Friday, September 29, 2017

The Story of Our Maids


When was the last time you felt so lucky?

Most of the time saya merasa masih lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Baca buku parenting, datang seminar, dan segala macamnya bisa membuat saya bersemangat untuk lebih menikmati hidup dengan segala macam raising-kids drama….untuk sementara. Kemudian, masa-masa yang terasa berat datang lagi.

Datangnya seorang asisten rumah tangga (ART) ke dalam kehidupan saya dua minggu lalu membawa kebahagiaan tersendiri. Not only my house is clean, but I am also able to enjoy the moment with my baby without thinking about the kitchen. Saat ia bekerja, kami sering mengobrol tentang banyak hal. Dari sekian banyak ART yang pernah saya pekerjakan, setiap orangnya memiliki kisah hidup yang membuat saya bersyukur bahwa saya ada di posisi ini. Bahwa saya harus bisa berbuat lebih dengan kenikmatan yang Alloh berikan.

Emak kira-kira berusia hampir 50 tahun. Anaknya masih SMP kelas satu. Suaminya meninggal karena tetanus saat anaknya masih berusia tujuh tahun. Ia menggambarkan hidupnya seperti burung, hinggap dari sana kemari. Tidak berlebihan, ternyata ia yatim piatu sejak masih kecil. Tuhan Maha Adil, ia masih bisa bekerja selam 30 tahun di komplek perumahan dosen hingga ia mampu membeli sebidang kebun yang kemudian menjadi rumah tempat tinggalnya sekarang.

Dulu, ia pernah menikah (sebelum dengan ayah anaknya) namun suaminya salah pergaulan. Uang kerap hilang, hingga akhirnya ia tidak tahan dan berpisah dengan suaminya.

Di masa tuanya ini, ia bekerja serabutan. Sebelum bekerja di rumah saya, ia mengasuh anak dari usia bayi hingga anak tersebut masuk PAUD. Dengan low-wage job semacam itu, ia masih bisa menyekolahkan anaknya. Ia juga professional karena kerjanya baik. Karena itulah mungkin rejekinya tetap mengalir.

When I told my husband about her story, saya bilang ceritanya mirip sinetron. Saya dan suami merasa jauh lebih beruntung dengan kondisi kami and I begin to reset my standard of complain. Memalukan sekali rasanya jka saya mengeluh terlalu lelah mengurus dua anak tanpa pembantu sementara  Emak saat seusia saya sudah pasti jauh lebih lelah, fisik dan mental. Saya masih melihat gurat keras karakter di wajahnya. She’s a fighter.

Emak hanyalah salah satu contoh pelajaran hidup yang bisa saya petik dari sekian banyak ART yang pernah bekerja di keluarga saya. Beberapa bulan lalu, ibu mertua mendapat ART yang sebenarnya bukan ART. Back then, mereka petani tembakau yang cukup berada di desanya. All of a sudden, the tobacco price dropped. Miskin mendadak. Mendadak cari pekerjaan whatever it was yang penting bisa makan. Ibu ini membawa serta anak gadisnya yang baru lulus SMP untuk sementara tinggal di rumah mertua saya sambil mencari kerja although I was so sure she didn’t want to work. She wanted to continue to high school. Life is that hard.

So, how hard your life is now, there are lots of people out there who suffer more. Boleh lah, sesekali kalo capek disalurkan dengan curhat ke suami atau keluarga, tapi jangan sering-sering sampai suami jengah. Jalani hidup dengan penuh rasa syukur, termasuk menghargai waktu yang ada dengan melakukan kegiatan bermanfaat. Seperti saya sekarang ini, misalnya, melihat timeline Instagram online bookshops yang sedang live shopping di Big Bad Wolf Books Surabaya, hahah… Kalau ini bermanfaat meredakan stress lah ya…


P.S.: Maaf kalau ending tulisannya enggak banget.


Thursday, September 28, 2017

EF 17.3: Common Mistakes in Writing English


Who says writing in English is not easy? It won’t be easy if you don’t dare to try.

I started to write in English when I was 17. At that time, I took an English class at LIA. The teacher often gave writing tasks and they corrected the writings also. I guess I got my basic writing skill here, especially grammatically.

In 2005, I got a chance to volunteer in a western country. My writing skill improved as I spoke English on a daily basis. I started to write my journal in English. Journal is similar to a diary in Indonesia but it also included daily plan and stuff (for me). Things became so easy back then with English speaking environment.

