Tuesday, May 9, 2017

Menikmati Big Bad Wolf Book Sale dari Jogja (Part 1: Memilih Jastip)


Apa reaksi seorang penggemar buku anak seperti saya ketika tahu Big Bad Wolf Books (BBW) datang lagi ke Jakarta? Pengen dateng!

Baca juga: BBW Datang ke Jogja!

Masalahnya, saya sudah di Jogja dengan status memiliki bayi yang belum genap tiga bulan. Sedih bukan kepalang. Saya sempat browsing harga tiket pesawat dan hotel, siapa tahu masih bisa datang. Lagi-lagi akal sehat saya mengingatkan resikonya membawa bayi kesana. Bukannya senang, bisa-bisa saya malah kerepotan dan tidak bisa menikmati.

Makin nyesel lagi kalau mengingat saat BBW pertama saya juga tidak kesana though it was only two hours driving, karena nggak klop dengan jadwal suami. Kesimpulannya, saya memang tidak berjodoh dengan BBW. Solusinya, pakai jastip alias jasa titip. (saya pernah membahas tentang jastip ini di sini)
Ternyata, memilih jastip itu tidak segampang yang dikira. Eh, memang saya aja yang ribet. Namanya juga emak emak, pilih jastip yang paling ekonomis hahaha…

Saya membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memilih jastip. Pertimbangannya antara lain:

1.          Biaya titip per buku
Rata-rata, setiap jastip mematok harga Rp 10.000 untuk setiap buku di bawah Rp 100.000. Ada yang lebih murah, ada yang lebih mahal.

2.          Ongkos kirim
Ini berkaitan dengan lokasi pengiriman jastip tersebut. Rata-rata memang di Jakarta atau Tangerang, tetapi ada juga yang di Jogja. Saya sempat ingin menggunakan yang sesama Jogja karena tidak perlu bayar ongkir, bisa diambil langsung ke rumah si jastip. Sayangnya, biaya jastipnya lebih mahal dibanding jastip lainnya. Kalau buku yang kita beli sedikit sih masih bisa untung. Tapi kalau banyak, misal 20 buku dengan jastip @RP 15.000 lumayan juga kan  Rp 300.000..  Sementara budget saya mungkin tidak akan mampu membeli buku lebih dari 3kg. Dengan JNE, ongkir Rp 19.000/kg berarti saya harus membayar tidak sampai Rp 60.000. Jika 1 kg setara dengan 6 buku misalnya, berarti jastipnya Rp 10.000x6 dikalikan 3kg sama dengan Rp 180.000. Tetap lebih murah yang dari Jakarta kan..

Contoh promo jastip di instagram

3.          Shopee
Buat yang sudah sering belanja online pasti tahu Shopee, sejenis portal belanja yang menawarkan free ongkir dengan transaksi minimal RP 120.000. syaratnya, kita juga harus punya akun Shopee. Dari beberapa jastip yang saya survey, ada satu yang menawarkan transaksi melalui Shopee di bio instagramnya.  Meskipun demikian, ada batas maksimalnya. Kalau tidak salah, ada juga yang sifatnya subsidi ongkir. Lumayan kan, bisa menghemat beberapa puluh ribu.

4.          Track record
Ini tidak kalah penting. Saya percaya, jastip yang sudah pengalaman biasanya sudah tahu medan. Bagaimana saya bisa menyimpulkan kualitas mereka? Kalau saya pribadi, lihat akun instagramnya. Ada yang memang spesialis jastip, itu pun masih bisa dikelompokkan lagi menjadi jastip khusus buku, jastip buku dan baju, bahkan jastip segala macam barang. Ada juga yang online bookstore biasa tetapi memutuskan untuk menjastipkan diri di BBW, dan ada juga perseorangan yang menerima jastip karena mereka memang mau.
Tips lain adalah melihat tampilan IG mereka. Saya melihat sampai ke foto terdahulu mereka, pilihan buku yang mereka jual, design dan kata-kata yang mereka pilih untuk mempromosikan diri, nomor kontak serta pencantuman rekening. Dari situ, saya cukup bisa melihat mana yang memang niat jadi jastip, yang sudah pengalaman di BBW, maupun yang anak kemarin sore.

5.          Aplikasi yang digunakan
Mayoritas jastip menggunakan LINE Karena katanya sih bisa memuat banyak foto dalam album-album terpisah, sehingga mudah diklasifikasikan. Ada juga yang melayani live shopping via instagram walau tidak banyak. Selain itu, grup LINE bersifat tertutup sehingga hanya mereka yang sudah di invite oleh admin lah yang bisa bergabung. Biasanya, syarat untuk bergabung dalam grup LINE tersebut adalah transfer deposit sebesar (rata-rata) Rp 100.000. Saya pun sudah ancang-ancang untuk mengunduh aplikasi LINE apabila sudah menjatuhkan pilihan pada sebuah jastip.  

6.          Presale Ticket
Satu hari sebelum BBW resmi dibuka, ada yang namanya acara Penjualan Perdana atau presale. Hanya yang memiliki tiket lah yang bisa masuk. Saya sendiri tidak tahu mekanisme mendapatkan tiketnya bagaimana, namun cukup banyak jastip yang memiliki tiket ini. Keuntungannya adalah, stok buku masih lengkap sehingga kemungkinan mendapatkan buku yang lebih bagus dan lebih murah lebih besar.


Baiklah, akhirnya saya sudah memantapkan hati memilih satu jastip setelah berpikir masak-masak. Serunya membeli buku di BBW akan saya tulis di postingan berikutnya.

Wednesday, May 3, 2017

Hotel Review: Kusuma Sahid Prince Solo

Kalau di post sebelumnya saya mereview sebuah hotel yang menurut saya “tua”, ternyata kali ini saya akan berbagi pengalaman menginap di sebuah hotel yang lebih tua lagi.

Awalnya, suami menawarkan saya untuk ikut liputan ke Solo dan menginap di Lor In. Saya setuju donk ya, karena saya tahu Lor In itu hotel bagus dan worth it kalau bela-belain ngajak baby Argi dengan segala resiko rewelnya di mobil. Sehari sebelum berangkat, suami dapat kabar kalau hotel full booked dan dapatnya Kusuma Sahid Prince. Langsung saya gooling hotel tersebut dan langsung agak syok karena tidak sesuai ekspektasi saya. Bahkan, hotel berbentuk semi keraton ini sempat direview tidak bagus tentang kebersihannya. Well, okay, saya tidak mungkin membatalkan ini karena sudah bilang iya ke suami. Bismillah, semoga hotel ini tidak seburuk yang saya kira.

Bagian hotel tempat kamar kami berada
Kami tiba sekitar pukul 11 malam dan clueless dimana lahan parkirnya, dimana resepsionisnya. Kebetulan di hotel ini ada pendopo besar dan halaman parkirnya disulap menjadi booth untuk pameran moge (motor gede). Ternyata, resepsionisnya berada di pendopo tersebut, hanya berupa sebuah meja kayu dan seorang resepsionis. Persis bersebelahan dengan meja panitia moge. Setelah check in, kami pun masuk ke kamar yang berada di gedung paling dekat gerbang (dan terlihat paling modern), sementara kamar lain berupa bungalow. Lahan parkir pun outdoor dan berada di depan bungalow. Dengan dibantu seorang bellboy bertroli, kami pun naik ke bangunan berlantai dua tersebut.

Saat masuk, terlihat sekali bekas-bekas kejayaan hotel ini. Lantai full berkarpet, termasuk tangga ke lantai dua. Beberapa frame dipasang berisi tanda tangan tokoh penting yang pernah menginap disana. Sampai di kamar, ternyata lantainya berkarpet juga….dan sudah sangat kusam. Begitu juga kondisi kamar mandi dengan noda di bathtub dan lubang kloset, serta saluran pembuangan air bathtub yang rusak sehingga harus ditarik secara manual.



