Sunday, May 19, 2019

Bukuku Sayang, Harus Berkurang



Jujur, proses decluttering buku merupakan salah satu tahap bebenah KonMari yang saya lakukan dengan waktu paling cepat. Berbeda dengan proses menyortir baju yang perlu banyak pertimbangan,  saya bisa dengan cepat memilih buku yang tidak lagi sparks joy dan rela melepaskannya. Buku saya tapi ya… bukan buku anak, haha.. Meski sudah robek sana sini maupun anak nggak pernah tertarik, saya menganut prinsip bahwa selera anak akan berubah seiring dengan usia dan kemampuan baru yang ia kuasai. Jadi, daripada menyesal kemudian, saya pertahankan semua buku anak. Toh, jumlahnya hanya sepersekian total buku saya dan suami.

Karena prosesnya cepat, saya melakukan proses sorting tanpa melalui kategori. Most of our books are located in the living room, beberapa di kamar tidur untuk bedtime stories, dan sekitar 15an buku di storage room. Buku yang ini adalah buku yang saya beli di Gramedia Warehouse Sale dan Mizan Out of The Boox dan masih disegel. Ada juga sih yang sudah saya buka, tapi belum tuntas membacanya. 

Jadi, saat decluttering, saya hanya perlu memiringkan kepala mengikuti posisi penyimpanan buku secara vertikal, dan mengambil yang kira-kira sudah tidak ingin saya baca lagi ataupun tidak lagi memiliki nilai informasi di kemudian hari, seperti novel.

Setiap buku di rumah sudah memiliki tempat, hanya saja sudah pas. Jika menambah 5 buku lagi misalnya, harus ada yang mengalah dan keluar dari rak buku, walaupun suami memberi sinyal we-definitely-need-a-new-bookshelf, hahhah..

Prinsip decluttering yang saya gunakan di posisi pertama adalah rapi dan teratur. Saya sempat berdebat sedikit dengan suami masalah ini. Buatnya, tidak masalah meletakkan buku yang tidak muat secara horizontal di atas deretan susunan buku vertikal. For me, it’s a big no no. Karena itu saya sodorkan beberapa buku yang jarang ia baca dan merupakan gift dari konpers atau seminar, suami pun memilih beberapa untuk direlakan.


Prinsip berikutnya adalah aman. Ini saya berlakukan khususnya untuk buku anak premium nan mulus yang saya letakkan di lemari kaca. Jadi, anak butuh effort lebih untuk mengambilnya meskipun sekarang saya sudah tidak terlalu heboh jika si kecil mendzolimi buku-buku tersebut. Dulunya, saya selalu meletakkan buku yang mahal ini di atas rak buku. Karena makin lama buku yang eman-eman kalau rusak ini makin banyak (dan tidak indah dipandang, berdebu pula), saya pun memindahkannya ke lemari kaca di saf paling bawah agar tetap accessible bagi anak-anak.

Dalam proses organizing, buku saya simpan berdasar kepemilikan. Milik suami di rak partisi ruangan bersama milik anak di saf terbawah. Milik saya berada di lemari kaca beserta buku premium anak dan sebagian buku suami. Alasannya, suami sering mengakses buku randomly and frequently jadi lebih mudah rasanya jika ia tidak harus buka tutup pintu kaca. Selain itu, setiap buku kami saya tata berdasar kategori yaitu parenting, fiksi, mothering stories, teaching stories, kesehatan, biografi, olahraga, agama, komik, bahasa, komunikasi, dan majalah.

Dengan penataan demikian, saya dapat mempertahankan kebiasaan mengeluarmasukkan buku dengan mudah, semudah menemukannya.

Eh tapi, kalau dipikir-pikir, rak bukunya beneran udah nggak muat deh…soalnya ada tiga kategori baru dalam penyimpanan buku: BBW, GramedSale, MizanSale, hahaha..ketauan nih saya n suami bookworm yang menjurus ke Tsundoku. Tapi semoga bukan hoarder yah. Buktinya, minggu lalu saya decluttering buku masa remaja saya di rumah ortu dan alhamdulillah bisa mendonasikan buku-buku tersebut (lebih dari 20kg!) dengan ikhlas. I only saved less than 5 books, yeayy! Sebelum saya donasikan, saya tawarkan di grup preloved dan olshop saya. Lumayan. laku 5 buku. Motivasinya, saya tidak ingin membuat koleksi buku saya berjamur karena terlalu disayang sampai harus diumpetin di lemari, seperti saat saya SD dulu. Dan, tentang masalah hisab, saya juga terpikir untuk membuka peminjaman buku online walau masih bingung bagaimana sistemnya kelak.

Buku yang di preloved lanjut donasi
Jadi, sukses nggak nih ya decluttering bukunya? Kalau lihat dari segi jumlah, jelas tidak sukses ya hahaha… Tapi, inti decluttering kan menghilangkan clutter alias hal yang membuat kita tidak nyaman, bikin suntuk, mood jelek karena berantakan. Nah, buku-buku saya ini berfungsi sebaliknya: soothing corner where I find my happiness and fulfillment. Surga dunia saya lah!

Hikmah dari decluttering buku ini adalah, saya jadi mudah memahami mengapa ibu saya terus menerus membeli tas-pakaian-sepatu seolah tidak pernah cukup. Padahal yang dipakai juga itu-itu saja. Saya pun beli buku seolah tidak pernah cukup, padahal 90% buku tidak saya baca ulang. Because I found happiness when I read books, when I bought them, and when I own them. At least, ilmu dalam buku tak lekang waktu, tak tergerus siklus layaknya fashion items, dan bisa membuat kita lebih berdaya. Bokek itu hanya sementara, khususnya habis BBW. Hahaha…


Tuesday, May 7, 2019

Ramadhan Kali Ini: Less Anger, Less Sugar, Less Gadget



Alhamdulillah, tahun ini masih diberi usia panjang hingga bisa bertemu dengan Ramadhan lagi. Entah mengapa, satu-dua minggu sebelumnya, saya sudah tidak sabar merasakan 30 hari indahnya bulan suci. Kata-katanya klise banget ya, haha… 

I mean it. Dulu, nggak pernah saya ngerasain Ramadhan itu indah, yang ada nunggu lebarannya aja. The celebration, new dress, food, and stuff. Lalu kemudian berhijrah, dan merasakan privilege untuk genjot ibadah habis-habisan karena belum menikah dan beranak pinak. Sempat mencoba i’tikaf di masjid juga dan setelah ada anak mari kita ibadah di rumah saja..pahalanya alhamdulillah sama kok.