Years after, I didn’t really write in English. I had a blog in English but it had five posts only. Then, I joined BEC (Blog English Club). I wrote English blog post regularly as part of BEC Challenge. BEC members had some discussions following the challenge; in order to enrich the members’ writing ability and….to encourage each other.

Yes, that’s the most important point. 

I believe that a lot of people feel unconfident to write in English although they are able to. So, it is important to motivate yourself to be confident to write. If you have English speaking community such as debate club or English course, it would be better.

Does my story have anything to do with the challenge’s topic (Common Mistakes in Writing English)?

For me, it does.

The lack confidence and courage are the first mistakes, then you can jump to grammatical mistakes. For instance, it becomes more difficult for me to write an English post since I don’t work anymore, and Blog English Club has been less active. Every time I write, I had to check Google for my grammar, even for the spelling of words…! My English ability is aging, like my skin LOL

Well, I don’t want to cry on this. That I finally managed to write this post (although the challenge was more than a month ago) proved that I still have the courage. Now, it’s time to work on my common grammatical mistakes: tenses.



PS: This post is a part of BEC’s English Friday Challenge. Dare to join? Click here.   






Wednesday, September 13, 2017

7 Things I Like about Grand Keisha


Alhamdulillah, bulan lalu suami mendapat voucher menginap di Hotel Grand Keisha by Horison. Berbeda dengan voucher sebelumnya, kali ini pihak hotel yang officially mengundang suami untuk meliput hotel yang tergolong baru di Jogja ini.  So, kami pun mendapat extra treatment  (yeayy!) dan inilah lima hal yang saya suka dari Grand Keisha:

1.       Jus Sawi
Tampaknya welcome drink sekarang sudah menjadi hal langka di dunia perhotelan. Jadi, saya senang sekali ketika sampai di hotel, saya ditawari memilih welcome drink (apa mungkin saya dikira rombongan dari Bank Jateng ya, soalnya saya datang bersamaan dengan mereka). Pilihannya adalah teh, orange juice, dan jus sawi. Saya pilih yang terakhir karena penasaran, dan ternyata rasanya enak banget…! Saya udah bujuk suami yang habis dari resepsionis untuk mengambil satu gelas, sayang ia menolak. Gagal deh modus nambah..

Area lobi minus foto welcome drink :p
2.       Kamar putri raja
Begitu buka pintu kamar, saya langsung takjub dengan interior kamar yang bernuansa biru putih. Kamarnya seperti kamar putri raja dan luassss…. Setelah saya tanya suami, ternyata kami menempati tipe Junior Suite yang luasnya sekitar 53 m². Sebagai perbandingan, Deluxe Room luasnya 29 m². Cukup terasa bedanya. Harganya pun “putri raja”, sekitar Rp 1,3 juta kalau di situs booking dan Deluxe Room sekitar Rp 600 ribuan. We’re so lucky then J Dengan kamar seluas ini, plus lantai berkarpet tebal, kedua anak saya (4yo dan 7mo) puas bermain. Si kakak puas main lari-larian, lompat, berguling, dan petak umpet (ada satu pilar besar di kamar kami dan korden yang cukup besar untuk bersembunyi), sementara the bayek yang baru mulai ngesot bisa ngesot sepuasnya tanpa takut terbentur furniture. Ibunya pun bisa puas ngopi-ngopi di depan laptop sambil memandang Jogja dari lantai 6 tanpa takut tertabrak anak yang lari-lari.






3.       Kamar mandi “lengkap”
Kamar mandinya juga besar karena bath tub terpisah dengan shower room. Yang saya suka dari kamar mandinya adalah, pertama, saya bisa memandikan si dedek di bath tub. Terakhir kali kami menginap di hotel yang hanya ada shower, sehingga (maaf ya dek) kami memandikannya di wastafel. Waktu itu dia masih kecil, jadi masih cukup, hehe.. Kedua, air panasnya cepat panas. Penting banget ya? Iya, apalagi kalau habis berenang harus memandikan si kakak yang sudah kedinginan. Ketiga, amenitiesnya ada body lotion. Sebagai makhluk non AC, tidur di ruangan berAC langsung membuat kulit kering. Walaupun body lotionnya odorless tidak masalah, yang penting ada. Keempat, ada bidet alias shower cebok. Sekarang banyak toilet yang bidetnya tertanam di kloset, yang membuat kita susah nyebokin anak, haha… Lebih modern dan ringkas memang, namun rempong kalau anaknya masih kecil, ya kan.. Kelima, di atas kloset ada tempat untuk menaruh handuk or pakaian ganti. Terkadang area kamar mandi yang sempit membuat baju dan handuk seperti “rebutan” tempat dan kamar mandi berasa barak penampungan. Kalau disini tidak. Yang tidak ada hanya satu: bathrobe. Oh ya, ada hairdryer juga, jilbab ga perlu kebasahan habis renang.
  