Di penunjuk jalan tadi, terlihat lima bintang di bawah namanya, sementara di ulasan internet tergolong bintang empat. Kalau menurut saya sih…bisa saja bintang empat asal lebih dirawat fasilitasnya. Tempat tidur dan yang lain-lain standar sih. Saya suka lemarinya yang besar sehingga bisa memuat baju-baju tanpa harus digantung. Amenitiesnya juga cukup lengkap dengan adanya sisir dan cotton bud. Yang tidak saya temui disini adalah…krimer! Betul, kopi teh hanya ditemani gula dan diasweet. Itu pun berlaku di restoran tempat kami sarapan. Padahal saya pecinta kopi krimer…

Selalu pas sudah ada bayi ya kalau foto bednya..
Cukup luas untuk menyimpan semua barang bawaan

Suasana kamarnya cukup temaram. Sama seperti Inna Garuda, di meja nakasnya juga terdapat tombol lampu. Hanya saja, AC sudah memakai remote. Alhamdulillah, kami masih dapat tidur nyenyak walaupun mendapat kamar dengan twin bed yang artinya saya harus menjaga Argi agar tidak ngglundung (jatuh –red) dari bed, hehe… Dia pun mendadak jadi bayi manis yang doyan tidur disini. Alhamdulillah lagi, masih ada penunjuk arah kiblat sehingga kami bisa langsung solat (hotel masa kini sudah jarang yang memasang tanda kiblat, IMO).

Keesokan paginya, saya dan suami bergantian turun sarapan karena anak-anak masih bobok juga sementara kami sudah lapar. Saya sarapan berdua dengan Aksa yang baru saja melek mata. Suasana restoran Gambir Sekethi sudah ramai. Selain karena ukurannya tidak besar, ada dua rombongan yang menginap disana. Saat itu jam setengah delapan kalau tidak salah. Menu buffetnya standar, nasi putih, nasgor, sayur, ayam. Saya sempat mencoba nasi goring yang tampaknya menjadi favorit karena selalu ludes dan refillnya lama. Bahkan saat saya mau nambah sudah habis. Jus buah pun habis dan tidak direfill. Sisanya, saya mencoba bubur ayam, sup sayur, omelet, dan roti selai. Semuanya enak. Petugasnya yang beberapa masih seperti PKL cukup ramah, bahkan di mbak yang membuat omelet selalu menawarkan untuk mengantar pesanan ke meja. Sampai pada suatu titik tampaknya ia sudah tidak mampu mengingat siapa pesan apa duduk di mana, hahah…



Kesimpulannya, rasa tidak mengecewakan tetapi stoknya yang harus diperbanyak.

Sambil menunggu suami pulang liputan, saya terpaksa stay di kamar saja karena Argi masih bayi, riskan kalau diajak jalan-jalan keluar. So, di kamar saya sempat main petak umpet dengan si sulung, nonton TV, baca koran, menemani Aksa main hewan-hewan mininya, sampai bikin popmie. Dalam masa pingitan tersebut, saya baru sadar bahwa bed tempat Argi bobok kok sering kedatangan semut kecil ya.saya yakin, saya menemui lebih dari sepuluh selama saya menginap di sana. Jadi, saya rutin ngecek kondisi kasur.

Tapi yang paling menyebalkan, tas saya disemutin gara-gara ada sebungkus yupi. Di rumah saya saja tidak pernah kejadian seperti ini. Sampai-sampai saya jemur tas di dekat jendela yang ada terik mataharinya. Semakin banyak makanan di meja, makin banyak pula semut ini datang. Bahkan, ada semut yang besar dan mereka berjalan di sudut tembok. Di malam kedua kami disana, malah si semut besar ini berani “nyebrang jalan” dari tembok ke tempat sampah. Saya jadi parno sendiri, sering ngecek barang-barang, apalagi lampu temaram membuat everything looks fine.

Mobil kami pun sempat parkir di luar hotel sepulang suami liputan. Area parkir hotel sudah full oleh peserta yang ikut acara moge tadi. Ohya, satu lagi, the wi-fi didn’t work. Berkali-kali saya masukkan username dan password di tiga gadget berbeda, semua gagal. Ketika telepon ke room service, mereka hanya menyarankan untuk mencoba lagi. Wewwww. Saya sempat agak bete karena kebetulan hape saya yang ada LINEnya habis kuotanya, modem juga (di rumah kami terbiasa ber wifi) sementara hari itu live shopping Big Bad Wolf Books. Akhirnya keesokan paginya saya isi pulsa modem.

Dari sini, sudah bisa disimpulkan bagaimana kesan saya selama disini. Dengan room rate sekitar 400ribuan semalam, mungkin kita masih bisa menginap di tempat yang lebih bersih. Jangan berpatokan pada bintang berapa karena mungkin sudah tidak sesuai lagi. Sebaiknya memang membaca review dulu di internet. Namun, mengingat ini adalah gratisan, saya sudah sangat bersyukur bisa weekend-an di luar kota.

Kolam renang bagaimana kabarnya? Kata suami sih bersih walau ramai. Suami batal mencoba fitness karena sudah gatel pengen renang. Kalau lokasinya termasuk strategis, hanya belok sekali dari Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo. Aksa pun sempat naik becak dengan ayahnya sambil cari makan, and he looked happy. And that’s what matters to me J

Saturday, April 22, 2017

Inna Garuda: Hotel Tua Nan Ramah

Bertahun-tahun tinggal di Jogja, tentunya Hotel Garuda tidak asing bagi saya. Saat namanya masih Natour Garuda, hotel ini menyimpan banyak memori. Sewaktu SD saya selalu ikut lomba menghias perangko di halaman parkirnya, termasuk parkir di hotel ini kalau lahan parkir di Malioboro Mall penuh, sampai solat di musholla karyawan yang ternyata sangat luas saat saya menjadi interpreter seorang tamu hotel. Persamaan semua pengalaman itu adalah: saya tidak pernah menginap di sana.

Awal bulan lalu, suami mendapat voucher menginap di Inna Garuda (begitu namanya sekarang) dari kantornya. Saya tentu saja semangat donk, hehe.. Selain karena termasuk hotel berbintang, saya juga penasaran dengan kondisinya saat ini. Tahu sendiri, pemerintah kota ini hobi banget ngijinin hotel baru sampai gang senggol pun ada hotel berbintangnya (dan cari taman kota buat anak aja susah #curcol). Dengan gempuran hotel-hotel baru tersebut, apakah Hotel Garuda masih tetap “wah” seperti imagenya di waktu dulu?

Well, I guess so.

Saya sudah menyiapkan mental sebetulnya, untuk mendapati “ketuaan” hotel ini. Pernah saya mendengar dari seorang rekan jika ada beberapa sudut kamar yang sudah lusuh karena usia. I won’t expect much then walau sejelek-jeleknya hotel bintang 4 harusnya tetap bagus kan..

Sampai di sana, parkirnya memang outdoor. Di musim hujan begini, saya dan suami tidak mau mengambil resiko butuh barang dan harus berbasah-basah ke mobil. Mending gotong aja semua printilan bayi dan balita ke kamar. Efeknya, kami harus minta bantuan bellboy untuk mengangkut barang bawaan kami sampai troli sangkar burungnya penuh. Alhamdulillah..

Sambil menunggu suami check in di resepsionis, saya menunggu di lobi yang saat itu memang sepi banget walaupun hari itu adalah Minggu. Ternyata saya tahu dari bapak doorman kalau kemarin mereka kedatangan 11 bus rombongan Bank BRI. Ooh gitu, berarti bisa disimpulkan hotel ini masih banyak peminatnya. Saya bersyukur menginap saat sepi begini, karena saat sarapan bisa lebih leluasa begitu juga besar kemungkinan untuk bisa berenang tanpa rasa risih.

Saat kami naik lift menuju kamar, kami sempat berpapasan dengan seorang bellboy yang sudah bapak-bapak. I guess he’s around 45. Ini pertama kalinya menemui karyawan berusia senior di hotel berbintang (berarti hotel ini masih menghargai dedikasi karyawannya). Beliau ramah dengan membuka percakapan yang membuat saya merasa “saya benar-benar di Jogja”. Atau, bisa juga karena saya orang Jogja jadi ada sejenis language connection di situ. Ya, intinya, bapak ini ramahnya tulus menurut saya.