Saat-saat awal punya anak, Ramadhan tidak terlalu terasa greget, karena nggak bisa tarawih di masjid, nggak kuat puasa karena menyusui. Kalau tidak salah, saya bayar fidyah sampai 3x Ramadhan deh. Lalu setelah tahu bahwa kita tetap harus mengganti puasa selagi masih sehat dan mampu, bayar fidyah saya stop. Tahun-tahun berikutnya saya back to work, puasa ngajar TK di sekolah alam yang luasnya hektaran itu lumayan rasanya, dan excitement saya berganti ke mudik. Rasanya nggak sabar nunggu akhir Ramadhan karena pengen ketemu orang tua dan saudara. Tarawih pada masa ini dikuat-kuatin banget karena capek pulang kerja. Kalau wiken bisa gantian tarawih di masjid sama suami sih, tapi agak kurang sreg dengan cara solat yang ngebut, hehe..

Nah, dua tahun terakhir di Jogja ini lah yang saya kembali merasakan nyawa dari Ramadhan itu sendiri. Khususnya, setelah si bungsu lahir. Alasannya saya temukan saat Ramadhan tahun lalu hampir berakhir: saya lebih jarang marah. Jujur saja, love and hate relationship saya dengan si sulung dimulai menjelang adiknya lahir hingga setahun kemudian (atau mungkin lebih). Kalau ingat masa itu, rasanya menyesal. Otak reptil saya aktif banget, huhu… Makanya sewaktu Ramadhan, emosi bisa lebih terkendali.

Tahun ini, misi utama yang sama kembali saya usung: menahan amarah. Meskipun I control my anger better than last year, tapi tetap saja ada letupan-letupan emosi yang saya sendiri masih belum bisa menyalurkannya dengan cara yang lebih nggak painful.

Second mission-nya adalah: menahan makan berlebihan. Lho, kamu kan kurus? Masa mau diet? Diet makan makanan yang toxic buat tubuh, itu maksud saya. Meskipun underweight, konsumsi makanan bergula tinggi saya lumayan. Sudah baca buku clean eating dan food combining, masih belum maksimal saya mengubah pola makan. I could’ve eaten better, for a better life. Dengan puasa, kerasa banget saya nyemilin biskuit jadi jarang. Di depan laptop juga lebih minim distraksi, because I am a chewing-while-working type of writer. Ketika buka puasa, sebanyak-banyaknya saya makan, tetap saja tidak bisa sebanyak pada saat saya tidak puasa. Yang saya makan pun mostly makanan berat, bukan cemilan unfaedah yang banyak menyisakan sampah sachet. So, I feel satisfied and happy with this holy month.

Third mission (yang mungkin banyak orang juga pengen lakuin): gadget detox. Sering nggak sih, kita ngerasa seharian kok gak accomplish anything and the answer was too much scrolling? Walau saya merasa my screen time is nothing compared to my husband (ya iyalah dia orang media, kerjaannya di hape #alasandia), masih ada keinginan untuk membuat 24 jam saya itu hitungan pahalanya berat. Kita nggak tau mati kapan, jangan sampai alasan yang kita kemukakan kok nggak ngaji, cari ilmu, menghafal Quran adalah karena: main hape. Aduduh…

Jadi, Ramadhan ini saya membuat Ramadhan Tracker, terinspirasi oleh @byputy yang ilustrasi trackernya kiyut abis (kiyut!!!), I made my own with different target. Semoga saja tahun ini, setiap hari di bulan Ramadhan terasa memuaskan dan berfaedah, dan kebiasaan baik yang susah payah dibangun bulan ini bisa bertahan di bulan-bulan berikutnya, atau selamanya. Aamiin…


Sunday, May 5, 2019

Bebenah Pakaian, Begini Praktiknya!


Bye Kitchen!

Setelah dua mingguan bebenah dapur, now we’re moving to the closet…! Enggak closet doank sih benernya, karena setelah dicermati, yang tercakup dalam bebenah kategori pakaian itu termasuk juga aksesoris, tas, sepatu, seprai dan sejawatnya. Huhuu…banyak banget ya. Karena itulah _honestly_ saya belum selesai decluttering kategori ini. But I’m going to answer the questions anyway.

Lipat ala KonMari. Mencegah pakai baju itu-itu saja.
Proses decluttering
Saya memisahkan pakaian yang dipakai sehari-hari dengan yang jarang dipakai (hari khusus). Alasannya, lemari saya berupa lemari plastik Napoli empat pintu, sharing dengan suami. Lemari anak berupa laci plastik empat tingkat serta rak buku kayu Olympic tiga tingkat. So, baju khusus akhirnya saya taruh di storage box. Apa saja baju khusus itu? Baju kondangan, baju formal non busui (saya masih proses menyapih), jaket, baju renang. Sisanya adalah sprei, selimut, bed cover, korden, tas. Merekalah penghuni kontainer plastik. Namun, dua minggu lalu akhirnya saya membeli gantungan baju single untuk menggantung gamis-gamis saya. Beberapa kali saya kesulitan mencari pakaian resmi untuk acara keluarga dan kondangan karena mereka ngumpet di peti. Setelah dikeluarkan pun baunya apek plastik. Jadi, Alhamdulillah sekarang pakaian licin nan agak luxurious tersebut bisa bernapas, hehe..

Kalau sepatu, saya masih simpan dengan boksnya. They’re not exactly on their original boxes, banyak yang sudah saya kombinasi khususnya sepatu anak. Satu boks dewasa bisa untuk dua pasang sepatu si bungsu. Total, saya hanya punya rak sepatu plastic tiga tingkat, namun saf paling atas tumpuk dua boks plus sepatu yang sering dipakai (tanpa boks).

Tentang tas, ada dua lokasi, yaitu container dan rak besi. Yang di container rasanya tidak pernah dipakai, akhirnya kemarin saya jual di preloved group tapi belum ada yang minat. Yang di rak besi pun demikian, terjual satu saja. Insya Alloh ramadhan nanti saya sertakan di bakti sosial sekolah anak. Agak kaget juga sih ternyata saya punya banyak tas, tapi karena alasan sentimental jadi disimpan aja. Banyak juga tas freebies yang didapat suami dari konferensi pers. Saya sudah memutuskan untuk hanya menyimpan 40% nya.

Aksesoris? Hanya satu laci kecil di meja rias. Isi beberapa bros jilbab, jepit rambut, peniti. Kalau jilbab, sudah direlakan beberapa saja, karena saya hanya punya satu wadah sepatu gantung bahan plastik yang memuat sekitar 20 jilbab.