4.       Ramah busui dan MPASI
Karena saya pumping, saya pun menanyakan tentang freezer untuk menyimpan ASI. Ternyata saya bisa menitipkan ASI di restoran. Tinggal telepon, bellboy akan datang mengambil ASIP dan memberi kartu tanda penyimpanan. Untuk mengambil ASIP, kita harus datang sendiri ke restoran karena harus menukarkan kartu tersebut secara langsung. Di kamar pun ada minibar (kosong) yang bisa untuk menyimpan ice pack sementara. Saya membawa dua ice pack yang saya sertakan satu demi satu setiap saya menitipkan ASIP). Air panas untuk membuat bubur instan tinggal mengisi teko, sementara untuk MPASI non instan tinggal kita taruh di minibar jika belum ingin dikonsumsi). Sayangnya, tidak ada baby crib yang bisa disewa. Jadinya, saya harus ekstra hati-hati membentengi si dedek agar tidak jatuh dari bed, mengingat tinggi bed di atas standar bed normal (kira-kira setinggi paha saya). Sebagai “benteng” tambahan, ada end of bed bench alias bangku panjang di kaki kasur.  Bagi tamu hotel yang tidak menginap, disediakan nursing room tepat di depan restoran di lantai dasar.

Inside the nursing room

Nursing room
5.       Lokasi
Lokasi  Grand Keisha memang strategis sekali, yaitu di Jalan Gejayan, selompatan saja dari perempatan ring road utara. Jalan sedikit kea rah kiri ada indomaret, menyeberang ada Bank Mandiri, BCA, dan pom bensin. Kalau lapar, Jalan Gejayan merupakan salah satu pusat kuliner di Jogja. Males jalan? Go Food aja. Ada Bebek Slamet, ayam krispi bersaus yang lagi hits, Panties Pizza, Sushi Story, sampai Pempek Ny. Kamto semua ada di ruas jalan ini. Pagi-pagi saya sempat jalan kaki sama the krucils sementara ayahnya berenang. Ternyata sekitar 100 meter di kiri hotel ada tempat sarapan yang cukup ramai, entah pecel entah gudeg. Saya tidak bisa melihat isi baskomnya. Buat yang dari kota besar mungkin lebih mencari sarapan khas seperti ini. Buat yang dari kota kecil, ada Hartono Mall di belakang hotel.

Sky Lounge

The green runway
6.       Masih bisa mendengar adzan
Nah, ini yang saya suka. Biasanya kan kalau di hotel kita tidak bisa mendengar adzan ya. Mendadak kedap suara aja semua kehidupan nyata di luar sana. Kalau di sini, adzan masih terdengar lho dari kamar, soalnya sebelah kiri hotel ada masjid yang cukup besar. Bahkan, sewaktu saya ke resto Ottoman yang menyatu dengan Sky Lounge, saya bisa mendengar adzan isya bersahut-sahutan. Indah sekali… Di Sky Lounge ini pula ada runway berupa rumput sintetis, yang tampaknya memang dirancang untuk acara peragaan busana, or private wedding maybe?


Nasi kebuli porsi besar
7.       Resto Ottoman
Kalau menginap dengan voucher, bisa dipastikan kita adalah tamu pengiritan, haha… Berhubung kemarin kami sekaligus tamu undangan, dapatlah kita makan malam di resto Ottoman yang menyajikan makanan khas Turki. Saya tidak ingat nama menu-menunya, tetapi kami memesan sejenis nasi kebuli, nasi goreng, dan roti pratha, berikut orange juice dan frappuccino coklat. Minumannya enak semua! Kopinya kuat bikin melek sampe dinihari, haha…Makanannnya enak walau gak memorable, tetapi roti prathanya selera saya banget. Harganya makanannya 50 ribu keatas tetapi porsinya bisa buat berdua. Karena itulah, kami gagal menghabiskan pesanan kami, tetapi….sisa makanannya bisa diantar ke kamar! Kebetulan nasi gorengnya benar-benar Cuma diicip dua sendok karena si kakak mogok makan. Kalau udah tinggal sedikit jelas lah…ga mungkin minta diantar ke kamar..





