Saturday, October 18, 2014

Nyontek

www.galleryhip.com

Kalau membaca tentang anak-anak sekarang yang stres menghadapi ujian nasional, saya jadi ingat masa-masa ujian jaman saya sekolah dulu. Rasanya, ujian tidak semenakutkan sekarang, walau tetap dihadapi dengan belajar serius.
Namun, ada saat dimana saya “menempuh” jalan pintas, yaitu dengan cara mencontek. Motifnya berbeda-beda sih untuk setiap jenjang pendidikan, ada yang coba-coba, ikut-ikutan temen, takut dibilang pelit, sampai memang karena kepepet beneran, hehe..
Kalau tidak salah, pertama kali saya mencoba menyontek, atau tepatnya contek-contekan, ketika kelas tiga SD. Padahal guru saya selalu memperingatkan di awal ulangan umum (dulu namanya bukan ujian, tapi ulangan), “Yang bekerja sama nilainya dikurangi!”
Waktu itu, caranya memberi contekan adalah melalui sepatu. Saya duduk di bangku paling belakang, dan menyelipkan kertas contekan ke sepatu. Kemudian, saya ayunkan kaki ke bangku seberang saya. Teman saya pun menunduk (pura-pura mengambil pensil yang jatuh) sembari mengambil kertas di sepatu saya, haha... Entah kenapa, waktu itu kok rasanya bangga sekali mencontek tidak ketahuan. Mungkin karena buat anak-anak, itu menantang kali ya..
Alhamdulillah, setelah itu saya enggak main contek-contekan lagi. Bahkan, tergolong pelit kasi contekan (pertarungan ranking di kelas sengit, Bung!). Kalau ulangan, saya dan teman-teman meletakkan map dan buku dalam posisi berdiri di kanan, kiri, depan kami, seperti benteng, haha..
Karena itu, saya sempat takjub ketika diterima di SMP favorit di kota saya, karena para senior ternyata punya budaya saling memberi contekan..! Dari cara yang klasik seperti saling meminjamkan alat tulis yang telah diberi jawaban, menulis contekan penting di anggota tubuh, sampai bertanya langsung ketika guru pengawas sedang lengah.
Untuk kasus terakhir, salah seorang senior saya pernah kena batunya. Dalam satu ruang kelas, setiap bangkunya diisi oleh seorang senior dan seorang junior (misal: kelas 1 sebangku dengan kelas 2). Saat itu, ruang kelas yang digunakan memiliki banyak jendela berukuran besar dan terbuka. Saat pengawas meninggalkan kelas, mulailah salah seorang senior beraksi.
Ia berusaha memanggil temannya dengan berbisik. Sayang sekali, yang dipanggil tak kunjung menoleh walau ia sudah mengeraskan suaranya. Hingga akhirnya...
“Mas, mas...itu dipanggil temannya..!”
Ternyata sang pengawas telah berdiri di luar jendela, berusaha “membantu” si senior memanggilkan temannya untuk dimintai contekan, haha.. Kalau sudah ketahuan, yaa...apa boleh buat. Paling-paling menunduk malu. Syukur-syukur tidak dikurangi nilainya.
Belajar dari pengalaman kakak kelas yang ketahuan, teman saya Wira tidak mau mengandalkan orang lain untuk membantunya. Maksudnya bukan tidak mau mencontek lho ya, tetapi melihat buku. Bagaimana bisa? Peraturan ujian menyebutkan bahwa semua tas siswa harus diletakkan di depan kelas. Tidak kurang akal, Wira menyobek satu halaman penuh buku pelajaran elektro dan melipatnya jadi kecil, lalu diselipkan di bawah jam tangan. Ckckck... Saya tidak tahu apakah usahanya sukses atau tidak. Semoga saja halaman yang ia sobek muncul di ujian, kalau tidak berarti apes..
Ninta, teman SMP saya punya jurus jitu ketika hampir ketahuan nyontek. Saat itu ia memberi kode menggunakan jari tangannya, sementara bibirnya mengucapkan nomor yang ingin ditanyakan, tanpa suara. Mendadak ia bertemu mata dengan pengawas. Maka, ia pun berpura-pura merenggangkan jari jemarinya seolah habis melakukan manikur...!
Jari dan tangan masih menjadi andalan teman-teman saya ketika SMA. Memang contek-menconteknya sudah tidak seheboh waktu SMP, tetapi tetap saja ada teman saya yang kepepet. Irene salah satunya. Karena tidak yakin bisa mengingat rumus fisika yang dipelajarinya semalam, Irene menuliskannya di telapak tangannya.
Saat beraksi pun tiba. Irene membuka telapak tangannya dan memandanginya dengan seksama. Ketika mendongak, ia melihat guru fisika sedang mengamatinya. Karena panik, ia mendadak berpura-pura mengelap keringat. Fiuh..untungnya Irene tidak ketahuan. Saat kesempatan tiba lagi, ia membuka telapak tangannya dan....rumus-rumusnya telah luntur oleh keringat! Hahaha..
Kalau jaman kuliah, nyontek sudah tidak jaman lagi karena jawabannya esai. Lagipula, saya kuliah di FISIP, tidak ada rumus matematika atau ekonomi. Meskipun demikian, saya pernah mendengar trik dari seorang senior. Apabila ada mata kuliah umum, yang ruangannya besar, dimana kesempatan kita untuk bertanya teman juga besar, maka sediakanlah tabloid di meja pengawas. Kenapa tabloid? Karena ukurannya cukup besar. Sehingga ketika pengawas tertarik dan membacanya, niscaya sebagian pandangannya tertutupi tabloid. Dan, kita pun bisa berdiskusi sebentar dengan teman sebelum mulai menjawab. Hmmm..
Saya tidak tahu bagaimana cara anak sekarang mencontek, karena jaman saya dulu handphone belum banyak yang punya. Tapi, seandainya saya menjadi pelajar saat ini, saya memilih untuk tidak mencontek. Takutnya, ketika asyik mencontek, ada teman yang memotret dan mengunggahnya ke media sosial. Bisa beken mendadak nih, haha..!








Categories:

0 komentar:

Post a Comment