Sampai di kamar, yeayyy..! Bagus kok hotelnya. Karpet yang biasanya menjadi ciri khas hotel berbintang tahun 90an sudah berganti parket, walaupun meja di samping tempat tidur masih original, termasuk teleponnya. Saat ingin mematikan AC (bayi saya tidak kuat dingin), saya mencari remote dan…tidak ketemu. Ternyata kontrol AC ada di meja nakas, berupa tombol putar off-low-medium-high. Si sulung pun iseng memutar-mutarnya dan ternyata…tombolnya lepas. Untungnya masih bisa dipasang lagi dan masih berfungsi dengan baik.



Kamar mandi (I did hope that it was not shower only seperti hotel kekinian or my baby wouldn’t be able to take a bath) alhamdulillah ada bath tub nya, dan kondisinya bagus. Overall, masih ada kesan luxurious di kamar ini, sampai ke kamar mandinya. Amenitiesnya memang biasa saja: sabun, sampo, shower cap, sikat gigi, sewing kit. Tidak ada bath gel untuk berendam, sisir, dan laundry bag tetapi ada hair dryer. Tisu juga hanya tersedia di kamar mandi.

Sekarang, saatnya melihat ke jendela. Ternyata kamar kami menghadap ke kolam renang! Langsung pengen nyebur rasanya karena sama sekali tidak ada orang. Karena di luar masih terik, kami leyeh-leyeh dulu saja sambil melihat channel apa saja yang ada di TV. Saluran TVnya lengkap hanya kurang jernih saja gambarnya.


Sorenya, kami turun ke kolam renang di lantai tiga. Ada dua keluarga dengan anak-anak yang sudah sibuk bermain air. Suami menemani Aksa berenang hingga pukul 5 sore, sementara saya di kamar dengan Argi yang tidur nyenyak. Saat suami kembali, gantian saya menikmati me time berenang sendirian hingga adzan Maghrib. Pool areanya memang tidak besar tetapi bersih, dengan changing room dan spa kecil di salah satu sisi.

Oya, kebetulan saat menuju kolam renang saya sempat satu lift dengan seorang bapak bellboy yang lagi-lagi ramah juga. Ia bisa membuka pembicaraan tanpa saya merasa dikepoin, haha… So far, saya merasa mereka membuat atmosfer hotel ini menjadi hangat J

Sehabis solat, suami dan Aksa sempat jalan-jalan di Malioboro. Niatnya sih mencari makan malam, tetapi yang ada hanya lesehan. Akhirnya kami sepakat untuk pesan makanan via GoFood, setelah sorenya diganjel Pop Mie hehe.. Pilihan GoFoodnya pun banyak sekali karena dekat dengan Malioboro Mall. Itulah yang menurut saya menjadi kelebihan dari hotel ini: lokasinya yang berada di Jalan Malioboro. No wonder harga deluxe room yang kami tempati 700 ribuan untuk weekdays dan 900 ribuan untuk weekend.
Suasana restoran
Sambalnya lengkap!
Sop melati yang segar

Masih ada manisan salak lho!

Paginya, kami sarapan sekitar pukul 8 pagi. Restoran yang bernama Malioboro something ini terletak di sebelah lobby lantai dasar. Ukurannya lumayan besar dan terbuka, dan pilihan makanannya pun lengkap. Menu standar seperti roti, salad, sereal, omelet jelas ada, termasuk yang khas Jogja yaitu gudeg serta jamu. Kesan saya adalah, makanannya enak! Dibandingkan dengan Eastparc (yang terakhir saya kunjungi) yang variasinya hampir dua kali lipat Inna Garuda, rasa makanan disini lebih nendang. Favorit saya adalah: omelet, puding roti, dan sop melati. Sop melati berisi sayuran segar seperti wortel, bunga kol, brokoli yang kita pilih sendiri dengan kuah yang gurih. Pokoknya enak deh. Yang failed hanya satu: nasi putih. Entah mengapa nasi putih yang saya makan kok keras, seperti belum matang…

Selesai makan, kami sempat duduk-duduk di lounge sambil baca koran, membaca sejarah hotel garuda, transformasinya sejak jaman Belanda hingga sekarang (betul, hotel ini sejak dulunya memang hotel dan masih mempertahankan bangunan aslinya), juga melewati beberapa fasilitas seperti business center, salon, drugstore, dan berpapasan dengan beberapa PNS yang menghadiri seminar sebuah dinas di lantai dua. Sampai di kamar, suami saya sudah mengambil jatah tidur duluan, haha…memang kalau menjelang check out itu kok bawaannya ngantuk ya… Saya? Packing dan beberes lalu tidur sebentar saat suami sudah bangun, sehingga anak kami tidak terlantar.

Ada gamelan tapi stiknya "menghilang", mungkin biar nggak dimainkan tamu anak-anak

Foto transformasi Hotel Garuda
Saat kami akan check out, kami dibantu oleh bapak-bapak lagi haha… Aduh, ini kenapa isi tulisannya bapak-bapak mulu ya? Tapi memang itu yang paling berkesan sih. Saat sarapan di restoran (dengan pramusaji yang masih muda), saya tidak merasakan aura yang sama. Mungkin mereka bisa lebih banyak belajar dari seniornya, ataukah keluwesan itu muncul seiring dengan waktu? It’s okay, saya tetap merasa senang kok spending night here.


Monday, April 17, 2017

Ketika Si Bayi Ikut Perpanjangan SIM..


Sabtu kemarin menjadi pengalaman pertama bagi Argi, anak kedua saya, berada di udara terbuka dalam waktu yang cukup lama. Pasalnya, saya harus memperpanjang SIM yang expired kurang dari seminggu lagi. Sehari sebelumnya, saya ke Jogja City Mall untuk tujuan yang sama. Sayangnya, mereka hanya melayani pemohon dengan KTP Jogja, sementara KTP saya masih Bogor. Petugas pun mengarahkan untuk memperpanjang di layanan SIM Keliling karena bisa melayani semua KTP. Baiklah..

Akhirnya saya, suami, Aksa dan Argi sampai di bundaran UGM sekitar pukul 9.30. Si bayi dua bulan ini rada rewel kalau naik mobil, dan sampai di lokasi pun masih rewel. Jadilah suami yang mengambilkan formulir untuk saya dan kemudian kembali ke mobil untuk menjaga Argi. Saya dan Aksa menunggu di dekat mobil SIM Keliling sembari….mencari pinjaman pulpen! Saya benar-benar clueless ya harus isi form semacam itu. Mengacak-acak bagasi mobil yang ada juga Cuma pensil…alis. Hahah… Alhamdulillah dapat pinjaman dari seorang ibu walau wajahnya setengah ikhlas LOL

Setelah isi formulir, saya menunggu di kursi-kursi plastik yang disediakan di trotoar sampai akhirnya setengah jam kemudian suami dan baby menyusul.  Untungnya lokasi mobil SIM parkir lumayan teduh hingga menjelang pukul 11 jadi tidak terkena terik matahari. Tahap selanjutnya setelah mengisi formulir adalah menunggu panggilan dari petugas kesehatan yang berada di dalam pos polisi. Saya mendapat nomor 40 dan saat Argi mulai digendong keluar nomor antrian baru sampai 23. Bismillah, semoga tidak rewel.

Suasana di trotoar tempat menunggu antrian
Suami saya menggendong Argi yang tertidur tanpa gendongan sekitar 45 menit, padahal ia belum sarapan. Saya tawarkan untuk bergantian ia tidak mau, walau akhirnya mau juga saat ia sudah benar-benar lapar dan tangannya kebas, hehe.. Akhirnya saya gendong Argi sementara suami ke mobil untuk makan.

Sekitar jam 10.30 saya mendapat panggilan untuk tes kesehatan. Petugasnya seorang bapak yang bisa dibilang celelekan alias suka guyon. Saya Cuma ditanyai golongan darah dan berat badan, serta minus berapa. Lalu saya diminta melihat kartu angka untuk tes buta warna. Done.

Tahap selanjutnya adalah menunggu panggilan foto. Ini memakan waktu sekitar satu jam juga karena entah kenapa petugas sempat menghilang sekitar 15 menit.  Ke toilet kali ya.. Sementara itu saya mulai haus dan lapar (#busui) dan masih menggendong mengayun Argi agar tidak menangis, soalnya mau nyusuin kok tanggung…takut pas dipanggil. Anaknya juga masih tidak terlihat kehausan. Saya Cuma agak kuatir ia masuk angin karena anginnya lumayan semilir. Suami pun akhirnya membawanya masuk mobil dengan tujuan bisa dibaringkan di kasur plus ngadem. Sayangnya, Argi nangis terus di mobil akhirnya dibawa keluar lagi deh.