Menurut saya highlightnya ada di tujuh poin di atas. Untuk kolam renang memang ukurannya tergolong kecil tetapi ada kids pool kok. Ruang fitness baru menyediakan satu treadmill. Untuk sarapan, pilihannya banyak dan ukuran restonya lumayan besar. Menu yang enak malah menu standarnya, yaitu nasi goreng dan omelet. Menurut saya dua menu sederhana ini beda dengan menu di hotel lain, karena memang rasanya enak. Sliced cake dan muesli pun diletakkan di dalam etalase berpendingin (saya tidak tahu namanya) sehingga tetap yummy.



Info tambahan, musholla di hotel ini mengingatkan saya pada musholla di Syariah Hotel Solo. Tempat wudhunya ada di dalam area restroom sehingga bagi yang berjlbab tidak perlu kuatir terlihat auratnya. Mushollanya pun bersih walau tidak terlalu besar. Alat solat disediakan.

Oke, sudah 1000 kata lebih ini, semoga tidak lelah membacanya. Kesimpulannya, recommended.





Sunday, September 10, 2017

Kids Fun Parcs, 11 Tahun Kemudian


Pernah ke Kids Fun Parcs di Jalan Wonosari? Saya sih pernah, tapi duluuu…saat masih kuliah. Tepatnya tahun 2006. Saat itu, Kids Fun merupakan satu-satunya “Dufan mini” yang ada di Jogja. Lokasinya pun nun jauh di Jalan Wonosari.

Sebelas tahun berlalu, Kids Fun ternyata tetap menyenangkan untuk dikunjungi dan tetap sepi, hahaha… Taman bermain yang sepi itu menurut saya suatu karunia, asalkan tetap bersih dan terawat. Kita tidak perlu capek mengantre hanya untuk menaiki satu wahana. Kids Fun termasuk dalam kategori ini. Jenis wahananya pun bertambah, walau ada yang belum berfungsi.


Jet Rider

Santa Fe, seperti Wild Wild West
Siang itu, saya sekeluarga sampai di Kids Fun saat matahari sudah tinggi. Ternyata, harganya di atas ekspektasi kami. Satu orangnya Rp 89.000, dan kami bertiga. Saya pikir harganya sekitar 50 ribuan (emangnya playland di mall). Karena sudah terlanjur sampai sana, kami pun masuk. Rejeki anak sholeh, ternyata ada promo kemerdekaan buy 2 get 1 free..! Aih senangnyaaa… Tiket ini berlaku untuk 23 wahana permainan tetapi tidak termasuk gokart, flying fox, wall climbing, dan rollercoaster.
Aksa pun sempat mencoba beberapa wahana, seperti Jet Rider (kapal mini di lintasan air) dan kereta Santa Fe, namun menolak beberapa wahana seperti Harley Davidson dan apapun yang ia harus mengendarai sendiri. Tampaknya ia sudah tidak sabar bertemu dinosaurus favoritnya, yang akhirnya membuat kami potong kompas langsung ke Jurrasic Park.






Jurrasic Park ini berupa kereta satu lintasan dengan setting taman dinosaurus, tentu saja dengan beberapa patung dino yang besar dan mengeluarkan suara. Untuk jenis kereta dengan taman seperti ini, menurut saya tergolong bagus kualitasnya baik dari segi estetika, properti, dan kebersihannya. Sayangnya, untuk wahana dino ini hanya boleh dinaiki satu kali saja. Tiket kami pun diberi tanda oleh petugas.

Selesai dari Jurrasic Park, kami rehat sejenak. Karena tidak boleh membawa makanan dan minuman (security melakukan cek tas di loket), saya pun membeli popcorn. Alhamdulillah tumbler air minum masih lolos sensor, jadi tidak terlalu boros untuk membeli minum. Di beberapa titik, terdapat tempat untuk membeli makanan dan minuman, serta area untuk sekadar duduk bersantai. Kami pun rehat di area yang disebut terakhir. Furniturnya sih terlihat masih baru, sama seperti bangku melingkar di bawah pohon yang terbuat dari rotan. Bagus deh.