Kalau soal prinsip RASA (Rapi nyAman Sehat Alami) dalam proses decluttering kategori pakaian, yang paling utama adalah rapinya. Meski cara melipat pakaian saya dan suami masih tumpuk vertikal, tapi pakaian anak sudah 30% model konmari karena lemari model laci. Tas di rak besi pun saya jejer rapi. Sepatu di rak juga rapi. Yang di teras yang kadang masih berantakan karena anak masih belajar merapikan. Kalau prinsip nyaman dipakai dan sehat, rata-rata setiap pakaian yang saya beli sudah memenuhi unsur itu sehingga frekuensi pemakaian lebih banyak dipakai sebagai bahan pertimbangan. Memenuhi unsur alami dan berkelanjutan, ada dua daster yang saya jadikan korden dapur, kemudian celana anak yang pinggangnya melar hampir saya buang tapi akhirnya saya putuskan untuk membetulkan karet pinggang di vermak jeans (karena kalau didonasikan nggak terlalu pantas, padahal bahannya pewe). Sisa pakaian dalam saya jadikan lap, namun belum semuanya saya potong. Masih saya letakkan di kardus.

Oh ya, saya melakukan decluttering tidak dengan cara menumpuk semua di tengah…jadi masih berdasar lokasi. Alasannya, anak saya masih sering interupsi. Lihat gundukan pakaian bisa buat berenang ntar, hahah…lagipula, saya bisa cut sewaktu-waktu anak membutuhkan saya, tanpa harus meninggalkan lokasi pertempuran.

Proses organizing
Semua pakaian sisa decluttering yang akan didonasikan sudah saya masukkan ke dalam dua kardus, terlipat baik, hanya saja kategorinya masih tercampur antara pakaian pria wanita anak. Batasan waktu donasi adalah hari ke 10 ramadhan.

Dilema seorang pelanggan laundry ;p

Label storage box hasil kolaborasi dengan anak
Pakaian yang masih digunakan saya simpan seperti cerita di atas. Kemudian seprai yang sering digunakan saya letakkan di container tanpa tutup karena sering sekali ganti. Selimut saya masukkan plastik ex laundry dan saya letakkan di storage box karton berlapis kain serta di kontainer plastik.
Oh ya, karena saya hanya mencuci pakaian anak bungsu saya dan sisanya masuk laundry, saya punya tugas tambahan saat memasukkan pakaian ke lemari, yaitu menyesuaikan lebar lipatan pakaian. Laundry nya agak labil, kadang lipatannya standar, kadang super lebar…jadinya, saya sering melipat ulang. Tapi kalau lebar sekali, saya lipat dua. Takes time banget kalo semua dibongkar. Tapi kalau nggak sempet banget, saya tumpuk apa adanya walau jadi nggak lurus rapi. Yang penting nggak lecek.

Yasss! Selesai sudah cerita declutteringnya. Yang belum selesai malah prosesnya, hahaha.. Mari kita lanjutkan pilah pilihnya ya.


P.S: Post ini adalah bagian dari tugas kelas online Gemari Pratama

Wednesday, April 24, 2019

Decluttering Dapur Part 2


Setelah bebenah kulkas
Alhamdulillah, saya cukup puas dengan kondisi kulkas saya karena tidak terlalu penuh, baik sebelum dibersihkan maupun setelahnya. Jika mengacu pada teori penyimpanan makanan di kulkas, yang perlu dievaluasi hanya memasukkan tomat saja, haha.. Lalu, saya juga menghindari meletakkan rimpang dan daun bumbu di kulkas. Sementara ini masih di pantry, mau coba cuci bersih lanjut freezer.

Karena saya di rumah, food prep saya tidak terlalu heboh. Belanja sayur seminggu 2-3 kali, belanja daging seminggu sekali yang langsung dicuci lanjut Tupperware masuk freezer. Jadi habis belanja, sayur langsung masuk laci kulkas. Sejauh ini makanan jarang ada yg kebuang. Yang sering kebuang biasanya cabe/tomat/bumbu dapur yang sudah busuk di laci kulkas. Leftover food biasanya maksimal habis dalam dua hari, kecuali makanan yg tidak difavoritkan seisi rumah dan berupa pemberian.
Kalau masalah anggaran sudah sesuai, Alhamdulillah. Prinsip saya belanja sayur ga banyak-banyak karena cepet layu. Mending nggak ada lauk bisa beli, daripada ngebuang makanan. Rasanya guilty. Kalau daging sih prinsipnya sebaliknya: beli sebanyaknya, biar ga bolak balik ke pasar. Sekalian capek, sekalian kotor.
Atas: kiri gelas tamu, tengah bumbu instan, kanan tumbler
Bawah: kiri blender, tengah kursi anak, kanan isi perlengkapan makan jarang pakai
Setelah bebenah pantry
Kalau masalah pantry, Alhamdulillah libur panjang pemilu kemarin berhasil menuntaskan decluttering dapur. Rata-rata yang dieliminasi adalah bumbu instan yang sudah menggumpal atau kadaluwarsa. Banyak juga sambal sachet sisa take away, saya cuci dan saya simpan di wadah terpisah. Wadah penyimpanan stok makanan instan semacam mie dan bumbu saya perbesar dan perbarui (tetap dengan boks sisa makanan arisan yang masih bersih). So far, evaluasi hanya di sambal sachet saja. Sisanya sudah sesuai kebutuhan.

Tambahan, saya jatuh cinta dengan eco enzyme! Seriusss, kinclong banget hasilnya. Saya pernah pakai Mr.Muscle, tapi ada seperti residu yang membuat saya paranoid, nanti kalau masuk ke makanan toxic gak ya? So, I will always use this homemade cleaner. Saya buat di botol air mineral ukuran besar, baru saya pakai seperlimanya. 


Counter bawah kompor (atas kotor, bawah setelah dibersihkan dgn eco enzyme)
Kebiasaan baik yang akan dilakukan
Setelah bebenah dapur, kebiasaan yang harus saya lakukan dengan disiplin adalah:

Harian: membersihkan counter, kompor, dan tepi sink. Dulu, saya males banget. Akhirnya kotoran numpuk, sisa keperluan memasak jadi berantakan, dan bikin males ke dapur. Untuk sampah organik, saya buang ke rumah mertua 1-2 hari sekali karena di sana ada ayam. Lap kotor, saya cuci 1-2 hari sekali. Lap kering dicuci kalau sudah kotor.