Menjelang giliran saya, sempat seorang bapak yang nomernya sebelum saya menggerutu karena seorang ibu menyelak antrian. Tampaknya ibu itu menggunakan jalur titipan. Hmmm, selama kita masih di Indonesia, harus ikhlas aja melihat yang seperti ini. Entah sampai presiden ke berapa cara main seperti ini akan terus berlangsung.

Akhirnya, nama saya pun dipanggil. Saya masuk mobil van tersebut bersama Aksa yang cukup excited masuk mobil polisi. Di mobil tersebut ada dua petugas tak berseragam. Yang satu mas-mas masih muda yang berada di jendela loket, sementara yang satu lagi adalah yang memproses foto dan kartu. Ada satu lagi berdiri di luar untuk melayani pengambilan sim dan pengambilan formulir. Sekitar 10 menit menunggu, saya pun mendapat giliran foto, tanda tangan dan sidik jari digital. Jadi ingat saat pertama membuat SIM, saya masih menggunakan sidik jari dengan tinta. Berarti, saya sudah tua juga ya hahah…

Oh ya, sebelum foto, petugas meminta biaya Rp 105.000. Di internet (dan juga di bodi mobil SIM) tertulis biaya Rp 75.000 jadi saya hanya membawa Rp 100.000. Saya tidak bertanya yang Rp 30.000 untuk apa. Mungkin tes kesehatan, karena di kantor polisi biasanya tes kesehatan dikenai biaya. Akhirnya saya minta uang suami.

Selesai membayar dan foto, saya keluar mengambil SIM di jendela loket mobil, kemudian ditawari laminating agar awet seharga RP 5000. Saat itulah suami saya yang menggendong Argi ikut menemani, dan petugas pun agak kaget sambil berkata, “Lho, njenengan kok nggak bilang kalau bawa bayi? Tahu begitu kan saya dahulukan…”

Jengjeng….!


Ya sudah, ndak papa, Pak…buat pengalaman. Itung-itung ngajak bayi saya lihat langit dan jalan raya..

So, tips bagi ibu yang harus membawa bayinya untuk menggunakan layanan SIM keliling:
1. Tanyakan pada petugas apakah bisa mendapat prioritas
2. Bawa pulpen dan copy KTP+copy SIM
3. Bawa minum dan camilan, siapa tahu dapat nomor antrian belakang
4. Datang pagi, agar tidak kepanasan mengingat ruang tunggu outdoor
5. Kalau tidak mengendarai mobil, bawa nursing cover, siapatahu bayi minta menyusu
6. Jangan bawa uang pas, karena ada biaya tambahan yang tidak tercantum

Semoga bermanfaat :)

Saturday, March 25, 2017

All Out Menjadi Ibu Baru (Andien-Inspired)


Pernah melihat akun Instagram Andien? Yes, saya salah seorang followernya. Saya tidak ingat sejak kapan, tetapi saya turut “menjadi saksi” pernikahannya yang bertema rustic dan bulan madunya ke Jepang, hingga akhirnya Andien mengandung. Karena usia kehamilan saya saat itu hanya berbeda 2-3 minggu dengan Andien, maka saya pun tidak pernah melewatkan postingannya di Instagram, khususnya tentang cerita kehamilannya.

Saat saya sedang di trimester pertama dan teler luar biasa, Andien masih bisa melakukan workout rutinnya yang menurutnya sama seperti saat ia belum hamil. Pikir saya, nekat juga ya, haha.. but it did no harm for her pregnancy. Mungkin karena ia sudah terbiasa melakukannya. Satu caption yang saya ingat dari postingannya waktu itu adalah: hamil jangan lebay (kurang lebih intinya seperti itu, saya lupa kalimat tepatnya). Mmm…itu jleb banget buat saya karena saya memang lebay, apalagi morning sicknya sampai evening. Saya hanya bisa menikmati ke-lebay-an itu karena kondisi kehamilan orang berbeda-beda, termasuk daya tahan psikisnya menghadapi perubahan itu. So, lucky her.

Namun, titik “wow” dari Andien datang ketika ia melahirkan. She needed less than 4 hours to give birth! Buat yang pernah melahirkan anak pertama pasti tahu donk rasanya berjam-jam menahan sakit hingga bayinya lahir… Bahkan, saya bisa menyimpulkan dari cerita teman dan saudara, they needed 10-14 hours. Dari sini saya berpikir bahwa Andien sukses melakukan gentle birth, untuk mengelola rasa sakit dan berkomunikasi dengan janinnya, juga staminanya yang prima untuk proses persalinan.

Keputusannya untuk menggunakan bidan (tanpa dokter kandungan-cmiiw) dan water birth di rumah pun buat saya termasuk berani. Suaminya juga berani. They must have learned about this really well. Apalagi, keluarga yang usianya lebih tua (seperti orangtua) biasanya sedikit resisten terhadap hal-hal baru, dan pasangan-pasangan muda biasanya akan menghadapi dilema antara pengen A tetapi tidak enak karena ortu maunya B, dan sebagainya. Saya tidak tahu apakah Andien-Ippe mengalami hal tersebut.


Oya, ada dua foto yang cukup membuat saya amazed, yaitu foto baby Kawa dengan tali pusar yang masih terhubung dengan plasenta dan….. Andien yang masih cantik walaupun sedang melahirkan! Hahah.. Saya ingat sekali kata bidan menjelang proses melahirkan anak pertama saya. Kurang lebih dialognya seperti ini:

Saya: “Udah bukaan berapa ini, Sus?” (saya kok manggil bidan suster ya?)
Bidan: “Masih lama ini, Bu, wong masih cantik. Pokoknya kalau bentuknya ibu udah nggak karuan, berarti bayinya sudah mau keluar”
(malamnya saya didorong menggunakan kursi roda ke ruang bersalin dalam keadaan rambut acak-acakan, karet rambut setengah menggantung, baju penuh keringat, jilbab entah dimana)

Back to Andien. Setelah Kawa lahir, akun IGnya benar-benar menggambarkan kebahagiaannya menjadi seorang ibu. Bisa jadi perasaan saya saja, atau memang demikian adanya, bahwa tidak banyak pasangan muda  atau artis yang membawa pesan bahwa melahirkan, menjadi ibu itu sesuatu yang 100 persen membahagiakan. She brings another point of view, bahwa kehamilan dan melahirkan adalah proses yang full of blessings, yang membahagiakan dan harus dinikmati.

Dari pemberitaan di media, saya bisa melihat bahwa ia dan suaminya well educated untuk masalah seluk beluk kehamilan, proses melahirkan, dan pasca melahirkan seperti pentingnya bonding dengan ayah. Di sebuah tabloid juga disebutkan bahwa Andien meminta bidan untuk menginap di rumahnya dan mengajarinya cara memijat bayi, karena ternyata manfaat pijit bayi sangatlah besar. All out sekali ya.

Dari Andien saya belajar bahwa memiliki anak itu hal yang indah, no matter how difficult it is, kita harus tetap bersyukur. Pastilah ada rasa lelah dan segala macamnya, tapi pikiran positif akan membuatnya lebih mudah dijalani. Dan, be a smart parent. Memiliki anak memang hal yang (dalam budaya kita) menjadi salah satu fase hidup yang pasti dijalani, hingga membuat kebanyakan orang menjalaninya secara apa adanya. Padahal, pengetahuan kita tentang kesehatan ibu dan bayi, tumbuh kembang anak, teknik perawatan bayi, misalnya, akan membuat anak tumbuh dengan lebih baik, insya Alloh.


Yang lebih tua memang lebih berpengalaman, tapi yang muda punya lebih banyak energi untuk belajar. Bukan begitu?