Tidak jauh dari tempat makan tadi, ada ruang P3K yang merangkap nursing room. Seingat saya, dulu tidak ada fasilitas ini (atau mungkin dulu saya belum menyusui ya, jadi nggak ngeh). Kebetulan si dedek haus, saya pun menjajal nursing roomnya. Di dalam ada dua petugas mbak-mbak, dan saya menyusui di salah satu bed pasien yang dibatasi tirai. Ruangannya bersih dan lega. Saya pun bisa menyusui sambil berbaring seperti di rumah.




Keluar dari nursing room, kami pun melanjutkan perjalanan. Sayang sekali, Aksa menolak menaiki 
cukup banyak wahana seperti Old Dream (mobil jaman koboi), kereta ulat, dan Swinger (ayunan yang berputar). Alhamdulillah, Swinger bisa dinaiki orang dewasa sehingga emak-emak yang mendamba ayunan inilah yang akhirnya naik. Senennnggg banget, karena ini wahana favorit saya di Dufan. Saat mau melanjutkan perjalanan ke wahana lain, matahari sudah terik sekali. Wahananya pun tinggal yang untuk orang dewasa. Tepat pada saat itu ada announcement dari petugas kalau akan ada pentas bajak laut. Oke, ga ada salahnya dicoba.

Swinger
Old Dreams

Kami pun kembali ke depan karena panggungnya berada di dekat pintu masuk. Saat kami tiba, pentas sudah mulai dengan penonton anak-anak memenuhi sepertiga ampiteater, sementara orangtua mereka duduk di bangku kafe di bagian atas. Pentasnya, mmm….not bad. Pemerannya memakai kostum ala bajak laut dan kawan-kawan, sementara dialog didubbing. Kalau kesan saya pribadi sih, pemain terlihat jenuh dengan pekerjaannya, hahah.. Bahasa tubuhnya males-malesan dan seadanya. Bahkan sewaktu break dari panggung, ada yang langsung mengecek hp. Kalau nggak salah sih ada beberapa dialog yang kata-katanya agak kurang pas untuk anak saya yang berusia 4 tahun. Secara keseluruhan, cukup memberikan pengalaman baru untuk Aksa dalam menikmati pertunjukan (soalnya belum pernah). Pentas ditutup dengan quiz, yang bisa menjawab boleh maju ke atas panggung dan mendapat hadiah.

Last part, kami masuk ke Magic Castle. Dulu banget, gedung ini isinya mainan koin. Sekarang, Magic Castle berupa area inflatables, semacam playland di mall yang berisi perosotan, trampoline, area panjat memanjat. Walaupun harus membeli kaos kaki dulu di souvenir shopnya, saya merasa sangat puas dengan pelayanan di wahana terakhir ini. Kenapa? Karena orangtua tidak diperkenankan menemani, petugas di sana sangat friendly terhadap anak saya. Dengan pengunjung yang tidak lebih dari lima anak, Aksa didampingi full oleh Mbak-nya. Biasanya, di area seperti ini Aksa hanya jadi observer dan beraninya hanya di area yang masih bisa melihat ortunya. Namun, kali ini ia mencoba hampir semua permainan di Magic Castle, tentu saja bersama dengan Mbak yang ramahnya seperti guru TK, hehe…


Sebenarnya masih ingin menuntaskan mencoba semua wahana, tetapi si dedek kasian…sudah rindu kasur nampaknya. Akhirnya kami pun pulang. Alhamdulillah, weekend di Kids Fun ini menyenangkan dan Aksa menikmati. That’s the most important thing.

 




Friday, August 25, 2017

EF 17.2: Freedom, Now and Then


When I was 7, freedom meant having unlimited snacks.

When I was 12, freedom meant going to the mall without parents.

When I was 17, freedom meant traveling somewhere far with classmates.

When I was 24, freedom meant choosing where I wanted to work without listening to others.

When I am in my 30s, freedom means….a lot.

When you have a baby, you will learn how to give up your freedom. When he’s sleeping, that’s what I call freedom IF I can read books, write, or do things I really wanted. If I cook or clean up and stuff, that’s opportunity, not freedom. Do you know what I mean?

Now I sound really mean.

Of course I love my children. I just feel I need more time for me. (Moms with grown up kids would say, enjoy your time. You’ll miss this moment when they’re older.)