Mingguan:
A. Memilah sampah anorganik. Setelah saya cek isi tong sampah kering, ternyata isinya adalah sachet jajanan anak, huhuhu… Si kecil yang picky eater dan underweight ini sering saya kasi biskuit, tapi banyak juga yang dari event ultah (lagi banyak nih) dan Sari Roti. Kenapa targetnya adalah dipilah mingguan, karena I still don’t know where to discard them! Ga ada yg mau nerima sampah sachet. Ecobrick saya berisi guntingan ujung sachet (saat dibuka), foil kemasan obat, segel AMDK. Kalau sachetnya..ga sangguppp…banyak banget…

B. Sortir isi kulkas. Biasanya titik terkotor adalah laci penyimpanan sayur, esp rontokan bayam or kangkung. Semoga istiqomah nyuci laci kulkas.  

Bulanan: Deep cleaning kulkas dan pantry. Kalau pantry, sumber kotorannya biasanya debu di tepi dan bawah rak piring, cipratan minyak di bawah kompor, dan juga area penyimpanan yang sudah mulai berantakan karena ada barang yg tidak pada tempatnya.

Baiklah, sekian cerita (tidak) singkat tentang dapur saya. Never thought cleaning a kitchen could be this detailed, categorized, and challenging. Dibutuhkan kedisiplinan agar dapur tetap cantik dan bersih seperti di Instagram, hahah…

P.S : Post ini merupakan tugas dari @gemarrapi

Saturday, April 20, 2019

Sexy Killers: A Post Election Note



Nyesek. Belum pernah rasanya saya menonton film dokumenter sampai mewek-mewek begini. Adalah Sexy Killers, sebuah film dokumenter tentang bisnis batubara di Indonesia yang membuat saya cukup berurai air mata.

Well, maybe I took it too personally
. Ngeliat ibu yang kehilangan anak karena tenggelam di bekas galian tambang, saya nangis. Membayangkan jika anak tersebut adalah anak saya. Ngeliat petani yang mau ke sawah nggak bisa karena sudah dipagari, dan mereka nggak dikasi ganti rugi, saya nangis lagi. Membayangkan teriakan mereka tidak akan bisa melawan kedzoliman. Ngeliat penderita kanker saluran nafas yang akhirnya meninggal akibat udara yang dihirupnya tercemar PLTU, saya nangis juga. Membayangkan ada ketidakadilan yang menjadi penyebab orang harus terikat dengan obat-obatan seumur hidup itu…saya mengerti sekali rasanya, because it happens in my family. Rasanya powerless. Ujian keikhlasan.

Tapi puncaknya, ketika semua sosok di belakang konglomerasi tambang batubara dimunculkan, dan semua berkaitan, itu rasanya seperti dihianati. Apalagi saya menyelesaikan menonton film ini setelah saya memberikan hak pilih saya dalam pilpres. I wish I didn’t choose one of them. Sekarang saya mengerti mengapa film ini dituduh mengajak orang untuk golput. Because after watching this, we knew that these guys are actors in environmental degradation.

Saya juga penikmat listrik yang dihasilkan oleh industri batubara, saya tidak mengelak. I don’t have any choice on how to protect the environment unless to use the electricity more responsibly. Tetapi mereka yang menjalankan dan menguasai bisnis ini tentu saja memiliki pilihan untuk bagaimana pay back ke lingkungan sesuai hati nurani dan undang-undang. Sayangnya, hati nurani tersebut nampaknya sudah tertutupi oleh sesuatu, you know what.

Lalu, setelah kumpulan rasa kecewa itu datang, I was pulled back into reality. Memang kenyataannya seperti ini, ya Indonesia itu seperti ini. Ketidakadilan itu ada dimana-mana. So do what you can, never stop praying although we’re lucky enough to have life like this. Berdoalah semoga hidup kita berkah, tidak ada tetes darah dan airmata orang lain di sana. Semoga para caleg yang terpilih bisa membawa perubahan, bukan malah terbawa pusaran. Kawan-kawan yang berhati bersih, jika kelak terpilih, semoga bisa kerja tanpa pamrih.

Satu pelajaran utama dari Sexy Killers: jangan mendewakan sosok, Bung! They’re humans. Bersiaplah kecewa jika kita menggantungkan harapan pada seseorang, karena hanya Alloh lah tempat bergantung.



Sunday, April 14, 2019

Mengajak Anak ke Museum Cokelat



Saya penggemar coklat, tapi baru kali ini saya ke museum coklat. Bukan, bukan di Swiss atau negara Eropa lain yang identik dengan oleh-oleh coklatnya, tapi di Jogja. Kaget? Saya juga. Besar di sini kok nggak tau kalau Jogja ternyata punya museum coklat, ya? Ternyata, Museum Coklat Monggo ini baru berdiri awal tahun 2017 meskipun coklatnya sendiri sudah diproduksi sejak tahun 2005.

Awalnya, saya mendaftarkan Aksa (5 tahun) untuk mengikuti playdate yang diadakan oleh Apple Kids Jogja, EO Playdate besutan teman semasa kuliah dulu. Agenda dalam playdate tersebut adalah mengunjungi Museum Coklat Monggo, photo session dengan atribut chef, dan yang paling ditunggu: praktek membuat coklat! Yeayy..!

Lokasinya sekitar setengah jam dari tengah kota, tetapi sampai disana saya langsung takjub karena bangunannya unik dengan mural yang Instagrammable. Musholla bernuansa jawa dengan bedug berada satu lokasi dengan toilet yang tidak kalah cantik. Setelah opening di selasar belakang museum, anak-anak diarahkan masuk museum. Alhamdulillah adem, hahah.. Soalnya saat kami ke sana, hawanya sedang terik luar biasa.



Tur di dalam museum dipandu oleh mbak guide yang menurut saya cocok untuk anak-anak: suaranya lantang, ramah, tanpa kehilangan intonasi bercerita. Saat memasuki museum, kami disuguhi foto-foto orang di balik layar Cokelat Monggo dalam pose belepotan coklat, termasuk Thierry sang pendiri. Etalase berisi berbagai macam cetakan cokelat dan biji cokelat pun menyambut kami di depan pintu masuk. Ada cokelat berbentuk ayam segala lho! Jadi inget coklat ayam jago waktu kecil dulu…

Masuk ke dalam, kita bisa membaca informasi tentang produksi kakao di Indonesia dan DIY dalam bentuk lukisan dinding yang cantik. Tahu kan, Indonesia penghasil kakao terbesar ketiga di dunia?
Di bagian selanjutnya, terdapat penjelasan sejarah coklat di dunia beserta diorama. Guide memandu anak-anak untuk menghitung bersama gambar 30 biji kakao yang harganya pada masa Aztec setara dengan seekor kelinci, karena itu coklat dianggap sebagai barang mewah. Ada juga alat pembuat minuman coklat pada jaman dulu serta etalase berisi berbagai macam jenis cokelat dari zaman dahulu.