Saturday, March 11, 2017

Review: dr.Ariesta, Sp.OG


Saat tahu saya mengandung lagi, pikiran pertama saya adalah, nanti melahirkan dimana ya? Sama dokter siapa? Yang terpikir adalah mencari dokter kandungan yang tidak sesibuk dr.Yasmini, karena beliau gagal mendampingi kelahiran anak pertama saya. Tanya kanan kiri, saya mendapat beberapa options, seperti dr.Upik di Sadewa karena komunikatif, dr.Enny di JIH yang penjelasannya detil, sampai dr.Dyah Rumekti di Adinda dan Sardjito.

Karena bayangan saya adalah melahirkan di RS Sadewa atau setara, maka yang di JIH saya coret. Adinda terletak di Jogja Barat sementara saya di utara, akhirnya saya coret juga. Berarti tinggal dr.Upik donk, sementara beliau pernah salah mendiagnosis saya. Dalam kebingungan, saya sempat hampir kembali ke dr.Yasmini hingga seorang teman habis bersalin dengan dr.Ariesta di Sadewa. Saya pernah sekali kontrol pasca kuret dengan beliau tetapi tidak di periksa dalam (though I thought she should’ve done that) jadi kurang puas.

Kebetulan sekali, praktek dr.Upik dan dr.Yasmini kok malam, sementara suami kerjanya dari siang sampai malam. Lihat-lihat kolom jadwal dokter, bertemulah dengan dr. Ariesta dan dr.Ayu. Dokter yang terakhir disebut ini setahu saya awalnya berada di Sakina Idaman, kebetulan teman saya melahirkan anak pertamanya dengan beliau. Kesannya, “Aku lahiran anak kedua mau sama bidan aja deh, habis pas sama dr.Ayu gak sabaran”, katanya. So, coret juga ya…

Well, dengan dr.Ariesta ada satu kriteria utama yang saat itu membuat saya mau mencoba periksa: beliau ada dari Senin sampai Jumat di Sadewa. Dengan pregnancy goal saat itu yang berupa “melahirkan didampingi dokter kandungan”, maka jadwal praktek lima hari dalam seminggu memperbesar kemungkinan beliau ada di RS saat saya melahirkan, insya Alloh. Lucky me, jadwal praktek beliau jam 9 pagi sehingga suami masih bisa diminta antar kontrol.

Sejak pertama kontrol, tidak ada keluhan berarti dengan dr.Ariesta. Orangnya friendly, bisa menjawab pertanyaan yang saya ajukan, terlihat nyantai dan humoris. Beliau juga tegas, apalagi suaranya lumayan lantang. Sewaktu saya mengalami kesulitan dengan prosedur rujukan BPJS, beliau blak-blakan mengungkapkan “anehnya” dokter di faskes saya yang memintanya menulis notes terlebih dahulu. Untunglah bu dokter baik, jadinya tetap dibuatkan notes biar dokter umum di faskes saya tidak kebingungan.

Sewaktu janin saya terlilit tali pusar, dr.Ariesta lebih banyak menenangkan dengan meyakinkan saya that I didn’t  have to worry too much. Persalinan normal tetap dapat dilakukan, and I didn’t have to think about SC. Sampai-sampai tiap kali saya kontrol dan menanyakan soal lilitan tersebut, beliau bilang, “Saya kadang suka bingung, kasitau gak ya (kalau ada lilitan) soalnya jadi pada parno sih..”
Saat saya sudah di UGD karena sudah flek, beliau sempat menengok dan bertanya pada dokter jaga tentang kondisi saya dan menanyai saya tentang surat rujukan faskes. Saya cukup lega that she’s around and every progress I made beliau selalu dapat ditelpon oleh dokter jaga.

Keesokan harinya, dr.Ariesta sudah standby di ruang bersalin saat saya baru bukaan 7. Fiuhh… saya merasa tenang, karena janin saya kan terlilit tali pusar, jadi kalau ada apa-apa bisa langsung tindakan (walau akhirnya saya bersalin secara normal dan bayinya gak kelilit deh..). Pertanyaannya, apakah beliau galak? Enggak sih menurut saya, malah lebih galak bidan yang satunya deh…atau mungkin dokter lebih fokus ke tindakan ya, sementara bidan lebih memastikan kondisi pasien kondusif bagi dokter untuk mengeluarkan bayi.

Sewaktu saya mengejan setengah power, dr.Ariesta hanya berkata seperti ini, “Mbak, nanti kalau tiga kali ngeden nggak keluar, saya terpaksa harus operasi ya..” Well, nggak usah pake diomelin saya langsung ngedennya all out donk yaa..hahah…  Akhirnya sang baby pun lahir dengan selamat dan tidak lupa saya mengucapkan terima kasih pada beliau dan para bidan J

Saat kontrol jahitan pun beliau pun cek dalam dengan sangat pelan, karena saya bilang kalau saya paling takut hal tersebut and it always makes me scream a bit. Beberapa dokter pernah bereaksi seperti “plis deh” ditambah ekspresi rada “rolling eyes”, but she didn’t, neither did dr.Yasmini. Saya sangat menghargai dokter yang memahami pasiennya..

Kesimpulannya? Recommended.




Friday, March 3, 2017

Belanja Buku Anak dengan Jastip








Sebagai pecinta buku anak, saya selalu mupeng kalau melihat buku anak bagus dan murah, apalagi impor. Karena itu, sebagian akun instagram yang saya follow adalah online bookshop yang menjual buku anak. To be honest, saya hampir tidak pernah membeli buku di akun akun tersebut. Saya tipe orang yang cukup senang hanya dengan cuci mata, dan membeli ketika ada best deal atau kalau memang benar-benar kepengen. Selain itu, memfollow IG toko buku online menjaga mimpi saya untuk kembali berjualan buku anak impor agar tetap ada dan bisa kembali terwujud, hehe

Suatu hari, salah satu olshop tersebut mengadakan sejenis live shopping. Mereka akan belanja buku dan mengupload buku-buku yang kira-kira menarik. Siapa yang mengetik kata “fix” pertama kali di kolom komentar berhak membeli buku tersebut. Tentu saja, ada tambahan jastip alias jasa titip. Misalnya, satu buku harganya Rp 20.000 ditambah jastip Rp 5000, maka total harga buku adalah Rp 25.000 belum termasuk ongkos kirim.

Iseng-iseng saya mengikuti live shopping tersebut. Oh my, ternyata bukunya tergolong murah dan bagus. Oh ya, buku yang saya maksud di sini adalah buku anak impor kondisi bekas ya. Sebagai sesama penjual buku sejenis, saya tahu harga dan menurut saya this is a good deal. Saya berhasil mendapatkan buku karangan Rod Campbell, yang terkenal dengan Dear Zoo nya, dan juga seri Elmer si gajah kotak-kotak karangan David McKee dengan harga tidak sampai @Rp 50.000 termasuk jastip.
Syukurlah, sebagai orang yang cukup perhitungan masalah anggaran, saya bisa belanja buku bagus murah namun tetap tidak gelap mata. Meskipun artinya, saya kehilangan beberapa kesempatan emas mendapatkan buku bagus karena kelamaan mikir, beli gak ya? Kemahalan gak ya? Udah berapa ya habisnya? Sampai akhirnya buku tersebut di “fix” orang lain.

Awalnya saya kira olshop tersebut belanja di Singapura atau Australia. Setelah paket buku sampai, dan ternyata ada label harganya, tempat belanja tersebut ada di Jakarta dan saya pernah membeli beberapa buku saat toko tersebut mengikuti Jakarta Book Fair. Waktu saya masih sering weekend-an ke Jakarta, kenapa saya tidak pernah tahu ya kalau toko buku ini rutin mengadakan pameran di mall-mall? Benar-benar belum berjodoh. But it’s fine, dengan membeli lewat olshop berjastip ini saja saya bisa dapat sesuai kebutuhan pribadi. Kalau untuk dijual lagi, hmmm…susah kali ya kecuali mau jual rugi.

Oh ya, mengenai harga buku yang tertera di instagram, ternyata sama persis dengan yang tertempel di label harga buku tersebut. So, saya lebih tenang enggak dimahalin sama penjualnya karena dia jujur bahwa keuntungannya ya lewat jastip itu tadi. Sebenarnya enak ya jualan dengan system seperti ini? Kita nggak perlu repot menghitung biaya kotor ditambah ini itu untuk menentukan harga jual. Tapi ya itu, harus benar-benar dekat dengan lokasi pembelian agar tidak tekor di transport.