I do try to enjoy my time but this freedom remains a dream. Not completely a dream, actually. My husband and my parents are kind enough to let me off for few hours each week (or month, whenever chance appears) while one of them handled one of my sons. I should be thankful for this, right?

So, as I write this, I promise I will still be grateful for these hours-long freedom.



P.S.: You an participate in this English blog-writing challenge by clicking this link
































Sunday, July 16, 2017

Serunya Rewang di Hajatan Tetangga


Saya ingat cerita Ibu, ketika tukang sayur langganan kami ijin untuk tidak berjualan hingga seminggu lamanya. Alasannya, tetangganya ada yang menikah. Adat di desa, jika seseorang menikah maka satu kampung akan membantu persiapan dan pelaksanaannya. Kegiatan membantu tetangga secara bersama-sama inilah yang disebut rewang.

“Yen kula boten rewang-rewang, mangkeh digrenengi sak ndusun” (jika saya tidak membantu, nanti bisa digunjing orang sekampung), begitu ujarnya. Saya heran, seminggu banget gitu yang rewang-rewang. Maklum, saya dan mungkin kebanyakan dari kita lebih familiar dengan acara pernikahan yang lebih simple dan menggunakan jasa vendor. Keluarga hanya dilibatkan pada acara seremonial saja, atau konsep utama. 

Dan….saya sekarang mendapat rejeki merasakan rewang-rewang di hajatan tetangga, for the first time. Apakah benar-benar seminggu? Iya!

Saya ingat sekali, H-7 kami baru kembali dari rumah mertua sekitar jam 10 malam. Di depan rumah sudah terdengar suara ramai-ramai. Ooh, mungkin pembentukan panitia. Saya kebetulan baru pindah ke rumah ini setengah tahun yang lalu, sehingga belum terlalu dekat dengan para tetangga. Malam berikutnya, terdengar ramai-ramai lagi. Wah, tampaknya sudah mulai rewang-rewang. Hari berikutnya saya pun bertemu dengan yang punya hajat dan memohon maaf kalau tidak bisa datang tiap kumpul malam hari karena anak saya masih bayi.

Baru hari keempat saya mulai datang dan melihat seperti apa sih rewang-rewang itu. Karena sambil menggendong bayi, saya malah diperlakukan layaknya tamu. Disuguh teh, diajak mengobrol, sementara ibu-ibu tetangga yang lain duduk di lantai sambil mempersiapkan masakan. Duh.. Semoga tidak ada yang menganggap saya tetangga baru yang tidak mau membaur..


Dari ngobrol-ngobrol dengan tetangga depan rumah itulah saya tahu bahwa rangkaian acara memang sekitar satu minggu. H-4 ada kenduri untuk bapak-bapak, kemudian H-3 tamu sudah mulai datang sehingga para ibu sudah beraksi di dapur. Untuk tetangga yang membantu, tuan rumah menyediakan “balas jasa” berupa jajanan pasar dan makan berat, baik dinikmati di tempat ataupun dibawa pulang. Kegiatan membantu ini bisa berlangsung hingga tengah malam and started as early as 5 o’clock. Kok lama sekali? Karena porsi yang dimasak banyak, peralatan masaknya pun masih banyak yang tradisional seperti kompor kayu bakar, dan…diselingi gosip hehe…

Alhamdulillah, saya akhirnya berkesempatan membantu membuat lemper serta memotong bawang dan cabe. Bangga banget ya, haha..! Saya akui saya cukup bangga karena bisa membaur dengan tetangga (apalagi di desa yang bahasanya full Javanese) walau hanya duduk dan mendengarkan obrolan mereka, berkenalan dengan beberapa tetangga, mengetahui si A anaknya siapa, rumahnya yang sebelah mana, dan sebagainya. FYI, ibu-ibu di desa ini kalau nyeletuk sungguh lucu-lucu dan sangat ringan tangan. Saat saya menggendong bayi, mereka tidak segan bergantian menggendong sehingga saya bisa berpartisipasi atau sekadar makan siang. Kadang saya tidak enak sendiri, baru kerja 15 menit sudah disuruh makan. But it’s their culture, I guess. Memuliakan tamu.

Oh ya, untuk resepsinya, adatnya di sini ibu-ibu datang dua tiga hari lebih awal untuk menyumbang. Jadi, pada hari H bapak-bapak datang sudah tidak perlu menyumbang lagi. Tinggal member selamat mempelai dan makan. Ibu-ibunya? Ya masih di belakang lah…kan tidak ada katering. Jadi, tim wonder women inilah yang menjadi tulang punggung hidangan pesta. Bapak-bapak dan para pemuda biasanya terlibat pada saat pembuatan panggung.