Di bagian tengah, terdapat display dengan setting perkebunan coklat dilengkapi dengan biji kakao serta alat panennya. Buat anak-anak yang belum bisa membaca, hal ini seru karena bisa sambil memegang display. Selanjutnya adalah proses pembuatan coklat, dari masih berbentuk biji hingga menjadi coklat siap cetak.

Nah, informasi paling penting yang saya dapat dari kunjungan ini adalah tentang jenis coklat. Kenapa ada coklat yang mengandung vitamin dan mineral tapi ada juga coklat yang bisa bikin batuk? Ternyata kuncinya ada pada kandungan lemak tambahannya. Jajanan coklat yang murah biasanya sudah tidak mengandung padatan coklat lagi, namun hanya mentega coklat yang ditambah minyak nabati dari kelapa sawit dan gula. Termasuk di dalamnya biskuit dan kudapan dengan lapisan coklat. Sementara dark chocolate dengan kandungan kakao 58% lah yang masih mempertahankan mineral penting tersebut, meskipun sudah ditambah gula. Makanya, harganya lebih mahal hehe..


Selesai berkunjung ke museum, anak-anak diajak memakai apron dan topi chef ala chocolatier alias koki pembuat coklat. Setelah itu, acara pungkasan adalah membuat coklat di showroom coklat. Ada meja besar, spuit berisi coklat leleh, tray, dan topping kacang serta dried fruit. Meskipun hanya dipandu seorang chocolatier, anak-anak sukses membuat kepingan coklat dengan topping yang kemudian mereka bawa pulang setelah mengeras. Di showroom ini pula dijual berbagai macam coklat dari yang harganya belasan ribu hingga ratusan ribu. Tidak kalah cantik dengan coklat negeri empat musim, lho!


Oh ya, selain museum dan showroom, ada pula café di sisi kanan pintu masuk. Menunya andalannya adalah hot chocolate 58%. Smoking area terletak di sudut luar museum, terpisah dengan café bernuansa jawa. Plus point nya, café ini memiliki sudut dolanan anak, mulai dari egrang, angklung, bakiak, sampai gasing. Gak akan mati gaya deh kalau ajak anak ke sini.




Yang jelas, for me it’s a must visit one kalau liburan ke Jogja. Museumnya kecil dan tidak membosankan, cocok untuk anak-anak yang nggak betah serius berlama-lama.




Decluttering Dapur

Dapur sebelum decluttering

Prolog: Post ini adalah bagian dari tugas Gemari Pratama, sejenis online course tentang bebenah rumah. Kali ini, saya akan bercerita tentang proses membenahi dapur rumah saya. Selamat membaca.

Proses Decluttering

Meskipun saya menjadwalkan proses decluttering dapur pada awal April, kenyataannya saya baru bisa melakukannya pada awal minggu kedua. Dimulai dari decluttering hal yang paling mengganggu di dapur: tumpukan sampah anorganik yang uncategorized, rak piring dan bumbu, serta kardus penyimpanan yang tidak pernah saya buka.

Diawali dari sampah anorganik, saya pun mau tidak mau harus ke gudang dimana sampah anorganik saya berpusat. Saya pilah berdasarkan sub kategori:
1.                   Sachet, kemasan makanan

2.                   Kertas (termasuk koran, struk, dan sejenisnya)
3.                   Duplex (karton snack box, kardus susu, dan sejenisnya
4.                   Plastik bening yang sudah dicuci
5.                   Tas kresek
6.                   Mika
7.                   Botol/cup/mangkok/cutleries plastic
8.                   Styrofoam
9.                   Plastik bening kotor (untuk ke TPA)
10.               E-waste
11.               Uncategorized (pulpen, spidol)


Pengkategorian di atas tidak saya persiapkan sebelumnya karena ketika action, baru ternyata pemilahannya sebanyak kategori tersebut. Dari decluttering rak piring dan bumbu, saya banyak membuang mangkuk plastik dari hasil beli makanan semacam salad buah, sekaligus cup plastik dari jus atau kopi. Saya sisakan mangkuk dan tutupnya sekitar 6 buah dengan berbagai ukuran untuk keperluan food prep, leftover food, dan ketika bertukar makanan dengan mertua. Saya beri kode dengan marker agar tahu tutup setiap mangkuk. Plastic cutleries juga saya sisakan 3 sendok, 3 garpu, 1 pisau, dua cup obat. Sisanya saya masukkan gudang anorganik. Sementara kardus penyimpanan yang tidak pernah saya buka, malah memberikan harta karun berupa toples dan mangkuk. Kardus ini sisa pindahan 6 bulan lalu, dimana barang yang saya keluarkan di dapur adalah yang saya prediksi akan selalu diperlukan dan ternyata saya kekurangan mangkuk dan toples. Tapi dari kardus tersebut saya juga mengeliminasi beberapa wadah, dan sisanya tetap saya simpan karena suatu saat akan diperlukan (ice tray, satu panci bertangkai, jar, etc).

Nah, progressnya baru sampai situ. Minggu depan kemungkinan panggil go clean untuk deep clean dapur terutama bawah kompor dan rak, lemari penyimpanan bawah counter, beli pengharum (saran teman DDPB sih daun pandan, pasang tirai penutup bawah sink (karena bikin kelihatan kumuh), mencuci rak piring, membuat dua wadah lagi untuk menyimpan bumbu dan gelas.

Kulkas sudah saya benahi saat masih proses penyusunan jadwal karena sudah kotor. Yang saya lakukan adalah mencuci rak kaca dan laci kulkas bagian bawah. Yang belum adalah membersihkan freezer, mencuci pintu bagian bumbu (ada tumpahan bumbu yang lengket), dan declutter sambal dalam jar (karena harus dibuang isinya dan dicuci jarnya. Saya belum mood haha).

Oh ya, satu lagi. Nampaknya saya butuh kardus sesuai sub kategori sampah yang sering ada di dapur agar kasus sampah plastic all in one tidak terjadi lagi. Yang saya perlukan wadah dengan kategori: plastik habis cuci, kemasan makanan, kresek bersih, kresek kotor, semua dengan label. Karena anak saya kalau buang sampah sering tanya, “Bu, ini masuk ke tong yang mana?”. Untuk organic saya sediakan baskom yang rutin di drop ke rumah mertua untuk pakan ayam, untuk sampah yang tidak bisa diapa-apakan lagi diangkut tukang sampah ke TPA.

