksasa. Ya sudah, akhirnya saya dampingi ia menonton sambil menjelaskan apa yang dikatakan oleh sang presenter. Ia keliatan heboh berceloteh, kadang melongo, kadang tertawa, apalagi jika jeda iklan menunjukkan binatang-binatang lain yang ia tahu, seperti beruang dan harimau. Saat itu, saya berpikir, sejak kapan ia mendadak suka binatang ya? Apalagi ikan. Yang saya ingat, beberapa bulan lalu ketika ia membaca ensiklopedi Kehidupan di Dalam Air, ia selalu bilang: “Akuk!” dan beringsut mundur (Akuk = takut, red.) khususnya ketika gambarnya ikan bergigi tajam atau berwajah tidak imut. Lalu, kenapa sekarang menjadi senang ya?

Biar takut gelapnya Sea World, ternyata diam-diam ia belajar juga

Oh, saya kemudian ingat kalau awal bulan lalu kami ke Sea World. Memang sih, disana ia lebih banyak takutnya, haha.. Pertama, takut gelap. Di Sea World memang suasananya temaram dan ikan-ikannya banyak yang tidak sesuai imajinasinya (mungkin). Sedikit gondok sih waktu itu, jauh-jauh ke Ancol, tiketnya pun enggak murah, tapi Aksa bisa dikatakan 60-70% saja excitednya. Siapa yang menyangka, setelah dari Sea World lah ia menunjukkan rasa sukanya pada binatang-binatang tersebut. Buku favoritnya pun berubah menjadi ensiklopedi yang tadi ia takuti.

Akhirnya, saya pun jadi sering menonton program satwa bersama Aksa. Ternyata seru juga lho! Saya jadi tahu perilaku berbagai jenis satwa liar, termasuk fakta bahwa kucing bisa bisulan, atau rematik akut di kaki seekor kuda bisa membuat pemiliknya rela menganestesi kuda yang menemaninya selama 30 tahun tersebut. Belum lagi dari narasi yang kadang kocak karena mengambil sudut pandang hewan dengan cara bertutur manusia. Super kreatif. Andai tidak ada Aksa, mungkin seumur hidup saya tidak akan tahu menariknya kehidupan di alam liar. (peluk anak dulu)

Bersamaan dengan ketertarikannya pada hewan liar, saya pun mengeluarkan mainan miniatur hewan yang dibelikan neneknya setahun yang lalu. Saat itu, ia sama sekali tidak tertarik memainkannya (tapi saya tidak bilang ibu mertua haha). Sekarang, zebra mini dan badak bisa jadi jurus ampuh ketika ia susah diajak mandi. Saya tinggal bilang, “Aksa mau mandi sama zebra atau badak?” dan ia pun akan mengambil salah satunya. Tapi kalau pertanyaannya diganti, “Mandi sama zebra yuk!” maka ia akan menjawab, “Udah!” which means “no”. Hhhh...


Hayo, yang mana saja yang "catutan" dari kartun Disney?

Satu lagi efek dari Sea World + Ensiklopedi Ikan + NatGeo Wild adalah...ia jadi tertarik dengan buku cerita tentang hewan yang saya belikan hampir setahun lalu. Buku cerita berharga 7000 rupiah dengan ilustrasi cropping-an dari tokoh kartun film layar lebar ini sekarang menjadi favoritnya. Tapi dia bukan tipe anak yang mendengarkan cerita ibunya ya.. Ia akan fokus bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk semua hewan. Tidak apa-apa, mungkin belum masanya aja...

Setidaknya, ketertarikan Aksa yang selalu berganti dalam periode beberapa bulan membuat saya bisa menyesuaikan diri tentang what to give and what activity to choose ketika saya menemaninya. Saya juga harus bisa peka dengan kebutuhannya akan stimulus dari keluarga dan lingkungan sekitarnya so that he learns new things and never gets bored easily.

Semoga sebelum tahun baru, kami sudah bisa mengajak Aksa ke Taman Safari...biar sesuai dengan tema belajarnya bulan ini J