Selain itu, saat nama akun saya muncul di kolom komentar live shopping tadi, saya pun banyak mendapat follow request dari akun penjual buku anak. Saya jadi tahu banyak akun online bookshop dan bisa membandingkan harga jual mereka, menemukan yang bagus dan murah, maupun yang namanya akunnya “murah” tapi malah mahal-mahal banget bukunya. Ada juga yang langsung mengirim message ke saya dan menawarkan bundling buku. Karena saya hitung per buku jatuhnya less than 20rb, saya beli walau dompet terkuras, haha… Alhamdulillah tidak mengecewakan walau saya tidak follow akun orang tersebut, tidak kenal siapa dia, dan hanya berdasar feeling dan kepercayaan saja.


Buat yang tertarik ikut live shopping buku anak, silakan hunting akunnya sendiri ya…hehe.. Soalnya tulisan ini hanya sharing pengalaman saja dan bukan promosi.  

Monday, February 6, 2017

Senam Hamil di Jogja (Part 2: RSKIA Sadewa)

          


2. RSKIA Sadewa

Saya hanya sekali senam di sini, itupun pada kehamilan yang kedua. Kenapa? Karena review di blog orang, hehe.. Tidak hanya itu, salah seorang teman juga merekomendasikan senam di sini karena sharing sessionnya yang katanya sangat penting. Baiklah, mari kita buktikan.

Saya datang pada hari Minggu sore, karena jadwalnya memang hanya Rabu jam 15.00 dan Minggu (jam 8.00 dan 15.00). Karena hujan dan macet, saya baru tiba di lokasi jam setengah 4 dan Alhamdulillah baru antrian nomer 5. Weits, ada antreannya ya. Cara mendaftarnya langsung ke kasir, cukup membayar Rp 15.000 sudah termasuk snack box berisi 2 kue dan aqua gelas.

Masuk ke dalam ruangan, ternyata instrukturnya sedang memeriksa detak jantung janin salah seorang peserta dengan alat portable. Ooh, ternyata nomor antriannya untuk cek janin. Kalau di Happyland tadi instrukturnya adalah seorang fisioterapis, kalau yang ini bidan. Sambil memeriksa, biasanya bidan akan memberi keterangan singkat tentang kondisi janin, termasuk menekan area perut untuk mengecek apakah janin sudah masuk panggul atau belum, dsb. Peserta lain duduk melingkari yang sedang diperiksa, siapatahu ada info penting, hehe..

Walaupun dari info yang saya dapat pesertanya bisa mencapai 30 orang dalam satu pertemuan, waktu itu saya hanya ditemani  7 bumil lain, yeayy… Ruangannya hamper dua kali lipatnya Happyland, dengan kamar mandi dalam namun AC tidak dinyalakan. The windows were opened, instead. Matrasnya banyak tetapi kondisinya sudah banyak yang mengelupas. Temboknya meriah dengan dekorasi seperti kamar bayi dari Pigeon.

Karena hanya ada satu instruktur dan proses cek janin ini memakan waktu minimal 5 menit per orang, maka senam baru dimulai setelah semua peserta selesai diperiksa. Oya, jangan lupa mengisi kartu keterangan bagi peserta baru, yang berisi data seputar mens terakhir, usia kandungan, dll.
 Senam disini dibuka secara formal dengan perkenalan dan prolog mengenai fungsi senam hamil. Instruktur saya hari itu adalah Bidan Fika yang khusus mengajar di hari Minggu, sementara hari Rabu ada Bidan Riris. Sejak dimulai, kami sudah diminta mengambil matras dan duduk di atasnya karena ternyata 100% senamnya dalam posisi di matras.

Perbedaan senam di Sadewa dengan Happyland adalah:
1.  Ada penjelasan fungsi tiap posisi senam. Kalau di Happyland kan langsung running aja, jadi satu jam full gerak, sementara di Sadewa ada jeda penjelasan sebelum mulai gerakan.
2. Fokus pada latihan pernapasan. Di Sadewa terasa sekali kalau tarik-buang nafas harus dalam posisi yang benar dan hitungannya juga tegas. Banyak gerakan yang sama sebetulnya dengan senam yang di Happyland, tapi di Sadewa setiap gerakan tidak hanya dihitung melainkan juga harus benar teknik pernapasannya.
3. Instruktur akan berkeliling menyambangi peserta untuk melihat benar tidaknya gerakan. Jangan malu ya, kalau nama kita disebut karena gerakannya kurang maksimal. Kalau bagus juga dipuji kok. Di Happyland, instruktur selalu berada di depan menghadap kaca dan hanya mendatangi peserta saat latihan mengejan.
4. Diawali dengan mempraktekkan hypnobirthing, yaitu meminta izin pada dedek bayi di dalam perut untuk melaksanakan senam. Sempet malu juga, soalnya hanya debay saya yang tidak member respons (berupa gerakan) setelah dimintai izin. Akhirnya BIdan Fika pun meminta semua peserta untuk menunggu debay saya member respons baru memulai sesi senam. Alamak….Kalau di Happyland, teknik hipnosisnya lebih pada saat sesi relaksasi di bagian akhir, tetapi dari instruktur ke peserta, bukan dari peserta ke janin.
4. Senamnya seperti…bootcamp! Hahah… Maksudnya kita benar-benar dilipet-lipet badannya sampai otot-otot kemeng-kemeng (sejenis lelah yang sangat -red). Jangan sepelekan yang “hanya” di matras..ini layaknya toning exercise, hitungannya lama tapi stretchingnya to the max. Durasinya mungkin hanya 40 menit dari total dua jam sesi, tetapi badan remek semua, apalagi kalau yang frekuensi olahraganya rada minus. 
5. Latihan mengejan dalam tiga posisi berbeda, kalau di Happyland hanya satu posisi. Latihan mengejan di Sadewa seperti gladi resik melahirkan, seriously. Baru pertama kali saya latihan mengejan sampai perut saya bentuknya lancippp… Habis latihan pun ada rasa berbeda yang di sekitar vagina, this made me a bit worry to come back there karena besok adalah H-1 HPL saya, takutnya langsung kontraksi.. Kalau di Happyland tergantung instrukturnya sih. Mbak yang hari Jumat itu membatasi power mengejannya dengan kata-kata “cukup segini aja bu (kekuatannya) ” tapi nafas tetap harus sempurna. Mbak hari Sabtu rada menekan area rahim untuk mengetahui benar tidaknya posisi mengejan.  
6. Sharing sessionnya lumayan panjang dan dihandle langsung oleh bidan yang menjadi instruktur. Kemarin saat saya datang, beberapa topiknya seputar menghitung waktu kontraksi, masa subur setelah lepas KB, serta tips menghadapi setiap fase bukaan.

Wow, panjang juga ya postingannya (digabung dengan yang part 1). Intinya sih, tergantung selera. Saya tipe orang yang bosan kalau ngulang-ngulang gerakan, so secara dinamika saya lebih suka di Happyland, apalagi jika usia kehamilan masih muda dan kita masih lincah. Sadewa saya rekomendasikan untuk yang bener-bener pengen latihan menghadapi persalinan, bukan sekadar cari fit. Untuk harga sih, keduanya sama-sama terjangkau, tapi melihat fasilitas yang didapatkan memang lebih all-in Sadewa.


Semoga informasinya bermanfaat ya, dear bumils out there.. Sempat tidak sempat, sempatkan ikut kelas senam hamil walau hanya satu sesi saja. Setidaknya agar kita bisa tahu gerakan-gerakan esensial untuk persalinan, tips-tips dari instruktur, serta bisa bertukar informasi dengan sesama ibu hamil. Selamat mencoba!