Tentang sub kategori:

Dari 5 kategori sesuai materi, hanya bahan makanan yang ada sub kategorinya. Yaitu bumbu masak harian, bumbu dapur alami, makanan kemasan (mie, spaghetti, sereal, jelly, bumbu kemasan). Semuanya ada di pantry. Sementara itu, di kulkas ada sayur (tidak saya food prep karena saya full time IRT dan masih sempat olah langsung), daging n frozen food (saya food prep dengan alasan hygiene dan kemudahan proses masak), leftover food (tuppy tertutup agar tidak bau).

Tentang pola makan keluarga:

Menu keseharian, saya memasak hampir tiap hari, belanja bahan makanan di tukang sayur 2-3 hari sekali, belanja ayam/ikan seminggu sekali. Beli makanan di luar biasanya kalau pagi weekend atau mau ada acara pagi sehingga tidak sempat masak, kemungkinan seminggu sekali. Jika sedang ingin makanan tertentu, saya biasa go food. Sekitar 1-2 kali per minggu.

Untuk barang2 di dapur sejauh ini sudah memenuhi kebutuhan, dan menurut saya tidak berlebihan. Apalagi jika dibanding mertua yg ratu dapur, maupun mama yg anti dapur tapi glassware unyu nya banyak.

Saya hanya memakai 2 panci, 2 wajan medium, 1 teflon kecil, 1 wajan mini untuk sambel/reheat Leftover, kukusan tupperware 1. Elektronik hanya blender dan magic com yang di dapur, sementara oven dan mixer di gudang krn setelah berusaha eating clean jadi jarang baking. Peralatan masak juga cuma dua buah per item. Sendok garpu ga sampe selusin piring dan mangkok juga cukup.

Barang yang tidak pernah digunakan? Piring gelas set kado nikah yang luxurious dengan banyak ornamen. Karena saya jarang ada tamu. Sekalinya ada maks. 3 orang dan nyemil aja. Sementara gelas batang saya sudah ada, dan cuma keluar 3 dari boks. Meja makan juga ukuran dua kursi, sementara anak masih kecil. Ngeluarin pecah belah sama juga cari mati haha.. Dan dining set tadi saya taruh gudang, NBU selama 7 tahun pernikahan kami. Saya ga buang or donasikan krn I'm sure one day I'll use it.

Yang tidak pernah disentuh lagi adalah piring lebar. Hanya 4 buah sih, ga saya pakai krn piring reguler masih bisa memenuhi kebutuhan. Mungkin 4 piring td bisa masuk kardus ya.. free up some space.

Jadi sebenernya dapur saya udah sesuai kebutuhan ya.. mungkin ga sparks joy karena pada dasarnya saya emang ga suka masak. Kemudian, rumah ini dapurnya udah tua dgn tegel kusam dan sink bernoda, jadi mindset saya tentang cleanliness jadi terusik. Terakhir, aroma. Sampah organik maksimal 2 hari di dapur sebelum dibawa ke rumah mertua, tp kalau isinya pas heboh, jadi aromanya kemana2.

Dan, thanks to grup DDPB, saya hari ini rencana pergi dua hari, sementara ada sisa gule kambing donksss, akhirnya nurutin saran temen2, masukin kulkas dulu sampahnya, baru buank. Yes, for the first time ever, saya masukin makanan yg udah nyentuh sink ke kulkas (tp di tuppy rapet kok)! Demi kemaslahatan aroma dapur potensi belatung unyu di daging tadi.

Untuk masalah dapur, yg overwhelming hanya sampah anorganik yang saya ceritakan di awal. Oh ya, satu lagi yang berasa overwhelming, macam Maudy Ayunda milih kampus, yaitu decluttering mangkuk plastik! Hahaha.. ini soalnya seriiing bgt dipake. Tapi di dapur udah kaya gunungan aja.. Akhirnya diliatin satu2, dicari yg matched ama tutupnya, dan setelah mempertimbangkan prinsip RASA (especially Rapi dan teraturnya) , saya putuskan menyimpan 2 large, 2 medium, 2 small. Sama ekstra yg masih di sink, 1 besar dan 2 kecil. Done.

Proses organizing
Barang sisa decluttering sementara sudah ada di gudang, masing-masing kategori ada wadahnya, dan akan saya salurkan saat gudang sudah selesai decluttering. Sejauh ini msh ada satu kardus besar dan satu kardus medium yg masih nyampur.

Saya juga dengan seorang teman sudah membuat grup jualan barang preloved, dan kemungkinan ada yg akan saya tawarkan di grup ini. Batas waktu, maksimal akhir april. Jadi Ramadhan udah clear. (dan siap ketambahan sampah kemasan makanan takjil, huhuhu.. sedih saya tuuuh, no Styrofoam please...)

Penataan barang dapur belum yaa.. nunggu go clean dulu sklian saya bikin ekstra kompartemen. Prinsipnya, ga beli storage baru walo pengenn... Tapi kalau tnyt demi alasan hygiene perlu, saya ga masalah kalau akhirnya beli.


Tuesday, March 26, 2019

Maudy Ayunda, Glenn Close, dan Mimpi Seorang Ibu


grid.id

Pagi tadi, salah satu teman di grup content writer tempat saya kerja post video MataNajwa yang menginterview Maudy Ayunda. Topik yang teman saya garis bawahi adalah gimana orang tua Maudy kasih trust ke anaknya untuk menentukan pilihannya sendiri sejak kecil. Karena pagi tadi lumayan senggang, nonton lah saya sampe habis.

Jadi, dia pilih Stanford donk.

Hahah, nggak nggak, bukan itu sih yang saya pengen ceritain di sini. Setelah berkutat di dunia permamakan ini, rasanya membahas kampus, mimpi, motivation letter itu udah old days banget ya. I used to think, I was there. But then I think, I still can be there. Masalah mimpi mah gak kenal umur, iya nggak? Maudy bilang, dia pengen banget bikin sekolah, kaya Najelaa Shihab dengan Cikal-nya. Yes, me too.

Dulu banget sih, pengen bikin sekolah. Apalagi pulang dari Kalimantan, ngeliat anak sana sekolahnya jauh dari kondisi Jogja. Trus, sempet ngajar juga, dan mentahbiskan diri sebagai seorang guru (walau tanpa gelar sarjana pendidikan) selama beberapa tahun hingga anak kedua lahir. And here I am stranded at home, which I still feel grateful for, karena saya juga jadi gurunya anak-anak saya khannn…pahalanya jelas, bebannya luar biasa.