Enak ya, tidak usah membayar jasa untuk banyak hal, kan banyak dibantu tetangga. Ooh, jangan salah. It is more costly to say thanks to someone you know well. Dalam budaya Jawa yang saya tahu, tidak pantas jika kita memberi sesuatu (karena sudah dibantu) ala kadarnya, apalagi kurang dari seharusnya. Bentuknya memang bukan uang, tetapi berupa makanan dalam kotak seperti ayam goreng, nasi kenduri, atau sembako yang kalau dinominalkan sudah layak lah ya.

Balas jasa ini bisa dianggap sebagai tanda terima kasih karena telah menyumbang. Untuk tetangga yang sudah ikut rewang, bisa mendapat lagi saat pembubaran panitia.


Jadi, itulah on hands learning tentang adat dan kebiasaan masyarakat tempat tinggal saya yang saya dapat seminggu ini. Walaupun sama-sama orang Jawa, kebiasaan kami sudah berbeda. Cukup menarik untuk diketahui, siapa tahu kelak rumah yang kita beli ternyata masih berada di lingkungan desa walaupun bangunannya modern. Dimanapun kita tinggal, tetap prinsipnya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.


Monday, June 5, 2017

Survey Biaya TK di Jogja Utara (Part 7: KB TK Primagama)

Tulisan ini berupa post bersambung tentang hasil survey saya mengenai biaya masuk TK di Jogja Utara.

7. KB TK Primagama


TK Primagama cabang Jalan Kaliurang terletak di Kentungan, sekitar km 6.5. Sama dengan BIAS, TK ini juga mempunyai banyak cabang namun dengan jangkauan hingga Sumatra dan Kalimantan. Yang saya suka dari TK Primagama adalah gedung dan dekorasinya yang sangat colorful. Konsep pembelajarannya dikaitkan dengan multiple intelligence, dengan mengedepankan aspek habits forming dan life skill. Wujudnya dapat dilihat di buku rapot, yang umumnya berisi pencapaian life skill. Mengancingkan baju, mengupas kulit jeruk, sampai membuka tutup toples pun masuk ke materi pembelajaran.

Pelajaran agamanya tidak hanya doa harian, solat, iqro, tapi juga hadits pilihan. Doa-doanya pun dibuat dalam bentuk lagu sehingga mudah dihapalkan. Bahasa Inggris digunakan dalam bentuk daily instructions sehingga anak cepat mengingatnya.

Jam sekolah dimulai pukul 7.30 hingga 11.30, Senin sampai Sabtu. Untuk  playgroup hanya tiga kali seminggu. Setiap bulan, mereka mengikuti Special Day yang diadakan sesuai hari libur nasional, misal Hari Bumi, Hari Listrik, dst juga field trip. Dibanding sekolah lain, Primagama memberikan jadwal trial class yang paling banyak yaitu tiga hari.


Biaya masuknya sekitar Rp 12.500.000 (sudah termasuk DMI atau tes potensi minat bakat melalui sidik jari) untuk TK A dengan SPP Rp 425.000. Mereka sering memberikan diskon khususnya ketika acara Open House, juga voucher yang dibagikan saat event yang mereka adakan. Teman saya ada yang membayar uang masuk yang selisihnya lumayan karena mendaftar awal saat bulan promo plus menggunakan voucher. Oya,  jika anda ibu yang suka bersosialisasi sekaligus berorganisasi, TK Primagama memiliki komunitas Prima Parents yang rutin membuat event seperti seminar parenting. Untuk keterangan lebih lengkap bisa dilihat di www.sekolahprimagama.sch.id

Banyak juga ya hasil surveynya, hehe…ini belum semua lho. Tapi karena kriteria saya mencari sekolah adalah yang dekat, yang pertama, atau yang sekolah alam, tampaknya saya mulai bisa mengerucutkan pilihan. Tentu saja yang sesuai budget dan anak kita enjoy dengan tenaga pengajar dan aktivitas di sekolahnya. Semoga review beberapa sekolah ini bisa membantu para mama untuk memilih sekolah, mumpung tahun ajaran baru belum dimulai.

Notes: foto-foto diatas diambil dari google