Sunday, February 5, 2017

Senam Hamil di Jogja (Part 1: RS Happyland)


Selama hamil, saya selalu memastikan bahwa saya cukup aktif bergerak. Saat masih bekerja, saya tidak terlalu kuatir karena sudah pasti saya banyak bergerak, atau setidaknya banyak berjalan. Setelah resign, saya harus bisa disiplin “menggerakkan” diri kalau mau tetap fit selama hamil. Sebelum trimester ketiga, biasanya saya senam lewat Youtube. Selain pilihannya banyak, saya juga bisa menyesuaikan dengan usia kehamilan. Untuk trimester ketiga, saya mulai datang ke rumah sakit untuk senam hamil. Agar tidak bosan, saya baru ikut kelas senam hamil pada bulan ke delapan dengan frekuensi seminggu sekali.

Sampai hari ini, saya hanya pernah mengikuti senam hamil di dua tempat, yaitu RS Happyland dan RSKIA Sadewa, keduanya di Jogja. So, I’ll only review both in this post. Adik saya merekomendasikan prenatal yoga di Hotel Puri Artha, tetapi menurut saya terlalu mahal hehe…sekitar Rp 75.000 per kedatangan. Kalau di JIH, senam hamilnya Rp 56.000 per kedatangan, tetapi saya hanya tahu dari brosur saja.

1. RS Happyland

Salah satu pertimbangan saya memilih untuk senam hamil di Happyland adalah lokasinya yang dekat dengan rumah. Selain itu, harganya cukup terjangkau (Rp 30.000 sudah termasuk jus buah) dan jadwalnya pun banyak. Setiap minggunya, senam diadakan empat  kali yaitu Selasa, Jumat, Sabtu setiap jam 4 sore sampai setengah 6 dan Rabu jam 9 pagi.

Ruangan senamnya tidak begitu luas namun dilengkapi AC yang cukup dingin dan matras yang masih mulus. Peserta senam berkisar antara 2-7 orang, dengan satu instruktur. Saya tidak hapal nama instrukturnya, tetapi saya suka mbak yang hari Jumat karena ramah dan senamnya semangat serta suaranya lantang, hehe..

Menurut saya, gerakan senamnya cukup variatif dengan alunan musik klasik, 50% berdiri dan 50% di matras. Yang menjadi fokus senam hamil biasanya ada tiga, olah napas, penguatan otot paha dan sekitarnya (termasuk otot vagina), serta gerakan di sekitar payudara untuk melancarkan ASI. Khusus untuk mereka yang usia kehamilannya 36 minggu keatas, akan dilatih untuk mengejan dengan benar. Instruktur akan mendampingi secara privat, biasanya masing-masing peserta sekitar 5 menit.

Senam ditutup dengan fase relaksasi dimana peserta diajak untuk berbaring miring dengan mata terpejam sambil mendengarkan musik klasik dan instruktur memberikan sedikit “narasi” agar anggota tubuh kita rileks, begitu juga pikiran kita. Kadang saya bisa tertidur beneran kalau lagi capek banget.

Oya, setelah senam selesai, ada konselor laktasi yang sudah senior yang memandu sharing session. Tidak setiap senam Bu Margo ini ada, jadi ya kalau anda beruntung bisa mendapatkan tips-tips mempersiapkan payudara agar proses menyusui lancar sekaligus bisa tanya macam-macam seputar keluhan kehamilan. Banyak hal-hal baru seputar persiapan menyusui yang saya dapat di sesi ini, meskipun saya sudah pernah menyusui.


Secara keseluruhan, saya merekomendasikan senam di sini. Kebetulan saya tidak terlalu suka suasana ramai apalagi pakai antri, jadi jumlah peserta yang terbatas membuat suasana senam lebih lega dan nyaman. Pendaftarannya pun tidak rumit, langsung datang ke resepsionis, bayar di kasir, dan cus ke ruang senam di lantai dua. Senam dimulai jam 4 teng ya, meskipun baru satu orang yang datang. Maksimal telat 5 menit menurut pengalaman saya.

To be continued..

Friday, December 30, 2016

Memilih Dokter Kandungan (Part 2: Jogja)


Tulisan ini adalah lanjutan dari Memilih Dokter Kandungan (Part 1: Cibubur)

Pada bulan ke-8, saya mudik ke Jogja karena berencana melahirkan di sana. Setelah sebelumnya bertanya pada teman-teman sekaligus survey biaya bersalin di Sakina Idaman, RSKIA Sadewa, dan Happyland, plus brosur JIH, saya memutuskan untuk memilih dr.Yasmini Fitriyati, SpOG di RSKIA Sadewa. Option awalnya adalah dr.Ova Emilia, SpOG di Happyland. Kebetulan sebelum menikah dan saat program anak pertama saya sempat periksa ke beliau. Orangnya lumayan irit bicara tetapi nothing’s wrong with that selama saya merasa informasi yang disampaikan mampu menjawab pertanyaan saya. Sayangnya biaya bersalin di Happyland di atas budget saya, so I had to remove her from the list.

Seperti dr.Ova, dr. Yasmini termasuk tidak banyak bicara tetapi entah mengapa saya merasa cocok. Orangnya terlihat sabar, penampilannya sederhana (malah cenderung cuek) tetapi komentarnya mencerminkan kalau dokter ini emang pintar. Kekurangannya cuma satu, kalau datang pasti ngaretnya di atas satu jam. Padahal, antrean di Sadewa itu menguji iman, haha.. Minimal 2,5 jam sekali antri, tetapi karena murah dan kualitasnya bagus saya bela-belain di RS ini. Sekali kontrol, saya menghabiskan paling banyak Rp 180.000 (tahun 2013) sudah termasuk USG dan vitamin. 

Sempat agak syok melihat selisihnya dengan di Permata Cibubur, karena vitamin yang diberikan ada yang sama persis. Mungkin jasa dokternya yang lebih murah. Orang Jawa bilang, ono rego ono rupo. Harga sebanding dengan yang kita dapatkan. Kalau antrinya sih sama lamanya ya sama dokter kandungan terkenal lainnya, hanya saja kemewahan rumah sakit, keterjangkauan lokasi, luas bangunan RS, dan kualitas USG yang berbeda.

Sayang sekali, ketika melahirkan saya tidak didampingi dr.Yasmini karena beliau masih menangani pasien di JIH. Meskipun ibu saya sudah ngomel-ngomelin suster “kok dokternya gak dateng-dateng” saya dibantu dengan empat orang bidan yang cukup sabar. Cuma satu bidan aja yang jutek di Sadewa, itupun saat saya masih bukaan satu, alhamdulillah. Nah, yang saya sayangkan, dr.Yasmini datang untuk menjahit setelah dua jam saya melahirkan. Wow banget lho rasanya, haha… Udah dua jam gitu, jaringan mungkin udah ada yang mengering ya walau dibius. Tampaknya yang menjahit memang tidakboleh bidan, so I had no choice. Malah ada RS yang bidannya pun gak boleh bantu ngelahirin tanpa ada dokternya, jadi seorang kenalan saya sudah mau ngeden disuruh nahan nunggu dokter..

Hari keempat pasca lahiran, saya menemui hal ganjil yang cukup bikin sakit di jalan lahir. Karena darurat, saya periksa ke dokter mana aja. Saya pun akhirnya bertemu dengan dr.Upik (dr. Supriyatiningsih, M.Kes, SpOG) di Happyland. Beliau juga praktek di Sadewa. Orangnya sangat ramah dan keibuan, dan sadar branding lho. Beliau memberikan kartu nama yang ada nomor pribadi, jadi bisa dihubungi langsung. Diagnosis beliau adalah, mulut rahim saya keluar, dan akan kembali seperti semula seiring dengan berlangsungnya masa nifas.

Ternyata, keesokan harinya, saya masih merasa kesakitan. Mengikuti feeling, saya pun memutuskan untuk kembali menemui dr.Yasmini. Karena saya mendadak datangnya, saya tidak mendapat antrean awal, dan kalau tidak salah beliau harus menangan operasi caesar. So, dengan membawa bayi saya yang saya taruh di mobil, I waited for five hours! Jam 11 malam saya bertemu dr.Yasmini dan hanya dengan sekali cek dalam, beliau mengetahui bahwa itu bukan mulut rahim yang keluar tetapi darah kotor sisa plasenta yang belum bersih sehingga harus dikuret.