Mungkin karena adaptasi menjadi ibu dan ibu rumah tangga serta keterpautan dengan anak yang susah dilepaskan, tawaran mengajar pun saya abaikan. Nunggu sampai dapet feel nya, nunggu sampai, “Ok, I got to go back to teach!”, pikir saya.  Jadi, mimpi saya untuk membuat sekolah masih sekadar mimpi, yang kata Maudy “mimpi nanggung”, hahah…iya ya, katanya pengen tapi nggak effort.

Bismillah, semoga momen sekarang sebagai ibu rumah tangga bisa untuk memperkaya diri dan ilmu untuk nanti come back ke dunia pendidikan. Ga bisa bohong, selama menjadi ibu, banyak kesempatan dimana saya berpikir, “Ooh, harusnya gini ya cara treat anak yang lagi tantrum/rebel/dll” yang dulu saya hanya learning by doing tapi missed di ilmunya karena belum dipertemukan dengan sumber/buku/guru yang tepat.  Jadi, instead of mengubur mimpi, saya masih punya mimpi itu. Waktu eksekusi menyusul, berikut time plan nya.

Tapi, ini kok malah ambil job content writer? Why not, selama tidak mengganggu peran utama saya sebagai ibu rumah tangga. Menulis juga memperkaya ilmu, untuk portfolio n networking juga. Sekarang kemampuan menulis itu penting, karena tulisan mudah tersebar luas dengan makin mudahnya akses informasi. Bukan nggak mungkin dari berbagi ide di dunia maya bisa bertemu kawan sevisi untuk mimpi besar tadi.

Sebenernya topik tentang wanita dan mimpi ini pernah disinggung oleh seorang teman baik, sebut saja Mustika, seorang ibu beranak satu yang kini baru mengawali studi Ph.D nya di negeri 4 musim. Dalam IG story nya, ia membahas tentang pidato Glenn Close di Golden Globes 2019 saat memenangkan best actress dalam film The Wife. Pidato tersebut menceritakan ibu Glenn Close yang selalu setia pada ayahnya, pada usia 80 tahun mengatakan, “I feel like I haven’t accomplished anything.”
……
(walau topik ini dibahas dengan Mustika via chat dan baca artikel, but for this post I watched the speech on YouTube, and I shed tears…)

Kemudian kami pun membahas tentang personal fulfillment, yang oleh Glenn Close disebutkan bahwa wanita harus memilikinya dan diperbolehkan untuk mencapainya. I said to her, sekarang wanita lebih mudah menemukan passion-nya, apa yang dia mau, dsb, namun ada juga yang menjadi ibu rumah tangga memang ultimate goalnya. Then she replied, jangan sampai ya ending-nya kaya ibunya Glenn Close tadi. Merasa nggak achieve anything.

Sejujurnya, mimpi besar saya adalah menjadi ibu dan istri yang baik sesuai keyakinan saya (dan mimpi nanggung saya adalah bikin sekolah, hehe)… But, it needs a process and that personal fulfillment definitely will fuel my ultimate goal.  

Mau menulis atau mengajar, I feel fulfilled. Sejauh ini, hal tersebut sudah cukup untuk menyalurkan passion saya untuk share knowledge, untuk merasa memberi dampak di luar rumah, thus I feel recharged at home. Written or verbal, for adults or for kids, tidak masalah buat saya selama karya saya berada di jalan yang benar dan anak-anak plus suami juga di jalan yang benar (alias kepegang). 
Balance, it is!!

So, have you found your personal fulfillment?



Thursday, February 28, 2019

Gemari Pratama, Kelas Online ala KonMari


https://medicalxpress.com/news/2019-01-konmari-method-clinical-hoarders.html

Gemari Pratama bukanlah gerakan pramuka, walau namanya sepintas sama, hehe... Gemari merupakan kependekan dari Gemar Rapi, sejenis gerakan bebenah yang terinspirasi oleh metode KonMari-nya Marie Kondo. Pratama adalah level pemula. Jadi, Gemari Pratama (GP) adalah kelas bebenah online via Whatsapp Group untuk level pemula yang baru-baru ini saya ikuti.

Bisa terdaftar sebagai peserta GP menurut saya adalah suatu kebetulan, walau sebenarnya sudah digariskan oleh Yang Diatas sebagai rejeki untuk saya. Setiap saya cek Instagram, jaraaaang banget ada post atau story @gemarrapi. Kebetulan sekali saat itu ada pengumuman kulwap tentang metode bebenah. Saya ikut lah, karena memang saya sudah pernah baca The Life Changing Magic of Tidying Up nya Marie Kondo plus ikutan seminar Gemar Rapi nya Aang Hudaya, founder Gemar Rapi (baca post nya di sini).

Nah, ternyata di akhir sesi kuliah Whatsapp tersebut, ada pengumuman tentang dibukanya kelas Gemari Pratama, dengan biaya Rp 180.000 dan terbatas untuk 150 peserta. Pendaftaran dibuka hari Minggu jam 10 pagi kalau tidak salah.

Dan saya lupa. Eaaaaa…

Alhamdulillah banget, jam 10.15 pas saya buka hp langsung terlihat grup Whatsapp Gemar Rapi sudah ramai membicarakan kelas online ini. Kecepatan tangan saya untuk langsung menuju link Shopee, membaca cepat mekanisme pendaftaran, dan melakukan transaksi membuktikan bahwa saya generasi milenial, hahaha… Enggak ding, saya pelanggan setia Shopee, jadi sudah familiar klik klik nya plus pakai m-banking. Fiuh,  thanks to technology.

Setelah bayar dan sukses, baru deh bilang suami, “Yah, aku tadi daftar kelas online Gemar Rapi bayarnya Rp 180.000. Boleh kan?”

Alhamdulillah boleh soalnya tanggal muda dan udah keburu bayar, haha..

Kenapa sih saya semangat banget buat ikutan? Kan, udah baca bukunya tuh, ikut seminar pula, plus kulwap lagi. Bukannya harusnya udah bisa praktek sendiri ya?

Teorinya sih begitu. Tapi emang bener kok, saya sudah buktikan hasil ikut seminar Pak Aang waktu itu: saya membuat beberapa boks dari kardus bekas yang saya lapisi kertas bertuliskan jenis mainan anak so they are easier to tidy up according to the type of toys. Kemudian, laci pakaian anak saya ada satu yang saya ubah metode menatanya seperti metode KonMari. Dan, bener-bener ngeliatnya seneng. Semua jenis baju keliatan donk, dalam sekali buka. Gampang milihnya, dan enggak akan ada pakaian yang “jarang dipake karena di tumpukan bawah”.

Lalu, yang paling penting, kata-kata beliau tentang benda sekecil apapun akan ada hisabnya membuat saya berpikir beeerkali-kali kalau mau beli barang.