Malam itu juga saya harus rawat inap karena esok pagi adalah jadwal kuretnya. Menurut beliau,   kondisi rahim saya tidak rata sehingga ada tempat buat “ngumpet” sisa plasenta. Wallahua’lam. Akhirnya saya dikuret oleh dr.Yasmini dan sekian episode pertemuan saya dengan beliau karena saya kontrol jahitan pasca kuret dengan dr.Ariesta di Sadewa (dr.Yasmini sedang cuti).

Semoga pengalaman saya bisa sedikit memberi gambaran para ibu hamil yang sedang mencari dokter kandungan ya J

Memilih Dokter Kandungan (Part 1: Cibubur)



Bagi sebagian orang, memilih dokter kandungan itu susah-susah gampang. Saya sendiri termasuk salah seorang diantaranya. Sebelum berlabuh di dokter kandungan pilihan, saya sempat loncat dari dokter satu ke dokter lainnya. Perpindahan tersebut pun ada yang karena saya tidak sreg, ada juga yang karena bentrok jadwal praktek semata. Berikut ini adalah beberapa dokter kandungan yang pernah saya kunjungi saat kehamilan pertama saya. Mungkin ibu-ibu yang berdomisili di sekitar Cibubur atau Citeureup bisa memanfaatkan tulisan ini sebagai pertimbangan memilih dokter kandungan, ya!

Awal mula kehamilan, setelah testpack menunjukkan hasil positif, saya mengunjungi RSIA Annisa di daerah Citeureup. Ini atas rekomendasi tante saya yang dulu semasa hamil pernah kontrol disana. Sayangnya, hanya ada dokter pria di RS tersebut. Karena saya dan suami benar-benar “buta” daerah tersebut karena baru saja pindah, saya akhirnya memilih dr. Amin. Kalau tidak salah, pada kunjungan kedua saya sekaligus berkonsultasi mengenai flek yang saya alami. Saat itu kehamilan saya masih di trimester pertama. Saya tidak ingat diagnosis beliau apa atas flek tersebut, tetapi saya cukup tidak puas. Saat beliau menulis resep, saya bertanya, “Berarti tidak perlu diberi obat penguat kandungan kan, Dok?”. Mendadak beliau meresepkan obat penguat kandungan setelah pertanyaan tersebut, tanpa penjelasan apa-apa. Saya jadi bingung dan makin tidak puas. Akhirnya obat saya tebus, tapi tidak saya minum.

Masih di trimester pertama, saya sempat diinfus setengah hari di klinik bernama Rumah Sehat Cikeas. Ternyata, kadar Hb saya rendah. Karena perawat dan dokternya perempuan, saya sempat bercerita tentang kebingungan memilih dokter kandungan di daerah tersebut. Lalu mereka menyebut dr.Ovy dan dr.Nurul yang praktek di RS Permata Cibubur.

Akhirnya saya pun menghubungi RS tersebut setelah sempat browsing profil dokter spesialis kandungan di website www.rspermatacibubur.com. Sayangnya, untuk bertemu dr.Ovy (Dr.dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) saya harus daftar sebulan sebelumnya. Beliau ternyata cukup kondang dan sibuk, saya melihat ia juga mengasuh sebuah rubrik konsultasi di Majalah Femina, kalau tidak salah. Saya pun kemudian memilih dr.Suci karena melihat CVnya yang bagus.

Pertama kali kontrol di RS Permata Cibubur dengan dr. Tri Pratiwi Suci, SpOG, saya langsung cocok. Selain karena dokternya ramah dan bisa menjawab pertanyaan saya, tempatnya pun nyaman (ya iya lah, harganya 3x RSIA Annisa). Tahun 2013, sekali kontrol dengan USG dan vitamin saya harus membayar sekitar 400ribuan. Tahun 2016, hanya kontrol dan USG tanpa vitamin harganya sudah 380rb.


Sayangnya, jadwal praktek beliau yang malam hari membuat suami kesulitan mengantar saya ketikamendapat shift malam. Saya pun berganti ke dr.Nurul Afriana, SpOG yang praktek di pagi hari, atas rekomendasi dokter di Rumah Sehat tadi dan salah seorang teman kerja. Alhamdulillah, saya cocok dengan dr.Nurul karena penjelasannya enak, semua pertanyaan pun dijawab, dan orangnya lumayan tegas. Hingga usia kehamilan 8 bulan, saya rutin kontrol ke dr.Nurul. Oya, dr.Nurul ini juga praktek di Jatisampurna, karena teman saya pun dengan beliau di RS tersebut. 

Bulan berikutnya saya pindah ke Jogja, baca lanjutannya di sini.

Thursday, December 1, 2016

Memasukkan Anak ke Pesantren, Ya atau Tidak?

www.youtube.com


“Apakah salah jika saya mengirim kedua anak saya ke pesantren ketika mereka masuk usia TK?” tanya salah seorang peserta seminar yang saya hadiri Sabtu lalu. 

Ibu tersebut merasa risau lantaran ia dan suami merasa  bahwa lingkungan pesantren lebih aman dibanding lingkungan tempatnya tinggal in terms of raising kids, sementara orang lain dan keluarga besarnya “menuduh” ia hanya suka membuatnya tapi tidak suka membuatnya.

Soraya Haque yang menjadi pembicara dalam seminar Aku Bangga Menjadi Ibu tersebut memberikan jawaban yang cukup menenangkan: “Anda yang paling tahu anak Anda, jadi lakukan apa yang terbaik menurut Anda dan suami”.

Menurut Soraya Haque, terkadang kita dengan mudahnya menghakimi rumah tangga orang lain, sementara kita sendiri tidak mengkritisi apa yang terjadi di rumah tangga kita. Setiap pasangan memiliki style yang berbeda dalam membina perkawinan sehingga tidak ada formula yang jitu untuk menjadi ibu yang hebat, atau suami yang hebat karena kondisi keluarga yang berbeda-beda. 

Menurutnya, mengenali pasangan kita adalah hal pertama yang harus dilakukan, termasuk membuat kesepakatan bagaimana nanti perkawinan tersebut akan dijalankan, seperti pekerjaan dan pengasuhan anak, misalnya.

Mempercayakan pengasuhan anak di pesantren sekarang sudah banyak menjadi pilihan sebagian orangtua, apalagi dengan makin banyaknya pesantren modern dan boarding school yang tidak melulu mengajarkan agama. Kedekatan keluarga khususnya sang ibu dengan anak bisa membuat sebuah keluarga memilih sekolah pada umumnya daripada pesantren. Dari peserta seminar yang bertanya di atas, saya baru tahu jika anaknya bisa ditengok sebulan sekali dan pulang ke rumah setahun sekali. Jujur, kalau saya nggak akan kuat menjalaninya, haha..

Seorang peserta yang duduk di sebelah saya menambahkan, “Sekarang nggak jaminan kan mbak, kalau lulusan pesantren trus pasti sholehnya…”

Kalau itu memang di luar kuasa kita sebagai manusia sih. Sepupu saya dua kakak beradik, masuk pesantren sejak SD, tetapi outputnya berbeda. Yang sulung langsung gabung geng motor begitu masuk SMA negeri sementara si bungsu tidak. Tetangga saya keempat anaknya dimasukkan Pondok Gontor semua, dan anak kelima can’t wait to study there also padahal usianya masih 7 tahun. Rekan kerja saya bersuamikan alumni pondok pesantren. Testimoninya yang saya ingat adalah, suaminya pintar melakukan hal-hal domestik, tetapi secara batin tidak terlalu dekat dengan kedua orangtuanya. Semua ada plus minusnya dan tidak bisa dipukul rata.

Soraya Haque menambahkan, “Coba nanti kita bandingkan, katakanlah saat anak-anaknya berusia 17 tahun, antara anak-anak pesantren dan anak yang ibunya selalu ada di sekitar mereka. Biasanya yang di pesantren memang lebih mandiri.”

Hal-hal semacam ini memang menjadi pilihan kita sebagai orangtua. Menurutnya lagi, orangtua harus tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Dalam kasus pesantren tadi, pastilah orangtuanya memiliki pandangan yang jauh ke depan hingga rela mengorbankan waktu dengan anak-anaknya. Kalau saya pribadi, kenali anaknya terlebih dahulu. Saya lebih pro jika itu atas kemauan anaknya sendiri, sehingga ia akan menjalaninya dengan enjoy. Bukankah begitu?