That this “hisab” things made me still feel “I need to let go more things” (which I haven’t), I decided to join this class.

Sempat menjelang seminar Gemar Rapi waktu itu, saya dan seorang wali murid di sekolah si sulung ingin mengundang tim Gemar Rapi untuk sharing di sekolah. Sayang, kurangnya panitia membuat kami urung. Lagipula saat itu harga yang ditawarkan out of our budget.
Jadi, semoga Gemari Pratama ini membawa perubahan positif tidak hanya bagi pesertanya, tapi juga orang-orang di luar sana.

Ganbatte!




P.S: Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas Gemari Pratama.



Friday, February 8, 2019

Menikmati Big Bad Wolf Book Secara Langsung (Part 3: Jadi Jastip)



Awal April 2018, alhamdulillah cita-cita saya untuk mengunjungi Big Bad Wolf Books Jakarta kesampaian. Finally!

Setelah sebelumnya saya terpaksa menggunakan jasa titip alias jastip (baca post ini), kini saya leluasa memilih buku sesuai selera sekaligus menjajal peruntungan menjadi jastip. Karena sudah memiliki online bookshop bernama Ozbooks, proses mencari customer pun menjadi lebih mudah meskipun followersnya tidak terlalu banyak. Selain itu, promosi juga saya lakukan melalui status Whatsapp. Intinya, sebisanya lah.

Hari pertama dibuka (bukan preview sale tapi ya), I was super duper excited! Begitu masuk venue di ICE BSD, rasanya senang luarrr biasa. Sekaligus takjub. Betul pemirsah, bukunya buanyak banget dan itu nggak akan puas kalau cuma sekali datang. Saya bawa dua anak kesana, umur 1,5 tahun dan 5 tahun. Sendiri. Suami memang tidak ikut ke Jakarta, tapi adik saya ada kok buat bantu-bantu, walau dia punya batita juga. Hari pertama saya cus duluan karena udah nggak sabar, hehe.. Adik dan keluarga menyusul beberapa jam kemudian.



Niat awal adalah, saya belanja buku dengan budget sejuta. Buku pilihan saya sendiri yang kira-kira banyak peminatnya. Saya nggak live shopping karena nggak ada timnya, belum lagi sambil momong bocah. Yang saya bersyukur campur kaget adalah…ternyata buku-buku yang 30ribuan dan boardbook itu BANYAK. Berarti kemarin selera jastip saya aja yang nggak match sama saya. Saya memang fokus ke boardbook murah karena saya memang suka yang murah hehe.. Saya ambil yang 50ribuan beberapa, tapi yang 75ribuan enggak.

Sekitar tiga jam saya belanja, nurutin jam ASI yang kecil. Antri kasir nggak banyak karena kasirnya banyak banget. BBW kali ini menurut saya tertib dan rapi. Alhamdulillah nggak ada kasus buku terinjak terserak seperti yang rame di sosmed pada BBW sebelumnya. Sambil antri sambil upload di status Whatsapp, siapa tahu temen-temen ada yang mau.  


Sampai rumah (rumah adik hanya 5 menit dari lokasi atau sekitar 12ribu naik GoCar), saya langsung foto dan upload buku. Guess what, langsung sold out! Duit balik dong.. Hari berikutnya, saya belanja lagi sendiri dan pagi-pagi biar nggak antri, si kecil saya titipin Mama. Kali ini, saya terima titipan customer yang chat via DM dan WA, plus beli lagi sesuai prediksi saya.

Yang seru adalah, ketika kita harus mencari buku titipan atau mencari lagi buku yang kemarin kita pengen. Itu harus mengandalkan memori banget banget. So, hari berikutnya saya foto nomor meja dengan buku di bawahnya, jaga-jaga kalau ada yang nitip lagi. Hari-hari berikutnya? Udah hampir apal, hahah… Kadang udah apal pun masih ngubek satu demi satu, especially di section buku yang batal di beli (lokasi di ujung menjelang kasir), juga di bagian boardbook yang udah campur baur di tepi hall. Kalau teliti, buku-buku best seller yang sold out ada yang ngumpet disini lho!

Yang aneh, ada buku yang muncul di akun resmi BBW tapi tak Nampak batang hidungnya sekalipun di hall. Padahal, teman seorang customer ada yang dapet dari jastipnya. Nah, ini yang namanya permainan jastip gede dan BBW. Langsung borong. I don’t mind, karena ga semua buku, walo yang kadang bikin sebel karena buku itu limited and murah.

Nah, hingga saat kepulangan ke Jogja, kalau ga salah saya empat or lima kali belanja. Apakah semua sold? Enggak. Ada yang masih nangkring di box sampe sekarang.

Apakah balik modal? Ya enggaklah, hahah…Secara saya dari Jogja, ada tiket dan akomodasi yang harus dibayar. Kalau ngitung jastip yang per buku 5000 udah ga nutup lah ya, but I did it for pleasure. For the sake of my hobby and passion. Kalau jastip gede jelas untung, tapi ga tau juga sih. Rempong lho ngurusin customer segambreng di grup LINE or Whatsapp. Belum yang batal, yang cancel, yang bla bla bla.. Tapi mereka timnya ada kan, so they’re ready for that.

Yang paling ngrepotin selama jadi jastip apa? Paling customer yang pengen pake Shopee sih. Barang kalau di Shopee kan harus ada data yang diisi ya. Kebetulan di rumah adik ga ada timbangan kue. Jadi pakai asas kira-kira aja. Terus, kalau customer minta Shopee tapi pecah paket. Maksudnya, kalau total transaksi dia di atas dua kilo sementara subsidi Shopee hanya maksimal 20ribu. Biasanya, customer minta bukunya dibagi dalam beberapa paket yang bisa dia tebus. Jadi saya harus bisa mix and match sekian buku biar semuanya dapet subsidi ongkir dari Shopee. Repot sih, tapi kalo customer puas itu capeknya menguapppp, hahah…

Nganter barang ke ekspedisi tiap hari juga jadi PR. Kenapa, karena saya ga pengen customer nunggu sekian purnama hingga buku sampai ke tangan. Itulah kelebihan jastip kecil. Saya memposisikan diri seperti seorang customer. Packing yang penting tebel, biar boardbook gak cacat. Ga perlu cantik or diketik, yang penting cepet. Kalo nggak pas BBW sih wajib bubble wrap n bungkus rapi, walo nggak selalu diketik.

So, minat lagi ngejastip tahun 2019 ini? Pengen lahh, tapi sayang di Jakarta lagi. Kecuali suami ngajak liburan ke sana, mending saya titip adik aja deh. Sayang uangnya hehe…